BAGAIMANA SEYOGIANYA KADERISASI MAHASISWA PSIKOLOGI YANG IDEAL?

BAGAIMANA SEYOGIANYA KADERISASI MAHASISWA PSIKOLOGI YANG IDEAL?

 

Nahdliyati Nur Muhammad

Universitas Hasanuddin

 

Mohon maaf sebelumnya karena saya mengganti kata “seharusnya” menjadi “seyogianya” pada judul topik, dikarenakan sebagai mahasiswa psikologi kita semua pasti paham bahwa sesuatu yang kita laksanakan lebih baik apabila berdasar pada locus of control internal, bukannya external. Sementara itu kata “seharusnya” lebih mengarah pada makna intervensi yang lebih eksternal atau dengan kata lain ada karena hanya ada dorongan dari lingkungan, bukan dari dalam diri sendiri.

Berbicara terkait kaderisasi mahasiswa psikologi yang ideal, saya sendiri masih tetap setuju dengan kata kaderisasi. Namun, kaderisasi yang dimaksud di sini bukanlah push up dan set sebanyak 100 kali, ditampar menggunakan sendal jepit atau sendal gunung sampai darah di hidung bercucuran, turun ke got dan bernyanyi sambil menggunakan helm terbalik, atau berbagai perilaku lain yang tidak mencerminkan kemanusiaan itu sendiri. Kaderisasi adalah suatu kata yang bermakna luar biasa dengan tujuan untuk menghasilkan kader-kader pemimpin masa depan yang memiliki jiwa intelektualitas dan kepekaan yang tinggi. Namun sayangnya, banyak sekali yang menyalah-artikan kaderisasi, baik itu secara sengaja maupun setengah sengaja. Kaderisasi dibungkus dengan berbagai tujuan yang khas dan benar-benar memiliki nilai jual yang baik seperti menanamkan kekeluargaan dan lain sebagainya, tapi faktanya? Tujuan tersebut hanya bagaikan hard cover text book dengan isi di dalamnya hanya hasil foto copyan, cantik tapi penuh kepalsuan.

Banyak sekali contoh kasus yang dapat kita jadikan tolak ukur betapa kaderisasi saat ini sudah terlampau jauh dari jalan yang seyogianya. Di Makassar tempat saya menuntut ilmu saat inipun, beberapa kampus sering kali menjadi konsumsi warta berita baik negeri maupun swasta, media cetak maupun media elektronik, di mana ada salah satunya mahasiswa yang harus menderita fisik bahkan sampai meregang nyawa akibat kaderisasi (yang mungkin tidak perlu saya sebutkan satu persatu). Praktek perpeloncoan behavioral yang terlalu membabi-buta dan penuh penganiayaan ini tentunya juga dapat menjadi salah satu fasilitas handal dalam melancarkan perilaku bullying di bawah tanda tangan resmi dan legal para petinggi perguruan tinggi. Sungguh amat sangat disayangkan, ketika calon penerus estafet bangsa malah saling menggenggam dendam turun temurun bahkan pada orang yang tidak tahu apa-apa sama sekali. Namun, terlepas dari kesemua fakta ini, saya yakin bahwa mahasiswa psikologi dimanapun berada tentunya memiliki pegangan yang kuat dalam menerapkan kaderisasi sesuai nilai-nilai yang keukeh mereka pegang.

Lantas, bagaimana seyogianya kaderisasi mahasiswa psikologi yang ideal?

Carl Roger dalam teori humanistik yang dikembangkannya mengemukakan bahwa, secara fenomenologi, setiap manusia terlahir sebagai individu yang unik dan memiliki potensi atas setiap pijakan langkah hidupnya. Bertolak dari teori besar ini, maka menurut saya, teori humanistik adalah teori yang paling signifikan dalam melandasi kaderisasi mahasiswa psikologi, bukan hanya di Makassar ataupun di seluruh Indonesia, melainkan juga di seluruh dunia.

Melalui teori humanistik ini maka kita dapat menyusun indikator-indikator yang sistematis dan konkrit terkait kaderisasi itu sendiri. Indikator-indikator tersebut bisa disusun dalam satu kegiatan yang efektif dan seru, serta sesuai dengan nilai masing-masing individu. Tentunya, sebelum indikator tersebut dituangkan dalam bentuk kegiatan, pemberian materi secara aktif juga memiliki peranan yang penting sebagai pengantar atau sebagai landasan riil yang kuat. Salah satu contoh kecilnya yakni dengan pengadaan role play yang dinarasikan sedemikian rupa sesuai dengan materi teoritis yang telah diberikan sebelumnya sebagai salah satu agenda kegiatan kaderisasi. Role play di mana mahasiswa baru mendalami peran mereka dan berakting sebagaimana pemimpin yang seyogianya akan menumbuhkan tekad leadership sendiri dalam jiwa mereka. Mereka akan lebih menghayati dan menginternalisasi bagaimana cara menjadi pemimpin yang baik, bijaksana, namun juga tetap disayangi oleh seantero relasinya karena mereka tidak hanya mampu secara teori, melainkan juga mampu secara aplikasi. Seperti yang kita ketahui, pembelajaran secara aplikatif tentunya lebih berbekas dibanding pembelajaran yang hanya sekedar teoritis.

Selain dari pengadaan role play itu sendiri, kaderisasi dalam penyambutan mahasiswa baru juga dapat diisi dengan games-games edukatif yang tentunya juga sudah dilandasi terlebih dahulu oleh teori yang dipaparkan fasilitator secara langsung. Games-games edukatif ini seperti menyusun puzzle, memasak bersama, menjaga telur agar tidak pecah meskipun dijatuhkan dari lantai 3, dan lain sebagainya. Games-games ini tentunya dikonsep sedemikian rupa agar tetap kekinian, sesuai dengan tugas perkembangan mereka, dan agar mencapai keberhasilan dari tujuan awal kaderisasi, misalnya dengan tujuan untuk menciptakan kolaborasi antar mahasiswa baru.

Siapa yang tidak senang dengan kaderisasi seru dan aplikatif sedemikian rupa? Tentunya, orang-orang akan lebih tergerak untuk mengikuti kegiatan yang berpotensi positif dan membangun dibanding kegiatan yang terindikasi berpotensi negatif dan merusak. Setiap individu, baik itu yang sudah tua maupun masih muda pastinya tidak mau hak prerogatif dan hak asasi mereka diganggu. Kaderisasi yang menyimpang tentunya hanya akan dijudge minus dari segala sudut pandang bagi mereka yang memiliki pikiran terbuka dan tidak hanya berfokus pada adat turun-temurun. Hal ini dikarenakan banyak praktek kaderisasi yang seolah-olah merampas hak asasi dan menyalahi nilai-nilai dari individu itu sendiri. Oleh karenanya, banyak mahasiswa baru yang cenderung lebih menghindari kaderisasi alias perpeloncoan terselubung tersebut. Nah, jika kaderisasinya dikonsep lebih humanis dan menghargai hak asasi dan hak prerogatif tiap individu, sesuai dengan nilai masing-masing orang, adaptif, seru, kekinian, apakah para mahasiswa baru akan menolak dan menghindar? Saya rasa hanya kemalasan yang membuat merek ogah-ogahan jika disuguhkan kegiatan kaderisasi sedemikian rupa.

Kaderisasi yang baik dan seyogianya untuk mahasiswa psikologi dan tentunya juga untuk seluruh mahasiswa pada umumnya bukan hanya kaderisasi yang menitikberatkan pada behaviorisme perubahan perilaku melainkan lebih pada bagaimana individu tersebut menarik insight kepemimpinan dari apa yang telah dijalaninya secara mandiri dan tanpa unsur keterpaksaan. Pemberian materi menurut saya bukanlah hal yang patut dihilangkan, melainkan ada baiknya lebih diadaptasi secara efisien dan menjadi landasan untuk internalisasi aplikasi kegiatan ke depannya secara koheren. Adapun tindak kekerasan fisik maupun psikis-lah yang justru mesti diminimalisir atau bahkan dihilangkan, karena seperti yang kita ketahui bersama bahwa punishment menurut teori behavioristik bukannya mengurangi suatu perilaku yang merugikan melainkan hanya akan mendatangkan perilaku tersebut di kemudian hari.

Karena kaderisasi yang seyogianya adalah kaderisasi yang bertujuan untuk menemukan insight dari dalam diri sendiri, maka pelaksanaannya pun juga seyogianya dilandasi keinginan dan kesadaran untuk lebih berkembang dari dalam diri sendiri.
Selamat berproses! 😊

Post Author: ILMPI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *