PERANG DAN PERDAMAIAN

Sejarah bercerita, telah banyak perang yang terjadi di dunia ini. Seperti perang antar saudara, suku, ras, hingga Negara. Menurut harfiah, perang adalah sebuah aksi fisik dan non fisik (kondisi permusuhan dengan menggunakan kekerasan) antara dua atau lebih kelompok manusia untuk melakukan dominasi di wilayah yang dipertentangkan. Perang merupakan turunan dari  sifat agresi (kekerasan) yang tetap sampai sekarang memelihara dominasi dan persaingan sebagai sarana memperkuat eksistensi diri dengan cara menundukkan kehendak pihak yang dimusuhi, secara psikologis dan fisik. Dengan melibatkan diri sendiri dan orang lain, baik secara kelompok atau bukan. Perang dapat mengakibatkan kesedihan dan kemiskinan yang berkepanjangan.

Kekerasan, jika dilihat lebih dalam sebenarnya tidak muncul begitu saja, tetapi kekerasan adalah suatu respon dari keadaan yang dihadapi manusia Hal ini tidak lepas dari hakikat dasar manusia yang memiliki orientasi tinggi dalam melakukan kekerasan.  Menurut Sigmund Freud, secara genetik manusia memiliki pembawaan lahiriah untuk cenderung melakukan kekerasan. Albert Bandura mengambil sudut pandang lain dalam memandang tindak kekerasan. Beliau menjelaskan, tindak kekerasan (agresi) pada manusia merupakan hasil dari belajar sosial. Keadaan situasional dari lingkunganlah yang merupakan faktor utama manusia melakukan kekerasan. Inilah yang menjadi dasar peperangan, seperti yang sudah dijelaskan oleh 2 tokoh diatas, sifat dasar  manusia yang cenderung melakukan kekerasan ialah dasar dari sebuah terjadinya peperangan, tetapi tidak semua tindak kekerasan menjadi faktor utama terjadinya perang.

Menurut Thomas Hobbes, manusia adalah“Homo Homini Lupus” (manusia adalah serigala bagi sesamanya). Menjawab pertanyaan diatas, menurut pandangan psikologi sosial. Kekerasan adalah suatu respon terhadap stimulus yang datang, respon yang dimunculkan oleh individu. Menurut Kurt Lewin, merupakan elemen-elemen yang menjadi dasar kepribadiannya. Kepribadian ini merupakan lokus-lokus dalam pengalaman individual, dimana dari luar diri dimasukkan (diwakili) dalam lapangan psikologik atau lapangan kesadaran seseorang. Jadi kekerasan muncul karena adanya referensi pengalaman dalam otak kita terhadap cara menghadapi masalah

konflik yang melibatkan kekerasan tidak lepas dari pengalaman-pengalaman yang dialami individu atau kelompok bahkan suatu Negara. Suatu kelompok/negara memiliki corak dan budaya serta pengalaman historis tersendiri, sehingga akan mempengaruhi cara perlakuan terhadap permasalahan dan kebijakan-kebijakan yang diambil untuk menyesaikan permasalahan tersebut.

Peperangan adalah suatu jenis tingkah laku dari sekian banyak tingkah laku manusia di dunia ini.
Karena perang adalah “tingkah laku” maka penyebab perang dapat dilihat dari beberapa pendekatan yang berbeda antara satu dengan lainnya. Secara garis besar pendekatan yang dipakai untuk memahami tigkah laku dapat digolongkan ke dalam 4 pendekatan, yaitu : Pendekatan Motivasional, Pendekatan Reinforsemen, Pendekatan Kognitif, Pendekatan Struktur Sosial.

Pendekatan Motivasional adalah pendekatan yang berasan dari dalam diri manusia, mengapa ini bisa terjadi ? menurut Sigmund Freud, perang terjadi oleh karena adanya dorongan agresif yang destruktif di dalam diri manusia. Dorongan ini bersumber dari THANATOS (insting untuk mati) yang kehadirannya sudah ada sejak manusia dilahirkan. Dorongan ini timbul karena manusia, kehilangan rasa dicintai (Lost of Love). Namun pendapat yang berbeda dikemukakan oleh Alfred Adler, beliau beranggapan bahwa dorongan superiorlah yang mendorong seseorang bertinfak agresif dan destruktif. Hampir serupa dengan Alfred Adler, Rollo May beranggapan, bahwa  adanya keinginan manusia untuk “mengukuhkan kembali kekuasaaan dirinya (Restructuring of Power) yang tadinya tenggelam oleh adanya hambatan dari orang lain. Pengukuhan kembali kekuasaan ini bertujuan untuk menegakkan “identitas diri” dan “mengaktualisasi diri”.

Selanjutnya, Pendekatan Reinforsemen. Pendekatan ini ditinjau dari pendekatan untung-rugi. Menurut Albert Bandura, perbuatan agresi dilakukan orang karena perbuatan tersebut menghasilkan “reward”. Jika ditinjau dari pendekatan “untung-rugi”, peperangan timbul oleh karena orang mengharapkan “keuntungan” dari peperangan yang dilakukan. Melihat dari sejarah tampaknya banyak hal yang mendukung pendekatan untung rugi. Missalnya, perang bangsa eropa dalam menjajah Indonesia, bertujuan untuk mengambil keuntungan dari sumber daya alam Indonesia, yang semata mata karena factor ekonomis.

Yang ketiga, Pendekatan Kognitif. Pendekatan psikologis yang akhir-akhir ini sangat popular di dalam usaha memahami perilaku manusia ialah pendekatan kognitif. Proses kognitif yang seringkali dibicarakan dalam kaitan dengan terjadinya konflik internasional ialah proses persepsi yang keliru (misperception) di dalam menanggapi situasi internasional.

Tokoh utama yang menggunakan pendekatan kognitif di dalam menganalisis konflik internasional ialah Ralph K. White (1970). Menurut pendapat White, ada 6 hal yang merupakan MISPERSEPSI yang seringkali menimbulkan konflik internasional yaitu :

  1. “DIABOLICAL ENEMY IMAGE” (pandangan bahwa musuh jahat seperti setan).
  2. “VIPILE SELF IMAGE” (pandangan bahwa diri sendiri jantan).
  3. “MORAL SELF IMAGE” (pandangan bahwa diri sendiri adalah moralis)
  4. “SELECTIVE INATENTION” (tidak memperhatikan hal-hal yang bertentangan dengan keyakinan).
  5. ABSENCE OF EMPATHY (tidak adanya rasa empati).
  6. MILITARY OVER CONFIDENCE (keyakinan yang berlebih-lebihan akan kekuatan militer).

Yang terakhir, Pendekatan Struktur Sosial. Pendekatan struktur sosial melekat pada masalah yang ada di masyarakat sebagai sumber terjadinya konflik, kekerasan, atau peperangan. Adanya Strata didalam kehidupan bermasyarakat dan kehidupan bernegara dapat menjadi sumber pertikaian, apabila Strata tersebut menjadi sumber ketidakadilan. Stratifikasi sosial antara golongan kaya, golongan menengah dan golongan miskin, dapat menjadi sumber bentrokan apabila tidak adilnya distribusi hasil-hasil pembangunan suatu negara, ledakan sosial yang manifestasinya berupa kekerasan dapat mudah terjadi.

Penciptaan sesuatu yang merupakan kepentingan bersama. Konsep ini bersal dari pendapat Sherif et. at (1961) yang mengatakan bahwa “Super Ordinate Goal” yang dapat mengurangi konflik antar kelompok, artinya tujuan individu individu bisa disubstitusikan pada tujuan bersama yang lebih besar untuk kepentingan bersama. Hal tersebut berarti kemampuan semua warga negara dari berbagai lini untuk saling menghargai pandangan, perasaan dan respon orang lain akan menumbuhkan kebersamaan. Kuncinya adalah pemerintah harus mengedepankan kepentingan bersama dengan memperhitungkan dampak yang mungkin terjadi dalam kehidupan bangsa dan negara. Tujuan bersama atau Super ordinate goal dapat mengurangi konflik antar kelompok (Ancok, 2004).

Super Ordinate Goal” yang saat ini dimiliki oleh setiap manusia di bumi ialah bagaimana “menghindari perang nuklir”, perang yang akan menghancurkan semua tata kehidupan umat manusia. Kampanye tentang bahaya nuklir harus lebih ditingkatkan, tidak saja hanya di negara-negara Super Power juga diseluruh dunia. Usaha-usaha untuk menciptakan kepentingan bersama (super ordinate goal) telah dibuktikan oleh Perancis dan Jerman; sebelum adanya Masyarakat Ekonomi Eropa (European Economic Community), Jerman dan Perancis telah berperang sebanyak tiga kali. Setelah kedua negara ini sama sama menjadi anggota MEE, mereka hidup damai tanpa peperangan. MEE bertujuan untuk meningkatkan kepentingan bersama sesama negara anggota. Peningkatan solidaritas ASEAN, dan menambah jumlah negara yang dapat menjadi anggota tentunya juga akan mengurangi konflik-konflik antar negara di Asia Tenggara. Kalau tidak ada tanggapan positif, inisiatif tersebut harus dibatalkan. Tetapi kalu ada tanggapan positif, inisiatif tersebut harus harus dilanjutkan dengan inisiatif baru lainnya. GRIT dapat menurunkan suhu konflik dan dapat menciptakan rasa saling percaya (Mutual Trust). Bila rasa saling percaya sudah timbul maka masalah-masalah besar yang menjadi sumber konflik dapat diatasi dan Super ordinate goals yang kita raih saat ini adalah bagaimana menciptakan dunia yang aman, damai dan sejahtera.

“ Perdamaian milik kita bersama”

Post Author: ILMPI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *