Kaderisasi yang Ideal Untuk Mahasiswa

Cetryn Tatiana
Universutas Islam Sultan Agung Semarang

Kaderisasi yang ideal untuk mahasiswa psikologi agar menjadi mahasiswa yang mengabdi untuk negeri.

Jangan dikira pengabdian pada negeri hanya identik dengan TNI maupun POLRI, semua pekerjaan yang bermanfaat bagi masyarakat diIndonesia termasuk Sarjana Psikologi, Psikolog, dan ilmuwan psikolog memiliki tanggung jawab pada masyrakat atas pengabdiannya. Termasuk juga yang masih dalam program pendidikan nya,yaitu mahasiswa psikologi.

Sebagai Mahasiswa Psikologi yang memiliki ilmu tentang berbagai perilaku dan tingkah laku manusia menjadikan mahasiswa psikologi lebih berkompeten dalam melakukan segala sesuatu yang berhubungan dengan manusia,seperti memahami orang lain, terbuka dengan lingkungan baru, dan pengelolaan sumber daya manusia, termasuk dalam kaderisasi.

Kaderisasi untuk mahasiswa psikologi, harus lah tanpa perpeloncoan,pembulyan/perundungan,kekerasan,intimidasi,diskriminasi, agresi,dll.
Didalam kaderisasi mahasiswa psikologi dalam suatu organisasi,kelompok, atau masuk kedalam fakultas psikologi itu sendiri memerlurkan makna atau tujuan yang bermanfaat didalam kaderisasi tersebut, suatu kelompok organisasi yang melaksanakan kaderisasi harus memperhitungkan manfaat bagi masyarkat luas. Contohnya ada bakti sosial, ikut pembangunan desa, mengajar/memberi edukasi pada masyarakat yang membutuhkan, membantu menyalurkan bantuan, memberikan motivasi pada masyarakat,dll.
Jadi dalam kaderisasi masyaraka merasakan manfaatnya,dan ini dilakukan terus menerus,mungkin setahun sekali,atau jadi agenda setengah tahun sekali,dll.
Selain untuk masyarakat, dalam kaderisasi juga memiliki manfaat untuk anggotanya sendiri.
Mereka dikembangkan soft skillnya lewat interaksi dengan masyarakat dan sesama anggota.
Didalam kaderisasi juga disertakan materi tentang intra keorganisasian, tengtang kemanfaatan organisasi itu sendiri, dan itu akan melekat pada setiap anggota baru bila langsung dipraktekan.
Ketika menyampaikan materi perlu diberi sela sela game, atau icebreaking ahar fikiran bisa fresh dan suasana tidak jenuh dan membosankan.
Untuk senioritas sangat harus bisa dimanfaatkan dalam kaderisasi, karena seperti apa nanti(ketika jadi senior) orang yang baru ikut dalam oranganisasi gambarannya  adalah senio4.
Dalam kaderisasi, senior harus menunjukan kualitas maupun kompetensi mereka dalam berorganisasi dan pemberian manfaat bagi masyarakat. Sehingga ketika junior melihat senior mereka yang hebat bisa menjadi inspirasi,acuan,dan semangat bagi mereka.

Akan sangat menarik bila dalam kaderisasi ada outbond maupun game kelompok yang mengajarkan kerja sama,kerukunan,kekompokan,jujur,amanah,mujhid muzhid, dan pantang menyerah. Game harus dikemas dengan baik dan menarik.

Kunci dalam kaderisasi adalah memanusiakan manusia, anggota baru bukanlah objek untuk pelampiasan kemarahan atau yang lain(yang bersifat negati)

Maka dari itu mulailah dari dalam diri kita sendiri untuk menghargai. Jangan hanya mau dihargai,tanpa mau menghargai.


KADERISASI DALAM SECANGKIR KOPI HITAM

KADERISASI DALAM SECANGKIR KOPI HITAM

Frida Rufina Apriresti
Psikologi Universitas Sebelas Maret

Kaderisasi dapat diartikan sebagai proses pembentukan kader atau sekelompok orang melalui proses pendidikan dan pelatihan. Kaderisasi mahasiswa berarti proses pendidikan dan pelatihan mahasiswa yang biasanya berupa penanaman nilai-nilai. Kaderisasi mahasiswa, dalam hal ini mahasiswa psikologi, yang ideal dapat diibaratkan dengan secangkir kopi hitam. Ibarat tersebut mungkin terdengar aneh dan asing di telinga kita. Namun, sebenarnya terdapat banyak hal yang bisa ditelaah dari secangkir kopi hitam tersebut. Mulai dari warna, rasa, hingga porsinya.
Dari segi warna, kita tahu bahwa kopi hitam berwarna hitam atau cokelat gelap pekat yang nyaris hitam. Warna yang sungguh tidak menarik dan monoton. Warna yang mengisyaratkan kita akan rasa pahit yang membuat bergidik. Warna yang membuat orang yang bukan penikmat kopi berpaling dari hadapan si kopi hitam tersebut. Hitamnya kopi tersebut dapat diibaratkan sebagai first impression yang kita dapatkan ketika mendengar kata kaderisasi. Para mahasiswa baru pasti enggan untuk mengikuti kaderisasi khususnya masa orientasi karena adanya stereotip negatif terkait masa orientasi tersebut. Terdapat berbagai catatan hitam yang pada umumnya berupa praktik perploncoan di beberapa institusi. Namun, perploncoan tersebut bukanlah definisi yang tepat untuk menggambarkan warna hitam dari kopi. Warna hitam tersebut adalah gambaran dari kesan formal dan ketegasan, seperti penindakan yang wajar ketika ada mahasiswa yang tidak disiplin pada peraturan. Sebuah hal yang diperlukan dalam proses pembentukan karakter, terutama pada diri remaja akhir yang penuh gejolak tapi masih sering hilang arah.
Beranjak ke tahap berikutnya yaitu pencicipan rasa. Kopi hitam murni pastilah terasa pahit. Demikian pula dengan masa kaderisasi yang hanya diisi oleh hal-hal formal dan ketegasan, tentu rasanya sangat kaku dan monoton. Untuk membuat kopi hitam yang enak dan dapat dinikmati perlu diberi tambahan gula secukupnya sehingga tercapai kombinasi rasa yang seimbang. Gula tersebut adalah ibarat dari manisnya masa orientasi yaitu penyampaian materi dengan santai dalam suasana yang asyik. Penyampaian materi yang demikian cenderung lebih mudah diterima karena kita lebih mudah mengingat hal-hal yang bersifat positif. Apabila pemberian gula terlalu banyak, maka kopi akan kehilangan rasa pahitnya. Hal ini terjadi ketika kaderisasi terlalu santai sehingga tidak ada ketegasan ketika terjadi pelanggaran-pelanggaran, akibatnya keseimbangan dari rasa kopi atau kaderisasi tersebut menjadi tidak pas lagi.
Terakhir dari segi porsi. Biasanya, porsi kopi hitam yang dijual di warung maupun cafe hanya secangkir kecil saja. Porsi tersebut merupakan ukuran yang pas, tidak lebih dan tidak kurang. Walau terkesan sedikit, kopi yang hanya secangkir tersebut sudah memiliki khasiat untuk menghilangkan kantuk dan membuat tubuh segar kembali. Sama seperti masa kaderisasi. Durasi kaderisasi pasti telah ditentukan serta dipertimbangkan panjang pendeknya. Apabila terlalu panjang maka pesertanya akan merasa bosan, tetapi bila terlalu sebentar maka nilai-nilai yang ingin disampaikan mungkin belum terinternalisasi. Seperti halnya kopi hitam tersebut, kaderisasi yang baik adalah yang mampu ‘membuka mata’ para peserta akan hal-hal baru di tempat ia berada. Seperti budaya, kebiasaan, dan lingkungan di universitas, fakultas, atau program studi tempat ia berada.
Akhir kata, mau seperti apa dan bagaimana kaderisasi tersebut dilaksanakan, semuanya kembali kepada kita para mahasiswa khususnya mahasiswa psikologi dan terkhususnya lagi para pengader mahasiswa-mahasiswa baru. Seperti ketika kita akan membuat kopi, pasti kita akan memiliki gambaran seperti apa rasa dan bentuk kopi yang ingin kita nikmati. Demikian pula ketika kita akan membuat sebuah kaderisasi. Kita harus punya tujuan dan target akhir berupa sifat-sifat atau kualitas-kualitas apa yang kita harapkan akan dimiliki oleh para peserta kaderisasi. Mungkin universitas yang berbeda akan memiliki desain kaderisasi yang berbeda pula dikarenakan kultur atau lingkungan setempat yang berbeda. Hal tersebut adalah hal yang wajar karena seperti yang kita ketahui dan pelajari bahwa tidak ada individu atau sekelompok individu yang memiliki sifat atau karakteristik yang sama persis.


Kaderisasi Mahasiswa : Sebuah ironi tradisi yang keberadaannya layaknya pisau tajam

Nama : Muhammad Farid Hermawan Asal Universitas: Universitas Lambung

Kaderisasi Mahasiswa : Sebuah ironi tradisi yang keberadaannya layaknya pisau tajam

“Bagaimana seharusnya kaderisasi mahasiswa Psikologi yang ideal ?”
Pokok bahasan tulisan kali ini tentu pertanyaan diatas. Mencari sebuah konsep yang disebut “IDEAL” tentu perlu waktu dan kesabaran tingkat tinggi. Mungkin pola pikir penulis lebih menyukai penulisan kata “LAYAK” dibandingkan “IDEAL. Karena penulis yakin ketika kata layak sudah diterapkan selama masa kaderisasi mahasiswa, terutama mahasiswa psikologi. Maka sesuatu yang dicita-citakan atau diangan-angankan dalam makna Ideal pasti akan dicapai.
Penulis bukanlan seorang Psikolog,seorang ahli filsafat ataupun seorang mahasiswa cerdas berprestasi Internasional. Penulis hanya seorang mahasiswa yang tentunya pernah merasakan yang namanya kaderisasi. Semua siswa ataupun mahasiswa dapat dipastikan pernah merasakan apa yang disebut kaderisasi. Semenjak SMP,SMA bahkan hingga menduduki dunia perkuliahan apa yang disebut kaderisasi selalu membayangi.
Sistem kaderisasi atau masyarakat sering menyebutnya OSPEK adalah tradisi yang sudah melekat jauh-jauh hari dalam berbagai tingkat kehidupan di masyarakat Indonesia. Ospek atau kaderisasi awalnya adalah sesuatu yang dipenuhi ajang senioritas dan terkesan sangat tidak mendidik, yah awal yang buruk memang untuk sebuah tradisi yang tentunya selalu diterapkan hungga sekarang. Sistem kaderisasi sudah ada sejak era kolonial sekitar tahun 1898. Sejarah berkata sistem kaderisasi awalnya adalah ajang yang penuh senioritas dan terus berkembang ke arah perpeloncoan . Banyak pro dan kontra memang. Namun sistem ini masih terus berjalan hingga detik ini, bedanya sistem kaderisasi saat ini dijejali dengan aturan yang sangat ketat.
#Ini bukan ajang unjuk kekuatan dan ini bukan lahan untuk mencari pembalasan
Kaderisasi adalah sebuah ironi di negeri ini, apakah terlalu berlebihan ? Apakah setelah selesai kaderisasi semua mahasiswa akan berperang dengan kepala plontos sambil menyanyikan yel-yel penyemangat dan setelahnya terkapar denga kenyataan dunia perkuliahan serta dunia kerja yang lebih kejam ketimbang kepala plontos dan teriakan yang melambangkan kedisiplinan saat kaderisasi. Sebuah hal yang lucu memang, namun tentu perlu ditanggapi dengan serius. Kaderisasi mahasiswa adalah sesuatu yang sangat diperlukan tetapi bisa juga sangat tidak diperlukan, mengapa? Pola pikir disiplin tentu perlu dimiliki oleh mahasiswa. Kaderisasi tentu menjadi ajang yang cocok untuk meningkatkan sistem disiplin terhadap mahasiswa. Itu adalah bagian yang diperlukan dalam kaderisasi. Lantas kenapa kaderisasi juga bisa sangat tidak diperlukan? Mari kita menengok ke sistem yang sedang berlangsung, apa yang kita lihat dan bagaimana perilaku mahasiswa yang katanya sudah melewati yang namanya kaderisasi. Kebanyakan dan memang banyak, pola disiplin mahasiswa hanya dilakukan pada saat masa kaderisasi saja. Selanjutnya semua yang didapatkan selama masa kaderisasi mungkin hanya diterapkan oleh beberapa mahasiswa saja.
Penulis bukan penikmat ajang pembalasan berkedok meningkatkan disiplin. Dan tentunya hingga sekarang masih ada ajang pembalasan dalam sistem kaderisasi mahasiswa. Sebagai seorang mahasiswa psikologi yang mempelajari bagaimana sebaiknya manusia berprilaku tentunya kita dituntut sadar bahwa ajang pembalasan adalah hal yang bisa disebut pembodohan yang terorganisir.

#Tradisi yang layaknya sebuah pisau
Kaderisasi bisa kita sebut sebuah tradisi, hampir semua mahasiswa tidak hanya mahasiswa psikologi pernah merasakannya. Tradisi yang penuh kontroversi dan hal-hal gila awalnya. Namun terus diterapkan dengan lambang kedisiplinan tingkat tinggi serta harapan menciptakan generasi emas yang disiplin dengan kepala plontosnya. Tradisi yang bagus memang namun tradisi tersebut layaknya pisau tajam. Pisau tajam yang bila digunakan secara bijak dan penuh perhitungan akan menjadi senjata ampuh menumpas berbagai macam masalah. Pisau tajam tersebut tentunya juga akan sangat berbahaya jika dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang mempermainkan pisau tajam tersebut secara brutal. Tentu dapat membunuh orang lain dan juga suatu saat akan menjadi senjata makan tuan bagi diri sendiri. Aturan yang jelas tentu perlu diterapkan oleh pemegang kebijakan, terutama oleh orang-orang penting berkemeja mahal nan rapi mengenai “Pisau” yang tajam tersebut.

#Lantas Bagaimana Kaderisasi yang Diperlukan Terutama Bagi Mahasiswa Psikologi
Singkatnya kaderisasi yang diperlukan saat ini adalah apa yang kita sebut “memanusiakan manusia”. Mahasiswa bukan kelinci percobaan yang diotak-atik perilakunya menggunakan peraturan yang dicoba-coba tanpa adanya penelitian dan penilaian sebelumnya. Ketika berbicara bagaimana dan apa yang diperlukan, sistem kaderisasi adalah sebuah kebijakan yang perlu dibuat sebuah blue print yang nantinya akan menjadi panduan dasar bagaimana semua sistem bekerja yang bermuara pada proses kaderisasi nantinya. Ketika panduan dasar yang sebelumnya sudah melalui tahap penelitian yang valid dan berbagai ujicoba yang terus dimatangkan, maka kaderisasi terutama bagi mahasiswa psikologi pastinya akan lebih terstruktur dan bermanfaat. Pola kaderisasi yang berporos pada teori sebaiknya lebih diminimalisir,bukan untuk dihapus tetapi porsinya saja yang dikurangi karena alangkah lebih baik jika praktik lapangan lah yang lebih bermanfaat. Karena ingat, kadang teori berbanding terbalik dengan keadaan di lapangan. Program semacam pengabdian masyarakat tentu akan sangat bermanfaat selama masa kaderisasi. Tidak hanya terjun langsung ke lapangan, para mahasiswa psikologi tentunya juga akan banyak belajar mengenai perilaku manusia secara langsung dan akan tahu permasalahan apa saja yang saat ini terjadi dimasyarakat.
Intinya kita memerlukan panduan baku yang menjelaskan bagaimana sistem kaderisasi. Yang nantinya akan disebar kesuluruh Universitas dan tentunya akan lebih mudah dipantau serta meminimalisir sistem perpeloncoan yang seolah menjadi momok saat kaderisasi berlangsung.
#Ketika Semua Paham Apa Makna Dari Kaderisasi
Mungkin ini adalah paragraf penutup dari beberapa paragraf diatas. Dengan tulisan ini, penulis dapat memberikan setidaknya ide-ide kecil yang mungkin bisa diambil manfaatnya untuk kebaikan sistem kaderisasi mahasiswa di waktu yang akan datang.
So, Sebelum kita ingin mencapai sebuah ke idealan kaderisasi. Mari kita merenungkan kembali makna sebenarnya dari kaderisasi mahasiswa itu sendiri. Sebenarnya makna kaderisasi sendiri adalah hal sederhana yang bertujuan menciptakan SDM yang berkelanjutan,bermoral,disiplin dan sesuai dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Dan yang paling sederhananya lagi, kaderisasi adalah ajang mahasiswa mengenal kampus mereka tercinta, sistem kuliah yang akan mereka hadapi dan para dosen dan staf yang nantinya akan lebih sering berkomunikasi dengan mereka. Sesedarhana itu bukan? Lantas mengapa kita mempersulitnya dengan praktik-praktik gila yang seharusnya sangat tidak diperlukan?
THINK AGAIN!


Bicara Tentang Kaderisasi

Nama : defryansyah Amin
Asal Universitas : UI

Bicara tentang kaderisasi kita akan menitikberatkan kepada sebuah harapan yang selama ini ingin kita capai sebagai mahasiswa psikologi, terutama ketika kita mencari sosok yang IDEAL. pertama kita harus mengetahui terlebih dahulu apa itu sosok ideal sebagai seorang mahasiswa psikologi?
bagi saya hal yang terpenting dimiliki oleh mahasiswa psikologi adalah wawasan luas, kepekaan, dan keinginan untuk membantu satu sama lain. Mengapa demikian ? kita coba membicarakan satu per satu hal penting tersebut. Mengapa saya menggarisbawahi 3 hal tersebut. Karena menurut saya.
1. Wawasan luas –> hal ini dibutuhkan oleh setiap mahasiswa baik di Indonesia maupun di luar negeri, apalagi kita adalah mahasiswa psikologi yang notabene akan berhubungan dengan manusia, makhluk unik yang tidak pernah memiliki kesamaan satu sama lain, memiliki bentuk fisik yang berbeda, memiliki kepribadian yang berbeda, dan kemampuan untuk tampil yang berbeda-beda pula. Untuk itu semakin kita membuka kacamata kita memahami setiap manusia (dengan kata lain: wawasan yang luas), semakin terbantu pula kita untuk memahami manusia yang ada.
2. kepekaan —-> mengapa demikian ? saya melihat perkembangan mahasiswa saat ini dengan paparan modernisasi, zaman globalisasi, semakin terkikis pula kepekaan yang dimiliki oleh individu zaman sekarang. Kembali lagi kita lihat bahwa kita adalah mahasiswa psikologi yang mempelajari tentang manusia beserta interaksi-interaksi yang terjadi pada mereka, kepekaan sangat dibutuhkan untuk mendapatkan hal tersebut. Setidaknya kita kaan menjadi lebih sensitif memahami orang-orang yang berada di sekitar kita. Tidak harus langsung membantu, dengan memahami saja perlahan kita akan tahu apa yang seharusnya kita lakukan untuk lingkungan sekitar kita.
3. keinginan untuk membantu. mungkin ini hal terakhir yang perlu kita tanamkan sebagai mahasiswa psikologi. kita hampir sama seperti ilmu kedokteran yang lainnya, dimana kita belajar dan pada akhirnya akan menjadi harapan orang di luar sana untuk dapat membantu mereka. Penanaman keinginan untuk membantu orang lain perlahan akan menumbuhkan motivasi kita untuk belajar dan memahami lingkungan sekitar untuk setidaknya dapat membantu satu sama lain. Ibaratnya seorang dokter yang memiliki keahlian, dan memiliki kemampuan untuk membantu orang lain dengan potensi yang ia miliki. Apakah tidak begitu mubazir jika kita menyia-nyiakan apa yang kita miliki tersebut ?

Mari kita tinjau ketiga hal tersebut dari segi kaderisasi.
pertama kita sudah mencoba merancang sebuah harapan tentang mahasiswa ideal. Bagi saya untuk melakukan pelatihan agar mencapai ketiga hal tersebut adalah dengan memperbanyak praktek di lingkungan sekitar, memahami fenomena apa yang terjadi saat ini, meningkatkan kepekaan dengan turun langsung di lapangan, dan menjauhkan hal-hal yang berbau senioritas. Mengapa demikian? kita adalah mahasiswa yang ditempa sebagai sosok yang akan berhubungan dengan well-being manusia di sekitar kita, bukan berhubungan dengan sebuah mesin ataupun alat-alat lainnya. Keterampilan yang kita butuhkan bukan dari segi push up, lari, memarahi dan sebagainya. kita bukan dituntut untuk menjadi polisi ataupun tentara yang keras, maupun sebagai orang-orang lapangan yang berkecimpung dengan alat-alat berat. Kita dituntut sebagai orang yang memiliki keterampilan untuk berpikir, memiliki kepekaan dan empati, serta kreativitas untuk memahami keunikan manusia yang ada. yang kita butuhkan adalah pelatihan-pelatihan yang mempertajam kemampuan analisa, memperkaya wawasan dan mungkin hingga kemampuan memahami orang lain. Training hal-hal tersebut saya rasa jauh lebih penting dibandingkan dengan kegiatan senioritas yang saya rasa justru memunculkan kecemasan yang akan dirasakan oleh mahasiswa untuk mencapai tujuannya, karena kita sendiri harus paham bahwa setiap orang memiliki keunikan masing-masing, masa lalu masing-masing, dan kapasitas (vulnerability) masing-masing dalam menghadapi stimulus di lingkungannya. Setidaknya dengan menjauhi senioritas dsb, kita akan sedikit mengapresiasi orang lain di lingkungan sekitar kita dan membuat mahasiswa belajar pentingnya memahami dan saling peka satu sama lain 🙂

mungkin itu sekilas tentang tulisan saya atas kaderisasi mahasiswa psikologi yang ideal. mohon maaf jika kurang berkenan dengan pendapat saya karena saya hanya mencoba menyampaikan aspirasi yang saya miliki. terima kasih


MENYADARKAN YANG BARU AGAR TERSADAR

MENYADARKAN YANG BARU AGAR TERSADAR

Oleh :
Siti Khadijah Kitta
Psikologi, Universitas Hasanuddin
tijakitta@gmail.com
Mahasiswa adalah sebutan bagi orang yang tengah menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Sepanjang sejarah, mahasiswa mengambil peran penting dalam sejarah suatu bangsa. Mahasiswa baru adalah para siswa yang baru saja berdiri dari bangkunya yang berada di Sekolah Menengah Atas (SMA) atau sederajat menuju bangku di Perguruan Tinggi. Masa ini merupakan masa yang cukup berat bagi individu yang mengalaminya.
Mengapa demikian? Bayangkan saja, individu yang selama ini cenderung mendapat suapan dalam proses belajar kemudian dituntut untuk menjadi seorang pembelajar mandiri tidak yang lagi hanya terus memperoleh pengetahuan namun juga diharapkan mampu berbagi ilmu (mengaplikasikannya) dalam kehidupan masyarakat.
Lantas bagaimana menggeser kebiasaan sebagai siswa itu menjadi mahasiswa yang seringkali dikatakan sebagai agent of change?
Jawabannya adalah “KADERISASI”. Kata ini merupakan salah satu kata yang cukup memberiakan energi negatif bagi sebagian orang yang mendengarnya. Tentu saja, karena kata ini cukup identik dengan tindak kekerasan dan penindasan. Cukup banyak rangkaian pengaderan mahasiswa baru di berbagai universitaspun memakan korban.
Apakah Kaderisasi itu sebenarnya? Menurut KBBI, pengaderan adalah proses, cara, perbuatan mendidik atau membentuk seseorang menjadi kader. Artinya, pengaderan mahasiswa baru bertujuan untuk mendidik dan membentuk mahasiswa baru agar dapat menjadi seorang mahasiswa yang sesungguhnya.
Lantas bagaimana solusi pengaderan yang tepat?
Tentunya setiap kampus atau bahkan fakultas dalam kampus yang sama memiliki cara tersendiri dalam mengader mahasiswa barunya. Masing-masing pihak tentunya menilai bahwa cara yang mereka lakukan adalah cara yang tepat.
Meninjau lebih spesifik, bagaimana dengan kaderisasi mahasiswa Psikologi?
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa ilmu psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dan proses mental yang melatarbelakanginya (Morgan, 1971). Apakah kaderisasi dengan model kekerasan cocok untuk mahasiswa Psikologi? perlu dipahami bersama bahwa mahasiswa psikologi adalah orang yang diharapkan kelak mampu untuk dapat memahami manusia lebih dari mahasiswa jurusan lainnya. wajar saja, mahasiswa psikologi menghabiskan banyak waktu untuk kuliah yang dalam perkuliahannya mempelajari berbagai hal terkait dengan manusia, baik yang tampak pada manusia maupun aspek psikologis yang hanya tampak dalam bentuk tingkah laku.
Seorang mahasiswa Psikologi tentunya diharapkan mampu menjadi seorang sarjana Psikologi nantinya. Penting bagi mahasiswa psikologi untuk belajar memahami manusia. Seyogianya mahasiswa psikologi mampu menjadi penyadar, baik sadar akan diri sendiri maupun menyadarkan orang lain.
Kaderisasi dengan model kekerasan sangatlah tidak mencerminkan seorang mahasiswa Psikologi yang banyak orang sebut sebagai orang yang paling pandai memahami manusia. Jika tujuan kaderisasi itu untuk menggeser pola pikir mahasiswa baru dari pola pikir seorang siswa menjadi pola pikir seorang mahasiswa, maka yang perlu diberikan adalah pendampingan dan fasilitas untuk menyadarkan posisi mereka saat ini.
Lalu bagaimana cara yang paling efektif?
Hal yang penting adalah menyampaikan kepada mereka tentang Tri Dharma Perguruan Tinggi. Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian merupakan 3 poin penting yang seyogianya kita capai sebagai seorang mahasiswa. Sehingga dalam proses kaderisasi yang perlu diberikan adalah fasilitas berupa kegiatan-kegiatan positif yang mampu mendatangkan berbagai insight pada mahasiswa baru. Harapannya, dengan fasilitas yang diberikan mereka dapat menyadari posisi mereka sebagai mahasiswa dan menyadari betapa pentingnya posisi mereka. Fasilitas yang diberikanpun seyogianya mampu memberikan gambaran kepada mahasiswa baru terkait kondisi masyarakat yang menunggu kontribusi nyata dari mereka. Sehingga mereka sadar pentingnya pendidikan yang harus mereka tempuh, pentingnya pengembangan ilmu pengetahuan dengan adanya berbagai penelitian, dan pentingnya kontribusi nyata untuk masyarakat sebagai bentuk pengabdian untuk Negeri.
Selain itu, dalam proses menyadarkan calon penyadar tentunya mereka perlu pendamping yang dapat dijadikan tempat mereka sharing dan bertanya. Dosen adalah tokoh yang ideal, namun tentunya berdiskusi bebas tiap harinya bersama dosen akan mengganggu aktivitas dosen itu sendiri dan tentunya tidak jarang mahasiswa merasa canggung (terutama mahasiswa baru). Sehingga mereka membutuhkan sosok kakak angkatan yang dapat dijadaikan teman sharing dan belajar. Oleh karena itu, sekat antar angkatan pada mahasiswa Psikologi seyogianya diminimalisir. Bagi seorang yang “sadar”, mereka akan tahu bagaimana menjalin hubungan yang baik dengan seorang yang lebih tua darinya tanpa menghilangkan sikap menghargai dan sopan santun.
Jadi, untuk menyadarkan yang baru agar tersadar tidak perlu dengan teriakan dan bentakan. Cukup tarik atensi seluruh indra mereka untuk menyadari posisi dan peran mereka saat ini. (
MARI
“MEWUJUDKAN INDONESIA TERSENYUM DENGAN PSIKOLOGI”
DAFTAR PUSTAKA
Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Keempat. (2008). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Morgan, C., T. (1971). Introduction to Psychology. New York: McGraw-Hill Book Company INC