Skizofrenia dan Kita

Skizofrenia. Bagi masyarakat awam, skizofrenia terdengar asing ditelinga. Padahal, jika kita merujuk pada Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas, 2013) pada penduduk usia diatas 15 tahun, dijumpai Prevalensi Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) ringan atau gangguan mental emosional seperti gangguan kecemasan dan depresi sebesar 6% atau 16 juta orang dan Prevalensi Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) berat seperti Psikosis sebesar 1,72/ 1.000 atau estimasi 400. 000 orang. Ya, skizofrenia secara awam disebut dengan orang yang mengalami gangguan jiwa. Bagi sebagian besar orang awam mengatakan bahwa penderita skizofrenia adalah orang yang mengalami gangguan jiwa (gila) yang tak mungkin dapat ditangani. Hingga pada akhirnya, muncullah pemasungan yang akrab kita lihat pada masyarakat kita, sebagai jalan pintas untuk “merawat” mereka. Hal tersebut tercermin berdasarkan data yang sama, dimana sekitar 14,3% (57.000) Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) berat pernah dipasung oleh keluarga.

Secara etimologi, skizofrenia berasal dari akar kata bahasa Yunani skhizein (σχίζειν, “membelah”) dan phrēn, phren- (φρήν, φρεν-; “ingatan”). Namun sesungguhnya, skizofrenia bukanlah gangguan yang mengakibatkan ingatan terbelah atau memiliki kepribadian ganda. Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders 4th Edition (DSMIV-TR), skizofrenia adalah penyakit kejiwaan terberat dan kronis, di mana penderita memiliki gangguan dalam memproses pikirannya sehingga timbul halusinasi, delusi, pikiran yang tidak jelas dan tingkah laku atau bicara yang tidak wajar. Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) dalam website-nya menyatakan bahwa gejala skizofrenia bervariasi dari satu orang ke orang lain, tetapi secara umum dikategorikan menjadi:

  • Gejala positif (misalnya halusinasi, delusi, pemikiran kacau, dan gelisah) yang biasanya tidak ada pada orang sehat dan dianggap ‘ada’ sebagai akibat dari gangguan tersebut.
  • Gejala negatif dapat dilihat sebagai perilaku yang ‘hilang’ (misalnya kurang: dorongan atau inisiatif, respon emosional, antusiasme, interaksi sosial).5 Kebanyakan orang memiliki kemampuan psikologis tersebut tetapi orang dengan skizofrenia mengalami beberapa derajat penurunan.
  • Gejala afektif yang dapat mempengaruhi suasana hati – seperti pikiran depresi, kecemasan, kesepian atau ide bunuh diri.
  • Gejala kognitif meliputi masalah dengan konsentrasi dan memori misalnya kurangnya perhatian, kelambatan pikiran, kurangnya tilikan (pemahaman & penerimaan) mengenai penyakit.
  • Pasien dengan skizofrenia mungkin mengalami gangguan fungsi dalam satu atau lebih bidang kegiatan hidup yang penting seperti hubungan antarpribadi, pekerjaan atau pendidikan, kehidupan keluarga, komunikasi, dan perawatan diri.

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, bahwa di masyarakat kita sering ditemukan proses pemasungan, dimana menurut mereka merupakan usaha “merawat” yang bisa dilakukan agar sang penderita tidak menimbulkan kerugian pada diri sendiri dan orang lain. Menurut catatan tak resmi Kementerian Kesehatan saat ini sedikitnya terdapat 20.000 kasus pemasungan akibat penyakit jiwa di seluruh Indonesia. Ditambahkan, data riset kesehatan dasar (riskesdas) tahun 2013, proporsi keluarga yang pernah memasung klien gangguan jiwa berat adalah 14,3 persen dan terbanyak pada penduduk yang tinggal di perdesaan (18,2%), serta pada kelompok penduduk dengan kuintil indeks kepemilikan terbawah (19,5%). Tentu dengan melihat fakta seperti ini sangat ironis ditengah masyarakat Indonesia yang masih menjunjung tinggi keberadaban.

Untuk itu, disini peran pemerintah untuk memberikan edukasi yang menyeluruh bagi masyarat sangat penting, sehingga kasus-kasus pemasungan dapat ditekan. Jika kita merujuk pada Undang-Undang No. 18 tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa, menyatakan bahwa upaya kesehatan jiwa dilaksanakan oleh pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat (Pasal 4). Sehingga, dilakukan secara menyeluruh bersama semua pihak bukan saja menjadi tanggung jawab pemerintah atau pemerintah daerah, baik dimulai dari tahap promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif untuk menjamin lingkungan yang sehat jiwa. Peran masyarakt disini adalah dengan tidak melakukan diskriminasi, menimbulkan stigma yang tidak baik, dan pelanggaran hak asasi terhadap ODGJ. Memberikan pemasungan salah satu contohnya.

Sebagai mahasiswa psikologi, tentu kita memiliki andil besar terhadap realita ini. Demo ataupun aksi damai tidaklah cukup mampu untuk memberikan pemahaman terhadap masyarakat. Dibutuhkan langkah-langkah strategis secara berkesinambungan untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat tentang pentingnya perlakuan manusiawi kepada penderita skizofrenia. Saat ini, kita telah memiliki sebuah undang-undang yang menjamin upaya kesehatan ODGJ dan ODKM, yaitu UU No. 18 Tahun 2014 Tentang Kesehatan Jiwa, yang ketika masih menjadi sebuah rancangan telah dijadikan bahan diskusi dalam Simposium Kesehatan Jiwa yang digelar oleh BEM Fakultas Psikologi UI dimana perwakilan ILMPI turut andil didalamnya. Undang-undang ini tentu memiliki pengaruh yang cukup signifikan jika benar-benar diterapkan, oleh karena itu tugas mahasiswa psikologi tidak berhenti membantu mendorong menjadi sebuah Undang-Undang, namun juga mengawal akan implementasi dari Undang-Undang tersebut.

Penderita skizofrenia memang memiliki sebuah realitas sendiri, namun bukan berarti harus dikucilkan atau dicabut hak hidupnya sebagai manusia. Bukan saja memberikan obat-obatan melalui resep dari psikiater, namun juga dukungan sosial terhadap mereka pun menjadi penting dalam menentukan kesembuhan sang penderita. Dukungan seperti apa yang dibutuhkan oleh penderita skizofrenia? Tentu motivasi untuk melakukan terapi, menemani ketika ke dokter, membantu membersihkan rumah tangga dan pribadi. Dan yang terpenting adalah menghormatinya sebagai manusia yang memiliki hak untuk hidup. Pada tahun ini, WHO mengangkat tema Hari Kesehatan Mental Se-Duni yang jatuh pada tanggal 10 Oktober 2014 adalah “Living With Schizofrenia”. Tentu dengan mengangkat tema ini, menjadi semacam penggugah kesadaran bahwa masih banyak saudara-saudara kita diabaikan hak hidupnya oleh sebagian masyarakat. Mari kita hidup berdampingan dan tetap mendukungnya untuk terus berobat & terapi, walaupun kemungkinan untuk untuk kembali menjadi “normal” itu sedikit. Salam sehat jiwa!

 Reza Muhammad G. P. D.
 Koordinator Badan Pengembangan dan Pengkajian Keilmuan Naisonal ILMPI

Sumber:

http://buk.depkes.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=470%3Aruu-kesehatan-jiwa-telah-disahkan-menjadi-undang-undang&catid=1%3Alatest-news&Itemid=140

http://www.bbc.co.uk/indonesia/laporan_khusus/2011/10/111004_mental6

http://id.wikipedia.org/wiki/Skizofrenia

UU no. 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa

http://www.peduliskizofrenia.org/sumber-daya/tentang-skizofrenia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *