Temu Ilmiah Nasional ILMPI 2018

Mengendalikan Gadget atau Dikendalikan Gadget ?

Muhammad Ilham Fahreza

Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

 

 

  1. Apa yang terjadi saat ini ?

 

 

Siang itu, saat sedang duduk di salah satu sudut kampus. Seperti biasanya, sudut itu selalu ramai ketika masuk jam istirahat kuliah. Dalam keramaian dan waktu senggang itu, hampir pasti didapatkan pemandangan orang-orang sedang menunduk, asik menggenggam dan memandangi gadget masing-masing. Pemandangan serupa saya rasa sangat sering dijumpai dimanapun saat ini. Saat sedang ingin menyantap makanan, tangan kanan kita menyendok makanan, tangan kiri kita sedang menggenggam gadget untuk membalas pesan-pesan yang masuk. Saat sedang mengendarai kendaraan, jari jemari kita selalu tergoda untuk memainkan gadget. Bahkan saat sedang berjalanpun kita begitu multitasking untuk berjalan dan sambil menundukan kepala kita ke gadget.

 

Rata-rata orang di Indonesia menghabiskan waktu selama 5,5 jam per hari menatap layar ponsel pintarnya. Selain itu, waktu yang digunakan untuk menggunakan smartphone paling banyak dilakukan saat sore hingga malam hari. Pengguna smartphone pada waktu itu menjadi terbesar kedua di bawah penonton televisi. Hal tersebut diungkapkan oleh Google Indonesia melalui hasil survei yang dilakukannya di lima kota besar di Indonesia pada periode Desember 2014 hingga Februari 2015 lalu (tekno.kompas.com).

 

Ada begitu banyak waktu luang yang kita miliki dalam sehari, pilihan pertama untuk menggunakan waktu luang tersebut pastilah digunakan untuk bermain gadget. Bangun tidur mengecek gadget, sebelum tidurpun gadget adalah benda yang terakhir kita pegang. gadget ini

 

 

punya daya magis yang luar biasa dalam menghabiskan waktu kita, entah sihir apa yang membuat kita untuk sedikit-sedikit mengecek gadget.

 

Yang paling parah tentunya saat sedang berkumpul dengan orang-orang di sekitar kita, seharusnya kita menghabiskan waktu dengan berinteraksi dan mengobrol, justru kita selalu sibuk sendiri mengurusi gadget kita. Saat ini orang-orang telah diperbudak dengan gadgetnya, kurang memperhatikan teman yang sedang berbicara, dan tidak memperhatikan lingkungan sekitar. Seringkali teman yang sedang mengajak bicara kita respon namun mata kita tetap asik memandangi gadget. Orang-orang saat ini cenderung lupa bahwa ada teman yang sesungguhnya disampingnya. Manusia hanya dianggap objek, bukan lagi manusia selayaknya saat mereka bertemu (Goleman, 2007).

 

Gadget telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat Indonesia. Menggunakan gadget merupakan aktivitas wajib orang-orang saat ini. Pengguna gadget di Indonesia pun sudah tidak mengenal status sosial, gadget sudah sangat mudah didapatkan dengan harga-harga murah, bahkan dengan harga murah sekalipun dengan menggunakan kejelian dan pengetahuan yang tepat akan didapatkan gadget dengan kualitas bagus. Dari segi usia, baik dari anak kecil sampai orang dewasa memiliki gadget. Bahkan ketika saya sedang mengantar adik saya yang masih berada di Sekolah Dasar, saya sering menjumpai anak-anak SD tersebut sedang berjalan-jalan sambil mengalungi smartphone di lehernya.

 

Lembaga riset digital marketing Emarketer memperkirakan pada 2018 jumlah pengguna aktif smartphone di Indonesia akan mencapai lebih dari 100 juta orang. Dengan jumlah sebesar itu, Indonesia akan menjadi negara dengan pengguna aktif smartphone terbesar keempat di dunia setelah Cina, India, dan Amerika (www.kominfo.go.id).

 

  1. Apa yang dimaksud dengan gadget ?

 

 

Sebelum menjelaskan tentang adiksi Gadget, penulis akan menjelaskan definisi Gadget. Diantara pengertian Gadget sebagai berikut yaitu menurut Merriam Webster yaitu “an often small mechanichal or electronic device with practical use but often thought of as a novelty. Yang artinya dalam bahasa Indonesia adalah sebuah perangkat mekanik atau elektronik dengan penggunaan praktis tetapi sering diketahui sebagai hal baru.

 

Untuk menghindari kesalahan dan lebih terarahnya pembahasan maka adiksi gadget yang dibahas dalam essay ini lebih kepada adiksi terhadap smartphone, gadget yang hampir setiap orang miliki dan senantiasa dibawa pada kehidupan sehari-hari. Smartphone adalah gadget yang paling canggih dan diterima oleh masyarakat di seluruh Negara. Penggunaan smartphone saat ini sudah menjadi kebutuhan primer masyarakat, pada essay ini akan dijelaskan mengenai adiksi smartphone dan pengaruhnya terhadap kesehatan mental serta strategi dalam pengelolaan smartphone tersebut.

 

Adiksi smartphone adalah hilangnya kemampuan untuk mengatur dengan baik penggunaan smartphone sampai-sampai menyebabkan konsekuensi negatif dalam kehidupan sehari-hari seseorang Bilieux (2012: 89). Gadget menurut Griffiths (Essau, 2008) menyatakan bahwa kecanduan merupakan aspek perilaku yang kompulsif, adanya ketergantungan, dan kurangnya kontrol.

 

 

  1. Mengapa adiksi gadget mengancam kesehatan mental kita ?

 

Permasalahan kesehatan mental beberapa tahun belakang menjadi kajian yang cukup

 

serius bagi tenaga kesehatan. Begitu juga dengan perkembangan gadget dan kaitannya dengan kesehatan mental. Ketergantungan terhadap smartphone berpotensi membuat seseorang beresiko mengalami depresi, kesulitan tidur, dan mempengaruhi kesehatan mentalnya.

 

 

Sebuah penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa semakin sering remaja menghabiskan waktunya di depan Gadget, maka semakin tinggi kemungkinan mereka untuk mengalami depresi (Twenge, Joiner, Rogers & Martin, 2017). Pengguna Gadget saat ini tidak bisa terlepas atau jauh dari Gadgetnya. Orang-orang yang Gadgetnya mati atau tertinggal akan merasa cemas dan was-was selain itu juga akan merasa kesal saat ada masalah yang penting atau darurat kemudian smartphonenya mati.

 

Anggapan yang menyebutkan bahwa manusia saat ini mengalami ketergantungan terhadap gadget telah terbukti kebenarannya. Nielsen, lembaga riset media dan ekonomi asal Inggris, merilis laporan yang menyebutkan bahwa kebanyakan konsumen di dunia merasa gelisah jika mereka berada jauh dari gadget-nya. Dalam laporan yang dirilis pada Kamis (13/10/2016) tersebut, Nielsen menyatakan bahwa 56% konsumen global tidak dapat membayangkan hidup tanpa perangkat mobile. Kemudian, dijelaskan pula bahwa 53% konsumen global merasa tidak tenang jika berada jauh dari perangkat mobile mereka. Bahkan, 70% konsumen global merasa perangkat mobile membuat hidup mereka menjadi lebih baik. Ketergantungan terhadap gadget juga membuat interaksi tatap muka tergantikan oleh interaksi elektronik. Dua pertiga responden global menyetujui hal tersebut. Hal ini sangat wajar terjadi karena 47% responden mengatakan bahwa mereka lebih suka berkomunikasi dengan teks daripada berbicara langsung. (Tirto.id)

 

Aktifitas sosial media juga menjadi kegiatan yang sangat sering dilakukan dalam penggunaan smartphone. Kecanduan bermain media sosial telah menghabiskan banyak waktu kita di depan layar gadget, membuat otak kelelahan, dan menurunkan kesehatan mental. Penggunaan sosial media juga dapat memberikan dampak buruk seperti yang disimpulkan oleh sebuah studi bahwa sosial media dapat membuat individu menjadi teralihkan dari tugasnya dan juga membuat individu kesulitan ketika harus berkomunikasi secara langsung (Kavitha & Bhuvaneswari, 2016).

 

 

Para peneliti menyatakan, semakin banyak kamu menghabiskan waktu pada media sosial, semakin besar kemungkinanmu mengalami masalah kesehatan mental. FoMo turut menjadi salah satu alasan untuk menghabiskan waktu di sana. FoMo merupakan kecemasan seseorang karena takut ketinggalan suatu momen di media sosialnya. Waktu yang banyak dihabiskan ini mengakibatkan timbulnya penggunaan media sosial yang berlebihan dan berkepanjangan dalam hidup manusia. Persoalan nyata berkaitan masalah kesehatan mental yang sering muncul dari media sosial antara lain: merasa rendah diri, merusak konsentrasi, penurunan harga diri, kecemasan, depresi, merasa kurang memiliki relasi, dan kecanduan media sosial. (pijarpsikologi.org).

 

 

 

 

Apa yang harus kita lakukan ?

 

Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali saya menemukan teman-teman saya yang mengalami kecanduan dalam menggunakan smartphonenya, khususnya ketergantungan dalam menggunakan media sosial. Gejala-gejala yang dialami persis sepeti yang telah dijelaskan dalam pembahasan sebelumnya, mereka mengalami kecemasan akan ketinggalan suatu momen jika tidak membuka media sosialnya, merasa depresi dan mempengaruhi interaksi mereka dalam sehari-hari. Salah satu teman terdekat saya bahkan seringkali berulang kali menonaktifkan dan menghidupkan akun media sosialnya.

 

Upaya-upaya yang dapat kita lakukan menurut saya pertama yaitu melakukan digital detox. Digital detox adalah periode waktu di mana seseorang menahan diri untuk tidak menggunakan perangkat elektronik seperti ponsel cerdas atau komputer, untuk mengurangi stres atau fokus pada interaksi sosial di dunia nyata. Kita dapat melakukannya secara bertahap, misalnya menerapkan aturan atau batasan dalam menggunakan smartphone, membuktikan kepada diri sendiri bahwa kita bisa pergi 15 menit tanpa mengecek smartphone. Seiring berjalannya waktu, tingkatkan lamanya waktu tanpa mengecek smartphone hingga kita terbiasa

 

 

dengan kebiasaan sehari-hari untuk tidak menghabiskan waktu terlalu lama bersama smartphone.

 

Kedua yaitu memanfaatkan smartphone itu sendiri untuk melawan kecanduan smartphone. Smartphone tak selalu membawa dampak buruk tentunya. Banyak sekali sebenarnya manfaat yang dapat kita dapat jika kita bijak dalam menggunakan smartphone. Dalam meningkatkan kesehatan mental misalnya, ada aplikasi-aplikasi yang telah dirancang dalam rangka meningkatkan kesehatan mental masyarakat. Kita dapat melakukan cara ini untuk meningkatkan kesehatan mental kita. Aplikasi-aplikasi yang dapat kita gunakan contohnya yaitu :

 

  1. Riliv

 

 

Aplikasi ini diciptakan oleh anak bangsa yang memberikan fasilitas bagi penggunanya berupa konsultasi masalah pribadi secara gratis dengan psikolog professional dan mahasiswa psikolog.

 

  1. Operation Reach Out

 

 

Aplikasi ini membantu orang-orang yang memiliki resiko melakukan bunuh diri untuk mendapatkan bantuan sesegera mungkin.

 

  1. Self-help Anxiety Management

 

 

Aplikasi Self-help Anxiety Management dikembangkan oleh tim psikolog dan pakar computer dari University of West England England untuk menciptakan sumber daya kesehatan mental yang menarik dan praktis bagi masyarakat.

 

  1. Mindshift

 

 

MIndshit adalah sebuah aplikasi yang memanfaatkan bimbingan dan evaluasi berdasarkan CBT (terapi perilaku kognitif) untuk membantu orang-orang belajar dan mempraktikkan keterampilan mengatasi kecemasan.

 

  1. Mood Tools

 

 

Dirancang bekerja sama dengan tenaga profesional di bidang kesehatan mental, Mood Tools adalah aplikasi gratis yang dikembangkan untuk membantu penggunanya mengidentifikasi gejala episode manik atau depresi serta kuesioner untuk melacak tingkat keparahan suasana hati Anda dari waktu ke waktu. (stikesindramayu.ac.id)

 

Ketiga, dapat melalui sebuah kampanye gerakan untuk memberikan kesadaran di masyarakat. Kesehatan mental di Indonesia haruslah diperjuangkan, perjuangan-perjuangan ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan dunia digital maupun turun langsung ke lapangan. Gerakan-gerakan ini sangat mudah dilakukan di dunia maya saat ini, dengan menggunakan sebuah tagar dan memanfaatkan organisasi-organisasi yang ada untuk menguatkan dan meluaskan gerakan itu, dan yang tak kalah penting tentunya harus diselaraskan dengan gerakan langsung di dunia nyata. kegiatan semacam ini pun sudah dilakukan oleh banyak Lembaga Eksekutif Mahasiswa Psikologi di Indonesia, dan juga oleh ILMPI pada tahun lalu misalnya dengan mengkampanyekan tagar #rayakankesehatanmental dan #bangunjiwa.

 

Daftar Pustaka

 

 

Akhmad Muawal Hasan. 2017. Candu Medsos Mengacaukan Kesehatan Mental. Diunduh pada tanggal 5 Februari dari https://tirto.id/candu-medsos-mengacaukan-kesehatan-mental-ckhE

 

 

Aulia Fanny. 2018. 5 Cara Digital Detox, Biar Nggak Kecanduan Sosmed. Diunduh pada tanggal 4 Februari dari https://sehatmental.id/5-cara-digital-detox/

 

Billieux, J. (2012). Problematic use of the mobile phone: A literature review and a pathways model. Current Psychiatry Reviews, 8(4), 299–307. https://doi.org/10.2174/157340012803520522

 

 

Eastwood, John, Oxford Learner Dictionary. UK: Oxford University Press 2009

 

Essau, C. A. 2008. Adolescent Addiction :Epidemiology, Assesment and Treatment. New York : Elsevier Inc

 

Goleman, D. (2007). Social intelligence. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

 

Indah Rahmayani. 2015. Indonesia Raksasa Teknologi Digital Asia. Diunduh pada tanggal 4 Februari dari https://www.kominfo.go.id/content/detail/6095/indonesia-raksasa-teknologi-digital-asia/0/sorotan_media

 

Kavitha & Bhuvaneswari. (2016). Impact of Social Media on Millennials – A Conceptual Study Apeejay-Journal of Management Sciences and Technology.

 

Nathania Vrischika. 2017. Semakin Sering di Depan Gadget, Semakin Dekat dengan Depresi?. Diunduh pada tanggal 5 Februari dari https://sehatmental.id/Gadget-dan-depresi/

 

Reska Nistanto. 2016. Kebiasaan Orang Indonesia, Pelototi “Smartphone” 5,5 Jam Sehari.

Diunduh pada tanggal 4 Februari dari

http://tekno.kompas.com/read/2015/09/04/11301837/Kebiasaan.Orang.Indonesia.Pelototi.Sm

artphone.5.5.Jam.Sehari.

 

Webster, Merriam, Appl Copyright 2010-2016 Stanfy Corp, Version 2.0.

 

Yuliana Ratnasari. 2016. Survei: Ketergantungan pada Gadget Membuat Manusia Gelisah. Diunduh pada tanggal 5 Februari dari https://tirto.id/survei-ketergantungan-pada-Gadgetmembuat-manusia-gelisah-bUvX

 

Zahrah Nabilah. 2017. Media Sosial dan Kesehatan Mental: Yes or No?. Diunduh pada tanggal 5 Februari dari http://pijarpsikologi.org/media-sosial-terhadap-kesehatan-mental/

 

http://www.stikesindramayu.ac.id/read/273/menjaga-kesehatan-mental-dengan-Gadgetkita.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *