RAISING AWARENESS TOWARDS SEXUAL CRIMES, WHMD ILMPI

  infografis PFA sexual crimes

KEKERASAN SEKSUAL merupakan perilaku atau tindakan yang berkaitan dengan seks yang tidak diinginkan, termasuk permintaan untuk melakukan seks, dan perilaku lainnya yang secara verbal maupun fisik merujuk pada area seksual. Pelecehan tidak terbatas pada bayaran seksual bila ia menghendaki sesuatu, pemaksaan melakukan kegiatan seksual, hal ini juga berupa permintaan melakukan kegiatan seksual yang disukai pelaku, ucapan maupun perilaku yang berkonotasi seksual

Tindakan ini dapat disampaikan secara langsung maupun implicit. Pengaruh kejahatan seksual selain pada korban yang justru dianggap menimbulkan masalah dan pada pelaku. Umumnya, para korban dari kekerasan seksual ini akan menutupi hingga waktu yang lama hal ini dikarenakan korban mengalami trauma dan stress terhadap kejadian yang dialami, akibatnya korban pelecehan seksual cenderung lebih tertutup. Perasaan takut yang dialami membuat mereka menarik diri dari lingkungan sekitarnya, hal ini membuat mereka tidak berbicara dengan dengan teman ataupun keluarga.

Ada banyak faktor yang mendasari mengapa korban kesulitan untuk dapat mengidentifikasi dan menerima pelecehan seksual yang ia alami, antara lain: kebingungan (tidak tahu bagaimana harus menggambarkan pada dirinya sendiri tentang apa yang terjadi), rasa malu, munculnya sikap mempersalahkan korban oleh orang lain, dan memposisikan korban menjadi “yang bersalah” seperti atribusi cara berpakaian, gaya hidup dan kehidupan pribadi menjadi mengemuka, selain itu ada pula rasa bersalah pada apa yang terjadi, mempersalahkan diri sendiri, rasa dopermalukan (tidak bisa menerima ide bahwa ia adalah korban, atau perasaan bahwa seharusnya ia dapat menghentikan pelecehan itu), penyangkalan (tidak percaya bahwa hal itu sungguh terjadi), minimizing atau defence mechanism (mengatakan pada diri sendiri bahwa “itu bukan persoalan besar,” “saya terlalu sensitive saja,” atau “saya adalah pemalu”).

 

DI INDONESIA SAAT INI BUKAN KEKERASAN SEKSUAL LAGI, TAPI SUDAH JADI KEJAHATAN SEKSUAL. MENGAPA?

Kasus Kekerasan Seksual Di Indonesia

Fenomena kasus kejahatan seksual di Indonesia dari tahun 1994 – 2014:

  • Babe (2007-2010)
  • Robot Gedek (1994 – 1996) adalah korban Babe
  • Kasus RI (Oktober 2012- Januari 2013)
  • William James Vahey (1972-2014)
  • Emon (2013 – 2014) dengan jumlah korban mencapai 52 korban
  • Kasus Pemerkosaan dan Pembunuhan oleh 14 Pelaku di Bawah Umur terhadap Yuyun (Siswi SMP di Bengkulu) (2016)
  • Kasus Perkosaan dan Pembunuhan Sadis dengan Cangkul di Tanggerang, dengan salah satu pelaku masih di Bawah Umur (RA) (2016)

DATA STATISTIK KASUS KEKERASAN SEKSUAL TAHUN 2011 – 2014 DI INDONESIA

  • Kekerasan seksual terhadap anak semakin meningkat, Data KPAI tahun 2011 – 2013 terdapat 7.065 kasus kekerasan anak, dari jumlah tersebut 2.131 kasus (30,1%) adalah Kekerasan Seksual
  • Perkara kekerasan terhadap anak yang masuk dari kejaksaan seluruh Indonesia 2013 sebanyak 4.620 perkara,termasuk kekerasan seksual terhadap anak
  • Tahun 2014 – April, kejaksaan telah menangani 1.462 perkara kekerasan terhadap anak, termasuk sisa tahun 2013 sebanyak 255 perkara
  • Berdasarkan pengaduan dan pemantauan KPAI hingga pertengahan April 2014 terdapat 459 kasus kekerasan seksual

23

34

INILAH ALASANNYA MENGAPA BUKAN KEKERASAN SEKSUAL TAPI KEJAHATAN SEKSUAL,

Berdasarkan fenomena kasus dari tahun 1994 – 2016 didapatkan peningkatan kasus baik dalam segi kualitas dan kuantitas kasus. Total Total Url yang di Upload: google ‘429.000’, total kasus yang tidak terungkap ke permukaan mencapai 75 %, dan Peningkatan jumlah kasus dari tahun ke tahun menunjukkan bahwa permasalahan ini adalah permasalahan yang akan selalu menjadi momok yang menakutkan bagi Indonesia. Berdasarkan pergeseran fenomena secara kuantitas dan kualitas, tahun 2014 lalu Unicef memberikan pernyataan bahwa kasus kekerasan seksual berubah menjadi kejahatan seksual.

PELECEHAN seksual pada dasarnya bukan soal seks, akan tetapi berupa penyalahgunaan kekuasaan atau otoritas, sekalipun pelau mencoba meyakinkan korban dan dirinya sendiri bahwa ia melakukannya karena seks atau romantisme. Dengan kata lain, pelaku baru merasa “berarti” ketika ia bisa dan berhasil merendahkan orang lain secara seksual. Rasa “keberartian” ini tidak selalu dapat atau mau diverbalkan (disadari). Dengan demikian, rasa puas setelah melakukan pelecehan seksual adalah ekspresi dari “berarti” tersebut.

KORBAN, pelaku umumnya akan memilih korban yang lebih muda, relatif pasif atau kurang asesif, naïve, harga diri rendah, dan hal lain yang membuatnya lebih rentan. Namun bukan berarti orang yang mempunyai ciri tersebut adalah penyebab atau pantas dilecehkan secara seksual. Pelaku men “test” calon korban dengan pelanggaran yang minor baik dalam konteks kerja, sosial, maupun antarpribadi. Misalnya melontarkan lelucon, komentar seks, mengajukan pertanyaan tentang kehidupan seks target, melanggar ruang pribadi target dengan berupa sentuhan, meminta atau menyuruh target menemui di luar jam kerja, atau mengadakan pertemuan tanpa ada orang lain.

TIPE KEJAHATAN SEKS, menurut Lyness (Maslihah, 2006) kekerasan seksual terhadap anak meliputi tindakan menyentuh atau mencium organ seksual anak, tindakan seksual atau pemerkosaan terhadap anak, memperlihatkanmedia/benda porno, menunjukkan alat kelamin pada anak dan sebagainnya. Kekerasan seksual (sexual abuse) merupakan jenis penganiayaan yang biasanya dibagi menjadi dua kategori berdasarkan identitas pelaku, antara lain:

  1. Familial Abuse

Termasuk Familial abuse adalah incest. Yaitu kekerasan seksual dimana antara korban dan pelaku masih dalam hubungan darah, menjadi bgian dalam keluarga inti. Dalam hal ini termasuk seseorang yang menjadi pengganti orang tua, misalnya ayah tiri, atau kekasih, pengasuh atau orang yang dipercaya merawat anak.

  1. Extra Familial Abuse

Kekerasan seksual adalah kekerasan yang dilakukan oleh orang lain di luar keluarga korban. Pada pola pelecehan seksual di luar keluarga, pelaku biasanya orang dewasa yang dikenal oleh sang anak dan telah membangun relasi dengan anak tersebut, kemudian membujuk sang anak ke dalam situasi dimana pelecehan seksual tersebut dilakukan, sering dengan memberikan imbalan tertentu yang tidak didapatkan oleh sang anak dirumahnya.

KEJAHATAN SEKSUAL dapat terjadi dimana saja, baik di tempat umum seperti bis, pasar, sekolah, kantor, maupun tempat pribadi seperti rumah. Adapun data kejahatan seksual di Indonesia sejak tahun 2013, melalui catatan tahunan, komisi nasional anti kekerasan terhdap perempuan (Komnas Perempuan) sudah memberi alarm keras tentang meningkatnya gang rape/ perkosaan kolaktif oleh sejumlah pelaku, antara lain mencuatnya kasus-kasus serius yang menimpa siswi dengan pelaku kawan-kawan sekolahnya, perempuan diperkosa kolaktif di transportasi publik dan lainnya.

Berdasarkan data catatan tahunan oleh Komnas Perempuan tahun 2016, menyebutkan bahwa kekerasan seksual yang terjadi di Ranah Personal dari jumlah kasus sebesar 321.752, maka kekerasan seksual menempati peringkat dua, yaitu dalam bentuk perkosaan sebanyak 72% (2.399 kasus), dalam bentuk pencabulan sebanyak 18% (601 kasus/, dan pelecehan seksual 5% (166 kasus). Sedangkan dari Ranah publik, dari data sebanyak 31(5.002 kasus) maka jenis kekerasan terhadap perempuan tertinggi adalah kekerasan seksual (61%). Adapun dari Ranah Negara, terdapat kekerasan seksual dalam HAM masa lalu, tes keperawanan di institusi pemerintah, dan lainnya. Pelaku kekerasan seksual adalah lintas usia, termasuk anak-anak jadi pelaku.

APA YANG BISA KITA LAKUKAN? JOIN agen First Aid Sexual Crimes.

Memanfaatkan momentum hari kesehatan mental 10 Oktober 2016, sesuai dengan Tema Hari Kesehatan Mental 2016 yang dikemukakan oleh WHO. Ikatan Lembaga Mahasiswa Psikologi Indonesia mengajak teman-teman untuk berpartisipasi aktif dalam menyelesaikan permasalahan kejahatan seksual dengan mempromosikan Gerakan Agen PFA Kejahatan Seksual.

AGEN PFA KEJAHATAN SEKSUAL?

Persyaratan   : Lakukan 3 L, yaitu: Lihat, Lapor, Lindungi. Dengan adanya agen PFA ini diharapkan dapat mengurangi angka kejahatan seksual yang ada terutama di Indonesia. Selain itu, masyarakat yang diharapkan dapat berpartisipasi aktif untuk mendeteksi dan mencegah kasus, jangan sampai telah menjadi kasus baru bereaksi. Masyarakat yang diduga menjadi korban segera melapor ke polisi atau KPAI, agar proses hukum terlaksana dan rehabilitasi untuk pemulihan korban dapat segera dilakukan.

 

 

#AGENPFA

#SadarSexualCrimes2016

#WMHDILMPI

#ILMPIdukungI-CAREHimpsi

Post Author: ILMPI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *