KADERISASI DALAM SECANGKIR KOPI HITAM

KADERISASI DALAM SECANGKIR KOPI HITAM

Frida Rufina Apriresti
Psikologi Universitas Sebelas Maret

Kaderisasi dapat diartikan sebagai proses pembentukan kader atau sekelompok orang melalui proses pendidikan dan pelatihan. Kaderisasi mahasiswa berarti proses pendidikan dan pelatihan mahasiswa yang biasanya berupa penanaman nilai-nilai. Kaderisasi mahasiswa, dalam hal ini mahasiswa psikologi, yang ideal dapat diibaratkan dengan secangkir kopi hitam. Ibarat tersebut mungkin terdengar aneh dan asing di telinga kita. Namun, sebenarnya terdapat banyak hal yang bisa ditelaah dari secangkir kopi hitam tersebut. Mulai dari warna, rasa, hingga porsinya.
Dari segi warna, kita tahu bahwa kopi hitam berwarna hitam atau cokelat gelap pekat yang nyaris hitam. Warna yang sungguh tidak menarik dan monoton. Warna yang mengisyaratkan kita akan rasa pahit yang membuat bergidik. Warna yang membuat orang yang bukan penikmat kopi berpaling dari hadapan si kopi hitam tersebut. Hitamnya kopi tersebut dapat diibaratkan sebagai first impression yang kita dapatkan ketika mendengar kata kaderisasi. Para mahasiswa baru pasti enggan untuk mengikuti kaderisasi khususnya masa orientasi karena adanya stereotip negatif terkait masa orientasi tersebut. Terdapat berbagai catatan hitam yang pada umumnya berupa praktik perploncoan di beberapa institusi. Namun, perploncoan tersebut bukanlah definisi yang tepat untuk menggambarkan warna hitam dari kopi. Warna hitam tersebut adalah gambaran dari kesan formal dan ketegasan, seperti penindakan yang wajar ketika ada mahasiswa yang tidak disiplin pada peraturan. Sebuah hal yang diperlukan dalam proses pembentukan karakter, terutama pada diri remaja akhir yang penuh gejolak tapi masih sering hilang arah.
Beranjak ke tahap berikutnya yaitu pencicipan rasa. Kopi hitam murni pastilah terasa pahit. Demikian pula dengan masa kaderisasi yang hanya diisi oleh hal-hal formal dan ketegasan, tentu rasanya sangat kaku dan monoton. Untuk membuat kopi hitam yang enak dan dapat dinikmati perlu diberi tambahan gula secukupnya sehingga tercapai kombinasi rasa yang seimbang. Gula tersebut adalah ibarat dari manisnya masa orientasi yaitu penyampaian materi dengan santai dalam suasana yang asyik. Penyampaian materi yang demikian cenderung lebih mudah diterima karena kita lebih mudah mengingat hal-hal yang bersifat positif. Apabila pemberian gula terlalu banyak, maka kopi akan kehilangan rasa pahitnya. Hal ini terjadi ketika kaderisasi terlalu santai sehingga tidak ada ketegasan ketika terjadi pelanggaran-pelanggaran, akibatnya keseimbangan dari rasa kopi atau kaderisasi tersebut menjadi tidak pas lagi.
Terakhir dari segi porsi. Biasanya, porsi kopi hitam yang dijual di warung maupun cafe hanya secangkir kecil saja. Porsi tersebut merupakan ukuran yang pas, tidak lebih dan tidak kurang. Walau terkesan sedikit, kopi yang hanya secangkir tersebut sudah memiliki khasiat untuk menghilangkan kantuk dan membuat tubuh segar kembali. Sama seperti masa kaderisasi. Durasi kaderisasi pasti telah ditentukan serta dipertimbangkan panjang pendeknya. Apabila terlalu panjang maka pesertanya akan merasa bosan, tetapi bila terlalu sebentar maka nilai-nilai yang ingin disampaikan mungkin belum terinternalisasi. Seperti halnya kopi hitam tersebut, kaderisasi yang baik adalah yang mampu ‘membuka mata’ para peserta akan hal-hal baru di tempat ia berada. Seperti budaya, kebiasaan, dan lingkungan di universitas, fakultas, atau program studi tempat ia berada.
Akhir kata, mau seperti apa dan bagaimana kaderisasi tersebut dilaksanakan, semuanya kembali kepada kita para mahasiswa khususnya mahasiswa psikologi dan terkhususnya lagi para pengader mahasiswa-mahasiswa baru. Seperti ketika kita akan membuat kopi, pasti kita akan memiliki gambaran seperti apa rasa dan bentuk kopi yang ingin kita nikmati. Demikian pula ketika kita akan membuat sebuah kaderisasi. Kita harus punya tujuan dan target akhir berupa sifat-sifat atau kualitas-kualitas apa yang kita harapkan akan dimiliki oleh para peserta kaderisasi. Mungkin universitas yang berbeda akan memiliki desain kaderisasi yang berbeda pula dikarenakan kultur atau lingkungan setempat yang berbeda. Hal tersebut adalah hal yang wajar karena seperti yang kita ketahui dan pelajari bahwa tidak ada individu atau sekelompok individu yang memiliki sifat atau karakteristik yang sama persis.

Post Author: ILMPI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *