Temu Ilmiah Nasional ILMPI 2018

Psychological Well-Being Pada Pegawai yang Bekerja shif

Omelia M. Tikupadang

Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Kristen Satya Wacana

 

 

 

Memasuki abad ke-21 persaingan hidup manusia semakin ketat, sehingga membuat banyak orang lebih cenderung menghabiskan waktunya untuk bekerja. Bagi sebagian orang, bekerja adalah esensi utama untuk mencapai kehidupan yang sejahtera. Namun, ada juga sebagian orang yang memandang bahwa bekerja adalah tuntutan hidup yang harus dijalani demi kelangsungsan hidupnya setiap hari. Dalam bekerja, orang akan memiliki idealisme diri yang tinggi untuk menjadi sumber daya yang produktif dan tetap memiliki mental yang sehat dalam bekerja. Kesehatan mental integral dengan konsep kesejahteraan (well-being), memungkinkan individu melakukan segala sesuatu untuk mencapai aktualisasi diri dalam hidupnya. Kapasitas individu untuk melakukan dan menjadi sesuatu dibentuk oleh kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan. Individu berupaya mengembangkan potensi yang dimilikinya disegala aspek kehidupan tanpa terkecuali di tempat kerja.

 

Secara teknis, perubahan di tempat kerja seperti beban kerja, tuntutan kerja, jenis pekerjaan bisa menimbulkan masalah mental. Gangguan mental yang sering dikeluhkan berupa stress, depresi dan kecemasan. Gangguan mental di tempat kerja mungkin berpengaruh secara berbeda pada setiap individu (Gül, 2012). Penulisan ini lebih difokuskan pada pegawai yang memiliki jam kerja shif atau bergilir, karena permasalahan yang dihadapi lebih kompleks daripada orang-orang yang bekerja reguler. Penulis tertarik untuk melihat sejauh mana hubungan psychological well-being pada pegawai yang bekerja shif.

 

Kerja shif diartikan sebagai suatu cara organisasi menentukan waktu kerja sama secara reguler pada waktu yang sama (shif tetap) dan waktu yang berbeda-beda (rotasi shif).

Pemberlakukan jam kerja shif hanya pada perusahaan yang beroperasi selama 24 jam setiap harinya dengan membagi jam kerja berdasarkan kebutuhan perusahan tersebut. Orang-orang yang tidak bisa bekerja reguler di siang hari seperti mahasiswa lebih memilih bekerja di sore atau malam hari. Bekerja shif memang bisa memaksimalkan sumber daya yang ada, memberikan lingkungan yang sepi bila bekerja pada shif malam dan memberikan waktu libur lebih banyak bagi pegawai. Orang-orang yang bekerja shif juga akan mengalami perubahan jam biologis seperti perubahan waktu tidur dan waktu makan yang bisa saja menimbulkan masalah kesehatan diantaranya hipertensi dan gastrointertinal (maag). Pegawai yang bekerja shif malam lebih beresiko daripada pegawai dengan jam kerja shif pagi karena memiliki stress lebih ringan dan memiliki waktu istirahat yang lebih banyak, serta penerangan yang cukup saat bekerja sehingga beban kerja tidak terlalu berat. Sedangkan, jam kerja shif malam memiliki jumlah pekerjaan lebih banyak, pekerjaan mengalami jam lembur kerja dan waktu istirahat lebih sedikit (Firmana, 2011). Hal inilah yang memicu terjadinya masalah-masalah mental.

Tanpa disadari, orang-orang yang bekerja shif atau bergilir mengalami perubahan baik secara fisik yang turut berpengaruh pada aspek psikologisnyai, dimana perubahan mood yang dikaitkan dengan kurangnya kualitas tidur dan juga relasi sosialnya menjadi terganggu. Permasalahan ini bisa memberi kontribusi pada terganggunya kesejahteraan pegawai sebagai individu serta memberi dampak pada performansi kerja. Ryff (1989) menjelaskan kesejahteraan psikologis sebagai suatu penilaian diri terhadap pengalaman hidupnya. Kesejahteraan yang lebih dari sekedar bebas dari distress dan masalah mental. Multidimensi kesejahteraan psikologis meliputi penerimaaan diri, hubungan positif dengan orang lain, otonomi, penguasaan lingkungan, tujuan hidup, dan pertumbuhan diri.

Untuk mencapai psychological well-being pada pegawai yang bekerja shif, maka perlu memperhatikan kesehatan individu menggunakan model yang dikembangkan dengan melihat beberapa faktor, yaitu yang pertama, penyusunan jadwal secara teratur atau tidak teratur, banyaknya perhatian diberikan pada individu ketika akan dituntut bekerja, tingkat pemilihan jadwal kerja yang bisa dipilih individu atau pertukaran periode kerja dengan orang lain, dan seberapa sering ketiadaan jam lembur (Folkard, 1993) Kedua, faktor yang bisa mengurangi pengaruh jadwal kerja mencakup karakteristik individu seperti gender, umur, dan kepribadian serta apakah individu memiliki kebiasaan tidur yang lama atau pendek (Barton, Spelten, Totterdell & Smith, 1995). Ketiga, faktor organisasi berhubungan dengan pimpinan atau atasan, tersedianya kualitas ruang tidur, level dukungan diantara kolega-kolega dan superviser serta memperhatikan kondisi fisik berupa kebisingan, panas, getaran dan cuaca buruk. Keempat, faktor situasional cenderung berhubungan dengan individu sebagai personal dan kehidupan profesionalnya berupa berapa lama waktu yang diperlukan untuk pulang pergi dari tempat kerja yang mana berpengaruh pada jam tidur yang lebih singkat sebelum kerja shif pagi (Tuker & Knowles, 2008).

 

Pentingnya meningkatkan psychological well-being pada pegawai yang bekerja shif yang diasosiasikan dengan kesehatan fisik, mental, hubungan keluarga dan sosial, dan tingginya level performansi kerja dapat meningkatkan hasil yang maksimal kepada organisasi atau perusahaan tersebut berupa kepuasan pelanggan, produktivitas, keuntungan, dan pergantian pegawai. Pegawai yang memiliki level psychological well-being yang tinggi, lebih cenderung memiliki performa kerja yang baik (Taneva, 2016). Pengalaman individu yang merasa senang turut berpengaruh pada kepuasaan kerja. Dengan kata lain, diasumsikan bahwa orang-orang yang tidak benar-benar menikmati hidup dan pekerjaan mereka, tidak bisa mencapai tujuan hidup dan pekerjaan yang maksimal.

Melihat dinamika yang terjadi, Kooji dan koleganya (2013) mendemonstrasikan praktek penggunaan HRM (Human Resource Management) dengan tujuan untuk mempertahankan kemampuan saat ini dan status di tempat kerja seperti fleksibel kerja dari rumah dan kerja shif, pelatihan keselamatan dan kesehatan pegawai, dan mengurangi jam kerja dapat meningkatkan kepuasaan kerja khususnya pada pegawai senior.

Pegawai yang bekerja shif perlu mengontrol dan menjaga kesejahteraan psikologis (psychological well-being) tetap baik dengan cara mempertimbangkan usia dan karakteristik pekerjaan yang berdampak pada hasil dari pekerjaan individu dari setiap kelompok usia. Orang-orang yang berusia lanjut tidak disarankan untuk melakukan pekerjaan dengan jam kerja shif atau bergilir. Pegawai memiliki otonomi untuk memutuskan pekerjaan seperti apa yang cocok dengan dirinya sendiri sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Dengan kata lain, pegawai yang masih berusia produktif akan memilih pekerjaan yang bisa mengembangkan pengetahuan dan pengalaman. Sedangkan, pegawai senior telah memiliki pengetahuan dan pengalaman yang lebih baik.

Dengan demikian, setiap orang yang memiliki tingkat psychological well-being yang baik, maka dirinya akan sangat mampu mengembangkan kemampuan yang ada dalam dirinya untuk bekerja sesuai dengan tuntutan dan karakteristik pekerjaan yang dilakukan. Semakin tinggi perfomansi seseorang, maka semakin baik pula psychological well-being. Pentingnya dukungan psychological well-being pada pegawai yang bekerja shif untuk mempertahankan performansi dalam organisasi atau perusahaan, seharusnya disadari oleh pimpinan dan pegawai untuk mampu mengenali tanda-tanda positif dan negatifnya psychological well-being serta bagaimana dirinya mampu mengaturnya secara efektif.

 

Daftar Pustaka

 

Chambers, C. (2016). Shift work, Scheduling, dan Risk Factors. ASMS Research Brief, 2, 1-9.

 

Dierendock, van, Dirk., Díaz, D., Carvajal-Rodríguez, R., Blanco, A., Jiménez-Moreno, B. (2007). Riff’s Six-factor Model of Psychological Well-being, A Spanish Exploration. Soc Indic Res, 83, 473-479.

 

Finn, P. (1981). The Effects of Shift Work on the Lives of Employees. Monthly Labor Review, 31-35.

 

Gül, H. (2012). Mobbing at workplaces and the Mental Health Effects on Employess, Essential Notes in Psychiatry, Dr. Victor Olisah (Ed.).

 

IOSH. (2003). The effects of shift work on health.

 

Ratanasiripong, P., Kaewboonchoo, O., Bell, E., Haigh, C., Susilowati, I., Isahak, M., Harncharoen, K., Nguyen, T., Low, Y. W. (2016). Depression, Anxiety and Stress among Small and Medium Enterprise Workers In Indonesia, Malaysia, Thailand, and Vietnam. International Journal of Occupational Health and Public Health Nursing, 3, 13-29.

 

Ryff, D. C. (1989). Happiness is Everything, or Is It? Explorations on the Meaning of Psychological Well-being. Journal of Personality and Social Psychology, 57, 1069-1081.

 

Taneva, S. (2016). What is psychological well-being and how it changes throughout the employment cycle?. UnicampBFCM, 83-90.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *