BERDIRI DI RUANG PUBLIK : Berbicara pada Diri Sendiri ( Self-talk ) di Ruang Publik untuk Meningkatkan Kesehatan Mental

BERDIRI DI RUANG PUBLIK
Berbicara pada Diri Sendiri ( Self-talk ) di Ruang Publik untuk Meningkatkan Kesehatan Mental

Amalia Khurotul Mahzunah
Prodi Psikologi Fakultas Kedokteran
Universitas Sebelas Maret

Kesehatan merupakan hal yang sangat dibutuhkan dalam menjalani kehidupan. Kesehatan dalam hal ini diartikansebagai suatu kondisi yang bukan hanya bebas dari penyakit, cacat, dan kelemahan tapi benar-benar merupakankondisi yang positif dari kesejahteraan fisik, mental, dan sosial yang memungkinkan seseorang untuk hidup produktif. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa tidak ada kesehatan tanpa kesehatan mental. Mental yang sehat mampu memberikan banyak manfaat seperti kelancaran dalam berfikir, berinteraksi, dan dalam berbagai kegiatan lain. Sayangnya kesehatan mental masih kurang diperhatikan oleh masyarakat.

Menurut WHO terdapat 1 dari 20 orang di dunia mengalami gangguan pada kondisi kesehatan mental. WHO memprediksi bahwa dalam dua dekade mendatang, lebih dari 300 juta penduduk dunia akan mengalami gangguan kesehatan mental. Berdasarkan penelitian ternyata penduduk kota lebih beresiko terkena gangguan kesehatan mental. Hal tersebut dikarenakan berbagai macam faktor seperti gaya hidup dan bisingnya perkotaan yang berdampak negatif bagi kegiatan masyarakat. Oleh karena itu dibutuhkan wadah dan kegiatan yang mampu mencegah dan mengurangi gangguan kesehatan mental pada penduduk perkotaan. Salah satu wadah tersebut adalah ruang publik.

Menurut Jurgen Habermas ruang publik diartikan sebagai diskusi kritis dan interaksi yang terbuka untuk semua orang (Habermas, 1989). Ruang publik dapat digunakan untuk berbagai kegiatan dan kepentingan luas. Ruang publik idealnya dapat digunakan oleh masyarakat umum dari berbagai latar belakang sosial, ekonomi, dan budaya serta mudah diakses bagi berbagai kondisi fisik manusia. Ruang publik juga harus mampu bermakna bagi masyarakat yang menggunakannya. Makna akan muncul tidak hanya melalui keindahan tata ruang, namun juga dari kegiatan yang dilakukan di dalamnya dan bagaimana orang mempersepsikan kegiatan tersebut. Berkaitan dengan upaya meningkatkan kesehatan mental masyarakat, maka salah satu kegiatan bermakna yang dapat dilakukan di ruang publik adalah berbicara pada diri sendiri atau sering dikenal dengan sebutan self-talk.

Self-talk adalah berkomunikasi dan berbicara dengan diri sendiri. Self-talk bukan berarti mengeluarkan kata-kata dari mulut layaknya saat kita berbicara dengan orang lain, melainkan berbicara dengan pikiran-pikiran yang ada di dalam kepala kita. Self-talk terdiri dari 2 macam, yaitu self-talk positif atau rasional dan self-talk negatif atau irasional. Dalam hal ini tentu self-talk positiflah yang perlu digunakan untuk meningkatkan kesehatan mental.

Zastrow mengatakan bahwa self-talk dapat memberi mood yang positif saat tubuh dalam keadaan yang lelah, dengan cara mengucapkan kata-kata atau kalimat dalam pikiran yang memiliki konotasi positif. Contoh kalimat yang dapat digunakan untuk keadaan ini “saya merasa sehat, kuat, bahagia” (Zastrow, 1979:99). Intinya semakin positif kata-kata yang diucapkan pada diri maka perasaan yang mengikuti kalimat tersebut juga semakin positif. Sehingga semangat diri untuk kembali melakukan kegiatan produktif dapat meningkat.

Seperti yang sudah disebutkan bahwa ruang publik harus bermakna bagi masyarakat, maka tidak dapat begitu saja dikatakan bahwa ruang publik dan kegiatan yang sedemikian rupa dapat langsung meningkatkan kesehatan mental. Kata makna tidaklah lepas dari persepsi dalam diri masing-masing. Hal tersebut sesuai dengan cara kerja self-talk dalam mempengaruhi sistem fisik-emosional yang merupakan komponen dari kesehatan mental. Dalam Iswari (2004) dijelaskan gambaran cara kerja self-talk sebagai berikut :

Kejadian di Lingkungan Kognisi, Persepsi Interpretasi, Self-talk Sistem Fisik-Emosional

Persepsi berperan untuk mengetahui bagaimana pemanfaatan self-talk di ruang publik dalam meningkatkan kesehatan mental masyarakat. Mulvaney-Daya, Alegriaa, dan Sribney (2007) menyatakan bahwa orang yang mempersepsikan dirinya memiliki keterhubungan sosial juga akan mempersepsikan dirinya sehat mental. Sehingga dalam hal ini self-talk digunakan sebagai langkah awal untuk membuat masyarakat berpikir bahwa dirinya memiliki keterhubungan dengan sosial serta merasa bahwa ruang publik menjadi tempat yang menerima diri untuk berbaur dengan lingkungan sosial yang nyata. Kemudian masyarakat menjadi sadar atas makna diri dan lingkungannya, mampu membuang pemikiran irasionalnya, dan mampu memperoleh kesehatan mental.

Dalam sebuah penelitian disebutkan bahwa untuk dapat mempengaruhi kesehatan mental, maka pemanfaatan ruang publik harus terlebih dahulu memiliki efek terhadap persepsi kohesi atau kerekatan sosial. Peters et al. (2010) menjelaskan bahwa persepsi kohesi sosial dapat terstimulasi dengan interaksi sosial yang bersifat informal dan sepintas, misalnya mengobrol singkat, atau melalui sapaan “halo”. Melalui interaksi sosial yang demikian, orang-orang merasa disambut, terhubung dengan warga rumah, dan merasa seperti di rumah.

Namun dalam sebuah ruang publik tentu kita tidak dapat mengkondisikan orang lain untuk saling menyapa. Ketika ada seseorang yang memilih menyelesaikan masalahnya
sendiri dengan mencari hiburan di ruang publik atau ketika ada seseorang yang memang ingin memiliki teman namun kesulitan untuk menjalin interaksi dengan lingkungannya, maka tidak bisa begitu saja menunggu dan mengkondisikan orang lain untuk sekedar menyapa. Hal yang perlu dilakukan adalah berbicara positif kepada diri sendiri dan untuk sementara menjadikan diri sebagai pengganti lawan bicara jika memang tidak ada atau kesulitan dalam menjalin interaksi dengan orang-orang disekitar.

Masyarakat akan lebih mudah untuk mengubah dirinya sendiri dibandingkan mengubah orang lain agar menciptakan persepsi keterhubungan sosial pada diri. Orang-orang yang berada di ruang publik sering melihat orang lain begitu bahagia, memiliki banyak teman, dan tidak sedikitpun menghadap apalagi memulai interaksi dengan dirinya. Maka kemungkinan besar dia akan mempersepsikan bahwa orang lain tidak menerima keberadaanya atau bahkan mempersepsikan bahwa dirinya buruk dan tidak pantas berada di lingkungan tersebut. Padahal bisa saja saat itu juga dia berhenti dan berkata pada dirinya sendiri “Tidaklah mengapa, jika tidak ada satupun orang yang mau mencintai dan menyapaku, maka akulah orang pertama yang harus melakukan itu”. Hal itu dapat memberikan dampak positif bagi kondisi fisik-emosional dan menghilangkan pikiran negatif seperti yang telah disebutkan di awal.

Terdapat beberapa hal yang harus diingat dan diperhatikan dalam pelaksanaan self-talk menurut Pearson (2001), antara lain:
1. Afirmasi atau self-talk positif sebaiknya menggunakan kata ganti orang pertama, misalnya “saya”, “aku”. Kita tidak selalu dapat mengontrol hal-hal yang terdapat dalam diri orang lain, oleh karena itu afirmasi dibuat untuk mengontrol hal yang dapat dikontrol, yaitu diri sendiri. Maksudnya adalah afirmasi berisi tujuan, keinginan, nilai -nilai dari diri sendiri, bukan orang lain.
2. Afirmasi ditujukan pada saat ini dan sekarang, sebab jika afirmasi dibuat dalam bentuk masa yang akan datang, pikiran tidak akan menganggap penting untuk diproses “sekarang”. Setelah afirmasi dibuat dalam bentuk sekarang dan saat ini, misalnya “saya merasa sehat”, afirmasi dirubah dalam bentuk proses, misalnya “semakin hari saya merasa semakin sehat”.
3. Membuat sebuah afirmasi yang realistis sehingga lebih dapat diterima oleh pikiran. Mulailah dengan hal kecil yang mudah dicapai lalu semakin lama semakin besar. Contohnya adalah “kontrol diriku cukup baik” tampak lebih realistis daripada “saya selalu dapat mengontrol diri setiap waktu”.
4. Ucapkan afirmasi dalam bentuk kalimat positif, misalnya “saya makan makanan yang bergizi”
5. Buat afirmasi yang singkat dan mudah diingat. Kata-kata yang berbentuk slogan lebih mudah diingat daripada kata -kata biasa.
6. Ulangi afirmasi positif tersebut sesering mungkin sehingga pikiran positif akan menjadi suatu rutinitas atau kebiasaan

Self-talk memang bisa dilakukan dimana saja, tidak harus pada ruang publik. Namun berdasarkan pada penjelasan mengenai kegiatan self-talk, maka tampilan ruang publik dapat diatur sedemikian rupa agar menstimulasi masyarakat untuk melakukan self-talk disamping berinteraksi langsung dengan orang di sekitar. Hal tersebut dapat dilakukan dengan adanya tulisan berisi ungkapan self-talk yang dipasang pada setiap sisi ruang publik. Contohnya seperti “Saya secantik bunga di taman ini”, “Saya senang berada di sini”, “Saya tidak akan menyerah seperti pohon yang terus tumbuh meskipun angin menggoyahkannya”, dan berbagai ungkapan lainnya yang juga dapat menggabarkan makna setiap komponen ruang publik tersebut.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, kesehatan mental merupakan hal yang sangat penting untuk dijaga. Banyak cara untuk melakukannya namun masih sedikit orang yang menyadarinya. Ruang publik menjadi salah satu sarana yang secara tidak langsung dapat meningkatkan kesehatan mental masyarakat, terutama masyarakat perkotaan yang membutuhkan ruang dan waktu untuk terbebas dari banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan dan bisingnya perkotaan. Ruang publik sudah seharusnya memberi kesempatan masyarakat untuk bersantai, berkumpul, dan berinteraksi langsung tanpa terbatas pada keaadaan dan kondisi masyarakat tertentu. Ruang publik juga perlu memberikan makna bagi para penggunanya. Salah satu kegiatan yang dapat memberikan makna positif dan meningkatkan kesehatan mental adalah Self-talk. Self-talk sangat efektif untuk mengatasi masalah-masalah yang berkaitan dengan pikiran dengan cara membangun persepsi keterhubungan sosial sehingga membuat orang merasa dirinya memiliki mental yang sehat. Sehubungan dengan hal tersebut, tampilan ruang publik dapat ditambah dengan berbagai tulisan yang merupakan bentuk self-talk seseorang. Dalam meningkatkan kesehatan mental, ruang publik perlu memberikan kesempatan yang sama bagi semua orang. Itu artinya ruang publik juga ditujukan bagi mereka yang ingin lihai berinteraksi dengan dirinya sendiri sebelum mereka lihai menjalin interaksi dengan orang lain.

DAFTAR PUSTAKA
Habermas, J. (1989). The Structural Transformation of the Public Sphere: an Inquire Into a Category of Bourjuis Society. Massauchetts: The MIT Press.
Iswari, D. (2004). Pengaruh pelatihan dan evaluasi self-talk terhadap penurunan tingkat body-dissatisfaction. Universitas Airlangga
Mulvaney-Daya, N.E., Alegriaa, M., & Sribney, W. (2007). Social cohesion, social support, and health among Latinos in the United States. Social Science & Medicine, 64, 477–495.
Pearson, J.E. (2001). Develop the habit of Healthy Self-talk !. Diakses dari http://healthyhabits.com/SelfTalk.asp pada 4 Februari 2018
Peters, K., Elands, B., & Buijs, A. (2010). Social interactions in urban parks: Stimulating social cohesion? Urban Forestry & Urban Greening, 9, 93–100.
Zastrow, C. (1979). Talk To Yourself : Using The Power Of Self -talk. USA : Prentice-Hall,Inc.


The 7th Indonesian Medical Students’ Summit (IMSS) 2019

The 7th Indonesian Medical Students’ Summit (IMSS) 2019

Sabtu, 9 Februari 2019 Ikatan Lembaga Mahasiswa Psikologi Indonesia (ILMPI) yang diwakili oleh Ayu Citra Jalesveva W. (Koordinator Badan Pengembangan Orgnisasi Wilayah V) dan Siti Nur Hidayah (Staf Bankeu Nasional ILMPI) mewakili Sekretaris Jenderal ILMPI, Muhammad Amri menghadiri Diskusi Publik 7th IMSS 2019 dan IOMS Meeting oleh Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia (ISMKI) di Aula Fakultas Kedokteran Universitas Hang Tuah, Surabaya, Jawa Timur.
Rangkaian acara dimulai sekitar pukul 08.15 WIB yang diawali dengan seminar oleh beberapa pembicara, diantara lain; Sekretaris Jenderal Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Sekretaris Umum Kementrian Kesehatan (Kemenkes) RI, Menteri Kehutanan dan pembicara lainnya. Setelah seminar berlangsung, acara dilanjutkan dengan IOMS Meeting, yaitu pertemuan IOMS (Ikatan Organisasi Mahasiswa Sejenis). Pada acara IOMS Meeting, setiap IOMS memaparkan salah satu program kerja besar yang sekiranya dapat dibahas bersama. ILMPI pada kesempatan kali mengangkat proram Gerakan Tanggap Bencana yang pada tahun ini dikenal dengan nama Psychology 911 sesuai dengan rancangan dari Badan Pengembangan dan Pengabdian Masyarakat Nasional (BPPMNas) ILMPI. Acara IOMS Meeting ditutup dengan pertukaran informasi lainnya yang dirasa perlu dan foto bersama oleh penyelenggara dan peserta.
ILMPI berterimakasih kepada ISMKI yang telah mengundang ILMPI pada kesempatan kali ini, semoga komunikasi dan kerjasama yang terjalin antar IOMS mampu memupuk persatuan yang kelak akan menghasilkan kolaborasi-kolaborasi hebat untuk Indonesia.


World Mental Health Day 2018

World Mental Health Day 2018

 

Permasalahan kesehatan mental menjadi perhatian khusus beberapa organisasi internasional di bawah naungan PBB, termasuk WHO. Kesehatan mental dapat dikatakan baik ketika individu tersebut tidak memiliki rasa bersalah pada dirinya sendiri, serta dapat melihat semua masalah dengan realitas, kemudian hal tersebut berdampak pada kemampuannya dalam menerima kelebihan dan kekurangan yang ada pada dirinya. Lantas, apakah definisi kesehatan mental menurut WHO?

Menurut WHO, kesehatan mental merupakan status kesejahteraan dimana setiap orang dapat menyadari secara sadar terkait kemampuan dirinya, kemudian dapat mengatasi berbagai tekanan dalam kehidupannya, dan dapat bekerja secara produktif yang berimbas pada kemampuan dirinya dalam memberikan kontribusi pada lingkungan sekitar.

WHO bahkan menempatkan posisi kesehatan mental pada dimensi yang lebih positif. Ini lantaran kesehatan mental dapat didefinisikan sebagai kesehatan secara general atau umum, dimana ketika seseorang dinyatakan sehat maka akan tercipta kesejahteraan secara fisik, mental maupun sosial terjadi secara bersamaan.

Meskipun WHO sudah menjabarkan terkait pentingnya kesehatan secara mental. Dibeberapa Negara berkembang dan maju, justru menempatkan kesehatan mental pada posisi yang tidak dianggap penting, bahkan lebih sering diabaikan dan hanya menganggap bahwa kesehatan secara fisiklah yang jauh lebih penting posisinya, jika dibandingkan dengan kesehatan mental.

Mengingat bahwa Hari Kesehatan Mental Sedunia merupakan peringatan penting terlebih pada ruang lingkup Psikologi, maka ILMPI menyelenggarakan kegiatan yang diselenggarakan oleh seluruh wilayah yang mengacu pada arahan nasional ILMPI.

Dimulai dari peringatan wmhd di wilayah 1 tahun ini berbeda dari tahun sebelumnya karena tahun ini bisa terlaksana serentak di 5 titik pada 5 kota. Selain itu heuforia peringatan wmhd sangat terasa di lembaga-lembaga anggota sebab rangkaian kegiatannya dilaksanakan selama satu minggu. Secara keseluruhan acara ini berjalan sukses dan dengan konsep sederhana yang tujuan utamanya mengkampanyekan tentang peringatan wmhd juga deklarasi pentingnya menjaga kesehatan mental Minggu tanggal 14 Oktober 2018.

Sedangkan ILMPI wilayah 2 memperingatkan hari kesehatan mental sedunia di area CFD Bundaran HI dengan mengusung tema realiving academic stress. Aksi kita berhasil menarik perhatian masyarakat karena rata-rata yang mengikuti CFD ialah orang yang masih duduk dibangku kuliahan atau sekolah. Kemeriahan acara tersebut merupakan jerih payah dari para panitia dan para peserta acara tersebut. Kami dari ILMPI memberikan Tips & Trick dalam mengatasi Academic Stres kepada masyarakat yang ada disekitar area CFD, yaitu dengan cara Take A Break, dimana Take A Break disini dilakukan dengan cara berhenti sejenak dari segala aktifitas sesaat dan kemudian lakukan hal yang membuat kita rileks, seperti (Minum Teh, Bersosialisasi dengan teman atau bisa juga tidur) atau jika kita tidak memiliki waktu yang cukup untuk melakukan hal tersebut, kita bisa melakukannya dengan cara tarik nafas secara perlahan kemudian keluarkan sembari memikirkan bahwa kita bisa melakukan apa yang ingin kita lakukan, lakukan hal tersebut sampai kita merasa rileks. Cara tersebut bisa membantu kita menenangkan pikiran kita dan menambah motivasi kita. Kemudian kami dari ILMPI mengajak masyarakat untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitar, terutama dalam memberikan motivasi atau membantu teman-teman kita yang sedang mengalami Academic Stres, yang kami namakan gerakan ini dengan nama Recharge Your Emotion With A Good Affection. Dimana sedikit perhatian kita akan bisa mengurangi beban pikiran mereka, karena terkadang yang mereka butuhkan adalah perhatian dari lingkungan sekitar. Kami juga bekerjasama dengan KONSA (konseling Muda) untuk mengadakan konseling gratis di booth kami. Di tahun ini memperingati hari kesehatan mental sangat berkesan karena antusiasme masyarakat yang lumayan tinggi dan membuat kami dari ILMPI wilayah 2 sangat puas. Dan yang paling penting adalah perayaan hari kesehatan mental tahun ini diselenggarakan di 8 provinsi besar yang ada di Indonesia, fakta ini mengindikasikan bahwakita dari ILMPI memang sangat peduli dengan kesehatan mental dan semoga perayaan hari kesehatan mental yang telah kita jalani membuat masyarakat Indonesia semakin awaretentang kesehatan mentalnya sendiri.

Perayaan WMHD 2018 wilayah 3 di semarang berjalan meriah dan sesuai dengan rencana awal yg juga arahan hasil dari rakornas di Jakarta. Namun berlangsungnya kegiatan tersebut tidak lepas dari support dan dukungan seluruh Universitas anggota serta mahasiswa psikologi di wilayah 3 Pesan wmhd tahun ini dari wilayah III semoga WMHD tidak hanya disuarakan setahun sekali, kenapa ? Karena kesehatan mental itu penting untuk diketahui oleh khalayak luas contohnya bagaimana penerapan yang benar tentang kesehatan mental pada kehidupan sehari-hari. Mari kita semua mahasiswa psikologi ikut aktif dan bergerak berkontribusi dalam menyuarakan kesehatan mental.

Dalam pelaksanaan whmd wil 4 melakukan kegiatan yaitu melakukan wawancara dengan mahasiswa dan disimpulkan dalam video, kenapa seperti itu, jadi tahun sebelumnya ilmpi wil 4 sudah melakukan long march akan tetapi minat dan perhatian mahasiswa psikologi itu sendiri masih kurang oleh karena itu kami mengajak semua mahasiswa untuk menegenali lagi kesehatan mental dan memahami betapa penting nya kesehatan mental melalui pesan singkat lewat video yg kami kumpul kan dari mahasiswa dari 12 universitas yang ada di Yogyakarta

Untuk di wilayah 5 itu sendiri tetap melaksanakan kegiatan WMHD secara serentak seperti arahan dari nasional meskipun mereka memiliki agenda tersendri terkait kegiatan WMHD namun semua kegiatan bisa dilaksakan dengan serentak dan meriah bersama ketua Himpsi region masing-masing.

World mental health day 2018 diperingati dan dimeriahkan oleh ILMPI wilayah 6 dengan menyelenggarakan Diskusi Panel dan Social Campaign Diskusi panel dilaksanakan pada hari Sabtu 13 Oktober 2018. Diskusi panel mengangkat perspektif psikologi klinis, psikologi positif, dan sosiolog dalam memandang kesehatan mental. Diskusi panel yang diselenggarakan di ruang senat fak. Psikologi Universitas Bosowa dihadiri oleh mahasiswa psikologi, mahasiswa umum, tamu undangan meliputi perwakilan LEM, komunitas, dan organisasi lainnya. Diskusi panel yang berkerja sama dengan komunitas Halo Jiwa dan beberapa media partenr seperti EBS FM Unhas, lembaga pers hukum, dsb mengkaji beberapahal dari perspektif beberapa bidang. Psikologi klinis memandang bahwa kesehatan mental tidak hanya terkait gangguan psikologis tapi bagaimana manusia bisa memanajemen diri dari kondisi stress atau tekanan lainnya. Psikologi positif lebih menekankan pada bagaimana manusia dapat mengenali potensi diri kemudian mengembangkannya. Sementara dari bidang sosiologi memandang kesehatan mental dari interaksi sosial dan hubungan interpersonalnya. Kegiatan berlangsung dari pukul 9 pagi hingga 12.30 siang yang dipenuhi pertanyaan dan diskusi dari peserta mulai dari kajian tentang isu dalam kehidupan sehari-hari, cara menyikapi stress, dan sebagainya. Setelah diskusi panel, kampanye sosial juga disemarakkan pada tanggal 14 Oktober 2018 di salah satu icon kota Makassar, Benteng Fort Rotterdam. Social campaign dilaksanakan dengan membagikan flier edukasi mengenai kesehatan mental danjejak pendapat masyarakat terkait kesehatan mental. Kegiatan berlangsung dari pukul 4 hingga 6 sore yang disemarakkan oleh pengunjung baik yang asli Makassar, pendatang, bahkan Turis mancanegara. Selain diskusi panel dan social campaign, ILMPI wilayah 6 juga menyebadkan survey kesehatan mental secara terbuka kepada masyarakat Indonesia.

Nah, Tanggal 10 oktober 2018 kemarin merupakan hari kesehatan mental sedunia. Salah satu organisasi psikologi seluruh Indonesia yaitu ILMPI (Ikatan Lembaga Mahasiswa Psikologi Indonesia) merayakan hari kesehatan mental sedunia ini secara serentak yang dirayakan dari sabang sampai merauke. Kegiatan tersebut dilakukan dalam rentang waktu satu minggu dari tanggal 9 Oktober 2018 sampai puncaknya tanggal 14 Oktober 2018. Dari setiap daerah membuat kegiatan yang berbeda-beda, ada yang mengangkat konseling gratis, sosialisasi, long march,pohon perubahan, dsb. Khususnya kami ILMPI Wilayah 7 yaitu Aceh-Sumatera Utara, pada acara WMHD kemarin mahasiswa/i Psikologi seluruh Aceh dan Medan membuat kegiatan yang berkolaborasi dengan beberapa Universitas di wilayah 7 mereka sama-sama turut memperingati WMHD, kegiatan tersebut dilakukan di Banda Aceh dan Lhokseumawe. Adapun kegiatannya seperti turun kejalan melakukan pojok konseling hingga diskusi dilapangan terbuka bersama masyarakat sekitar. Sebagai puncak acara WMHD di wilayah 7 mengadakan salah satu kegiatan yang diadakan di Medan tepatnya pada Lapangan Merdeka.Pada kegiatan ini, kami melakukan sosiasilisasi pada masyarakat bahwasanya kesehatan mental itu penting, setelahnya kami akan memberikan feedback berupa sticker kepada masyarakat. Selain sekedar sosialisasi kami juga membuat sebuah pohon Perubahan dan juga Tong Sampah Negatif. Dimana Pohon perubahan tersebut berguna untuk masyarakat yg ingin merubah dirinya menjadi lebih baik lagi kedepannya. Dan juga jika mereka memiliki hal-hal yang buruk atau ingin mereka buang mereka bisa membuang hal tersebut ke tong sampah negatif dengan cara menulisnya. Ini berguna sebagai kampanye masif untuk diri sendiri sehingga kita bisa bertanggung jawab dalam apa yang ingin kita ubah dan kita buang, semuanya tergantung dari dalam diri kita sendiri mau atau tidak merubahnya. Dari hasil kegiatan ini, kami menilai antusiasme nya lumayan bagus terutama antusiasme mahasiswa/i psikologi dalam menyuarakan tentang kesehatan mental itu penting, dalam kegiatan ini juga yang menyuarakan mengenai kesehatan mental bukan saja mahasiswa/i psikologi ada beberapa mahasiswa/i dari fakultas lain juga yang ikut dalam kegiatan ini, dari sini kami dapat menyimpulkan bahwa mereka juga peduli dengan kesehatan mental dan ingin menyuarakan kepada yang lain bahwa kesehatan mental itu penting. Juga, dari antusiasme masyarakat bagus dan mereka terlihat antusias, mereka juga lumayan banyak yang ingin menulis di pohon perubahan. Kegiatan tahun ini sedikit berbeda dari tahun lalu, dimana tahun lalu menggunakan spanduk dengan meminta partisipasi masyrakat utk menanda tangani spanduk tsb bahwa setuju mengenai kesehatan mental itu penting, sedangkan tahun ini meminta untuk masyarakat menuliskan apa yang mereka ingin ubah dan mereka buang kedepannya. Dalam hal ini, kami Mahasiswa/i Psikologi di Medan khususnya yang tergabung dalam ILMPI Wilayah 7 berharap kedepannya masyarakat di kota Medan dapat memahami mengenai mental yang sehat dan mereka harus paham bahwa kesehatan mental itu sangat penting, bukan hanya kesehatan fisik saja kesehatn mental jauh lebih penting.

 

Healthy Mind, Healthy Soul, & Be Happy!


Temu Ilmiah Nasional ILMPI 2018

Mengendalikan Gadget atau Dikendalikan Gadget ?

Muhammad Ilham Fahreza

Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

 

  1. Apa yang terjadi saat ini ?

 

 

Siang itu, saat sedang duduk di salah satu sudut kampus. Seperti biasanya, sudut itu selalu ramai ketika masuk jam istirahat kuliah. Dalam keramaian dan waktu senggang itu, hampir pasti didapatkan pemandangan orang-orang sedang menunduk, asik menggenggam dan memandangi gadget masing-masing. Pemandangan serupa saya rasa sangat sering dijumpai dimanapun saat ini. Saat sedang ingin menyantap makanan, tangan kanan kita menyendok makanan, tangan kiri kita sedang menggenggam gadget untuk membalas pesan-pesan yang masuk. Saat sedang mengendarai kendaraan, jari jemari kita selalu tergoda untuk memainkan gadget. Bahkan saat sedang berjalanpun kita begitu multitasking untuk berjalan dan sambil menundukan kepala kita ke gadget.

Rata-rata orang di Indonesia menghabiskan waktu selama 5,5 jam per hari menatap layar ponsel pintarnya. Selain itu, waktu yang digunakan untuk menggunakan smartphone paling banyak dilakukan saat sore hingga malam hari. Pengguna smartphone pada waktu itu menjadi terbesar kedua di bawah penonton televisi. Hal tersebut diungkapkan oleh Google Indonesia melalui hasil survei yang dilakukannya di lima kota besar di Indonesia pada periode Desember 2014 hingga Februari 2015 lalu (tekno.kompas.com).

Ada begitu banyak waktu luang yang kita miliki dalam sehari, pilihan pertama untuk menggunakan waktu luang tersebut pastilah digunakan untuk bermain gadget. Bangun tidur mengecek gadget, sebelum tidurpun gadget adalah benda yang terakhir kita pegang. gadget ini punya daya magis yang luar biasa dalam menghabiskan waktu kita, entah sihir apa yang membuat kita untuk sedikit-sedikit mengecek gadget.

Yang paling parah tentunya saat sedang berkumpul dengan orang-orang di sekitar kita, seharusnya kita menghabiskan waktu dengan berinteraksi dan mengobrol, justru kita selalu sibuk sendiri mengurusi gadget kita. Saat ini orang-orang telah diperbudak dengan gadgetnya, kurang memperhatikan teman yang sedang berbicara, dan tidak memperhatikan lingkungan sekitar. Seringkali teman yang sedang mengajak bicara kita respon namun mata kita tetap asik memandangi gadget. Orang-orang saat ini cenderung lupa bahwa ada teman yang sesungguhnya disampingnya. Manusia hanya dianggap objek, bukan lagi manusia selayaknya saat mereka bertemu (Goleman, 2007).

Gadget telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat Indonesia. Menggunakan gadget merupakan aktivitas wajib orang-orang saat ini. Pengguna gadget di Indonesia pun sudah tidak mengenal status sosial, gadget sudah sangat mudah didapatkan dengan harga-harga murah, bahkan dengan harga murah sekalipun dengan menggunakan kejelian dan pengetahuan yang tepat akan didapatkan gadget dengan kualitas bagus. Dari segi usia, baik dari anak kecil sampai orang dewasa memiliki gadget. Bahkan ketika saya sedang mengantar adik saya yang masih berada di Sekolah Dasar, saya sering menjumpai anak-anak SD tersebut sedang berjalan-jalan sambil mengalungi smartphone di lehernya.

Lembaga riset digital marketing Emarketer memperkirakan pada 2018 jumlah pengguna aktif smartphone di Indonesia akan mencapai lebih dari 100 juta orang. Dengan jumlah sebesar itu, Indonesia akan menjadi negara dengan pengguna aktif smartphone terbesar keempat di dunia setelah Cina, India, dan Amerika (www.kominfo.go.id).

  1. Apa yang dimaksud dengan gadget ?

Sebelum menjelaskan tentang adiksi Gadget, penulis akan menjelaskan definisi Gadget. Diantara pengertian Gadget sebagai berikut yaitu menurut Merriam Webster yaitu “an often small mechanichal or electronic device with practical use but often thought of as a novelty. Yang artinya dalam bahasa Indonesia adalah sebuah perangkat mekanik atau elektronik dengan penggunaan praktis tetapi sering diketahui sebagai hal baru.

Untuk menghindari kesalahan dan lebih terarahnya pembahasan maka adiksi gadget yang dibahas dalam essay ini lebih kepada adiksi terhadap smartphone, gadget yang hampir setiap orang miliki dan senantiasa dibawa pada kehidupan sehari-hari. Smartphone adalah gadget yang paling canggih dan diterima oleh masyarakat di seluruh Negara. Penggunaan smartphone saat ini sudah menjadi kebutuhan primer masyarakat, pada essay ini akan dijelaskan mengenai adiksi smartphone dan pengaruhnya terhadap kesehatan mental serta strategi dalam pengelolaan smartphone tersebut.

Adiksi smartphone adalah hilangnya kemampuan untuk mengatur dengan baik penggunaan smartphone sampai-sampai menyebabkan konsekuensi negatif dalam kehidupan sehari-hari seseorang Bilieux (2012: 89). Gadget menurut Griffiths (Essau, 2008) menyatakan bahwa kecanduan merupakan aspek perilaku yang kompulsif, adanya ketergantungan, dan kurangnya kontrol.

  1. Mengapa adiksi gadget mengancam kesehatan mental kita ?

Permasalahan kesehatan mental beberapa tahun belakang menjadi kajian yang cukup serius bagi tenaga kesehatan. Begitu juga dengan perkembangan gadget dan kaitannya dengan kesehatan mental. Ketergantungan terhadap smartphone berpotensi membuat seseorang beresiko mengalami depresi, kesulitan tidur, dan mempengaruhi kesehatan mentalnya.

Sebuah penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa semakin sering remaja menghabiskan waktunya di depan Gadget, maka semakin tinggi kemungkinan mereka untuk mengalami depresi (Twenge, Joiner, Rogers & Martin, 2017). Pengguna Gadget saat ini tidak bisa terlepas atau jauh dari Gadgetnya. Orang-orang yang Gadgetnya mati atau tertinggal akan merasa cemas dan was-was selain itu juga akan merasa kesal saat ada masalah yang penting atau darurat kemudian smartphonenya mati.

Anggapan yang menyebutkan bahwa manusia saat ini mengalami ketergantungan terhadap gadget telah terbukti kebenarannya. Nielsen, lembaga riset media dan ekonomi asal Inggris, merilis laporan yang menyebutkan bahwa kebanyakan konsumen di dunia merasa gelisah jika mereka berada jauh dari gadget-nya. Dalam laporan yang dirilis pada Kamis (13/10/2016) tersebut, Nielsen menyatakan bahwa 56% konsumen global tidak dapat membayangkan hidup tanpa perangkat mobile. Kemudian, dijelaskan pula bahwa 53% konsumen global merasa tidak tenang jika berada jauh dari perangkat mobile mereka. Bahkan, 70% konsumen global merasa perangkat mobile membuat hidup mereka menjadi lebih baik. Ketergantungan terhadap gadget juga membuat interaksi tatap muka tergantikan oleh interaksi elektronik. Dua pertiga responden global menyetujui hal tersebut. Hal ini sangat wajar terjadi karena 47% responden mengatakan bahwa mereka lebih suka berkomunikasi dengan teks daripada berbicara langsung. (Tirto.id)

Aktifitas sosial media juga menjadi kegiatan yang sangat sering dilakukan dalam penggunaan smartphone. Kecanduan bermain media sosial telah menghabiskan banyak waktu kita di depan layar gadget, membuat otak kelelahan, dan menurunkan kesehatan mental. Penggunaan sosial media juga dapat memberikan dampak buruk seperti yang disimpulkan oleh sebuah studi bahwa sosial media dapat membuat individu menjadi teralihkan dari tugasnya dan juga membuat individu kesulitan ketika harus berkomunikasi secara langsung (Kavitha & Bhuvaneswari, 2016).

Para peneliti menyatakan, semakin banyak kamu menghabiskan waktu pada media sosial, semakin besar kemungkinanmu mengalami masalah kesehatan mental. FoMo turut menjadi salah satu alasan untuk menghabiskan waktu di sana. FoMo merupakan kecemasan seseorang karena takut ketinggalan suatu momen di media sosialnya. Waktu yang banyak dihabiskan ini mengakibatkan timbulnya penggunaan media sosial yang berlebihan dan berkepanjangan dalam hidup manusia. Persoalan nyata berkaitan masalah kesehatan mental yang sering muncul dari media sosial antara lain: merasa rendah diri, merusak konsentrasi, penurunan harga diri, kecemasan, depresi, merasa kurang memiliki relasi, dan kecanduan media sosial. (pijarpsikologi.org).

Apa yang harus kita lakukan ?

Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali saya menemukan teman-teman saya yang mengalami kecanduan dalam menggunakan smartphonenya, khususnya ketergantungan dalam menggunakan media sosial. Gejala-gejala yang dialami persis sepeti yang telah dijelaskan dalam pembahasan sebelumnya, mereka mengalami kecemasan akan ketinggalan suatu momen jika tidak membuka media sosialnya, merasa depresi dan mempengaruhi interaksi mereka dalam sehari-hari. Salah satu teman terdekat saya bahkan seringkali berulang kali menonaktifkan dan menghidupkan akun media sosialnya.

Upaya-upaya yang dapat kita lakukan menurut saya pertama yaitu melakukan digital detox. Digital detox adalah periode waktu di mana seseorang menahan diri untuk tidak menggunakan perangkat elektronik seperti ponsel cerdas atau komputer, untuk mengurangi stres atau fokus pada interaksi sosial di dunia nyata. Kita dapat melakukannya secara bertahap, misalnya menerapkan aturan atau batasan dalam menggunakan smartphone, membuktikan kepada diri sendiri bahwa kita bisa pergi 15 menit tanpa mengecek smartphone. Seiring berjalannya waktu, tingkatkan lamanya waktu tanpa mengecek smartphone hingga kita terbiasa dengan kebiasaan sehari-hari untuk tidak menghabiskan waktu terlalu lama bersama smartphone.

Kedua yaitu memanfaatkan smartphone itu sendiri untuk melawan kecanduan smartphone. Smartphone tak selalu membawa dampak buruk tentunya. Banyak sekali sebenarnya manfaat yang dapat kita dapat jika kita bijak dalam menggunakan smartphone. Dalam meningkatkan kesehatan mental misalnya, ada aplikasi-aplikasi yang telah dirancang dalam rangka meningkatkan kesehatan mental masyarakat. Kita dapat melakukan cara ini untuk meningkatkan kesehatan mental kita. Aplikasi-aplikasi yang dapat kita gunakan contohnya yaitu :

  1. Riliv

Aplikasi ini diciptakan oleh anak bangsa yang memberikan fasilitas bagi penggunanya berupa konsultasi masalah pribadi secara gratis dengan psikolog professional dan mahasiswa psikolog.

  1. Operation Reach Out

Aplikasi ini membantu orang-orang yang memiliki resiko melakukan bunuh diri untuk mendapatkan bantuan sesegera mungkin.

  1. Self-help Anxiety Management

Aplikasi Self-help Anxiety Management dikembangkan oleh tim psikolog dan pakar computer dari University of West England England untuk menciptakan sumber daya kesehatan mental yang menarik dan praktis bagi masyarakat.

  1. Mindshift

MIndshit adalah sebuah aplikasi yang memanfaatkan bimbingan dan evaluasi berdasarkan CBT (terapi perilaku kognitif) untuk membantu orang-orang belajar dan mempraktikkan keterampilan mengatasi kecemasan.

  1. Mood Tools

Dirancang bekerja sama dengan tenaga profesional di bidang kesehatan mental, Mood Tools adalah aplikasi gratis yang dikembangkan untuk membantu penggunanya mengidentifikasi gejala episode manik atau depresi serta kuesioner untuk melacak tingkat keparahan suasana hati Anda dari waktu ke waktu. (stikesindramayu.ac.id)

Ketiga, dapat melalui sebuah kampanye gerakan untuk memberikan kesadaran di masyarakat. Kesehatan mental di Indonesia haruslah diperjuangkan, perjuangan-perjuangan ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan dunia digital maupun turun langsung ke lapangan. Gerakan-gerakan ini sangat mudah dilakukan di dunia maya saat ini, dengan menggunakan sebuah tagar dan memanfaatkan organisasi-organisasi yang ada untuk menguatkan dan meluaskan gerakan itu, dan yang tak kalah penting tentunya harus diselaraskan dengan gerakan langsung di dunia nyata. kegiatan semacam ini pun sudah dilakukan oleh banyak Lembaga Eksekutif Mahasiswa Psikologi di Indonesia, dan juga oleh ILMPI pada tahun lalu misalnya dengan mengkampanyekan tagar #rayakankesehatanmental dan #bangunjiwa.

 

Daftar Pustaka

Akhmad Muawal Hasan. 2017. Candu Medsos Mengacaukan Kesehatan Mental. Diunduh pada tanggal 5 Februari dari https://tirto.id/candu-medsos-mengacaukan-kesehatan-mental-ckhE

Aulia Fanny. 2018. 5 Cara Digital Detox, Biar Nggak Kecanduan Sosmed. Diunduh pada tanggal 4 Februari dari https://sehatmental.id/5-cara-digital-detox/

Billieux, J. (2012). Problematic use of the mobile phone: A literature review and a pathways model. Current Psychiatry Reviews, 8(4), 299–307. https://doi.org/10.2174/157340012803520522

Eastwood, John, Oxford Learner Dictionary. UK: Oxford University Press 2009

Essau, C. A. 2008. Adolescent Addiction :Epidemiology, Assesment and Treatment. New York : Elsevier Inc

Goleman, D. (2007). Social intelligence. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Indah Rahmayani. 2015. Indonesia Raksasa Teknologi Digital Asia. Diunduh pada tanggal 4 Februari dari https://www.kominfo.go.id/content/detail/6095/indonesia-raksasa-teknologi-digital-asia/0/sorotan_media

Kavitha & Bhuvaneswari. (2016). Impact of Social Media on Millennials – A Conceptual Study Apeejay-Journal of Management Sciences and Technology.

Nathania Vrischika. 2017. Semakin Sering di Depan Gadget, Semakin Dekat dengan Depresi?. Diunduh pada tanggal 5 Februari dari https://sehatmental.id/Gadget-dan-depresi/

Reska Nistanto. 2016. Kebiasaan Orang Indonesia, Pelototi “Smartphone” 5,5 Jam Sehari.

Diunduh pada tanggal 4 Februari dari http://tekno.kompas.com/read/2015/09/04/11301837/Kebiasaan.Orang.Indonesia.Pelototi.Sm artphone.5.5.Jam.Sehari.

Webster, Merriam, Appl Copyright 2010-2016 Stanfy Corp, Version 2.0.

Yuliana Ratnasari. 2016. Survei: Ketergantungan pada Gadget Membuat Manusia Gelisah. Diunduh pada tanggal 5 Februari dari https://tirto.id/survei-ketergantungan-pada-Gadgetmembuat-manusia-gelisah-bUvX

Zahrah Nabilah. 2017. Media Sosial dan Kesehatan Mental: Yes or No?. Diunduh pada tanggal 5 Februari dari http://pijarpsikologi.org/media-sosial-terhadap-kesehatan-mental/

http://www.stikesindramayu.ac.id/read/273/menjaga-kesehatan-mental-dengan-Gadgetkita.html


Temu Ilmiah Nasional ILMPI 2018

Sehat Jiwa dengan Omelin Pos (Optimisme di Lingkungan yang Positif)”

Zakia Nurul Fitriana dan Wahyuning Widiastuti Fakuktas Kedokteran Prodi Psikologi

Universitas Sebelas Maret

Tidak dapat dipungkiri bahwa petumbuhan dan perkembangan teknologi di zaman yang semakin modern seperti saat ini menjadikan persaingan dalam dunia kerja semakin ketat. Saat ini menteri ketenagakerjaan tengah menggagas beberapa langkah strategis untuk menghadapi persaingan ketat di dunia kerja. Menurut Menteri Ketenagakerjaan dalam laman liputan 6 pada tanggal 27 April tahun 2017, hal yang harus ditingkatkan adalah peningkatan akses dan mutu pelatihan kerja. Dengan situasi tersebut, banyak pekerja yang membekali diri dengan berbagai keahlian untuk dapat bersaing dengan yang lain.

Tak hanya persaingan dalam mencari pekerjaan, pekerja pun tak luput dari persaingan kerja. Para pekerja dapat menghabiskan waktunya di tempat kerja, bahkan sampai lembur untuk dapat memenuhi tujuan dalam pekerjaannya. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang didapatkan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia tahun 2013 menunjukkan 15% sampai 30% penduduk Indonesia mengalami gangguan kejiwaan, seperti gangguan kecemasan dan depresi berat. Terkadang sebuah perusahaan tidak sadar akan tuntutan pekerjaan yang terlalu berat dapat menjadi beban yang besar bagi para karyawan. Beban kerja karyawan di tempat kerja menjadi salah satu penyebab gangguan jiwa yang sering terabaikan. Selain itu, belum adanya data akurat mengenai berbagai gangguan kejiwaan yang terjadi di tempat kerja dan bahkan alokasi dana terkait peningkatan kesehatan jiwa karyawan pun masih sangat jarang. Padahal dampak yang ditimbulkan sangatlah besar bagi perusahaan yang bersangkutan.

Para karyawan merupakan pihak yang tidak dapat terhindar dari tekanan yang besar untuk memenuhi tuntutan kehidupan di lingkungan kerja. Tekanan psikososial dari mulai persaingan antar rekan kerja, tuntutan kebutuhan, dinamika remunerasi, jam kerja yang lama, dan masih banyak hal lain menjadi kontributor penyebab stress di lingkungan kerja. Selain itu, perubahan sistem organisasi dan restrukturisasi yang dialami oleh pekerja saat ini menyebabkan kurangnya kesempatan kerja dan meningkatnya pekerja tidak tetap, sehingga semakin besar ketakutan untuk kehilangan pekerjaan, PHK besar-besaran, pengangguran serta stabilitas keuangan yang menurun. Hal ini tentu saja menyebabkan konsekuensi serius terhadap kesehatan dan kesejahteraan mental mereka.

erdapat beberapa solusi yang dibagi menjadi 2 macam, yaitu solusi untuk individu itu sendiri dan dalam lingkungan pekerjaan. Hal yang pertama diperhatikan adalah melalui diri dalam individu tersebut. Dengan adanya individual differences, setiap masing-masing individu mempunyai sifat dan cara mereka masing-masing terhadap suatu situasi. Setiap orang harus meningkatkan kesejahteraan psikologis sesuai dengan keunikan mereka masing-masing agar dapat produktif pada pekerjaannya.

Aspek-aspek kesejahteraan psikologis yang dikemukakan oleh Ryff (Wulandari&Widyastuti, 2014) yaitu penerimaan diri, hubungan positif dengan orang lain,kemandirian, penguasaan lingkungan, tujuan hidup dan pengembangan pribadi. Berdasarkan analisis (Wulandari&Widyastuti, 2014), faktor utama yang dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis dan membuat individu bahagia di tempat kerja adalah hubungan positif dengan orang lain. Kemudian disusul oleh prestasi,lingkungan kerja fisik, kompensasi, dan kesehatan. Hubungan kerja yang positif dengan orang lain diperlukan timbal balik yang positif juga. Oleh karena itu, sulit bagi individu untuk berhubungan positif dengan orang lain jika individu tersebut tidak banyak berinteraksi dengan orang lain dan tertutup.

Ternyata terdapat juga hal yang dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis dalam diri individu itu sendiri yaitu optimisme. Selain itu, berdasarkan sejumlah penelitian terkini, sejumlah strategi untuk mendorong well-being diajukan oleh Reivich yakni Optimisme, Kesadaran Emosional, Penetapan Tujuan/Harapan, Resiliensi, dan Pemberdayaan. Kepustakaan Psikologi Industri/Organisasi mencatat hubungan yang signifikan antara wellbeing dengan kinerja/unjuk kerja (Hutapea & Budiarto, 2016). Optimisme memiliki peran langsung pada kesejahteraan psikologis seseorang, yaitu semakin tinggi optimisme seseorang maka akan semakin tinggi pula kesejahteraan psikologisnya (Harapan, 2015).

Menurut Taylor (Harapan, 2015), individu yang optimis akan menunjukkan peningkatan immunokompetensi dalam merespon stress, sedangkan individu yang pesimis akan menunjukkan penurunan. Individu yang optimis akan lebih aktif dan menerapkan strategi coping yang terpusat pada masalah terhadap permasalahan yang dialami. Selain itu, juga memberikan sumber kekuatan tersendiri bagi individu ketika ia sedang mengalami kegagalan atau suatu kondisi yang tidak diinginkan, dimana ia akan menganggap kegagalan sebagai suatu pelajaran untuk kedepan dan ketika menghadapi situasi yang tidak diinginkan merupakan suatu tantangan dan pengalaman baru yang juga digunakan sebagai pelajaran.

Seseorang yang optimis akan mencari hal positif untuk mendukung dirinya seperti mencari dukungan dari orang terdekat ketika mereka tidak bisa memotivasi diri sendiri. Serupa dengan pernyataan Chang (Harapan, 2015) bahwa individu yang optimis cenderung menyelesaikan masalah berdasarkan problem yang ada, mencari dukungan sosial dan menekankan pada aspek pikiran positif pada saat menghadapi situasi sulit. Rasa optimis juga erat kaitannya dengan berpikir positif. Jika seseorang mempunyai pemikiran yang optimis maka secara otomatis ia akan cenderung berpikir positif terhadap segala hal.

Namun, tidak semua orang dapat memandang optimis dan berpikir positif dalam segala hal. Oleh karena itu perlunya organisasi/perusahaan/lembaga swadaya masyarakat dan tempat dimana individu bekerja memberikan pelatihan untuk para pekerja. Pelatihan dapat diadakan pada masa training pekerja sebagai persyaratan untuk bekerja di tempat tersebut. Pelatihan tersebut dapat menggunakan kombinasi dari beberapa metode yaitu curah gagasan, presentasi, bermain peran, dan lain-lain (Kholidah, 2012). Serupa dengan penelitian Singh dan Garg (2014) tentang peran signifikan Psycamp terhadap well-being guru di India (Hutapea & Budiarto, 2016). Desain pelatihan yang biasa digunakan adalah pre-test dan post-test, dimana post-test dilakukan setelah adanya sesi training untuk meningkatkan optimisme individu yang diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis individu di tempat kerja. Selanjutnya adalah hal yang dapat diperhatikan dalam lingkungan pekerjaan, yaitu upaya pemeliharaan kesehatan, optimalisasi dalam pelaksanaan kebijakan, kontribusi psikologi dalam lingkungan kerja.

Upaya Pemeliharaan Kesehatan Jiwa

Upaya pemeliharaan kesehatan jiwa untuk karyawan di lingkungan kerja harus dilakukan baik dalam hal promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2014 Tentang Kesehatan jiwa Pasal 4 pun telah dijelaskan mengenai keempat upaya tersebut.

Upaya promotif dapat dilaksanakan di lingkungan keluarga, lembaga pendidikan, tempat kerja, masyarakat, fasilitas pelayanan kesehatan, media massa, lembaga keagamaan dan tempat ibadah, lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan. Upaya promotif di lingkungan keluarga berupa pemberian pola asuh dan komunikasi yang baik. Begitu pula di lingkungan kerja dan masyarakat dilaksanakan dalam bentuk komunikasi, informasi, dan edukasi mengenai kesehatan jiwa, serta menciptakan tempat kerja yang kondusif. Sedangkan lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan dilaksanakan dalam bentuk peningkatan pengetahuan dan pemahaman warga binaan pemasyarakatan tentang kesehatan jiwa, pelatihan kemampuan adaptasi dalam masyarakat, dan menciptakan suasana kehidupan yang kondusif.

Upaya preventif dapat dilaksanakan di lingkungan keluarga, lembaga dan masyarakat. Melalui keluarga dilaksanakan dalam bentuk pengembangan pola asuh yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan jiwa. Sedangkan, di lingkungan lembaga dan masyarakat dilaksanakan dengan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan kesehatan jiwa, memberikan komunikasi, informasi, dan edukasi mengenai pencegahan gangguan jiwa dan menyediakan dukungan psikososial dan konseling bagi masyarakat yang membutuhkan.

Upaya kuratif ditujukan untuk penyembuhan/pemulihan, pengurangan penderitaan, pengendalian disabilitas dan gejala penyakit. Proses penegakan diagnosis terhadap orang yang diduga ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) dilakukan untuk menentukan kondisi kejiwaan dan tindak lanjut penatalaksanaan berdasarkan kriteria diagnostik oleh dokter umum, psikolog atau dokter spesialis kedokteran jiwa.

Optimalisasi dalam Pelaksanaan Kebijakan

Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) merupakan perpanjangan tangan dari perusahaan yang menjembatani apabila ada kepentingan karyawan untuk berkomunikasi dengan perusahaan. SPSI memberikan pemahaman mengenai hak dan kewajiban pekerja, baik itu mengenai perjanjian kerja, asuransi, maupun aspirasi mengenai permasalahan yang dihadapi oleh pekerja. Oleh karenanya, perlu optimalisasi mengenai perwujudan peran serikat tersebut untuk membantu pekerja supaya memiliki pengetahuan dengan hubungan industrialnya. Selain itu, SPSI diharapkan terampil dalam menafsirkan dan mengimplementasikan UU/kebijakan yang berkaitan dengan kesejahteraan pekerja. Serta diperlukan juga sinergi dengan sektor pemerintah dan peran perusahaan dalam

mengimplementasikan kebijakan tersebut. Disebutkan pula dalam WFMH (2017) mengenai data sebanyak 43% pimpinan perusahaan yang menghendaki adanya kebijakan yang mendukung terkait pekerja yang mengalami gangguan jiwa. Kebutuhan inilah yang mendesak untuk diupayakan supaya perusahaan pun dapat secara optimal memfasilitasi kualitas kesejahteraan psikologis pekerja, yang juga akan berdampak pula bagi produktivitas dan profit untuk perusahaan.

Kontribusi Psikologi dalam Lingkungan Kerja

Hal ini dapat dijadikan rekomendasi supaya perusahaan menggunakan kompetensi lulusan psikologi untuk menangani hal-hal yang berkaitan dengan kesejahteraan dan kesehatan karyawan di lingkungan kerja, terutama untuk bergerak di bidang Human Capital,Human Resource, maupun personalia. Sangat penting untuk memberikan upaya promotif berupa edukasi mengenai kesehatan jiwa baik untuk karyawan maupun pimpinan kerja. Apabila karyawan menunjukkan gejala dalam masalah kejiwaannya, mereka dapat memutuskan untuk meminta bantuan psikolog yang disediakan oleh perusahaan. Bagi pimpinan perusahan dimaksudkan bahwa walaupun kerja dalam perusahaan menuntut untuk terus ‘running’ dan menghasilkan serta tentunya memperhatikan kesehatan jiwa karyawannya agar memungkinkannya untuk memberikan kebijakan yang dapat bermanfaat untuk pekerja dan perusahaan.

Rekreasi, senam bersama, kebutuhan akan cuti dan kesempatan istirahat, tentu menjadi upaya preventif yang baik untuk mencegah timbulnya masalah kejiwaan. Sebagai upaya kuratif, psikologi dapat memberikan Psychological First Aid (PFA) sebagai penanganan pertama pada masalah kejiwaan yang dialami karyawan, melalui pelatihan manajemen stress atau pelatihan lain yang berdampak positif pada kondisi kejiwaan, layanan psikologis seperti konseling baik individu maupun kelompok apabila terjadi masalah kejiwaan seperti depresi ringan.

Dalam meningkatkan kesejahteraan para pekerja dapat dimulai dari diri sendiri dan dalam lingkungan kerja. Individu yang optimis secara langsung dapat meningkatkan kesejateraan psikologis para pekerja sehingga dapat meningkatkan produktivitas kerja dan mengurangi gangguan cemas dan stress yang dapat berakibat pada gangguan kejiwaan. Kemudian jika dalam lingkungan pekerjaan diharapakan tempat para pekerja lebih memperhatikan bagaimana upaya pemeliharaan kesehatan dalam bentuk promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Para pekerja juga harus bekerja sama satu dengan yang lain untuk dapat menerima hak-haknya dengan perserikatan agar menjembatani para pekerja dan pihak perusahaan dalam berkomunikasi. Kemudian diharapkan psikolog juga turut berperan dalam lingkungan.

 

REFEERENSI

Harapan, A. (2015). Peran Religiusitas dan Optimisme terhadap Kesejahteraan Psikologis pada Remaja. Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, 1-18.

Hutapea, B., & Budiarto, Y. (2016). Aplikasi Psikologi Positif Untuk Meningkatkan Wellbeing Guru-guru Bruderan Purwokerto. Jurnal Pemberdayaan Masyarakat, 25-38.

Kholidah, E. N. (2012). Berpikir Positif untuk Menurunkan Stres Psikologis. Jurnal Psikologi, 67-75.

Tanujaya, W. (2014). Hubungan Kepuasan Kerja Dengan Kesejahteraan Psikologis (Psychological Well Being) Pada Karyawan Cleaner (Studi Pada Karyawan Cleaner

Yang Menerima Gaji Tidak Sesuai Standar Ump Di Pt. Sinergi Integra Services, Jakarta). Jurnal Psikologi, XII, 67-79.

Wulandari, S., & Widyastuti, A. (2014). Faktor – Faktor Kebahagiaan Di Tempat Kerja.

Jurnal Psikologi, I, 49-60.

Dhani, Armani & DH, Agung. (2017). Mengatasi Problem Kesehatan Mental dengan BPJS. Tirto.id. Dikutip pada tanggal 21 Januari 2018 dari https://tirto.id/mengatasi-problem-kesehatan-mental-dengan-bpjs-ck32

Koran Jakarta. (2016). Menjaga Kesehatan Masyarakat. Koran Jakarta. Dikutip tanggal 21

Januari 2018 dari http://www.koran-jakarta.com/menjaga-kesehatan-masyarakat/

Kuncahyo, Wahyu. (2017). Pemerintah Diimbau Tingkatkan Kesehatan Mental Masyarakat.

Kantor Berita Politik Rmol.co. Dikutip tanggal 21 Januari 2018 dari http://nusantara.rmol.co/read/2017/07/25/300358/Pemerintah-Diimbau-Tingkatkan-Kesehatan-Mental-Masyarakat-

Putera, Donnal Andri (2015). Repotnya Pasien Gangguan Kejiwaan Berobat dengan BPJS.

Kompas. Dikutip pada tanggal 21 Januari 2018 dari http://megapolitan.kompas.com/read/2015/06/18/11524981/Repotnya.Pasien.Ganggua n.Kejiwaan.Berobat.dengan.BPJS

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2003Tentang Ketenagakerjaan

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2014 Tentang Kesehatan Jiwa

World Federation of Mental Health. (2017). Mental Health in The Workplace: World Mental

Health Day 2017. Diakses pada 21 Januari 2018 dari www.wfmh.com