BERDIRI DI RUANG PUBLIK : Berbicara pada Diri Sendiri ( Self-talk ) di Ruang Publik untuk Meningkatkan Kesehatan Mental

BERDIRI DI RUANG PUBLIK
Berbicara pada Diri Sendiri ( Self-talk ) di Ruang Publik untuk Meningkatkan Kesehatan Mental

Amalia Khurotul Mahzunah
Prodi Psikologi Fakultas Kedokteran
Universitas Sebelas Maret

Kesehatan merupakan hal yang sangat dibutuhkan dalam menjalani kehidupan. Kesehatan dalam hal ini diartikansebagai suatu kondisi yang bukan hanya bebas dari penyakit, cacat, dan kelemahan tapi benar-benar merupakankondisi yang positif dari kesejahteraan fisik, mental, dan sosial yang memungkinkan seseorang untuk hidup produktif. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa tidak ada kesehatan tanpa kesehatan mental. Mental yang sehat mampu memberikan banyak manfaat seperti kelancaran dalam berfikir, berinteraksi, dan dalam berbagai kegiatan lain. Sayangnya kesehatan mental masih kurang diperhatikan oleh masyarakat.

Menurut WHO terdapat 1 dari 20 orang di dunia mengalami gangguan pada kondisi kesehatan mental. WHO memprediksi bahwa dalam dua dekade mendatang, lebih dari 300 juta penduduk dunia akan mengalami gangguan kesehatan mental. Berdasarkan penelitian ternyata penduduk kota lebih beresiko terkena gangguan kesehatan mental. Hal tersebut dikarenakan berbagai macam faktor seperti gaya hidup dan bisingnya perkotaan yang berdampak negatif bagi kegiatan masyarakat. Oleh karena itu dibutuhkan wadah dan kegiatan yang mampu mencegah dan mengurangi gangguan kesehatan mental pada penduduk perkotaan. Salah satu wadah tersebut adalah ruang publik.

Menurut Jurgen Habermas ruang publik diartikan sebagai diskusi kritis dan interaksi yang terbuka untuk semua orang (Habermas, 1989). Ruang publik dapat digunakan untuk berbagai kegiatan dan kepentingan luas. Ruang publik idealnya dapat digunakan oleh masyarakat umum dari berbagai latar belakang sosial, ekonomi, dan budaya serta mudah diakses bagi berbagai kondisi fisik manusia. Ruang publik juga harus mampu bermakna bagi masyarakat yang menggunakannya. Makna akan muncul tidak hanya melalui keindahan tata ruang, namun juga dari kegiatan yang dilakukan di dalamnya dan bagaimana orang mempersepsikan kegiatan tersebut. Berkaitan dengan upaya meningkatkan kesehatan mental masyarakat, maka salah satu kegiatan bermakna yang dapat dilakukan di ruang publik adalah berbicara pada diri sendiri atau sering dikenal dengan sebutan self-talk.

Self-talk adalah berkomunikasi dan berbicara dengan diri sendiri. Self-talk bukan berarti mengeluarkan kata-kata dari mulut layaknya saat kita berbicara dengan orang lain, melainkan berbicara dengan pikiran-pikiran yang ada di dalam kepala kita. Self-talk terdiri dari 2 macam, yaitu self-talk positif atau rasional dan self-talk negatif atau irasional. Dalam hal ini tentu self-talk positiflah yang perlu digunakan untuk meningkatkan kesehatan mental.

Zastrow mengatakan bahwa self-talk dapat memberi mood yang positif saat tubuh dalam keadaan yang lelah, dengan cara mengucapkan kata-kata atau kalimat dalam pikiran yang memiliki konotasi positif. Contoh kalimat yang dapat digunakan untuk keadaan ini “saya merasa sehat, kuat, bahagia” (Zastrow, 1979:99). Intinya semakin positif kata-kata yang diucapkan pada diri maka perasaan yang mengikuti kalimat tersebut juga semakin positif. Sehingga semangat diri untuk kembali melakukan kegiatan produktif dapat meningkat.

Seperti yang sudah disebutkan bahwa ruang publik harus bermakna bagi masyarakat, maka tidak dapat begitu saja dikatakan bahwa ruang publik dan kegiatan yang sedemikian rupa dapat langsung meningkatkan kesehatan mental. Kata makna tidaklah lepas dari persepsi dalam diri masing-masing. Hal tersebut sesuai dengan cara kerja self-talk dalam mempengaruhi sistem fisik-emosional yang merupakan komponen dari kesehatan mental. Dalam Iswari (2004) dijelaskan gambaran cara kerja self-talk sebagai berikut :

Kejadian di Lingkungan Kognisi, Persepsi Interpretasi, Self-talk Sistem Fisik-Emosional

Persepsi berperan untuk mengetahui bagaimana pemanfaatan self-talk di ruang publik dalam meningkatkan kesehatan mental masyarakat. Mulvaney-Daya, Alegriaa, dan Sribney (2007) menyatakan bahwa orang yang mempersepsikan dirinya memiliki keterhubungan sosial juga akan mempersepsikan dirinya sehat mental. Sehingga dalam hal ini self-talk digunakan sebagai langkah awal untuk membuat masyarakat berpikir bahwa dirinya memiliki keterhubungan dengan sosial serta merasa bahwa ruang publik menjadi tempat yang menerima diri untuk berbaur dengan lingkungan sosial yang nyata. Kemudian masyarakat menjadi sadar atas makna diri dan lingkungannya, mampu membuang pemikiran irasionalnya, dan mampu memperoleh kesehatan mental.

Dalam sebuah penelitian disebutkan bahwa untuk dapat mempengaruhi kesehatan mental, maka pemanfaatan ruang publik harus terlebih dahulu memiliki efek terhadap persepsi kohesi atau kerekatan sosial. Peters et al. (2010) menjelaskan bahwa persepsi kohesi sosial dapat terstimulasi dengan interaksi sosial yang bersifat informal dan sepintas, misalnya mengobrol singkat, atau melalui sapaan “halo”. Melalui interaksi sosial yang demikian, orang-orang merasa disambut, terhubung dengan warga rumah, dan merasa seperti di rumah.

Namun dalam sebuah ruang publik tentu kita tidak dapat mengkondisikan orang lain untuk saling menyapa. Ketika ada seseorang yang memilih menyelesaikan masalahnya
sendiri dengan mencari hiburan di ruang publik atau ketika ada seseorang yang memang ingin memiliki teman namun kesulitan untuk menjalin interaksi dengan lingkungannya, maka tidak bisa begitu saja menunggu dan mengkondisikan orang lain untuk sekedar menyapa. Hal yang perlu dilakukan adalah berbicara positif kepada diri sendiri dan untuk sementara menjadikan diri sebagai pengganti lawan bicara jika memang tidak ada atau kesulitan dalam menjalin interaksi dengan orang-orang disekitar.

Masyarakat akan lebih mudah untuk mengubah dirinya sendiri dibandingkan mengubah orang lain agar menciptakan persepsi keterhubungan sosial pada diri. Orang-orang yang berada di ruang publik sering melihat orang lain begitu bahagia, memiliki banyak teman, dan tidak sedikitpun menghadap apalagi memulai interaksi dengan dirinya. Maka kemungkinan besar dia akan mempersepsikan bahwa orang lain tidak menerima keberadaanya atau bahkan mempersepsikan bahwa dirinya buruk dan tidak pantas berada di lingkungan tersebut. Padahal bisa saja saat itu juga dia berhenti dan berkata pada dirinya sendiri “Tidaklah mengapa, jika tidak ada satupun orang yang mau mencintai dan menyapaku, maka akulah orang pertama yang harus melakukan itu”. Hal itu dapat memberikan dampak positif bagi kondisi fisik-emosional dan menghilangkan pikiran negatif seperti yang telah disebutkan di awal.

Terdapat beberapa hal yang harus diingat dan diperhatikan dalam pelaksanaan self-talk menurut Pearson (2001), antara lain:
1. Afirmasi atau self-talk positif sebaiknya menggunakan kata ganti orang pertama, misalnya “saya”, “aku”. Kita tidak selalu dapat mengontrol hal-hal yang terdapat dalam diri orang lain, oleh karena itu afirmasi dibuat untuk mengontrol hal yang dapat dikontrol, yaitu diri sendiri. Maksudnya adalah afirmasi berisi tujuan, keinginan, nilai -nilai dari diri sendiri, bukan orang lain.
2. Afirmasi ditujukan pada saat ini dan sekarang, sebab jika afirmasi dibuat dalam bentuk masa yang akan datang, pikiran tidak akan menganggap penting untuk diproses “sekarang”. Setelah afirmasi dibuat dalam bentuk sekarang dan saat ini, misalnya “saya merasa sehat”, afirmasi dirubah dalam bentuk proses, misalnya “semakin hari saya merasa semakin sehat”.
3. Membuat sebuah afirmasi yang realistis sehingga lebih dapat diterima oleh pikiran. Mulailah dengan hal kecil yang mudah dicapai lalu semakin lama semakin besar. Contohnya adalah “kontrol diriku cukup baik” tampak lebih realistis daripada “saya selalu dapat mengontrol diri setiap waktu”.
4. Ucapkan afirmasi dalam bentuk kalimat positif, misalnya “saya makan makanan yang bergizi”
5. Buat afirmasi yang singkat dan mudah diingat. Kata-kata yang berbentuk slogan lebih mudah diingat daripada kata -kata biasa.
6. Ulangi afirmasi positif tersebut sesering mungkin sehingga pikiran positif akan menjadi suatu rutinitas atau kebiasaan

Self-talk memang bisa dilakukan dimana saja, tidak harus pada ruang publik. Namun berdasarkan pada penjelasan mengenai kegiatan self-talk, maka tampilan ruang publik dapat diatur sedemikian rupa agar menstimulasi masyarakat untuk melakukan self-talk disamping berinteraksi langsung dengan orang di sekitar. Hal tersebut dapat dilakukan dengan adanya tulisan berisi ungkapan self-talk yang dipasang pada setiap sisi ruang publik. Contohnya seperti “Saya secantik bunga di taman ini”, “Saya senang berada di sini”, “Saya tidak akan menyerah seperti pohon yang terus tumbuh meskipun angin menggoyahkannya”, dan berbagai ungkapan lainnya yang juga dapat menggabarkan makna setiap komponen ruang publik tersebut.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, kesehatan mental merupakan hal yang sangat penting untuk dijaga. Banyak cara untuk melakukannya namun masih sedikit orang yang menyadarinya. Ruang publik menjadi salah satu sarana yang secara tidak langsung dapat meningkatkan kesehatan mental masyarakat, terutama masyarakat perkotaan yang membutuhkan ruang dan waktu untuk terbebas dari banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan dan bisingnya perkotaan. Ruang publik sudah seharusnya memberi kesempatan masyarakat untuk bersantai, berkumpul, dan berinteraksi langsung tanpa terbatas pada keaadaan dan kondisi masyarakat tertentu. Ruang publik juga perlu memberikan makna bagi para penggunanya. Salah satu kegiatan yang dapat memberikan makna positif dan meningkatkan kesehatan mental adalah Self-talk. Self-talk sangat efektif untuk mengatasi masalah-masalah yang berkaitan dengan pikiran dengan cara membangun persepsi keterhubungan sosial sehingga membuat orang merasa dirinya memiliki mental yang sehat. Sehubungan dengan hal tersebut, tampilan ruang publik dapat ditambah dengan berbagai tulisan yang merupakan bentuk self-talk seseorang. Dalam meningkatkan kesehatan mental, ruang publik perlu memberikan kesempatan yang sama bagi semua orang. Itu artinya ruang publik juga ditujukan bagi mereka yang ingin lihai berinteraksi dengan dirinya sendiri sebelum mereka lihai menjalin interaksi dengan orang lain.

DAFTAR PUSTAKA
Habermas, J. (1989). The Structural Transformation of the Public Sphere: an Inquire Into a Category of Bourjuis Society. Massauchetts: The MIT Press.
Iswari, D. (2004). Pengaruh pelatihan dan evaluasi self-talk terhadap penurunan tingkat body-dissatisfaction. Universitas Airlangga
Mulvaney-Daya, N.E., Alegriaa, M., & Sribney, W. (2007). Social cohesion, social support, and health among Latinos in the United States. Social Science & Medicine, 64, 477–495.
Pearson, J.E. (2001). Develop the habit of Healthy Self-talk !. Diakses dari http://healthyhabits.com/SelfTalk.asp pada 4 Februari 2018
Peters, K., Elands, B., & Buijs, A. (2010). Social interactions in urban parks: Stimulating social cohesion? Urban Forestry & Urban Greening, 9, 93–100.
Zastrow, C. (1979). Talk To Yourself : Using The Power Of Self -talk. USA : Prentice-Hall,Inc.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *