Perekrutan Terbuka Pengurus Nasional

Menindaklanjuti hasil Musyawarah dan Rapat Kerja Nasional (Mukernas) Ikatan Lembaga Mahasiswa Psikologi Indonesia (ILMPI) pada tanggal 9 – 15 Maret 2018 di Universitas Negeri Jambi, maka Pengurus Harian Nasional ILMPI periode 2018 – 2019 bermaksud untuk menyelenggarakan perekrutan terbuka staf:

  • Badan Kesekretariatan Nasional
  • Badan Keuangan Nasional
  • Badan Informasi dan Komunikasi Nasional
  • Badan Pengembangan Organisasi Nasional
  • Badan Pengembangan dan Pengabdian Masyarakat Nasional

Continue reading


Mahasiswa Baru Sebagai “Kelinci Percobaan”

Mahasiswa Baru Sebagai “Kelinci Percobaan”
OSPEK yang Ideal dan Kehadiran Komisi Disiplin

oleh Ifandi Khainur Rahim

Sebentar lagi, mahasiswa baru angkatan 2017 akan memasuki tahun pertamanya berkuliah. Hal pertama yang akan mereka rasakan di kampus tentu adalah OSPEK. Menyikapi hal tersebut, saya pun ingin menyampaikan pendapat saya tentang tradisi OSPEK yang secara umum terjadi di Indonesia, khususnya dalam kehidupan kemahasiswaan, setidaknya di kampus saya.

Singkat cerita, beberapa waktu lalu, teman saya sempat mengatakan bahwa OSPEK adalah ajang senior untuk bereksperimen terhadap mahasiswa baru (maba). Dia bilang, maba dalam OSPEK berperan sebagai “kelinci percobaan” para senior. Saya cukup terkejut dengan perkataan tersebut, dan kami pun meneruskan pembicaraan.

Setelah mengobrol cukup lama, dengan segala alasan yang ia sebutkan. Akhirnya, saya sendiri cenderung setuju dengan statement tersebut. Khususnya jika melihat kehadiran komisi kedisiplinan dalam OSPEK (re: komdis = senior yang biasanya memiliki tugas menertibkan atau menegur maba ketika maba melakukan kesalahan).

Kenapa tidak? Ketika ada komdis, banyak intervensi yang dilakukan kepada maba. Contohnya mulai dari teguran halus secara verbal, diteriaki, dan di beberapa kampus, bahkan sampai ke intervensi fisik. Jika kita lihat-lihat, bukankah hal tersebut sama saja dengan eksperimen? Ya, eksperimen terhadap manusia.

Kalau dianalogikan, perkataan teman saya memang tidak salah, bahwa maba memang adalah ‘kelinci’ percobaan. Dan kita, para senior adalah ‘ilmuwan’ yang sedang melakukan percobaan pada maba agar dapat tercipta perubahan dalam diri mereka. Perubahan di sini tentunya supaya maba menjadi lebih baik. Siapa sih senior yang tidak ingin maba-nya sukses, kompak, dan mampu beradaptasi di perkuliahan sekaligus menjadi kader baru
organisasi di kampus?

Tentu hukuman, teriakan, dan sikap yang dilakukan oleh komdis saat ospek ditujukan untuk suatu alasan. Entah itu untuk meningkatkan kekompakan angkatan, melatih kedisiplinan, atau sesimpel masalah praktis untuk efektivitas dan efisiensi waktu kegiatan OSPEK.

Akan tetapi, yang menjadi pertanyaaan besar adalah: Bagaimana sebetulnya hasil eksperimen tersebut, apakah pernah hasil eksperimen ini diukur dan diperiksa secara saintifik? Ya, apakah hasilnya signifikan dan sesuai dengan indikator keberhasilan yang ditetapkan oleh panitia? Atau malah justru, sebaliknya? Mari kita telisik sedikit demi
sedikit.

Adanya Intervensi Komdis dalam OSPEK: Krisis Etika?

Sebagai mahasiswa psikologi, saya sedikit banyak belajar tentang penelitian dalam bentuk eksperimen. Dalam melaksanakan eksperimen, ada aturan yang harus saya patuhi, dan kebanyakan berkaitan dengan etika penelitian.

Salah satunya, saya harus memastikan bahwa kondisi fisik dan psikologis partisipan penelitian tidak menjadi semakin buruk setelah eksperimen berlangsung. Jika pun memburuk, saya harus bisa mengembalikan kondisi partisipan ke kondisi awal sebelum ia mengikuti penelitian.

Selain itu, saya pun harus memastikan bahwa partisipan bersedia 100% secara sukarela untuk berpartisipasi dalam eksperimen yang saya lakukan. Itulah sebabnya menurut saya di zaman sekarang, sampel dalam eksperimen lebih banyak disebut sebagai ‘partisipan’, bukan lagi disebut sebagai ‘objek’ penelitian. Sebab mereka memang harus bersedia ber- ‘partisipasi’. Biasanya, hal ini ditandakan dengan informed consent, atau pernyataan persetujuan mengikuti penelitian.

Kalau kita lihat fenomena dalam OSPEK, tentu kita harus memperhatikan etika layaknya eksperimen. Jangan-jangan, intervensi yang kita lakukan ke maba itu melanggar etika. Bisa saja kondisi psikologis atau fisik maba menjadi taruhannya setelah diintervensi saat OSPEK. Kita tidak pernah tahu bagaimana kondisi kesehatan mental maba setelah mengikuti OSPEK, setidaknya untuk sekarang, karena saya belum pernah melihat panitia OSPEK yang cukup concern dengan aspek mental maba sampai ke ranah pengukuran kondisi sebelum dan sesudahnya.

Pada akhirnya, ketika kondisi kesehatan mental menjadi taruhan, tentu mahasiswa psikologi sebagai ‘ahli’-nya eksperimen terhadap manusia, harusnya bisa turun dan memberi contoh. Bahwa mengintervensi manusia tidak bisa sembarang cara, karena bisa saja berdampak buruk. Saya rasa OSPEK di fakultas/jurusan Psikologi seharusnya bisa
menjadi contoh untuk fakultas lain yang memang tidak mengurusi sama sekali tentang kondisi mental manusia.

Minim Data akan Dampak yang Diciptakan Komdis

Sejauh yang saya tahu, masih belum ada yang pernah mencoba meneliti tentang dampak yang terjadi pada maba setelah diintervensi, baik secara umum maupun secara khusus oleh komdis. Semua argumen terhadap dampak negatif dan positif adanya komdis dalam OSPEK hanyalah berdasarkan asumsi yang belum terukur secara saintifik (re: selayaknya penelitian). Di kampus saya sendiri, masih banyak pertanyaan-pertanyaan mengenai urgensi adanya komdis dalam OSPEK. Namun kembali lagi ke premis awal, baik argumen pro maupun kontra belum ada data primer konkret yang dapat mendukung kedua argumen tersebut.

Seperti trial pengujian obat di rumah sakit, intervensi sosial yang dilakukan di kampus berupa OSPEK pun seharusnya dicek signifikansi pengaruhnya terhadap subjek intervensi. Seberapa besar pengaruh positif dan pengaruh negatif yang ditimbulkan terhadap maba? Hal ini menurut saya sangat bisa dilakukan dengan melakukan test perbandingan antara pretest dan post-test terhadap maba. Kita harus lihat pengaruhnya, baik secara fisik maupun psikologis.

Kekhawatiran saya kepada komdis pun bukan tidak berdasar, menurut saya terdapat beberapa permasalahan dalam adanya komdis dalam ospek. Pertama, kita tidak mengetahui seberapa rentan mahasiswa terhadap stress yang diciptakan oleh komdis. Setahun yang lalu, saya sempat menulis tentang pro-kontra terkait sistem OSPEK secara umum di Indonesia dan stress yang dapat dialami oleh maba dalam OSPEK, silahkan baca tulisannya di link berikut (http://filosofiremaja.blogspot.co.id/2016/05/ospek-di-indonesia-negatif-positif.html). Kedua, bahwa terdapat fenomena perpeloncoan yang berakibat negatif dikarenakan oleh figur otoritas layaknya komdis, dan beberapa terekspos di media dengan cara yang buruk, seperti beberapa berita-berita ini:

http://bali.tribunnews.com/2016/12/23/ini-10-daftar-kasus-kematian-mahasiswa-baru-saat-ospek

http://news.okezone.com/read/2013/07/17/373/838555/ospek-bisa-bikin-maba-trauma

Argumen yang Melanggengkan Praktik Komdis

Ada beberapa argumen yang sering kali saya dengar dari pihak yang ingin tetap melanggengkan praktik komdis.

Pertama adalah argumen yang terkait dengan efisiensi waktu dan kedisiplinan dalam kegiatan. Asumsinya, maba tidak akan tertib tanpa adanya komdis. Toh dengan komdis saja masih banyak maba yang belum tertib, pertanyaannya: Bagaimana jadinya OSPEK tanpa komdis? Jujur, argumen ini menurut saya cukup kuat dan logis. Akan tetapi argumen ini kuat menurut saya karena memang belum ada data kontra (efektivitas ospek tanpa komdis)
dan tidak ada yang berani untuk menghilangkan sepenuhnya praktik OSPEK tanpa komdis. Sehingga, komdis seakan-akan merupakan sebuah hal yang wajib untuk efektivitas dan efisiensi pelaksanaan komdis. Sayangnya, apakah efektivitas dan efisiensi sepadan dengan efek negatifnya? (yang sampai sekarang belum kita ketahui–well, sebetulnya sudah, beberapa contohnya seperti berita yang saya kutip di paragraf sebelumnya).

Argumen kedua adalah terkait pembiasaan. Bahwa kehidupan di dunia ‘nyata’ akan lebih kejam dibandingkan kehidupan kampus. Oleh karena itu, komdis seharusnya dapat menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mencicipi sedikit kekejaman tersebut, agar dapat terbiasa mengalami hal tersebut di dunia ‘nyata’ setelah-kampus. Untuk mendebat argumen tersebut, saya ingin mengutip tulisan yang cukup menarik dari Purnomo (2014), anggota Semar UI terkait budaya OSPEK sebagai pembiasaan, silahkan simak sedikit tulisannya berikut ini:

“Yang seharusnya menjadi benteng terakhir anti kekerasan justru menjadi lumbung kegagapan berperilaku humanis itu sendiri (senior dalam ospek). Saya sekarang sedang mengambil jurusan filsafat di Universitas Indonesia, sebuah kampus yang meng-klaim sebagai world class university (dunia ketiga?) dan sudah dua tahun ini melihat tindakan barbar masih dan terus dilestarikan.

Tidak ada lagi kekerasan secara fisik, tapi praktik intimidasi, kekerasan verbal, dan kekerasan simbolik menjadi konsumsi setiap mahasiswa baru. Logika yang dipakai para senior demi memuluskan praktik ini biasanya berkisar dari bahwa nantinya ketika masuk dunia kerja, bentakan bos lebih parah daripada bentakan senior, dan dengan begitu pembiasaan mulai sedari dini baik agar mahasiswa tidak kaget tatkala memasuki dunia kerja.

Pernyataan ini bermasalah, karena ungkapan diatas setara dengan kalimat “seorang perempuan memukuli diri setiap hari semenjak SD, karena ketika memasuki dunia rumah tangga dia akan dipukuli sang suami”, atau juga setara dengan pernyataan “saya mencoba melakukan bunuh diri agar terbiasa dengan rasa kematian nanti”. Alih-alih menjadi pekerja yang menolak kekerasan, para senior justru mendidik untuk melanggengkan kekerasan. Dan lebih absurd lagi, kekerasan itu demi korporasi. Apakah anda tidak sadar, bahwa sistem SKS adalah upaya pendisiplinan tubuh agar para kapitalis mendapatkan asupan tenaga kerja segar siap pakai setiap tahunnya. Dan lagipula, logika pembiasaan adalah tata pikir tercacat demi menjalankan hidup, karena jika demikian, affirmative action yang diperjuangkan para feminis tiadalah berguna, buang saja gerbong khusus perempuan di KRL, atau biarkan saja para pekerja tambang di Afrika, mereka juga akan terbiasa dengan penindasan dan kemiskinan. Yang benar saja, mahasiswa baru bukanlah Deadpool!”

Argumen yang terakhir adalah asumsi bahwa komdis membuat kompak, disiplin, dan lain sebagainya. Namun lagi-lagi, tanpa data, argumen tersebut hanyalah asumsi yang berusaha dilestarikan lewat tradisi OSPEK. Belum ada yang betul-betul bisa membuktikan bahwa angkatan bisa kompak, disiplin, dsb. dari adanya praktik komdis.

Tradisi dan perubahan

Apakah kita berani mengecek sistem yang ada saat ini dengan menggunakan data empiris langsung dari subjek partisipan yaitu maba sebagai kelinci percobaan selama bertahun-tahun? Jika ada yang berhasil membuktikan ospek tanpa komdis bisa punya kualitas yang sama, maka runtuhlah argumen bahwa komdis membuat angkatan menjadi tertib, atau kompak, begitu pun sebaliknya. Namun pertanyaannya tentu adalah: Siapa yang berani mencoba mengubah dan mendobrak tradisi OSPEK yang ada di Indonesia saat ini? Menurut saya, tentunya orang tersebut adalah kita semua, sebab kita adalah angkatan yang saat ini sedang memegang ujung tombak orientasi di kampus. Kita harus terbuka pada inovasi baru dan cara-cara lain yang terbukti tidak berdampak negatif dalam mengintervensi maba.

Untuk menutup tulisan ini dan menjawab beberapa keresahan yang mungkin akan muncul dari pembaca sekalian, saya berharap agar tradisi komisi disiplin ini dapat dikaji secara mendalam dan dites dengan baik. Tanpa data, tidak akan bisa terbukti bagaimana tingkat signifikansi dari posisi komisi disiplin dalam ospek. Argumen pro-kontra pun tidak akan bisa dibuktikan secara sehat. Oleh karena itu, posisi dan budaya komdis dalam ospek ini sebaiknya kita kaji bersama-sama. Tujuannya agar kita dapat membuktikan argumen kita masing-masing, baik pro maupun kontra dengan data yang konkret. Ya, mari berdialektika, karena orientasi mahasiswa yang ideal adalah orientasi yang data-driven, bukan hanya sekedar meneruskan tradisi.

Referensi
Purnomo, F. (2014). Apakah UI sedang merindukan Soeharto?
http://ui.progresif.org/wacana/apakah-ui-sedang-merindukan-soeharto/
Rahim, I. K. (2016). Ospek di Indonesia, negatif atau positif?
http://filosofiremaja.blogspot.co.id/2016/05/ospek-di-indonesia-negatif-positif.html


PERANG DAN PERDAMAIAN

Sejarah bercerita, telah banyak perang yang terjadi di dunia ini. Seperti perang antar saudara, suku, ras, hingga Negara. Menurut harfiah, perang adalah sebuah aksi fisik dan non fisik (kondisi permusuhan dengan menggunakan kekerasan) antara dua atau lebih kelompok manusia untuk melakukan dominasi di wilayah yang dipertentangkan. Perang merupakan turunan dari  sifat agresi (kekerasan) yang tetap sampai sekarang memelihara dominasi dan persaingan sebagai sarana memperkuat eksistensi diri dengan cara menundukkan kehendak pihak yang dimusuhi, secara psikologis dan fisik. Dengan melibatkan diri sendiri dan orang lain, baik secara kelompok atau bukan. Perang dapat mengakibatkan kesedihan dan kemiskinan yang berkepanjangan.

Kekerasan, jika dilihat lebih dalam sebenarnya tidak muncul begitu saja, tetapi kekerasan adalah suatu respon dari keadaan yang dihadapi manusia Hal ini tidak lepas dari hakikat dasar manusia yang memiliki orientasi tinggi dalam melakukan kekerasan.  Menurut Sigmund Freud, secara genetik manusia memiliki pembawaan lahiriah untuk cenderung melakukan kekerasan. Albert Bandura mengambil sudut pandang lain dalam memandang tindak kekerasan. Beliau menjelaskan, tindak kekerasan (agresi) pada manusia merupakan hasil dari belajar sosial. Keadaan situasional dari lingkunganlah yang merupakan faktor utama manusia melakukan kekerasan. Inilah yang menjadi dasar peperangan, seperti yang sudah dijelaskan oleh 2 tokoh diatas, sifat dasar  manusia yang cenderung melakukan kekerasan ialah dasar dari sebuah terjadinya peperangan, tetapi tidak semua tindak kekerasan menjadi faktor utama terjadinya perang.

Menurut Thomas Hobbes, manusia adalah“Homo Homini Lupus” (manusia adalah serigala bagi sesamanya). Menjawab pertanyaan diatas, menurut pandangan psikologi sosial. Kekerasan adalah suatu respon terhadap stimulus yang datang, respon yang dimunculkan oleh individu. Menurut Kurt Lewin, merupakan elemen-elemen yang menjadi dasar kepribadiannya. Kepribadian ini merupakan lokus-lokus dalam pengalaman individual, dimana dari luar diri dimasukkan (diwakili) dalam lapangan psikologik atau lapangan kesadaran seseorang. Jadi kekerasan muncul karena adanya referensi pengalaman dalam otak kita terhadap cara menghadapi masalah

konflik yang melibatkan kekerasan tidak lepas dari pengalaman-pengalaman yang dialami individu atau kelompok bahkan suatu Negara. Suatu kelompok/negara memiliki corak dan budaya serta pengalaman historis tersendiri, sehingga akan mempengaruhi cara perlakuan terhadap permasalahan dan kebijakan-kebijakan yang diambil untuk menyesaikan permasalahan tersebut.

Peperangan adalah suatu jenis tingkah laku dari sekian banyak tingkah laku manusia di dunia ini.
Karena perang adalah “tingkah laku” maka penyebab perang dapat dilihat dari beberapa pendekatan yang berbeda antara satu dengan lainnya. Secara garis besar pendekatan yang dipakai untuk memahami tigkah laku dapat digolongkan ke dalam 4 pendekatan, yaitu : Pendekatan Motivasional, Pendekatan Reinforsemen, Pendekatan Kognitif, Pendekatan Struktur Sosial.

Pendekatan Motivasional adalah pendekatan yang berasan dari dalam diri manusia, mengapa ini bisa terjadi ? menurut Sigmund Freud, perang terjadi oleh karena adanya dorongan agresif yang destruktif di dalam diri manusia. Dorongan ini bersumber dari THANATOS (insting untuk mati) yang kehadirannya sudah ada sejak manusia dilahirkan. Dorongan ini timbul karena manusia, kehilangan rasa dicintai (Lost of Love). Namun pendapat yang berbeda dikemukakan oleh Alfred Adler, beliau beranggapan bahwa dorongan superiorlah yang mendorong seseorang bertinfak agresif dan destruktif. Hampir serupa dengan Alfred Adler, Rollo May beranggapan, bahwa  adanya keinginan manusia untuk “mengukuhkan kembali kekuasaaan dirinya (Restructuring of Power) yang tadinya tenggelam oleh adanya hambatan dari orang lain. Pengukuhan kembali kekuasaan ini bertujuan untuk menegakkan “identitas diri” dan “mengaktualisasi diri”.

Selanjutnya, Pendekatan Reinforsemen. Pendekatan ini ditinjau dari pendekatan untung-rugi. Menurut Albert Bandura, perbuatan agresi dilakukan orang karena perbuatan tersebut menghasilkan “reward”. Jika ditinjau dari pendekatan “untung-rugi”, peperangan timbul oleh karena orang mengharapkan “keuntungan” dari peperangan yang dilakukan. Melihat dari sejarah tampaknya banyak hal yang mendukung pendekatan untung rugi. Missalnya, perang bangsa eropa dalam menjajah Indonesia, bertujuan untuk mengambil keuntungan dari sumber daya alam Indonesia, yang semata mata karena factor ekonomis.

Yang ketiga, Pendekatan Kognitif. Pendekatan psikologis yang akhir-akhir ini sangat popular di dalam usaha memahami perilaku manusia ialah pendekatan kognitif. Proses kognitif yang seringkali dibicarakan dalam kaitan dengan terjadinya konflik internasional ialah proses persepsi yang keliru (misperception) di dalam menanggapi situasi internasional.

Tokoh utama yang menggunakan pendekatan kognitif di dalam menganalisis konflik internasional ialah Ralph K. White (1970). Menurut pendapat White, ada 6 hal yang merupakan MISPERSEPSI yang seringkali menimbulkan konflik internasional yaitu :

  1. “DIABOLICAL ENEMY IMAGE” (pandangan bahwa musuh jahat seperti setan).
  2. “VIPILE SELF IMAGE” (pandangan bahwa diri sendiri jantan).
  3. “MORAL SELF IMAGE” (pandangan bahwa diri sendiri adalah moralis)
  4. “SELECTIVE INATENTION” (tidak memperhatikan hal-hal yang bertentangan dengan keyakinan).
  5. ABSENCE OF EMPATHY (tidak adanya rasa empati).
  6. MILITARY OVER CONFIDENCE (keyakinan yang berlebih-lebihan akan kekuatan militer).

Yang terakhir, Pendekatan Struktur Sosial. Pendekatan struktur sosial melekat pada masalah yang ada di masyarakat sebagai sumber terjadinya konflik, kekerasan, atau peperangan. Adanya Strata didalam kehidupan bermasyarakat dan kehidupan bernegara dapat menjadi sumber pertikaian, apabila Strata tersebut menjadi sumber ketidakadilan. Stratifikasi sosial antara golongan kaya, golongan menengah dan golongan miskin, dapat menjadi sumber bentrokan apabila tidak adilnya distribusi hasil-hasil pembangunan suatu negara, ledakan sosial yang manifestasinya berupa kekerasan dapat mudah terjadi.

Penciptaan sesuatu yang merupakan kepentingan bersama. Konsep ini bersal dari pendapat Sherif et. at (1961) yang mengatakan bahwa “Super Ordinate Goal” yang dapat mengurangi konflik antar kelompok, artinya tujuan individu individu bisa disubstitusikan pada tujuan bersama yang lebih besar untuk kepentingan bersama. Hal tersebut berarti kemampuan semua warga negara dari berbagai lini untuk saling menghargai pandangan, perasaan dan respon orang lain akan menumbuhkan kebersamaan. Kuncinya adalah pemerintah harus mengedepankan kepentingan bersama dengan memperhitungkan dampak yang mungkin terjadi dalam kehidupan bangsa dan negara. Tujuan bersama atau Super ordinate goal dapat mengurangi konflik antar kelompok (Ancok, 2004).

Super Ordinate Goal” yang saat ini dimiliki oleh setiap manusia di bumi ialah bagaimana “menghindari perang nuklir”, perang yang akan menghancurkan semua tata kehidupan umat manusia. Kampanye tentang bahaya nuklir harus lebih ditingkatkan, tidak saja hanya di negara-negara Super Power juga diseluruh dunia. Usaha-usaha untuk menciptakan kepentingan bersama (super ordinate goal) telah dibuktikan oleh Perancis dan Jerman; sebelum adanya Masyarakat Ekonomi Eropa (European Economic Community), Jerman dan Perancis telah berperang sebanyak tiga kali. Setelah kedua negara ini sama sama menjadi anggota MEE, mereka hidup damai tanpa peperangan. MEE bertujuan untuk meningkatkan kepentingan bersama sesama negara anggota. Peningkatan solidaritas ASEAN, dan menambah jumlah negara yang dapat menjadi anggota tentunya juga akan mengurangi konflik-konflik antar negara di Asia Tenggara. Kalau tidak ada tanggapan positif, inisiatif tersebut harus dibatalkan. Tetapi kalu ada tanggapan positif, inisiatif tersebut harus harus dilanjutkan dengan inisiatif baru lainnya. GRIT dapat menurunkan suhu konflik dan dapat menciptakan rasa saling percaya (Mutual Trust). Bila rasa saling percaya sudah timbul maka masalah-masalah besar yang menjadi sumber konflik dapat diatasi dan Super ordinate goals yang kita raih saat ini adalah bagaimana menciptakan dunia yang aman, damai dan sejahtera.

“ Perdamaian milik kita bersama”