Temu Ilmiah Nasional ILMPI 2018

WORKING GRATEFULLY

Miftahus Sa’adah Maulidiyah

Syarifatun Nida

Fadila Lestarini Karina

Fakultas Psikologi

Universitas Ahmad Dahlan

 

 

Isu mengenai kesehatan mental saat ini menyita banyak perhatian dari berbagai kalangan. Hal ini dilandasi oleh kesadaran bahwa kesehatan mental merupakan suatu hal yang penting untuk dipahami agar dapat survive di tengah kompleksnya problematika hidup di era modern seperti saat ini. Kesehatan mental penting untuk diwujudkan serta ditingkatkan dalam berbagai setting kehidupan, termasuk dalam dunia kerja.

Danna dan griffin (1999) menyatakan bahwa alasan pentingnya kesehatan mental ditempat kerja yaitu: pertama pengalaman Individu baik, fisik, emosional mental, sosial akan mempengaruhi bagaimana individu ditempat kerja. Kedua, kesehatan mental pekerja menjadi bagian penting karena akan menimbulkan kesadaran terhadap faktor-faktor lain yang menimbulkan resiko bagi pekerja. Misalkan, karakteristik di tempat kerja yang mendukung keamanan dan kesejahteraan bagi pekerja, potensi ancaman kekerasan atau agresi tempat kerja (kekerasan seksual dan bentuk-bentuk perilaku disfungsional lainnya), bahkan hubungan antara pimpinan dan bawahan yang berimplikasi pada kesehatan mental. Ketiga, kesehatan mental menjadi bagian penting karena kesehatan yang rendah akan mempengaruhi kinerja.

Oleh sebab itu, tujuan utama sebuah organisasi atau perusahaan disamping menuntut adanya produktivitas kinerja, juga memperhatikan quality of work live atau

 

kualitas hidup kerja karyawannya. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Koopman, dkk (2002) mengemukakan bahwa produktivitas kerja dipengaruhi oleh kesehatan mental para pekerja. Kesehatan mental para karyawan mempunyai peran yang sangat penting dan strategis dalam menciptakan budaya organisasi yang efektif dan efisien.

 

Kondisi kesehatan mental dapat dilihat dari sejauh mana tingkat wellbeing pada seseorang. Konsep well being bergantung pada masing-masing individu atau biasa disebut dengan subjective wellbeing. Veenhoven (Diener, 1994) menjelaskan bahwa subjective weelbeing merujuk pada tingkat evaluasi seseorang dalam menilai kualitas kehidupannya sebagai sesuatu yang diharapkan dan merasakan emosi positif. Wright

  • Bonnet (2007) subjective weel being pada seseorang diketahui dari adanya perasaan bahagia. Saat seseorang menilai lingkungan kerjanya menyenangkan, menarik serta penuh tantangan, maka akan muncul perasaan bahagia, puas serta akan menunjukkan kinerja yang optimal.

Menurut Aziz, Wahyuni & Wargadinata (2017) sebagai sebuah sistem organisasi, komunikasi antar individu di tempat kerja sangat dinamis, sehingga tidak menutup kemungkinan menimbulkan konflik-konflik antar individu yang menyebabkan disharmonisasi komunikasi dan menyebabkan tekanan-tekanan psikologis. Beberapa isu-isu seperti adanya perbedaan pendapat diantara individu, adanya persaingan antar departemen, rumor-rumor yang menimbulkan perasaan benci, penilaian secara akurat maupun tidak akurat terhadap performan kerja, isu legalitas dan etika, serta kebijakan-kebijakan yang kurang mendukung telah menimbulkan hambatan untuk perkembangan bagi sebuah organisasi atau lingkungan kerja.

Terlebih lagi dalam lingkungan kerja di perkotaan, tuntuan performa kerja semakin tinggi disertai dengan adanya suasana kompetitisi daya saing yang tinggi pula. Dengan adanya tuntutan tersebut, mulai muncul berbagai respon dari karyawan.

 

Bagi individu yang tidak mampu mengimbangi tuntutan kerja maka dapat memungkinkan terjadinya stres. Riggio (1990) menyebutkan bahwa stres yang dialami karyawan sangat bervariasi serta bersifat personal, karena stres merupakan proses presepsi yang bersifat individual. Maslach, Schaufeli & Leiter (2001) menyatakan bahwa stres kerja yang dirasakan terjadi karena tidak adanya pengelolaan stres yang baik sehingga berpengaruh negatif pada performa kerja dan kesehatan. Menurut Kelso, French & Fernandez (2005) stres kerja yang berkepanjangan akan menyebabkan gangguan kesehatan pada fisik, mental, dan emosi serta dapat merusak kualitas pekerja.

 

Dengan adanya berbagai tantangan serta beban dan tanggungjawab pekerjaan, maka diperlukan suatu cara agar seseorang dapat tetap merasa sejahtera atau wellbeing pada saat bekerja. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan menjalani setiap aktivita pekerjaan dengan bersyukur. McCullough, Emmons, & Tsang, (2002) menyatakan bahwa gratitude atau rasa syukur adalah salah satu kondisi psikologis sebagai sebuah emosi, sikap, kebajikan moral, sifat kepribadian, atau sebuah cara merespon yang dapat memberi kontribusi terhadap kesehatan mental. Menurut Watkins, Woodward, Stone, & Kolts, (2003) perasaan yang mendorong untuk berterima kasih dan mengapresiasi atas kesenangan yang telah diterima menimbulkan kondisi tenang, puas secara psikologis.

Merasa bersyukur memiliki banyak dampak positif baik dari segi emosional, fisik, dan interpersonal (Emmons & McCullough, 2003). Orang yang memiliki rasa syukur tinggi cenderung memiliki tingkat emosi positif yang tinggi dan tingkat emosi negatif yang rendah seperti kecemasan, iri (McCullough, Emmons, & Tsang, 2002). Dalam lingkungan kerja, adanya perasaan bersyukur membawa dampak positif baik bagi individu tersebut maupun pada suatu organisasi di dalam sebuah perusahaan. Emosi

 

positif yang dirasakan individu akan mendorong peningkatan performa individu di dalam organisasi.

Melatih kebersyukuran pada karyawan terbukti efektif menurunkan stres kerja mereka (Cahyono, 2014). Emmons & Stern (2013) dalam penelitiannya juga mengemukakan bahwa individu yang bersyukur lebih efektif dalam mengatasi stres sehari-hari, memiliki resilien yang tinggi dalam menghadapi stres, lebih cepat sembuh dari penyakit, serta lebih menikmati kesahatan fisik. Emmons & Crumpler (2000) mengemukakan bahwa, individu yang memiliki rasa syukur tinggi cenderung mampu mengatasi stres dengan lebih baik dan memperlihatkan fungsi fisik dan psikologis yang lebih positif setelah mengalami trauma.

Rasa syukur dapat memberikan arti penting bagi kehidupan seseorang dalam menjalani setiap aktivitasnya, termasuk dalam aktivitas bekerja. Seseorang yang bersyukur tidak akan merasa kekurangan dalam hidup, selalu mengapresiasi kontribusi pihak lain atas keberlangsungan hidupnya, cenderung mudah mengalami kesenangan sederhana, serta menyadari pentingnya mengekspresikan rasa syukur (Watkins, dkk 2003). Seseorang yang bersyukur tidak akan mudah menyalahkan keadaan bahkan ketika dalam kondisi tidak menyenangkan sekalipun. Sebaliknya akan selalu berusaha berpikir positif dan mengambil pelajaran dari setiap peristiwa yang dialami, serta akan senantiasa berusaha memanfaatkan segala pemberian nikmat sebaik mungkin.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

 

Aziz, R., Wahyuni E. N & Wargadinata, W. (2017). Kontribusi bersyukur dan memaafkan dalam mengembangkan kesehatan mental di tempat kerja. Insan Jurnal Psikologi dan Kesehatan Mental, 2(1), 33-43.

 

 

Cahyono, E.W. (2014). Pelatihan gratitude (Bersyukur) untuk penurunan stres kerja karyawan di PT “X”. Jurnal Ilmiah Mahasiwa Universitas Surabaya, 3(1), 1-15.

 

 

Danna, K., & Griffin, R. W. (1999). Health and well-being in the workplace: A review and synthesis of the literature. Journal of Management, 25(3), 357-384.

 

 

Emmons, R.A. & Stern, R. (2013). Gratitude as a psychotherapeutic intervention.

Journal of Clinical Psychology, 69(8), 846 – 855.

 

 

Emmons, R. A., & Crumpler, C. A. (2000). Gratitude as a human strength: Appraising the evidence. Journal of Social and Clinical Psychology, 19(1), 56–69.

 

 

Koopman, C., Pelletier, K. R., Murray, J. F., Sharda, C. E., Berger, M. L., Turpin, R. S., & Bendel, T. (2002). Stanford presenteeism scale: health status and employee productivity. Journal of Occupational and Environmental Medicine, 44(1), 14-20.

 

 

Maslach, C., Schaufeli, W. B., & Leiter, M. P. (2001). Job Burnout. Annual Reviews Psychology, 52, 397-422.

 

 

McCullough, M. E., Emmons, R. A., & Tsang, J. A. (2002). The grateful disposition: a conceptual and empirical topography. Journal of Personality and Social Psychology, 82(1), 112–127.

 

 

Watkins, P. C., Woodward, K., Stone, T., & Kolts, R. L. (2003). Gratitude and happiness: Development of a measure of gratitude, and relationships with subjective well-being. Social Behavior and Personality: An International Journal, 31(5), 431-451.

 

 

Wright, T. A. & Bonnet, D.G. (2007). Job satisffaction and psychological wellbeing as nonaddictive predictors of workpalce turnover. Journal of managemen, 33, 141-161.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *