PERILAKU MENYIMPANG ANAK SD (6-12 TAHUN)

Badan Pengembangan dan Pengkajian Keilmuwan Wilayah IV, Daerah Istimewa Yogyakarta mengadakan diskusi ilmiah mengenai “Perilaku Menyimpang Anak SD usia (6-12 tahun). Hal ini dilakukan atas dasar keprihatinan melihat kondisi anak-anak zaman sekarang. Menurutnya perilaku menyimpang atau yang juga biasa dikenal dengan nama penyimpangan sosial merupakan sebuah perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan atau kepatutan, baik dalam sudut pandang kemanusiaan dan spiritualitas secara individu maupun pembenarannya sebagai bagian daripada makhluk sosial.

Pada masa ini anak memasuki masa belajar didalam dan diluar sekolah. Anak belajar di sekolah, tetapi membuat latihan di rumah yang mendukung hasil belajar di sekolah. Seperti yang dikemukakan oleh Robert J. Hagvighurst anak-anak pada masa ini juga mempunyai tugas-tugas perkembangan antara lain: Melakukan keterampilan fisik melalui bermain, belajar membentuk sikap, belajar bergaul dengan teman sebaya, belajar memainkan peran sesuai jenis kelaminnya, membentuk hati nurani, moral dan nilai kesusilaan, dan beberapa aspek yang lain. Namun peran dan aspek anak yang seharusnya berjalan kini berbanding terbalik. Anak usia SD sudah mulai mengenal pacaran dan aktivitas dewasa lain yang seharusnya belum dilakukan oleh anak seusianya, tandasnya.

Menurutnya, perilaku menyimpang ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti keluarga, lingkungan, dan teknologi. Hal ini diperkuat dengan maraknya arus globalisasi yang memudahkan kita mengakses informasi maupun kemajuan yang lain tanpa melakukan penyaringan terlebih dahulu. Disamping itu keluarga adalah penentu utama suatu individu akan menjadi individu yang seperti apa, apakah sehat dari lahir dan batinnya atau tidak. Keluarga merupakan pijakan pertama bagi individu untuk mendapatkan segala aspek nilai-nilai. Kemudian lingkungan juga berpengaruh terhadap perkembangan anak, biasanya anak yang baik adalah ia yang berasal dari lingkungan yang baik dan begitu sebaliknya.

Diakhir diskusi mereka juga merumuskan solusi untuk mengatasi perilaku menyimpang dengan cara meningkatkan perhatian orang tua terhadap anak. Dengan adanya pengawasan dari orang tua anak akan merasa di perhatikan. Kemudian anak dijarkan untuk bergaul dengan teman-teman yang baik dan melakukan pengawasan terhadap penggunaan teknologi modern seperti gadget dan media sosial lainnya. (Dede Ardi Saputra-Red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *