World Bipolar Day 2016

1459342071839

Theres nothing wrong in being Bipolar, its okay tobe not okay.

Pernahkah anda menaiki roller coaster? Bagaimana perasaan anda saat menaiki roller coaster? Naik-turun kan? Nah, sekarang coba banyangkan jika perasaan anda naik turun seperti roler coaster, coba bayangkan jika anda tiba-tiba merasa sangat senang namun tak lama kemudian anda merasa sangat sedih sekali, bahkan sampai anda berpikir untuk bunuh diri.  

Contoh di atas merupakan salah satu ciri-ciri gangguan perasaan bipolar. Bipolar berasal dari dua kata, “bi” yang artinya dua, dan “polar” yang artinya kutub. Sehingga secara bahasa, bipolar artinya dua kutub. Jika dimasukkan dalam konteks gangguan perasaan, bipolar artinya gangguan yang ditandai oleh perubahan mood atau suasana perasaan yang parah antara perasaan girang yang ekstrem dan perasaan depresi yang parah. Seseorang yang mengalami bipolar akan merasakan ayunan suasana perasaan atau mood swing dari kutub tinggi, yaitu perasaan gembira yang luar biasa atau biasa disebut dengen episode manik, ke kutub yang sangat rendah, yaitu perasaan depresi, tanpa ada penyebab yang jelas.

Seseorang yang mengalami bipolar akan merasakan atusiasme yang berlebihan saat berada pada episode manik. Orang tersebut akan merasakan euphoria yang berlebihan yang ditandai dengan cara bicaranya yang terburu dan terus menerus seperti berada dalam tekanan. Namun saat suasana hatinya berubah buru, atau berada dalam episode depresi, seseorang yang mengalami bipolar akan sangat merasa tidak berdaya, pesimis, putus asa, bahkan sampai memiliki keinginan untuk bunuh diri.

 

Etiologi (Penyebab Bipolar disorder)

Terdapat beberapa hal yang dapat menjadi penyebab munculnya gangguan bipolar dalam diri seseorang, diantaranya:

  1. Genetika bawaan merupaka faktor umum penyebab gangguan bipolar. Seseorang yang lahir dari orang tua yang salah satunya mengalami gangguan bipolar memiliki resiko mengidap penyakit yang sama sebesar 15 sampai 30 persen. Sedangkan seseorang lahir dari orang tua yang keduanya mengalami gangguan bipolar akan memiliki resiko sebesar 50 – 75 persen.
  2. Bipolar juga dapat dipicu oleh pengalaman-pengalaman traumatis yang dialami seseorang, seperti putus cinta, kematian orang terdekat, dan kegagalan dalam pekerjaan atau studi. Pengalaman-pengalaman traumatis tersebut akan semakin berpotensi menyebabkan bipolar jika orang yang mengalaminya memang memiliki kerentanan secara genetis.
  3. Penyalahgunaan zat. Meski penyalahgunaan zat tidak langsung menyebabkan bipolar, namun hal tersebut dapat memperburuk perjalanan penyakit. Penggunaan obat-obatan seperti kokain, ekstasi, dan amphetamine dapat membawa seseorang pada episode manik, sedangkan penggunaan alcohol dan obat penenang dapat memicu perasaan depresi.

 

Organisasi Terkait Bipolar

Pengidap gangguan bipolar membutuhkan penanganan khusus dalam menghadapi gangguannya tersebut. Banyak organisasi atau komunitas yang concern terhadap pengidap bipolar dan berusaha untuk membantu mereka dalam menghadapi gangguan yang dialaminya. Salah satunya adalah Bipolar Care Indonesia. Bipolar Care Indonesia merupakan sebuah komunitas yang didirikan pada tanggal 27 mei 2013 yang bertujuan untuk membentuk lingkungan yang nyaman bagi pengidap bipolar. Bipolar Care Indonesiajuga bertujuan untuk memberikan pengertian kepada orang-orang sehat disekeliling pengidap bipolar mengenai apa yang terjadi dan dirasakan oleh pengidap bipolar, sehingga diharapkan orang-orang disekeliling pengidap bipolar dapat memperlakukan mereka sebagaimana mestinya. Bipolar Care Indonesia melakukan berbagai kegiatan yang meliputi edukasi, dukungan,dan aktivitas yang diberikan kepada pengidap bipolar dan orang-orang terdekatnya. Aktivitas-aktivitas tersebut bertujuan untuk memberikan dukungan bagi pengidap bipolar, sehingga diharapkan melalui komunitasini pengidap bipolar dapat saling berbagi berbagi cerita, pengetahuan, inspirasi, dan motivasi. Selain itu ada pula kegiatan-kegiatan yang ditujukkan kepada caregiver atau orang-orang terdekat pengidap bipolar untuk saling bertukar infomasi dan pengetahuan mengenai caramemperlakukan pengidap bipolar.

Selain di Indonesia, organinasi yang concern terhadap pengidap gangguan bipolar juga terdapat di luar negeri. Salah satu dari organisasi tersebut adalan NAMI (National Alliance on Mental Illness). NAMI merupakan organisasi pemerhati orang dengan gangguan jiwa yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Amerika Serikat terhadap orang dengan gangguan jiwa. NAMI melakukan berbagai kegiatan yang bertujuan untuk mengilangkan stigma masyarakat terhadap orang dengan gangguan jiwa (termasuk pengidap bipolar), memperjuangkan pelayanan yang layak bagi mereka, dan memberikan support kepada mereka. NAMI menawarkan tiga cara untuk meningkatkan kesadaran orang-orang di sekitar kita terhadap orang dengan gangguan jiwa yang dapat dilakukan oleh diri kita sebagai individual, perusahaan, dan organisasi. Tiga cara tersebut antara lain:

  1. Belajar tentang gangguan jiwa. Dengan mempalajari gangguan jiwa kita dapat mengedukasi diri kita dan orang-orang sekitar mengenai bagaimana seharusnya kita memperlakukan orang-orang dengan gangguan jiwa yng ada disekitar kita. Mempelajari tentang gangguan jiwa bukan hanya tentang bagaimana mengidentifikasi simtom-simtom yang mereka alami, namun juga tentang bagaimana kita mengoreksi pendapat-pendapat yang salah mengenai gangguan jiwa.
  2. Belajar melihat orangnya bukan penyakitnya. Hal ini perlu karena orang-orang dengan gangguan jiwa memiliki cerita dan perjalanan mereka masing-masing dan kita sebagai orang-orang disekitarnya perlu untuk mengetahuinya agar dapat memperlakukan mereka dengan baik.
  3. Ambil sikap terhadap isu-isu kesehatan jiwa. Kita dapat mendorong pemangku-pemangku kebijakan untuk membuat peraturan dan kebijakan yang lebih baik terkait dengan kesehatan jiwa dan orang-orang dengan gangguan jiwa, sehingga dengan begitu kita berarti telah peduli dengan kondisi orang-orang dengan gangguan jiwa yang membutuhkan pertolongan.

 

STAMPOUT THE STIGMA!

Bipolar di Indonesia

Sebagai salah satu bentuk dari gangguan jiwa, pengidap gangguan bipolar juga mengalami berbagai stigma buruk dari masyarakat. Kurangnya pengetahuan masyarakat Indonesia mengenai gangguan jiwa, termasuk bipolar, membuat masyarakat cenderung memiliki stigma-stigma yang  negatif kepada orang dengan gangguan jiwa. Stigma yang umum dimiliki masyarakat Indonesia terhadap orang dengan gangguan jiwa salah satunya adalah bahwa gangguan jiwa dianggap sebagai aib.

Stigma bahwa memiliki gangguan jiwa atau anggota keluarga dengan gangguan jiwa itu aib dapat mengarah mengarah pada kesalahan-kesalahan dalam menyikapi gangguan jiwa. Bagi si penderita sendiri, anggapan bahwa gangguan jiwa yang dimilikinya adalah aib dapat membuat orang tersebut malu untuk menceritakan gangguan jiwanya kepada orang lain karena takut dihakimi atau dihinakan, dan dalam beberapa kasus hal tersebut dapat memotivasi orang tersebut untuk bunuh diri karena merasa sendiri dan tidak kuat menghadapi gangguan dialami. Sedangkan bagi keluarga atau orang-orang terdekat dari pengidap gangguan jiwa, anggapan tersebut dapat membuat mereka enggan untuk membawa keluarga atau temannya yang mengidap gangguan jiwa ke tenaga profesional untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak, sehingga bahkan dalam beberapa kasus mereka lebih memilih pemasungan sebagai jalan keluar.

Menurut hasil penelitian yang dilakukan Wijaya & Fatimah stigma-stigma yang diberikan masyarakat secara umum dapat memberikan dampak yang signifikan bagi beberapa individu pengidap ganggaun jiwa. Pemberian stigma pada orang dengan gangguan jiwa berpotensi menurunkan harga diri ODGJ dan menciptakan diskriminasi di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun tempat tinggal.

Stigma-stigma yang diberikan masyarakat kepada orang dengan gangguan jiwa tentu saja bertentangan dengan kebijakan-kebijakan pemerintah terkait kesehatan jiwa yang tertuang dalam Undang-undang No. 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa. Undang-undang No. 18 Tahun 2014 telah menjamin hak-hak orang dengan gangguan jiwa yang harus terpenuhi. Salah satu haknya secara gamblang tertulis pada Pasal 3 Poin A yang berbunyi, “Upaya Kesehatan Jiwa bertujuan untuk menjamin setiap orang dapat mencapai kualitas kejiwaan yang sehat, bebas dari ketakutan, tekanan, dan gangguan lain yang dapat mengganggu kesehatan jiwa”. Oleh karena itu lah, kita sebagai masyarakat Indonesia yang berperikemanusiaan dan berkadilan harus mulai menghilangkan stigma-stigma negatif yang ditujukkan kepada orang dengan gangguan jiwa. Undang-undang No 18 Tahun 2014 juga secara gamblang telah menyebutkan hal ini pada pasal 7 poin 1 tentang tujuan upaya promitif kesehatan jiwa yang berbunyi, “Upaya promotif Kesehatan Jiwa ditujukkan untuk: a. mempertahankan dan meningkatkan derajat ksehatan jiwa masyarakat secara optimal; b. menghilangkan stigma, diskriminasi, pelanggaran hak asasi PDGJ sebagai bagian dari masyarakat; c. meningkatkan pemaham dan peran serta masyarakat terhadap kesehatan jiwa; dan d. meningkatkan penerimaan dan peran serta terhadap kesehatan jiwa”. Penghilangan stigma dapat dimulai dari kita sendiri dengan berusaha untuk mencari pengetahuan-pengetahuan terkait masalah kejiwaan, diikuti dengan memberikan edukasi bagi orang-orang disekitar kita mengenai bagaimana seharusnya ODGJ diperlakukan dan memberikan dukungan kita pada organisasi-organisasi yang memperjuangkan hak ODGJ, baik  dalam bentu berupa suara dukungan maupun materi (jika mampu).

 

LET THEM LIVE IN DIGNITY.

Dignity diartikan sebagai kehormatan atau harga diri, jutaan orang dengan gangguan jiwa hidup dalam level dignity yang rendah. Stigma terhadap ODGJ dan kebiasaan di Indonesia dalam meng-generalisir panggjlan bagi para pengidap gangguan jiwa menyebabkan penegakan human rights pada orang-orang dalam kondisi mental tertentu sulit dilakukan. Mereka bukan hanya melawan stigma, mereka juga melawan diskriminasi dan tidak jarang menjadi subjek dari kekerasan secara fisik, emotional dan sosial. Penanganan dan perlakuan yang belum sempurna pada pengidap ODGJ Khususnya bipolar bisa menjadi parameter bagi setiap pihak yang berkontribusi pada penangangan secara preventif dan kuratif.

 

How to Increase their dignity:

  1. Berhenti menggunakan gangguan mereka sebagai nama panggilan. Ini yang kita sebut sebagai Stamp out the lebeling for people with mental illness. Im baya, I have bipolar. But im not Bipolar, im baya. Panggil aku dengan namaku.
  2. Stamp out the stigma, yang harus kita pahami adalah bahwa Bipolar itu bukan penyakit (disease), bipolar adalah disorder. Seseorang yang terkena bipolar bukan dalam kondisi sakit dan tidak berdaya, mereka hanya terganggu pada salah satu fungsi psikisnya yaitu mood. Oleh karena itu orang dengan bipolar masih memiliki kesempatan dalam memenuhi aktualisasi dirinya dan live in dignity.
  3. Tetap berprestasi walaupun memiliki Bipolar Anda bipolar, lalu kenapa? Theres nothing wrong in being bipolar, banyak orang dalam kondisi mental tertentu bisa gagal karena terjebak dalam skema bahwa kesuksesan hanya milik orang-orang normal. Tidak sedikit orang juga yang berhasil walaupun memiliki kondisi mental tertentu, sebut saja Vincent Van Gogh, seorang pelukis pasca-impresionis yang terkenal di jamannya. Selain itu ada, Ludwig van bethoven pengidap bipolar, adalah  komposer genius yang terkenal sebagai inisiator musik klasik. Bukti bahwa siapa saja bisa mengaktualkan dirinya untuk meraih prestasi, bahwa kesuksesan bukan hanya milik orang-orang normal.

Hal pertama yang harus dilakukan untuk tetap berprestasi walaupun memiliki bipolar adalah deal dengan kondisi anda bahwa anda memiliki bipolar dan berusaha acceptance dengan kondisi anda saat ini, its okay tobe not okay to admit that youre not okay. Akan tetapi Acceptance bukan berarti mengafirmasi stigma yang diberikan masyarakat. Acceptance yang tepat adalah deal dengan kondisi anda dan mencoba membuat target untuk diri anda lebih baik. Anda harus dinilai berdasarkan kualitas diri anda bukan karena gangguan yang anda punya.

 

Sumber

http://www.tnol.co.id/komunitas/minat/28365-bipolar-care-indonesia-bersama-dalam-suka-dan-duka.html

https://www.nami.org/Get-Involved/What-Can-I-Do

http://www.thechallengesofmentalillness.com/p/stigma-and-bipolar-bipolar-disorder-or.html

http://prosiding.lppm.unisba.ac.id/index.php/kesehatan/article/view/933

http://isdafoundation.org/stigma-pada-orang-dengan-gangguan-jiwa/

http://binfar.kemkes.go.id/?wpdmact=process&did=MjAxLmhvdGxpbms=.pdf

http://www.famousbipolarpeople.com/beethoveen.html

Post Author: ILMPI

3 thoughts on “World Bipolar Day 2016

  • miftahul achyar

    (March 30, 2016 - 11:23 AM)

    Kereeen banget artikelnya kak 🙂

  • Muhammad Amri

    (March 30, 2016 - 11:33 AM)

    Tulisannnya kereennn, gampang dipahaminya 🙂

  • Fatima

    (March 30, 2016 - 11:09 PM)

    Sy suka membaca artikelnya
    Sy tlh mengenali penyakit bipolar sy dan bisa beraktivitas dgn terus minum obat.

    Perlu testimoni?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *