Pengungsi Rohingya dari Sisi Psikologis

Ditinjau dari keadaan pengungsian di dua lokasi di Bireum Bayeun dan Kuala Langsa cukup memprihatinkan. Pasalnya, kebersihan di kedua lokasi tempat mereka menetap tidak begitu terjaga. Selain itu, didalam gedung yang mereka tinggali juga sangat sesak dan pengap karena mereka disatukan dalam ruangan dengan jumlah orang yang cukup banyak. Dalam kondisi ini, tentu dalam satu ruangan tidaklah diisi dengan satu keluarga saja, namun diisi oleh beberapa keluarga.

Belum lagi, kondisi MCK yang kurang memadai untuk keseluruhan pengungsi. Sehingga, sebagian besar pengungsi hanya melakukan aktivitas mandi pada malam hari saja. Untuk makan pun, mereka harus mengantri cukup panjang untuk mengambil jatah makanan.

Dilihat dari relasi antar pengungsi, tidak terlalu jelas karena singkatnya waktu yang kami miliki untuk observasi. Namun ketika kami tiba di Bireum Bayeum, kami melihat seorang anak yang kepalanya bocor akibat berseteru dengan anak sesamanya. Keadaan lain yang kami amati adalah, kurangnya perhatian dari ibu kepada anak, ditandai dengan dibiarkannya seorang anak laki-laki (sekitar 3-4 tahun) memukul kepala dan menampar adik perempuannya (sekitar 1 tahun lebih), dan sang ibu diam saja, tanpa melarang.

Kami berusaha mencari tau mengenai penanganan psikologis yang mungkin sudah dilakukan. Di Bireum Bayeun sendiri, kami tidak melihat adanya posko atau relawan yang menerima atau memfalitasi penanganan psikologis. Sedangkan di Kuala Langsa, kami melihat spanduk yang bertuliskan “Trauma Healing” yang diadakan oleh suatu lembaga. Di sudut posko lembaga lainnya, kami melihat baliho bertuliskan “Pusat Penanganan Psikologis”. Namun ketika kami datangi, posko tersebut dalam keadaan kosong sehingga tidak ada yang bisa diwawancarai mengenai hal tersebut.

Dengan pengamatan tersebut, kami menyimpulkan bahwa sisi psikologis para pengungsi masih belum tersentuh. Artinya, para pengungsi masih harus mendapatkan penanganan psikologis meskipun assessment dari berbagai pihak terus dilakukan. Hal ini juga dipengaruhi dari suatu kejadian yang kami amati, dimana ketika kami bertanya kepada seorang anak, “Baba?” (untuk menanyakan keberadaan ayahnya), si anak hanya menggerakkan tangannya di leher sambil tertawa (yang artinya ayahnya sudah tewas), dan ketika kami bertanya “Mama?”, si anak menempelkan jari telunjuk ke kepala dengan keadaan jempol ke atas (ibunya tewas ditembak).

Namun meskipun kita menyadari bahwa sisi psikologis mereka bukanlah sesuatu yang bisa diabaikan dan perlu diselamatkan, hal yang tidak bisa kita lupakan adalah bahwa bahasa masih terus menjadi kendala yang teramat besar sampai hari ini. Aspek ini tentu secara signifikan sangat mempengaruhi penanganan psikologis yang akan dilakukan oleh pihak manapun. Selain memperhatikan sisi psikologis para pengungsi, tentu bukanlah hal yang bijaksana apabila kita turut melupakan kecemburuan sosial yang akan datang nantinya dari masyarakat setempat.

Halida Ulfah

Universitas Syiah Kuala

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *