SEBUAH CATATAN PERJALANAN, ILMPI UNTUK ROHINGYA

Berita para pengungsi Rohingya dan Bangladesh belakangan bergulir hagat di berbagai media massa. Terjadinya bencana sosial di negara mereka telah membuat mereka bertandang ke berbagai negara lain, tak terkecuali Indonesia. Setelah perjuangan panjang mereka yang bertahan hidup di lautan, akhirnya penerimaan didapatkan di salah satu daerah di Indonesia, Aceh. Kondisi para pengungsi yang berjumlah ribuan orang ini semakin banyak menyita perhatian masyarakat dan lembaga-lembaga sosial di Indonesia, terutama Aksi Cepat Tanggap (ACT).

Setelah kebutuhan sandang, papan, dan pangan dirasa mencukupi, perhatian mereka beralih pada kebutuhan dan kondisi psikologis para pengungsi. Tentunya, bidang psikologis bukanlah suatu hal yang bisa disepelekan, apalagi bila dipertimbangkan dengan tekanan-tekanan yang dialami oleh para pengungsi. Berangkat dari pemikiran tersebut, ACT bekerjasama dengan Ikatan Lembaga Mahasiswa Psikologi Indonesia (ILMPI) untuk mengadakan trauma healing kepada para pengungsi di dua titik pengungsian, yaitu Bireum Bayeun dan Kuala Langsa. Sebelumnya, ILMPI sudah melakukan audiensi terlebih dahulu dengan ACT dibawah pimpinan Sekretaris Jenderal (Sekjend) ILMPI, Rendi Septiyanto, terkait wacana kerjasama untuk kebencanaan, namun inilah kesempatan pertama kerjasama yang diinginkan mulai terjalin.

Bermodalkan seminggu persiapan, Mudrik Elmaghriby, Koordinator Badan Pengembangan dan Pengabdian Mayarakat (BPPM) ILMPI Nasional, akhirnya mengutus tim dari Aceh yang dikoordinatori oleh Zakiatan Munira dari Psikologi Universitas Syiah Kuala dengan membawa enam orang anggotanya, T. Riki Azhari, Halida Ulfah, Asmaur Ridhana dari PT yang sama, Rizki Angga PF dan Imam Abdillah Lukman dari Psikologi Universitas Muhammadiyah Aceh, serta Desi Wahyuni Putri dari Sekolah Tinggi Ilmu Psikologi Harapan Bangsa Banda Aceh.

Sabtu, 30 Mei 12015 pukul 05.00 WIB, akhirnya tim ini tiba di Langsa setelah 9 jam perjalanan dari Banda Aceh. Pada pukul 09.30 WIB, mereka menemui tim ACT di posko pusat ACT, dan bertemu langsung dengan Vice President ACT, Bapak Insan Nurrohman. Pada pertemuan pertama mereka, Pak Insan meminta mereka melakukan kunjungan berkelanjutan pada minggu berikutnya, namun tim merasa perlu mempertimbangkan lebih jauh mengenai tawaran ini. Sembari menunggu waktu mengenai keputusan tim untuk kembali atau tidak, tim memberikan solusi lain yaitu dengan mengadakan psikoedukasi kepada beberapa relawan, sampai tim kembali di waktu yang akan datang.

Setelah bertemu dengan Pak Insan, tim melanjutkan perjalanan ke camp pengungsian di Bireum Bayeun. Kedatangan tim disambut baik oleh para relawan lainnya dan tak perlu menunggu lama, anak-anak pengungsi Rohingya terus berdatangan berkumpul dan duduk bersama mereka. Terkondisikannya Ridha dan Ulfa sebagai MC dadakan pada Art Therapy Movement yang akan diadakan, mereka meminta bantuan kepada Ali (30 tahun), salah seorang warga Myanmar yang bisa berbicara bahasa Melayu, untuk menjadi perantara antara mereka dan anak-anak Rohingya.

Berdasarkan pencarian dan pendataan, hanya Ali-lah yang mampu berbicara bahasa Melayu. Tidak satupun dari mereka dapat berbicara bahasa Inggris. Karena itu, Ali tidak selalu bisa menemani tim selama kegiatan. Namun hal ini tak menyurutkan semangat kedua MC ini, acara terus dilanjutkan dengan mengajarkan mereka beberapa kata dalam bahasa Indonesia dan Inggris, yang diawali dengan memperkenalkan kata tersebut dalam bahasa Burma. Acara tersebut berakhir dengan foto bersama, lalu tim melakukan observasi lapangan di tenda-tenda pengungsian.

Di camp ini, total pengungsi berjumlah 402 orang dengan rincian pengungsi laki-laki sebanyak 194 orang, wanita 74 orang, dan anak-anak 82 orang. Kondisi di camp ini cukup padat, dan letaknya yang berada tepat di pinggir jalan raya membuat camp ini mengundang penduduk serta orang-orang yang sedang melakukan perjalanan menonton dengan leluasa dari luar pagar yang terbuat dari seng. Karena alasan tertentu, camp pengungsi Bangladesh dan Myanmar diletakkan terpisah dengan jarak yang tidak begitu jauh. Dan dengan alasan yang sama pula, tim tidak disarankan untuk berkunjung ke tenda pengungsi Bangladesh.

Memasuki sebuah gedung besar yang didalamnya terdapat kamar-kamar, tim kembali mengamati kondisi para pengungsi. Gedung tersebut merupakan tempat penampungan para pengungsi perempuan dan anak-anak. Melanjutkan observasinya, tim menemukan bahwa sebagian pengungsi remaja sudah memiliki Handphone di tangan mereka. Berdasarkan wawancara yang dilakukan terhadap relawan yang sudah lebih dulu menetap, mereka mendapatkan handphone tersebut dengan cara meminta tolong untuk membelinya kepada warga sekitar dengan menggunakan uang yang mereka dapatkan dari para dermawan yang berkunjung.

Setelah selesai berkeliling di lokasi pengungsian, sebagian dari tim ikut bermain dengan pengungsi remaja, berinteraksi dengan pengungsi yang sedang memasak daging, sementara sebagian lagi membantu dalam kegiatan yang diadakan oleh lembaga lain. Kehadiran tim ILMPI dinilai cukup membantu karena anak-anak sudah terlebih dahulu didekati oleh mereka.

Setelah kegiatan tersebut usai, tim pamit kepada para pengungsi karena hari sudah sore, dan tim harus segera melanjutkan perjalanan ke lokasi pengungsian lainnya di Kuala Langsa.

Total pengungsi di Kuala Langsa berjumlah 681 orang, dengan jumlah laki-laki sebanyak 118 orang, wanita 76 orang, dan anak-anak 61 orang. Disini, mereka difasilitasi lapangan yang cukup luas sehingga mereka dapat bergerak dengan bebas dan leluasa. Penjagaan di camp ini juga lebih ketat, sehingga interaksi mereka dengan warga serta oknum tertentu juga dapat diminimalisir. Fasilitas lainnya yang dapat dilihat adalah tersedianya alat-alat bermain, namun tak sedikit dari mereka yang bermain permainan tradisional dari daerah mereka.

Sama halnya dengan Bireum Bayeun, pengungsi Myanmar di Kuala Langsa juga diberi jarak dengan pengungsian Bangladesh. Karena Maghrib sudah tiba, maka tim tidak melakukan kegiatan apapun di camp tersebut, hanya mengobservasi dan berinteraksi dengan anak-anak, menggunakan bahasa seadanya yang sudah dipelajari di camp sebelumnya. Mereka ditempatkan disebuah gedung yang luas namun tidak berkamar-kamar, dengan menggunakan papan sebagai pembatas antara ruang laki-laki dan ruang perempuan. Kerika malam tiba, sekitar pukul 08.00 WIB, tidak terlihat adanya kegiatan apapun diluar tempat pengungsian.

Keesokan paginya, tim mengadakan Psikoedukasi Trauma Healing untuk Pengungsi Rohingya kepada beberapa rewaan setempat dan relawan yang menetap. Kegiatan ini dilakukan di TK Al-Izzah, tak jauh dari posko pusat jika berjalan kaki. Dasar-dasar dalam PFA dijelaskan kepada relawan, sehingga kegiatan yang mempengaruhi psikologis dapat terus dilakukan, tidak terputus sepeninggalan tim. Adanya kegiatan ini juga sebagai tindak lanjut dari permintaan tim ACT mengenai kunjungan berkelanjutan. Selain itu, tim juga mengajarkan para relawan melakukan senam otak dan senam jari, serta memperkenalkan nyanyian edukasi bencana beserta gerakan tubuhnya.

Tak hanya itu, tim bersama dengan para relawan juga merancang program-program yang akan dilakukan secara rutin, sehingga kegiatan di pengungsian terus memberi manfaat kepada para pengungsi. Program ini dirancang karena kegiatan yang bersifat edukasi dan produktif hanya diadakan berdasarkan relawan/lembaga yang datang, lalu berganti sesuai perguliran relawan yang berkunjung, bergantung pada program apa yang mereka bawa. Kegiatan ini berlangsung hingga siang hari dan diakhiri dengn foto bersama.

Sangat disayangkan tim tidak memiliki cukup waktu untuk mengunjungi camp pengungsian di Lhoksukon. Berdasarkan data, didapatkan bahwa total pengungsi di camp ini adalah 329 orang, dan seluruhnya adalah penduduk Myanmar. Keberadaan pengungsi disini juga tergolong bebas karena tidak ada pagar yang membatasi mereka. Letaknya pun dekat dengan pantai. Seluruh pengungsi dari ketiga camp ini memiliki gelang identitas untuk menandakan nama dan usianya.

Sore hari itu, tim pamit pulang kepada rekan-rekan ACT. Namun kami menyempatkan diri untuk melihat posko pengungsian di Aceh Tamiang. Karena waktu sudah terlalu sore dan perjalanan pulang masih cukup panjang, tim hanya mengobservasi dari luar, tidak masuk ke dalam gedung. Tampak luar, sekitar gedung pengungsian sangat sepi karena pengungsi hanya berjumlah 49 orang, dan gedung yang digunakan pun merupakan gedung yang tergolong layak.

Dalam perjalanan pulang, tim mendapat pesan dari Pak Insan karena tidak sempat pamit karena kesibukan beliau. “Kami mengucapkan terimakasih atas kontribusinya untuk kemanusiaan. Sampai ketemu di medan kemanusiaan yang lain. Jangan ragu untuk berbagi”, pesannya.

Halida Ulfah,

Universitas Syiah Kuala

One thought on “SEBUAH CATATAN PERJALANAN, ILMPI UNTUK ROHINGYA

  1. Merinding bacanya..

    Terima kasih utk ILMPI yang telah memberikan apa yang kaliam bisa utk bantuan kemanusiaan. Kalian keren :’) tidak sia2 perjuangan pendahulu kalian, yaitu mereka orang2 yang percaya bahwa organisasi ini dapat memberi manfaat utk org lain. :’)

    Tetap semangat yaa~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *