Temu Ilmiah Nasional ILMPI 2018

Slow Living : Regulasi Diri Dalam Menantang Budaya “ Cepat” Pada Tingkat Stress Kehidupan Masyarakat Perkotaan Dan Pekerja Bidang Kesehatan Di Indonesia

Demanda Bimantoro

Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang

 

Latar Belakang

Fenomena malpraktik dan permasalahan pelecehan pada pekerja medis pada awal 2018 merupakan catatan tersendiri pada pekerja kesehatan di Indonesia, berita tentang malpraktik yang akhir-akhir ini banyak dibicarakan adalah tentang menyuntik pasien yang sudah meninggal pada awal tahun ini yang terjadi di Sidoarjo dan pelecehan yang dilakukan perawat kepada pasien di Surabaya menjadikan salah satu indikasi tentang kurang profesionalnya pekerja kesehatan di Indonesia (http://m.tribunnews.com). Pada era yang modern ini, semua hal dituntut serba “cepat”, apalagi terhadap petugas kesehatan yang dituntut harus siap menangani pasien selama 24 jam dalam sehari. Hingga saat ini tidak ada aturan spesifik mengenai shift malam perawat rumah sakit, atau sektor kesehatan di dalam perundang-undangan. Oleh karena itu waktu kerja Shift malam pun sementara hanya merujuk pada ketentuan waktu kerja dalam pasal 77 ayat (2) UU Ketenagakerjaan tahun 2003 sebagai berikut :

  1. 7 (tujuh) jam 1 (satu) hari dan 40 (empat puluh) jam 1 (satu) minggu untuk 6 (enam) hari kerja dalam 1 (satu) minggu; atau
  2. 8 (delapan) jam 1 (satu) hari dan 40 (empat puluh) jam 1 (satu) minggu untuk 5 (lima) hari kerja dalam 1 (satu)

Pengaruh Pola hidup yang “cepat” menyebabkan berbagai masalah, tentang masalah kesehatan karena terlalu banyak mengkonsumsi fast food, karena merasa tidak punya waktu untuk memasak dan menikmati hasil masakan yang diolah sendiri. Kehidupan yang menuntut agar kita selalu “cepat” secara kita tidak sadari memaksa untuk menjadi seseorang yang multitasking dalam satu waktu, hal tersebut terjadi pada pekerja kesehatan di perkotaan, dimana pekerja dibebani dengan pekerjaan yang beragam dan deadline yang seakan tidak pernah berhenti, dan apabila tidak dilakukan maka resiko yang didapat adalah sanksi, ataupun pemotongan upah yang diberikan oleh suatu perusahaan atau instansi. Pilihan yang dilakukan

 

untuk tetap siap sedia dalam melaksanakan tugas adalah mengkonsumsi suplemen, namun disayangkan, banyak dari kalangan pekerja yang menjadikan narkoba sebagai suplemen untuk menjaga stamina. Hal tersebut dibuktikan dengan dari hasil BNN yang bekerja sama dengan (Puslitkes) Universitas Indonesia (UI) pada 2016. Sebanyak 70% pengguna narkoba adalah pekerja (http://m.republika.co.id). Ironisnya pekerja bidang kesehatan paling beresiko menjadi pecandu, karena akses yang mudah dalam mendapatkan obat-obatan dan tekanan kerja menjadi salah satu penyebabnya. Permasalahan yang lain yang dikhawatirkan adalah kemiskinan jenis baru diantara pekerja bidang kesehatan, yaitu kemiskinan akan waktu, karena para pekerja bidang kesehatan di tuntut untuk mengerjakan banyak pekerjaan banyak dengan waktu yang hanya terbatas 24 jam. Akhirnya semua yang dikerjakan tidak maksimal dan kurang berkualitas, demi kebijakan yang ditetapkan perusahaan ataupun instansi. Regulasi diri sangat diperlukan untuk mengontrol tindakan serta mengarahkan perilaku seseorang, merujuk pada permasalahan melawan budaya “cepat” pada pekerja bidang kesehatan, hal tersebut haruslah didukung oleh kebijakan perusahaan atau instansi dalam hal pembagian jam kerja dan istirahat yang efektif dan sesuai dengan porsi karyawan, khususnya pada daerah perkotaan agar kinerja karyawan lebih baik serta dapat mengurangi ataupun mencegah gangguan fisik dan mental akibat beban pekerjaan yang menumpuk. Berawal dari hal itu pemikiran Slow Living yang dicetuskan oleh Carl Honore, yaitu seorang jurnalis asal Kanada menyatakan “Kita hidup dalam kehidupan yang cepat, bukan kehidupan yang baik” yang ditulis dalam bukunya yang berjudul In Praise of Slow, lalu menjadi pilihan dalam ketidak mungkinan bahwa, saat semua dituntut untuk “cepat”, sedangkan diri kita masih belum bisa mengikuti hal tersebut, bahkan memaksa. Slow Living menawarkan untuk lebih menikmati hidup dengan tidak melakukan segala sesuatu dengan terburu-buru, namun lebih pada efektivitas dan hasil yang berkualitas, Hal ini mungkin sulit bila diterapkan pada bidang kesehatan, karena semua harus dilakukan secara “cepat” karena menyangkut tentang keselamatan orang lain, namun mengingat permasalahan pada pekerja bidang kesehatan juga banyak terjadi, maka peneliti perlu adanya Slow Living sebagai gerakan mencegah ataupun mengurangi tingkat kesalahan pada tugas dan prosedur bekerja, serta stress pada pekerja bidang kesehatan akibat beban kerja.

 

Slow Living Pada Pekerja Bidang Kesehatan Di Indonesia Yang Over Worked

 

Mengingat Indonesia merupakan Negara terpadat nomor empat di dunia menurut CIA World Factbook pada tahun 2016 maka arus perkembangan selalu muncul guna menciptakan lapangan pekerjaan, kemajuan teknologi serta sumber daya manusia (http://ilmupengetahuanumum.com). Masyarakat di perkotaan, dituntut untuk selalu “cepat” karena banyak yang harus dilakukan untuk pembangunan akan teknologi dan sistem sosial masyarakat, namun permasalahanya adalah fenomena pekerja yang ada di perkotaan mengalami tingkat stress akibat budaya “cepat”, hal tersebut dibuktikan dengan diperolehnya hasil survei sejak bulan Agustus 2015 hingga Januari 2017 dengan melibatkan 86.000 responden di seluruh Indonesia yang dilakukan oleh sebuah platform komunitas online(Jobplanet Indonesia) dengan tujuan mengetahui pekerjaan apa saja yang memiliki tingkat stress tinggi dan rendah di perkotaan. Berdasarkan hasil yang didapatkan, rata-rata tingkat stress karyawan di Indonesia adalah 3.0 yang mana tingkat stress tergolong tidak terlalu tinggi. Fakta yang mengejutkan dari hasil riset tersebut adalah pekerjaan sebagai petugas kesehatan gigi, dan petugas medis radiologi, memiliki tingkat stress yang tinggi, sedangkan, pekerjaan dengan level stress yang rendah dialami oleh psikiater, pegawai negeri dan pustakawan (https://ekbis.sindonews.com). Over Worked menjadi salah satu penyebab stress yang dialami para pekerja di perkotaan, karena mereka harus melakukan pekerjaan dengan tanggung jawab yang banyak namun dengan waktu yang terbatas, sehingga pekerjaan yang diselesaikan kurang bermutu. Bekerja yang dahulunya untuk mencari kebahagiaan karena hasil yang didapat, kemudian bergeser menjadi lomba untuk pemenuhan kebutuhan yang semakin hari dirasa lebih kompleks daripada sebelumnya. Bentuk yang paling nyata dari pemenuhan kebutuhan yang dihadapi oleh masyarakat saat ini adalah fenomena akan kebutuhan gadget dan kuota internet, hal ini berdasarkan hasil dari kerjasama lembaga KOMINFO dengan riset digital marketing Emarketer, yang menyatakan bahwa di Indonesia lebih dari 100 juta dari total 250 juta orang menggunakan smartphone (https://www.kominfo.go.id). Indonesia akan menjadi negara dengan pengguna aktif smartphone terbesar keempat di dunia setelah, Cina, India dan Amerika. Permasalahan lain terkait ketersediaan SDM kesehatan yaitu sebagian besar kabupaten atau kota merasa masih kekurangan SDM terutama di bidang pelayanan dan administrasi. Hal tersebut berdasarkan data dari kementrian kesehatan yang terakhir diperbarui pada tahun 2016, sehingga tenaga admisnistrasi yang ada diharuskan melakukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan proporsi waktu bekerja.

 

Kasus yang terjadi akibat over worked adalah tentang meninggalnya seorang dokter anastesi akibat bekerja selama empat hari bertutut-turut untuk memberi kesempatan rekan lain untuk merayakan Idul fitri (https://m.detik.com). Slow Living sendiri secara garis besar adalah ajakan untuk hidup dengan lebih sadar, sederhana dan tidak melakukan konsumsi yang berlebihan pada sumber daya yang ada. falsafah hidup lambat ini memberlakukan waktu dan segala sumber daya secara kreatif, melakukan sesuatu dengan waktu yang sesuai demi mencapai kehidupan yang esensial dan memuaskan. Hal paling sederhana yang dapat dilakukan adalah menyempatkan menikmati segelas air putih ketika bangun tidur, lalu sarapan juga dapat membantu memulai hari dengan psikis dan perut yang tenang, sebelum memulai aktivitas. Melawan kebudayaan “cepat” memang sulit karena mungkin dianggap malas, bodoh. Namun yang dimaksud melawan budaya “cepat” adalah menekankan melakukan segala sesuatunya secara tepat, lebih mengutamakan kualitas daripada kuantitas. Efek destruktif akan terjadi bilamana segala sesuatunya dikerjakan dengan “cepat” namun tidak mempertimbangkan kualitas dan efek jangka panjang yang dihasilkan.

Regulasi Diri Dalam Slow Living Pada Pekerja Di Bidang Kesehatan

 

Menurut Brandstatter & Frank ( dalam Taylor, dkk., 2012: 134) Regulasi diri dimaksudkan untuk mengontrol secara aktif dan sadar dalam mengarahkan pemikiran, reaksi perilaku Kaitan antara regulasi diri dan Slow Living adalah bagaimana cara kita untuk menerapkan Slow Living itu sendiri secara sederhana, dalam melawan budaya “cepat” yang menekankan untuk selalu terburu-buru, secara sadar dan aktif. Penerapan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :

  1. Sadar Bahwa Meluangkan Waktu Untuk Diri Sendiri Itu

 

Kesadaran merupakan sesuatu hal yang sangat penting dalam kelangsungan hidup. Ketika adanya kesadaran seseorang bahwa meluangkan waktu itu penting, maka ia berusaha untuk mencapai sesuatu yang diinginkannya. Tidur minimal selama 8 jam, dan meluangkan waktu untuk hobi adalah beberapa diantaranya.

  1. Memulai Membiasakan Sarapan dan Minum Air Putih Sebelum Memulai Aktivitas Sarapan pagi akan membantu untuk produksi energi dalam tubuh, perlu diperhatikan dalam mengkonsumsi makanan adalah mengurangi konsumsi makanan instan dan

 

sebaiknya membawa bekal yang dimasak sendiri. Sarapan di pagi hari bermanfaat agar tidak merasa cepat lelah dan menggantuk pada awal hari sampai waktu istirahat.

 

  1. Memberi Batasan Dalam Bekerja

Memberi batasan dengan cara memasang mode hening pada ponsel, agar lebih fokus dalam menyelesaikan suatu pekerjaan, atau menutup pintu ruangan agar tidak terganggu oleh mobilitas pekerja lain dan lebih fokus.

 

  1. Meluangkan Waktu Untuk Berkomunikasi dengan Lingkungan Keluarga dan Sosial. Memberi waktu luang dengan sekedar berbicara pada anggota keluarga dan sosial baik secara tatap muka atau tidak dapat memberikan efek yang baik, karena peran keluarga dan lingkungan sosial bisa dijadikan sebagai coping stress tentang permasalahan yang terjadi di lingkungan

 

 

Simpulan

 

Dengan adanya penerapan Slow Living pada pekerja di bidang kesehatan, maka akan membawa dampak positif dari segi pekerja ataupun pengguna jasa bidang kesehatan, yaitu meminimalisir tingkat stress dan kesalahan dalam melakukan pekerjaan pada pekerja di bidang kesehatan, pengguna jasa ataupun pasien di bidang kesehatan  akan dilayani dengan lebih baik secara administrasi maupun medis. Oleh karena itu gerakan Slow Living juga perlu didukung oleh pemerintah dengan diterbitkanya undang- undang yang menjelaskan tentang waktu bekerja yang jelas pada petugas di rumah sakit, klinik ataupun puskesmas guna menghindari adanya over worked yang mengakibatkan kurang maksimalnya pekerjaan yang dilakukan oleh pekerja di bidang kesehatan.

 

 

Daftar Pustaka

 

Detik.com (2017, 28 Juni) Dokter Anastesi Meninggal Saat Piket Lebaran Akibat Over Worked. Diperoleh 27 Januari 2018 dari https://m.detik.com/health/read/2017/06/28/103153/3543327/763/dokter-anestesi-meninggal- saat-piket-lebaran-akibat-overworked

 

Eksbis Sindonews, (2017, 1 Maret) Profesi di Indonesia Dengan Tingkat Stress Paling

Tinggi. Diperoleh 31 Januari 2018, dari https://ekbis.sindonews.com/read/1184178/39/profesi- di-indonesia-dengan-tingkat-stres-paling-tinggi-1488299710

 

Honore,Carl (2005), In Praise of Slow, Jakarta, PT Gramedia.

 

Ilmu Pengetahuan Umum.com (2016, 23 November) 10 Negara dengan Jumlah Penduduk Terbanyak di Dunia. Diperoleh 26 Januari 2018 dari http://ilmupengetahuanumum.com/10- negara-dengan-jumlah-penduduk-populasi-terbanyak-di-dunia

Kominfo.go.id 2 mei 2015 Indonesia Raksasa Teknologi digital Asia. Diperoleh 28 Januari 2018 dari https://www.kominfo.go.id/content/detail/6095/indonesia-raksasa-teknologi-digital- asia/0/sorotan_media

 

Republika.co.id (2016, 1 Agustus) Pengguna Narkoba di Indonesia 70 Persen Pekerja. Diperoleh 26 Januari 2018 dari http://m.republika.co.id/berita/nasional/umum/13/08/01/mquxer-ada-4-juta-pengguna-narkoba- di-indonesia-70-persen-pekerja

 

Taylor, S.E., Peplau, L.A.,& Sears, D.O. (2012). Psikologi Sosial. (Alih Bahasa: Tri Wibowo B.S). Jakarta: Kencana.

Tribun.com (2018, 25 Januari) Fakta Kasus Pelecehan Seksual Terhadap Pasien di RS National Hospital Surabaya. Diperoleh 27 Januari dari http://m.tribunnews.com/regional/2018/01/25/4- fakta-kasus-pelecehan-seksual-terhadap-pasien-di-rs-national-hospital-surabaya

 

Tribun.com (2018, 30 Januari) Video Viral Perawat Suntik Mayat Seperti Ini Kejadianya Versi RS Siti Khodijah Sidoarjo. Diperoleh 31 Januari 2018 dari http://m.tribunnews.com/regional/2018/01/30/video-viral-perawat-suntik-mayat-seperti-ini- kejadiannya-versi-rs-siti-khodijah-sidoarjo

 

 

Undang-undang Ketenagakerjaan Nomor 77 ayat (2) tahun 2003 tentang Waktu Ketentuan Bekerja.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *