Temu Ilmiah Nasional ILMPI 2018

 

Social Education Berbasis Kompetensi Masyarakat

Sebagai Upaya Menjaga Kesehatan Mental

Sirril Wafa

Fakultas Humaniora Universitas Teknologi Yogyakarta

 

 

 

  1. Pendahuluan

 

Kesehatan mental masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan yang signifikan di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Data dari World Health Organization menunjukkan bahwa sekitar 35 juta orang di dunia mengalami depresi, 60 juta orang mengalami bipolar, 21 juta mengalami skizofrenia, serta 47,5 juta orang mengalami dimensia.(WHO, 2016). Keragaman faktor biologis, psikologis, dan sosial di Indonesia menjadi salah satu resiko dari gangguan kesehatan mental yang terjadi. Secara tidak langsung, hal ini berdampak pada penanganan kesehatan negara secara finansial sekaligus penurunan produktivitas manusia dalam jangka waktu panjang.

Liputan Kompasiana (2011) menyebutkan bahwa dari keseluruhan populasi di Indonesia saat ini yang mencapai 150 juta jiwa, sekitar 11,6 persen atau 17,4 juta jiwa mengalami gangguan mental emosional atau gangguan kesehatan jiwa dikarenakan kecemasan maupun depresi. Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Dien Emawati juga menyatakan bahwa jumlah penderita gangguan jiwa ringan hingga triwulan kedua tahun 2011 mencapai 306.621 orang. Angka ini meningkat dari jumlah 159.029 orang pada tahun 2010. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah penderita gangguan jiwa di Jakarta mencapai angka 14,1 persen dimana angka tersebut melebihi jumlah penderita gangguan jiwa secara nasional yaitu 11,6 persen. Angka tersebut diperoleh dari survei kesehatan daerah tentang gangguan jiwa mental dan emosional oleh Kementerian Kesehatan.

 

  1. Latar Belakang

 

Tingginya angka gangguan jiwa yang dialami oleh penduduk di perkotaan terjadi karena faktor-faktor tertentu seperti kehidupan masyarakat kota yang mayoritas waktunya digunakan untuk bekerja atau di luar rumah. Rutinitas yang dilakukan para pengampu profesi ini akhirnya menciptakan individu yang kurang menghargai waktu untuk dirinya sendiri. Pola hidup seperti demikian berdampak pada minimnya proses interaksi antar-masyarakat lingkungan sekitar dan mengakibatkan kurangnya rasa saling memiliki maupun menghargai satu sama lain serta perlahan mengakibatkan rasa apatis dimana hal tersebut akan membentuk suatu kepribadian individualis pada penduduk perkotaan.

 

Beberapa contoh ungkapan fisik sebagai perwujudan perilaku individualis pada masyarakat kota yaitu:

  1. Pemasangan pagar halaman depan yang dibuat sangat tinggi dan masif, mencerminkan ketertutupan, kecurigaan, kehati-hatian dan kurangnya “welcome” terhadap tamu yang akan berkunjung.
  2. Perwujudan bentuk-bentuk bangunan yang tidak selaras dengan lingkungan, hanya karena untuk memenuhi ego pemilik supaya tidak disamakan atau tidak ingin sama dengan lingkungannya, dalam arti supaya dianggap lebih tinggi derajatnya dari lingkungan tersebut.
  3. Tulisan-tulisan atau tanda-tanda petunjuk yang mempunyai indikasi untuk menunjukkan bahwa sesuatu area adalah milik pribadi, bukan untuk masyarakat umum sehingga masyarakat umum tidak boleh masuk area tersebut, atau setidak-tidaknya enggan untuk memasuki mengingat risiko yang mungkin timbul.

 

Perilaku individualis selain diwujudkan dalam ungkapan fisik, juga banyak didapati pada sikap dan perilaku masyarakat kota. Hal ini bisa dilihat dari beberapa contoh:

  1. Kurang akrabnya antar tetangga pada suatu kompleks perumahan atau perkampungan, karena masing-masing orang telah sibuk dengan urusannya sendiri.
  2. Masing-masing tetangga merasa tidak perlu menyapa apabila bertemu di jalan, karena merasa tetangga tersebut adalah orang asing bagi orang tersebut. Kemungkinan lain dari kondisi tersebut adalah tidak terpikirkannya orang tersebut untuk menyapa, karena pikirannya memang sudah dipenuhi dengan berbagai kesibukan kerja hari itu.
  3. Kurangnya tenggang rasa dalam bersikap dan berbuat.

 

 

 

 

Dampak dari perilaku individualis scara teoritis telah menghambat hierarki kebutuhan dari Abraham Maslow berupa kebutuhan sosial dan kasih sayang dan hal tersebut akan berimbas pada tidak dapat terpenuhinya kebutuhan akan harga diri dan aktualisasi diri scara sempurna bahkan dapat mempengaruhi kesehatan mental, individu akan merasa kesepian dan terisolir dari lingkungan pergaulan, disinilah titik dibutuhannya teman perhatian dari lingkungannya

Rutinitas kerja yang dilakukan tanpa diimbangi dengan pola hidup sehat, baik secara psikologis maupun fisik dapat berpotensi terjadinya stres kerja hingga berujung kematian Salah satu kasus stres keja yang mengakibatkan kematian dilansir dari Wartakota (2018) adalah seorang karyawati Bank BRI, Meritha Vridawati (26) yang ditemukan tewas di selokan air dekat Thamrin City, Jalan Boulevard, Kebon Melati, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (8/1/2018) pagi. Ia diduga tewas setelah terjun bebas dari area parkiran di lantai 10 sebuah gedung. Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Roma Hutajulu menyatakan bahwa korban diduga mengakhiri hidupnya lantaran stres akibat tekanan pekerjaan. Pemberitaan terkait dengan kematian juga terjadi pada Joseph Thomas yang dilansir dari CNN Indonesia

 

(2017). Pria tersebut yang menjabat sebagai engineer software di Uber inc dan baru saja bekerja di perusahaan tersebut kurang lebih selama lima bulan, melakukan bunuh diri diduga stress karena beban kerja yang sangat berat . Kasus-kasus ini menunjukkan bahwa tekanan yang terjadi pada rutinitas sehari-hari merupakan ancaman yang fatal pada kehidupan seseorang.

Fakta yang terjadi di lingkungan masyarakat modern saat ini sudah terbalik, dimana masyarakat cenderung memperhatikan kesehatan fisik dibandingkan kesehatan jiwa (mental) itu sendiri. Pencanangan lingkungan masyarakat yang sehat secara fisik membuat kepentingan kesehatan psikogis manusia menjadi tersingkirkan.

Kondisi lingkungan saat ini memberikan ancaman bukan hanya faktor fisik akan tetapi juga yang lebih rentan, yaitu faktor mental emosional. Kondisi kota besar yang diwarnai kemacetan, polusi udara, kebisingan, dan ruang hidup yang makin menyempit memberikan tekanan luar biasa sehingga kondisi mental emosional senantiasa bergejolak. Selain itu, kondisi ruang lingkup sosial yang penuh dengan kompetisi secara tidak langsung membentuk masyarakat menjadi seseorang yang materialism dan individualisme, kemerosotan akhlak, moral atau etika pada setiap individu di masyarakat menyebabkan iklim sosial yang kurang sehat dan tidak kondusif sehingga gangguan mental lebih rentan terjadi

Salah satu solusi dalam menghadapi situasi dimana masyarakat mengalami gangguan mental adalah dengan adanya pelayanan terhadap pasien tersebut secara medis. Meskipun demikian, tidak semua daerah di Indonesia memiliki pelayanan medis terhadap gangguan kesehatan jiwa. Diah Setia Utami sebagai Direktur Bina Kesehatan Jiwa Kemenkes menyatakan bahwa saat ini hanya ada 26 Rumah Sakit Jiwa di Indonesia dan masih ada delapan provinsi di Indonesia yang tidak memiliki Rumah Sakit Jiwa, yakni Kepulauan Riau, Banten, Sulawesi Barat, Maluku Utara, Gorontalo, NTT, Papua Barat, Kalimantan Utara. Sedangkan daerah yang belum memiliki tenaga psikiater adalah Gorontalo, Papua Barat,

 

Sulawesi Barat, Maluku Utara, dan Kalimantan Utara. Hal ini dapat menjadi satu evaluasi bahwa perlindungan masyarakat terhadap gangguan jiwa di Indonesia belum sepenuhnya merata.

Kutipan dari istilah “lebih baik mencegah dari pada mengobati” Menunjukkan bahwa perlu adanya kesadaran sejak dini untuk menjaga kesehatan mental pada setiap diri individu. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kepekaan masyarakat terhadap gangguan mental serta meningkatkan kontribusi pada lingkungan sosial untuk mencegah terjadinya gangguan mental, baik di lingkungan kerja maupun lingkungan tempat tinggal.

 

  1. Dasar Teori

 

Kesehatan mental memiliki makna dimana sehat (health) secara umum dapat dipahami

 

sebagai kesejahteraan penuh (keadaan yang sempurna), baik secara fisik, mental, maupun sosial, tidak hanya terbebas dari penyakit atau keadaan lemah. UU Kesehatan No. 23/ 1992 juga menyatakan bahwa sehat adalah suatu keadaan sehat secara fisik, mental, dan sosial dimana memungkinkan setiap manusia untuk hidup produktif, baik secara sosial maupun ekonomis.

 

World Health Organization (WHO, 2001) menyatakan bahwa kesehatan mental merupakan kondisi dari kesejahteraan yang disadari individu, yang di dalamnya terdapat kemampuan-kemampuan untuk mengelola stres kehidupan yang wajar, untuk bekerja secara produktif dan menghasilkan, serta berperan serta di komunitasnya.

  1. Gagasan

 

Mengacu pada realitas sosial di masyarakat perkotaan mengenai kehidupan di tempat kerja maupun lingkungan tempat tinggal yang tidak sehat scara mental. Selain itu kualitas lingkungan kota besar yang diwarnai kemacetan, polusi udara, keadaan ruang hidup yang menyempit ikut andil dalam permasalahan yang dihadapi masyarakat kota. Sangat penting adanya suatu gerakan yang diinisiasi oleh masyarakat sebagai bentuk kepedulian terhadap

 

kesehatan mental manusia itu sendiri, berupa kegiatan Public Space yang merupakan suatu wadah yang dapat menampung aktivitas tertentu dari masyarakat, baik secara individu maupun kelompok (Rustam Hakim 1987). yang implikasinya pada hubungan yang saling membutuhkan dan menghargai.

 

Penyelesaian permasalahan terkait dengan kesehatan mental di perkotaan seperti dipaparkan di atas membutuhkan adanya pengamatan mengenai (1). Kebutuhan individu maupun masyarakat lingkungan tersebut, yang selanjutnya menggunakan teori dari Abraham Maslow serta (2). Potensi sumber daya manusia yang ada dalam tiap-tiap individu tersebut.

Secara teoritis, Abraham Maslow telah menyusun kebutuhan manusia dalam lima tingkatan yang akan dicapai menurut tingkat kepentingannya sebagai berikut:

  1. Kebutuhan fisiologis (Pysiological Needs) berupa sandang pangan dan papan.

 

  1. Kebutuhan keamanan (Safety Needs), yakni kebutuhan tingkat kedua yang harus dipenuhi setelah kebutuhan tingkat pertama dipenuhi dan dipuaskan. Kebutuhan keamanan berupa kestabilan, perlindungan, serta bebas dari rasa takut dan ancaman.
  2. Kebutuhan sosial (social and belongingness Needs). Setelah kebutuhan sebelumnya tercapai, maka timbullah kebutuhan akan sosial dan kasih sayang, yaitu kebutuhan untuk berhubungan dengan orang lain, berinteraksi, saling mengenal dengan lingkungan sosialnya.
  3. Kebutuhan Harga Diri (Self Esteem Needs), yakni kebutuhan tingkat tinggi berupa kebutuhan akan harga diri. Pemuasan kebutuhan terhadap harga diri akan membawa pada keyakinan diri, kekuatan, dan berdampak pada kesehatan mental.
  4. Kebutuhan aktualisasi diri (Self Actualization Needs), kebutuhan aktualisasi diri atau perwujudan diri yang merupakan kebutuhan tingkat kelima yang paling tinggi. Kebutuhan ini ada setelah empat kebutuhan sebelumnya dicapai secara memuaskan. Pada dasarnya, kebutuhan ini bertujuan untuk membuat seluruh potensi yang ada dalam

 

diri seseorang sebagai sesuatu wujud nyata, yaitu dalam bentuk usaha aktualisasi diri. (Sutarto Wijono, 2015: 28-31.)

Fenomena masyarakat perkotaan di zaman modern saat ini menjadi terbalik ketika kebutuhan fisiologis seperti gaji dan kebutuhan lainnya tercapai, namun tidak diimbangi dengan kebutuhan psikologis. Tekanan yang dialami dari rutinitias, beban pekerjaan dan kurangnya interaksi lingkungan belum menciptakan rasa aman dan segala aspek kebutuhan psikologis yang dibutuhkan oleh seorang individu.

Oleh karena itu, dalam menghadapi situasi penuh tekanan tersebut, setiap individu perlu untuk mengembangkan potensinya masing-masing baik secara alamiah maupun berlatih dari lingkungannya. Potensi yang dimiliki oleh seorang individu tentunya dapat ditularkan kepada orang lain terutama di dalam lingkup masyarakat tempat ia tinggal.

Pada titik inilah dibutuhkan suatu program dengan berlandaskan permasalahan masyarakat yang sedang dihadapi. Proses yang dilakukan dengan melihat pada kebutuhan dari permasalahan menjadi sebuah evaluasi bagi individu itu sendiri untuk mengembangkan potensi yang ada pada diri.

Contoh yang dapat digambarkan terkait dengan program tersebut terjadi di Daerah Istimewa Yogyakarta dengan jumlah keseluruhan 128 Perguruan Tinggi, terdiri Universitas Negeri =4, Universitas Swasta =17, Institusi Negeri=1, Institusi Swasta= 5, Sekolah Tinggi Negeri/Kedinasan= 4, Sekolah Tinggi Swasta=44, Akademi Negeri/Kedinasan=2, Akademi Swasta=43, Politeknik Negeri=1, Politeknik Swasta=1, dan 1 Universitas Terbuka (Direktori Perguruan Tinggi Yogyakarta, 2016: V-Vi). Tak heran bila Yogyakarta menjadi provinsi dengan jumlah perguruan tinggi terbanyak di Indonesia serta dijuluki Kota Pelajar.

Sumber daya manusia yang memiliki latar belakang akademisi dari berbagai macam disiplin ilmu serta kompetensi lainnya seperti dokter, pedagang, pengusaha dan lain sebagainya, menjadikan Yogyakarta sebuah lokasi yang tepat untuk mengembangkan potensi

 

sumber daya manusia, penulis memberikan tawaran atas permasalahan di atas dengan adanya kegiatan (social education) bagi anggota masyarakat kota, acara rutin dari berbagai lintas agama, suku, ras maupun antar golongan yang diselenggarakan setiap sebulan sekali di hari libur kerja dengan diinisiasi oleh masyarakat dalam cakupan ruang lingkup Rukun Tetangga (RT). Dengan isi kajian didalamnya berupa sharing bersama mengenai lintas kompetensi yang dimiliki tiap individu dalam rangka mengedukasi masyarakat lain mengenai suatu disiplin ilmu yang sebelumnya belum mereka ketahui.

Sebagai contoh, individu yang berprofesi sebagai psikolog dapat memberi edukasi terhadap pola asuh perkembangan anak yang baik dan benar kepada orangtua dari kalangan pengusaha, dokter maupun pedagang, dan sebaliknya individu yang kompetensinya di bidang perdagangan, katakanlah kain, dapat menyalurkan pengetahuannya tentang jenis kain yang baik dan bagus serta murah ke masyarakat lainnya dan juga dapat berupa sharing mengenai pekerjaan berupa kendala kerja permasalahan di tempat kerja dengan tujuan mengomunikasikan suatu permasalahan yang dihadapi individu dengan lingkungan terdekat.

 

Acara pendidikan sosial (social education) bagi anggota masyarakat kota sebagai stimulus agar terbentuknya interaksi sosial. Hal tersebut didukung oleh faktor internal maupun eksternal terbentuknya interaksi sosial

 

  1. Faktor internal, dorongan untuk memenuhi kebutuhan

 

  1. Faktor internal, dorongan untuk berkomunikasi

 

  1. Faktor internal, dorongan untuk mempertahankan kehidupan

 

  1. Faktor eksternal, dorongan motivasi dari lingkungan luar

 

  1. Factor eksternal, simpati berupa ketertarikan terhadap suatu individu atau kemolpok karena sikap, penampilan, wibawa atau perbuatan yang sedemkian rupa.

(Soerjono Soekanto, 2015: 54-56.)

 

  1. Penutup

 

Dalam progam ini sekaligus menjawab tentang permasalahan yang dihadapi masyarakat perkotaan mengenai potensi stres yang dihadapi, pemenuhan kebutuhan masyarakat perkotaan berupa kebutuhan akan bersosial dengan lingkungannya, serta bagaimana menjawab kedua hal tersebut dengan mengolaborasikan kompetensi yang ada dalam diri setiap individu dengan progam social education bagi anggota masyarakat kota diyakini akan menciptakan manusia yang mampu memanusiakan manusia dengan menebar kebaikan, menyampaikan ilmu ke orang lain seperti bunyi hadis Ballighu’anni walau aayah, sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat, guna terwujudnya kesehatan mental di berbagai lapisan masyarakat dengan terwujudnya Indonesia tersenyum dengan psikologi.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Arifin, Bambang Syamsul. 2015. Psikologi Sosial. Bandung: Pustaka Setia

 

Boeree, George. 2016. Personality Theories. Yogyakarta: Prismasophie

 

Dinas  Pendidikan,  Pemuda  dan  Olahraga.  2016.  Direktori   Perguruan   Tinggi Yogyakarta2016. Yogyakarta: Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Soemardjito, 1999. Permasalahan Perkotaan dan Kecenderungan Perilaku Individualis

Penduduknya. Yogyakarta: Jurnal FPTK IKIP Yogyakarta. Vol 5

 

Wijono, Sutarto. 2015. Psikologi Industri dan Organisasi. Jakarta: Prenadamedia Group CNN Indonesia. (2017, 27 April). Diduga Stres Bekerja, Karyawan Uber Bunuh Diri.

 

Diperoleh. 30 Januari 2018. https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20170427105021-185-210498/diduga-stres-bekerja-karyawan-uber-bunuh-diri

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2016, 06 Oktober). Peran Keluarga Dukung

 

Kesehatan Jiwa Masyarakat. Diperoleh 01 Februari 2018. http://www.depkes.go.id/article/print/16100700005/peran-keluarga-dukung-kesehatan-jiwa-masyarakat.html

Kompasiana. (2011, 24 Oktober). 17,4 Juta Orang Alami Stres Depresi. Diperoleh 28 Januari

 

  1. https://www.kompasiana.com/atep_afia/17-4-juta-orang-alami-stres-dan-depresi_5508e6a2a333112a452e39af

Warta Kota Jakarta. (2018, 8 Januari). Diduga Stres Bekerja, Karyawati BRI Bunuh Diri. Diperoleh 28 Januari 2018. http://wartakota.tribunnews.com/2018/01/08/diduga-stresbekerja-karyawati-bri-bunuh-diri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *