Mahasiswa Baru Sebagai “Kelinci Percobaan”

Mahasiswa Baru Sebagai “Kelinci Percobaan”
OSPEK yang Ideal dan Kehadiran Komisi Disiplin

oleh Ifandi Khainur Rahim

Sebentar lagi, mahasiswa baru angkatan 2017 akan memasuki tahun pertamanya berkuliah. Hal pertama yang akan mereka rasakan di kampus tentu adalah OSPEK. Menyikapi hal tersebut, saya pun ingin menyampaikan pendapat saya tentang tradisi OSPEK yang secara umum terjadi di Indonesia, khususnya dalam kehidupan kemahasiswaan, setidaknya di kampus saya.

Singkat cerita, beberapa waktu lalu, teman saya sempat mengatakan bahwa OSPEK adalah ajang senior untuk bereksperimen terhadap mahasiswa baru (maba). Dia bilang, maba dalam OSPEK berperan sebagai “kelinci percobaan” para senior. Saya cukup terkejut dengan perkataan tersebut, dan kami pun meneruskan pembicaraan.

Setelah mengobrol cukup lama, dengan segala alasan yang ia sebutkan. Akhirnya, saya sendiri cenderung setuju dengan statement tersebut. Khususnya jika melihat kehadiran komisi kedisiplinan dalam OSPEK (re: komdis = senior yang biasanya memiliki tugas menertibkan atau menegur maba ketika maba melakukan kesalahan).

Kenapa tidak? Ketika ada komdis, banyak intervensi yang dilakukan kepada maba. Contohnya mulai dari teguran halus secara verbal, diteriaki, dan di beberapa kampus, bahkan sampai ke intervensi fisik. Jika kita lihat-lihat, bukankah hal tersebut sama saja dengan eksperimen? Ya, eksperimen terhadap manusia.

Kalau dianalogikan, perkataan teman saya memang tidak salah, bahwa maba memang adalah ‘kelinci’ percobaan. Dan kita, para senior adalah ‘ilmuwan’ yang sedang melakukan percobaan pada maba agar dapat tercipta perubahan dalam diri mereka. Perubahan di sini tentunya supaya maba menjadi lebih baik. Siapa sih senior yang tidak ingin maba-nya sukses, kompak, dan mampu beradaptasi di perkuliahan sekaligus menjadi kader baru
organisasi di kampus?

Tentu hukuman, teriakan, dan sikap yang dilakukan oleh komdis saat ospek ditujukan untuk suatu alasan. Entah itu untuk meningkatkan kekompakan angkatan, melatih kedisiplinan, atau sesimpel masalah praktis untuk efektivitas dan efisiensi waktu kegiatan OSPEK.

Akan tetapi, yang menjadi pertanyaaan besar adalah: Bagaimana sebetulnya hasil eksperimen tersebut, apakah pernah hasil eksperimen ini diukur dan diperiksa secara saintifik? Ya, apakah hasilnya signifikan dan sesuai dengan indikator keberhasilan yang ditetapkan oleh panitia? Atau malah justru, sebaliknya? Mari kita telisik sedikit demi
sedikit.

Adanya Intervensi Komdis dalam OSPEK: Krisis Etika?

Sebagai mahasiswa psikologi, saya sedikit banyak belajar tentang penelitian dalam bentuk eksperimen. Dalam melaksanakan eksperimen, ada aturan yang harus saya patuhi, dan kebanyakan berkaitan dengan etika penelitian.

Salah satunya, saya harus memastikan bahwa kondisi fisik dan psikologis partisipan penelitian tidak menjadi semakin buruk setelah eksperimen berlangsung. Jika pun memburuk, saya harus bisa mengembalikan kondisi partisipan ke kondisi awal sebelum ia mengikuti penelitian.

Selain itu, saya pun harus memastikan bahwa partisipan bersedia 100% secara sukarela untuk berpartisipasi dalam eksperimen yang saya lakukan. Itulah sebabnya menurut saya di zaman sekarang, sampel dalam eksperimen lebih banyak disebut sebagai ‘partisipan’, bukan lagi disebut sebagai ‘objek’ penelitian. Sebab mereka memang harus bersedia ber- ‘partisipasi’. Biasanya, hal ini ditandakan dengan informed consent, atau pernyataan persetujuan mengikuti penelitian.

Kalau kita lihat fenomena dalam OSPEK, tentu kita harus memperhatikan etika layaknya eksperimen. Jangan-jangan, intervensi yang kita lakukan ke maba itu melanggar etika. Bisa saja kondisi psikologis atau fisik maba menjadi taruhannya setelah diintervensi saat OSPEK. Kita tidak pernah tahu bagaimana kondisi kesehatan mental maba setelah mengikuti OSPEK, setidaknya untuk sekarang, karena saya belum pernah melihat panitia OSPEK yang cukup concern dengan aspek mental maba sampai ke ranah pengukuran kondisi sebelum dan sesudahnya.

Pada akhirnya, ketika kondisi kesehatan mental menjadi taruhan, tentu mahasiswa psikologi sebagai ‘ahli’-nya eksperimen terhadap manusia, harusnya bisa turun dan memberi contoh. Bahwa mengintervensi manusia tidak bisa sembarang cara, karena bisa saja berdampak buruk. Saya rasa OSPEK di fakultas/jurusan Psikologi seharusnya bisa
menjadi contoh untuk fakultas lain yang memang tidak mengurusi sama sekali tentang kondisi mental manusia.

Minim Data akan Dampak yang Diciptakan Komdis

Sejauh yang saya tahu, masih belum ada yang pernah mencoba meneliti tentang dampak yang terjadi pada maba setelah diintervensi, baik secara umum maupun secara khusus oleh komdis. Semua argumen terhadap dampak negatif dan positif adanya komdis dalam OSPEK hanyalah berdasarkan asumsi yang belum terukur secara saintifik (re: selayaknya penelitian). Di kampus saya sendiri, masih banyak pertanyaan-pertanyaan mengenai urgensi adanya komdis dalam OSPEK. Namun kembali lagi ke premis awal, baik argumen pro maupun kontra belum ada data primer konkret yang dapat mendukung kedua argumen tersebut.

Seperti trial pengujian obat di rumah sakit, intervensi sosial yang dilakukan di kampus berupa OSPEK pun seharusnya dicek signifikansi pengaruhnya terhadap subjek intervensi. Seberapa besar pengaruh positif dan pengaruh negatif yang ditimbulkan terhadap maba? Hal ini menurut saya sangat bisa dilakukan dengan melakukan test perbandingan antara pretest dan post-test terhadap maba. Kita harus lihat pengaruhnya, baik secara fisik maupun psikologis.

Kekhawatiran saya kepada komdis pun bukan tidak berdasar, menurut saya terdapat beberapa permasalahan dalam adanya komdis dalam ospek. Pertama, kita tidak mengetahui seberapa rentan mahasiswa terhadap stress yang diciptakan oleh komdis. Setahun yang lalu, saya sempat menulis tentang pro-kontra terkait sistem OSPEK secara umum di Indonesia dan stress yang dapat dialami oleh maba dalam OSPEK, silahkan baca tulisannya di link berikut (http://filosofiremaja.blogspot.co.id/2016/05/ospek-di-indonesia-negatif-positif.html). Kedua, bahwa terdapat fenomena perpeloncoan yang berakibat negatif dikarenakan oleh figur otoritas layaknya komdis, dan beberapa terekspos di media dengan cara yang buruk, seperti beberapa berita-berita ini:

http://bali.tribunnews.com/2016/12/23/ini-10-daftar-kasus-kematian-mahasiswa-baru-saat-ospek

http://news.okezone.com/read/2013/07/17/373/838555/ospek-bisa-bikin-maba-trauma

Argumen yang Melanggengkan Praktik Komdis

Ada beberapa argumen yang sering kali saya dengar dari pihak yang ingin tetap melanggengkan praktik komdis.

Pertama adalah argumen yang terkait dengan efisiensi waktu dan kedisiplinan dalam kegiatan. Asumsinya, maba tidak akan tertib tanpa adanya komdis. Toh dengan komdis saja masih banyak maba yang belum tertib, pertanyaannya: Bagaimana jadinya OSPEK tanpa komdis? Jujur, argumen ini menurut saya cukup kuat dan logis. Akan tetapi argumen ini kuat menurut saya karena memang belum ada data kontra (efektivitas ospek tanpa komdis)
dan tidak ada yang berani untuk menghilangkan sepenuhnya praktik OSPEK tanpa komdis. Sehingga, komdis seakan-akan merupakan sebuah hal yang wajib untuk efektivitas dan efisiensi pelaksanaan komdis. Sayangnya, apakah efektivitas dan efisiensi sepadan dengan efek negatifnya? (yang sampai sekarang belum kita ketahui–well, sebetulnya sudah, beberapa contohnya seperti berita yang saya kutip di paragraf sebelumnya).

Argumen kedua adalah terkait pembiasaan. Bahwa kehidupan di dunia ‘nyata’ akan lebih kejam dibandingkan kehidupan kampus. Oleh karena itu, komdis seharusnya dapat menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mencicipi sedikit kekejaman tersebut, agar dapat terbiasa mengalami hal tersebut di dunia ‘nyata’ setelah-kampus. Untuk mendebat argumen tersebut, saya ingin mengutip tulisan yang cukup menarik dari Purnomo (2014), anggota Semar UI terkait budaya OSPEK sebagai pembiasaan, silahkan simak sedikit tulisannya berikut ini:

“Yang seharusnya menjadi benteng terakhir anti kekerasan justru menjadi lumbung kegagapan berperilaku humanis itu sendiri (senior dalam ospek). Saya sekarang sedang mengambil jurusan filsafat di Universitas Indonesia, sebuah kampus yang meng-klaim sebagai world class university (dunia ketiga?) dan sudah dua tahun ini melihat tindakan barbar masih dan terus dilestarikan.

Tidak ada lagi kekerasan secara fisik, tapi praktik intimidasi, kekerasan verbal, dan kekerasan simbolik menjadi konsumsi setiap mahasiswa baru. Logika yang dipakai para senior demi memuluskan praktik ini biasanya berkisar dari bahwa nantinya ketika masuk dunia kerja, bentakan bos lebih parah daripada bentakan senior, dan dengan begitu pembiasaan mulai sedari dini baik agar mahasiswa tidak kaget tatkala memasuki dunia kerja.

Pernyataan ini bermasalah, karena ungkapan diatas setara dengan kalimat “seorang perempuan memukuli diri setiap hari semenjak SD, karena ketika memasuki dunia rumah tangga dia akan dipukuli sang suami”, atau juga setara dengan pernyataan “saya mencoba melakukan bunuh diri agar terbiasa dengan rasa kematian nanti”. Alih-alih menjadi pekerja yang menolak kekerasan, para senior justru mendidik untuk melanggengkan kekerasan. Dan lebih absurd lagi, kekerasan itu demi korporasi. Apakah anda tidak sadar, bahwa sistem SKS adalah upaya pendisiplinan tubuh agar para kapitalis mendapatkan asupan tenaga kerja segar siap pakai setiap tahunnya. Dan lagipula, logika pembiasaan adalah tata pikir tercacat demi menjalankan hidup, karena jika demikian, affirmative action yang diperjuangkan para feminis tiadalah berguna, buang saja gerbong khusus perempuan di KRL, atau biarkan saja para pekerja tambang di Afrika, mereka juga akan terbiasa dengan penindasan dan kemiskinan. Yang benar saja, mahasiswa baru bukanlah Deadpool!”

Argumen yang terakhir adalah asumsi bahwa komdis membuat kompak, disiplin, dan lain sebagainya. Namun lagi-lagi, tanpa data, argumen tersebut hanyalah asumsi yang berusaha dilestarikan lewat tradisi OSPEK. Belum ada yang betul-betul bisa membuktikan bahwa angkatan bisa kompak, disiplin, dsb. dari adanya praktik komdis.

Tradisi dan perubahan

Apakah kita berani mengecek sistem yang ada saat ini dengan menggunakan data empiris langsung dari subjek partisipan yaitu maba sebagai kelinci percobaan selama bertahun-tahun? Jika ada yang berhasil membuktikan ospek tanpa komdis bisa punya kualitas yang sama, maka runtuhlah argumen bahwa komdis membuat angkatan menjadi tertib, atau kompak, begitu pun sebaliknya. Namun pertanyaannya tentu adalah: Siapa yang berani mencoba mengubah dan mendobrak tradisi OSPEK yang ada di Indonesia saat ini? Menurut saya, tentunya orang tersebut adalah kita semua, sebab kita adalah angkatan yang saat ini sedang memegang ujung tombak orientasi di kampus. Kita harus terbuka pada inovasi baru dan cara-cara lain yang terbukti tidak berdampak negatif dalam mengintervensi maba.

Untuk menutup tulisan ini dan menjawab beberapa keresahan yang mungkin akan muncul dari pembaca sekalian, saya berharap agar tradisi komisi disiplin ini dapat dikaji secara mendalam dan dites dengan baik. Tanpa data, tidak akan bisa terbukti bagaimana tingkat signifikansi dari posisi komisi disiplin dalam ospek. Argumen pro-kontra pun tidak akan bisa dibuktikan secara sehat. Oleh karena itu, posisi dan budaya komdis dalam ospek ini sebaiknya kita kaji bersama-sama. Tujuannya agar kita dapat membuktikan argumen kita masing-masing, baik pro maupun kontra dengan data yang konkret. Ya, mari berdialektika, karena orientasi mahasiswa yang ideal adalah orientasi yang data-driven, bukan hanya sekedar meneruskan tradisi.

Referensi
Purnomo, F. (2014). Apakah UI sedang merindukan Soeharto?

Apakah UI Sedang Merindukan Soeharto?


Rahim, I. K. (2016). Ospek di Indonesia, negatif atau positif?
http://filosofiremaja.blogspot.co.id/2016/05/ospek-di-indonesia-negatif-positif.html

Post Author: ILMPI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *