KADERISASI YANG IDEAL

Nama : Sania Silmi Kaffah
Asal Univ : Universitas Parmadina

Bagaimana Kaderisasi yang Ideal untuk Mahasiswa Psikologi?
Mungkin kata kaderisasi sudah tidak asing lagi untuk kita dengar. Banyak orang mendefinisikan kaderisasi sebagai adegan bentak-bentakan, senioritas, bullying, atau bahkan duduk mendengarkan materi berjam-jam. Ketika kita mendengar kata kaderisasi juga mengingatkan kita kepada berbagai kasus bully, penyiksaan, bahkan sampai menghilangkan nyawa seseorang. Biasanya kaderisasi dilakukan saat kita memasuki suatu organisasi,sekolah, dan lain-lain. Tujuannya yaitu untuk melatih dan mempersiapkan mahasiswa agar menjadi kader yang bermutu dan menjadi generasi penerus yang lebih baik lagi.
Lantas? Bagaimana kaderisasi yang ideal khususnya untuk mahasiswa Psikologi? Saya tidak mengerti apakah adegan bentak-bentakan yang katanya untuk menguji mental itu berpengaruh atau tidak pada mental mahasiswa. Mengapa begitu? Karena saya pikir hal tersebut bukan salah satu hal yang efektif. Jika kita telaah dari sudut pandang Psikologi, seseorang itu belajar dari penglamannya di masa lampau. Dan jika dilihat dari pendekatan kognitifnya Piaget kini mahasiswa ada pada usia remaja, dan tentunya kita berada pada tahapan Operasional Formal. Dimana pada tahapan ini seorang anak sudah bisa berfikir abstrak, merancang sesuatu, dan melakukan problem solving. Pengalaman yang saya rasakan sendiri, saat kita di hadapkan pada situasi dibentak-bentak oleh para pengkader apakah lantas kita merasa mental kita diuji? Mungkin menurut mereka ya. Padahal saya sendiri malah kayak absurd dan mengira bahwa mereka sedang berakting. Karena disini kita sudah bisa berfikir abstrak dan belajar dari pengalaman yang pernah terjadi. Pastinya jenjang kaderisasi ini bukan hanya satu kali saja pernah kita lakukan, jadi kita tahu apa yang akan mereka lakukan hanyalah rekayasa belaka. Lantas jika begitu apakah tindakan tersebut efektif untuk menguji mental kita? Saya rasa tidak. Cara tersebut harus di ubah.
Selain adegan bentak-bentakan, duduk mendengarkan materi berjam-jam telah menjadi kebiasaan saat kita mengikuti kaderisasi. Jika begitu, lantas apa bedanya kaderisasi dengan seminar-seminar di luar sana? Kita hanya duduk berjam-jam mendengarkan ceramah dari pemateri, kemudian setelah itu selesai. Memang perbedaannya pada kaderisasi, ada sesi review dimana informasi yang kita dapat di tanyakan lagi setelah materi selesai, sedangkan pada seminar tidak. Tapi yang menjadi tidak efektif disini, biasanya pada kaderisasi dilakukan dari pagi sampai larut malam dan menghabiskan waktu untuk kita istirahat. Biasanya kita diberikan waktu istirahat hanya 2-3 jam dalam sehari. Nah, disinilah titik permasalahannya. Saat tubuh lelah dan ingin istirahat apakah ia dapat menerima informasi dengan baik? Mungkin untuk beberapa orang ya, tapi bagi kebanyakan orang situasi ini bukan membuat mereka mampu berkonsentrasi dengan baik malah membuat konsentrasi semakin buruk bahkan tidak ada informasi yang masuk sama-sekali. Lantas apakah hal ini yang bisa dikatakan efektif dan ideal? Dengan makan seadanya, kadang ada yang memaksa untuk makan dari banyaknya makanan dan harus habis, ada juga yang memberi makanan yang sangat sedikit dengan jumlah orang yang banyak. Bagaimana kita mau menerima informasi jika kebutuhan gizi kita saja tidak terpenuhi? mengaburkan fokus dan informasi yang masuk.
Jadi, bagaimana kaderisasi yang ideal khususnya untuk mahasiswa Psikologi? Dari saya sendiri menyarankan untuk tidak terlalu banyak materi yang membuat bosan, dan adegan bentak-bentakan gajelas yang tidak berpengaruh banyak pada mahasiswa. Lebih baik untuk kaderisasi khususnya Psikologi ini kita lebih menekankan kepada mengaplikasikan pelajaran yang telah kita dapatkan di bangku kuliah seperti pengabdian masyarakat, riset, belajar konseling, mengajar anaka berkebutuhan khusus atau apapun itu yang berbau Psikologi. Selain kita belajar mengasah soft skill dan hard skill yang kita miliki, kita juga mendapati bekal untuk kedepannya bahwa oh jadi begini pengabdian masyarakat yang benar , jadi begini riset yang sesungguhnya, jadi begini cara yang baik buat konseling, jadi begini . Selain itu, kita juga menjadi bermanfaat untuk orang banyak, dan mampu terjun langsung di dunia luas, serta tahu bagaimana seharusnya kita memposisikan diri di berbagai situasi. Dan mungkin itu adalah langkah awal kita untuk mengabdi pada negara.

Post Author: ILMPI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *