MENYADARKAN YANG BARU AGAR TERSADAR

MENYADARKAN YANG BARU AGAR TERSADAR

Oleh :
Siti Khadijah Kitta
Psikologi, Universitas Hasanuddin
tijakitta@gmail.com
Mahasiswa adalah sebutan bagi orang yang tengah menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Sepanjang sejarah, mahasiswa mengambil peran penting dalam sejarah suatu bangsa. Mahasiswa baru adalah para siswa yang baru saja berdiri dari bangkunya yang berada di Sekolah Menengah Atas (SMA) atau sederajat menuju bangku di Perguruan Tinggi. Masa ini merupakan masa yang cukup berat bagi individu yang mengalaminya.
Mengapa demikian? Bayangkan saja, individu yang selama ini cenderung mendapat suapan dalam proses belajar kemudian dituntut untuk menjadi seorang pembelajar mandiri tidak yang lagi hanya terus memperoleh pengetahuan namun juga diharapkan mampu berbagi ilmu (mengaplikasikannya) dalam kehidupan masyarakat.
Lantas bagaimana menggeser kebiasaan sebagai siswa itu menjadi mahasiswa yang seringkali dikatakan sebagai agent of change?
Jawabannya adalah “KADERISASI”. Kata ini merupakan salah satu kata yang cukup memberiakan energi negatif bagi sebagian orang yang mendengarnya. Tentu saja, karena kata ini cukup identik dengan tindak kekerasan dan penindasan. Cukup banyak rangkaian pengaderan mahasiswa baru di berbagai universitaspun memakan korban.
Apakah Kaderisasi itu sebenarnya? Menurut KBBI, pengaderan adalah proses, cara, perbuatan mendidik atau membentuk seseorang menjadi kader. Artinya, pengaderan mahasiswa baru bertujuan untuk mendidik dan membentuk mahasiswa baru agar dapat menjadi seorang mahasiswa yang sesungguhnya.
Lantas bagaimana solusi pengaderan yang tepat?
Tentunya setiap kampus atau bahkan fakultas dalam kampus yang sama memiliki cara tersendiri dalam mengader mahasiswa barunya. Masing-masing pihak tentunya menilai bahwa cara yang mereka lakukan adalah cara yang tepat.
Meninjau lebih spesifik, bagaimana dengan kaderisasi mahasiswa Psikologi?
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa ilmu psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dan proses mental yang melatarbelakanginya (Morgan, 1971). Apakah kaderisasi dengan model kekerasan cocok untuk mahasiswa Psikologi? perlu dipahami bersama bahwa mahasiswa psikologi adalah orang yang diharapkan kelak mampu untuk dapat memahami manusia lebih dari mahasiswa jurusan lainnya. wajar saja, mahasiswa psikologi menghabiskan banyak waktu untuk kuliah yang dalam perkuliahannya mempelajari berbagai hal terkait dengan manusia, baik yang tampak pada manusia maupun aspek psikologis yang hanya tampak dalam bentuk tingkah laku.
Seorang mahasiswa Psikologi tentunya diharapkan mampu menjadi seorang sarjana Psikologi nantinya. Penting bagi mahasiswa psikologi untuk belajar memahami manusia. Seyogianya mahasiswa psikologi mampu menjadi penyadar, baik sadar akan diri sendiri maupun menyadarkan orang lain.
Kaderisasi dengan model kekerasan sangatlah tidak mencerminkan seorang mahasiswa Psikologi yang banyak orang sebut sebagai orang yang paling pandai memahami manusia. Jika tujuan kaderisasi itu untuk menggeser pola pikir mahasiswa baru dari pola pikir seorang siswa menjadi pola pikir seorang mahasiswa, maka yang perlu diberikan adalah pendampingan dan fasilitas untuk menyadarkan posisi mereka saat ini.
Lalu bagaimana cara yang paling efektif?
Hal yang penting adalah menyampaikan kepada mereka tentang Tri Dharma Perguruan Tinggi. Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian merupakan 3 poin penting yang seyogianya kita capai sebagai seorang mahasiswa. Sehingga dalam proses kaderisasi yang perlu diberikan adalah fasilitas berupa kegiatan-kegiatan positif yang mampu mendatangkan berbagai insight pada mahasiswa baru. Harapannya, dengan fasilitas yang diberikan mereka dapat menyadari posisi mereka sebagai mahasiswa dan menyadari betapa pentingnya posisi mereka. Fasilitas yang diberikanpun seyogianya mampu memberikan gambaran kepada mahasiswa baru terkait kondisi masyarakat yang menunggu kontribusi nyata dari mereka. Sehingga mereka sadar pentingnya pendidikan yang harus mereka tempuh, pentingnya pengembangan ilmu pengetahuan dengan adanya berbagai penelitian, dan pentingnya kontribusi nyata untuk masyarakat sebagai bentuk pengabdian untuk Negeri.
Selain itu, dalam proses menyadarkan calon penyadar tentunya mereka perlu pendamping yang dapat dijadikan tempat mereka sharing dan bertanya. Dosen adalah tokoh yang ideal, namun tentunya berdiskusi bebas tiap harinya bersama dosen akan mengganggu aktivitas dosen itu sendiri dan tentunya tidak jarang mahasiswa merasa canggung (terutama mahasiswa baru). Sehingga mereka membutuhkan sosok kakak angkatan yang dapat dijadaikan teman sharing dan belajar. Oleh karena itu, sekat antar angkatan pada mahasiswa Psikologi seyogianya diminimalisir. Bagi seorang yang “sadar”, mereka akan tahu bagaimana menjalin hubungan yang baik dengan seorang yang lebih tua darinya tanpa menghilangkan sikap menghargai dan sopan santun.
Jadi, untuk menyadarkan yang baru agar tersadar tidak perlu dengan teriakan dan bentakan. Cukup tarik atensi seluruh indra mereka untuk menyadari posisi dan peran mereka saat ini. (
MARI
“MEWUJUDKAN INDONESIA TERSENYUM DENGAN PSIKOLOGI”
DAFTAR PUSTAKA
Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Keempat. (2008). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Morgan, C., T. (1971). Introduction to Psychology. New York: McGraw-Hill Book Company INC

Post Author: ILMPI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *