Temu Ilmiah Nasional ILMPI 2018

Mengendalikan Gadget atau Dikendalikan Gadget ?

Muhammad Ilham Fahreza

Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

 

  1. Apa yang terjadi saat ini ?

 

 

Siang itu, saat sedang duduk di salah satu sudut kampus. Seperti biasanya, sudut itu selalu ramai ketika masuk jam istirahat kuliah. Dalam keramaian dan waktu senggang itu, hampir pasti didapatkan pemandangan orang-orang sedang menunduk, asik menggenggam dan memandangi gadget masing-masing. Pemandangan serupa saya rasa sangat sering dijumpai dimanapun saat ini. Saat sedang ingin menyantap makanan, tangan kanan kita menyendok makanan, tangan kiri kita sedang menggenggam gadget untuk membalas pesan-pesan yang masuk. Saat sedang mengendarai kendaraan, jari jemari kita selalu tergoda untuk memainkan gadget. Bahkan saat sedang berjalanpun kita begitu multitasking untuk berjalan dan sambil menundukan kepala kita ke gadget.

Rata-rata orang di Indonesia menghabiskan waktu selama 5,5 jam per hari menatap layar ponsel pintarnya. Selain itu, waktu yang digunakan untuk menggunakan smartphone paling banyak dilakukan saat sore hingga malam hari. Pengguna smartphone pada waktu itu menjadi terbesar kedua di bawah penonton televisi. Hal tersebut diungkapkan oleh Google Indonesia melalui hasil survei yang dilakukannya di lima kota besar di Indonesia pada periode Desember 2014 hingga Februari 2015 lalu (tekno.kompas.com).

Ada begitu banyak waktu luang yang kita miliki dalam sehari, pilihan pertama untuk menggunakan waktu luang tersebut pastilah digunakan untuk bermain gadget. Bangun tidur mengecek gadget, sebelum tidurpun gadget adalah benda yang terakhir kita pegang. gadget ini punya daya magis yang luar biasa dalam menghabiskan waktu kita, entah sihir apa yang membuat kita untuk sedikit-sedikit mengecek gadget.

Yang paling parah tentunya saat sedang berkumpul dengan orang-orang di sekitar kita, seharusnya kita menghabiskan waktu dengan berinteraksi dan mengobrol, justru kita selalu sibuk sendiri mengurusi gadget kita. Saat ini orang-orang telah diperbudak dengan gadgetnya, kurang memperhatikan teman yang sedang berbicara, dan tidak memperhatikan lingkungan sekitar. Seringkali teman yang sedang mengajak bicara kita respon namun mata kita tetap asik memandangi gadget. Orang-orang saat ini cenderung lupa bahwa ada teman yang sesungguhnya disampingnya. Manusia hanya dianggap objek, bukan lagi manusia selayaknya saat mereka bertemu (Goleman, 2007).

Gadget telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat Indonesia. Menggunakan gadget merupakan aktivitas wajib orang-orang saat ini. Pengguna gadget di Indonesia pun sudah tidak mengenal status sosial, gadget sudah sangat mudah didapatkan dengan harga-harga murah, bahkan dengan harga murah sekalipun dengan menggunakan kejelian dan pengetahuan yang tepat akan didapatkan gadget dengan kualitas bagus. Dari segi usia, baik dari anak kecil sampai orang dewasa memiliki gadget. Bahkan ketika saya sedang mengantar adik saya yang masih berada di Sekolah Dasar, saya sering menjumpai anak-anak SD tersebut sedang berjalan-jalan sambil mengalungi smartphone di lehernya.

Lembaga riset digital marketing Emarketer memperkirakan pada 2018 jumlah pengguna aktif smartphone di Indonesia akan mencapai lebih dari 100 juta orang. Dengan jumlah sebesar itu, Indonesia akan menjadi negara dengan pengguna aktif smartphone terbesar keempat di dunia setelah Cina, India, dan Amerika (www.kominfo.go.id).

  1. Apa yang dimaksud dengan gadget ?

Sebelum menjelaskan tentang adiksi Gadget, penulis akan menjelaskan definisi Gadget. Diantara pengertian Gadget sebagai berikut yaitu menurut Merriam Webster yaitu “an often small mechanichal or electronic device with practical use but often thought of as a novelty. Yang artinya dalam bahasa Indonesia adalah sebuah perangkat mekanik atau elektronik dengan penggunaan praktis tetapi sering diketahui sebagai hal baru.

Untuk menghindari kesalahan dan lebih terarahnya pembahasan maka adiksi gadget yang dibahas dalam essay ini lebih kepada adiksi terhadap smartphone, gadget yang hampir setiap orang miliki dan senantiasa dibawa pada kehidupan sehari-hari. Smartphone adalah gadget yang paling canggih dan diterima oleh masyarakat di seluruh Negara. Penggunaan smartphone saat ini sudah menjadi kebutuhan primer masyarakat, pada essay ini akan dijelaskan mengenai adiksi smartphone dan pengaruhnya terhadap kesehatan mental serta strategi dalam pengelolaan smartphone tersebut.

Adiksi smartphone adalah hilangnya kemampuan untuk mengatur dengan baik penggunaan smartphone sampai-sampai menyebabkan konsekuensi negatif dalam kehidupan sehari-hari seseorang Bilieux (2012: 89). Gadget menurut Griffiths (Essau, 2008) menyatakan bahwa kecanduan merupakan aspek perilaku yang kompulsif, adanya ketergantungan, dan kurangnya kontrol.

  1. Mengapa adiksi gadget mengancam kesehatan mental kita ?

Permasalahan kesehatan mental beberapa tahun belakang menjadi kajian yang cukup serius bagi tenaga kesehatan. Begitu juga dengan perkembangan gadget dan kaitannya dengan kesehatan mental. Ketergantungan terhadap smartphone berpotensi membuat seseorang beresiko mengalami depresi, kesulitan tidur, dan mempengaruhi kesehatan mentalnya.

Sebuah penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa semakin sering remaja menghabiskan waktunya di depan Gadget, maka semakin tinggi kemungkinan mereka untuk mengalami depresi (Twenge, Joiner, Rogers & Martin, 2017). Pengguna Gadget saat ini tidak bisa terlepas atau jauh dari Gadgetnya. Orang-orang yang Gadgetnya mati atau tertinggal akan merasa cemas dan was-was selain itu juga akan merasa kesal saat ada masalah yang penting atau darurat kemudian smartphonenya mati.

Anggapan yang menyebutkan bahwa manusia saat ini mengalami ketergantungan terhadap gadget telah terbukti kebenarannya. Nielsen, lembaga riset media dan ekonomi asal Inggris, merilis laporan yang menyebutkan bahwa kebanyakan konsumen di dunia merasa gelisah jika mereka berada jauh dari gadget-nya. Dalam laporan yang dirilis pada Kamis (13/10/2016) tersebut, Nielsen menyatakan bahwa 56% konsumen global tidak dapat membayangkan hidup tanpa perangkat mobile. Kemudian, dijelaskan pula bahwa 53% konsumen global merasa tidak tenang jika berada jauh dari perangkat mobile mereka. Bahkan, 70% konsumen global merasa perangkat mobile membuat hidup mereka menjadi lebih baik. Ketergantungan terhadap gadget juga membuat interaksi tatap muka tergantikan oleh interaksi elektronik. Dua pertiga responden global menyetujui hal tersebut. Hal ini sangat wajar terjadi karena 47% responden mengatakan bahwa mereka lebih suka berkomunikasi dengan teks daripada berbicara langsung. (Tirto.id)

Aktifitas sosial media juga menjadi kegiatan yang sangat sering dilakukan dalam penggunaan smartphone. Kecanduan bermain media sosial telah menghabiskan banyak waktu kita di depan layar gadget, membuat otak kelelahan, dan menurunkan kesehatan mental. Penggunaan sosial media juga dapat memberikan dampak buruk seperti yang disimpulkan oleh sebuah studi bahwa sosial media dapat membuat individu menjadi teralihkan dari tugasnya dan juga membuat individu kesulitan ketika harus berkomunikasi secara langsung (Kavitha & Bhuvaneswari, 2016).

Para peneliti menyatakan, semakin banyak kamu menghabiskan waktu pada media sosial, semakin besar kemungkinanmu mengalami masalah kesehatan mental. FoMo turut menjadi salah satu alasan untuk menghabiskan waktu di sana. FoMo merupakan kecemasan seseorang karena takut ketinggalan suatu momen di media sosialnya. Waktu yang banyak dihabiskan ini mengakibatkan timbulnya penggunaan media sosial yang berlebihan dan berkepanjangan dalam hidup manusia. Persoalan nyata berkaitan masalah kesehatan mental yang sering muncul dari media sosial antara lain: merasa rendah diri, merusak konsentrasi, penurunan harga diri, kecemasan, depresi, merasa kurang memiliki relasi, dan kecanduan media sosial. (pijarpsikologi.org).

Apa yang harus kita lakukan ?

Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali saya menemukan teman-teman saya yang mengalami kecanduan dalam menggunakan smartphonenya, khususnya ketergantungan dalam menggunakan media sosial. Gejala-gejala yang dialami persis sepeti yang telah dijelaskan dalam pembahasan sebelumnya, mereka mengalami kecemasan akan ketinggalan suatu momen jika tidak membuka media sosialnya, merasa depresi dan mempengaruhi interaksi mereka dalam sehari-hari. Salah satu teman terdekat saya bahkan seringkali berulang kali menonaktifkan dan menghidupkan akun media sosialnya.

Upaya-upaya yang dapat kita lakukan menurut saya pertama yaitu melakukan digital detox. Digital detox adalah periode waktu di mana seseorang menahan diri untuk tidak menggunakan perangkat elektronik seperti ponsel cerdas atau komputer, untuk mengurangi stres atau fokus pada interaksi sosial di dunia nyata. Kita dapat melakukannya secara bertahap, misalnya menerapkan aturan atau batasan dalam menggunakan smartphone, membuktikan kepada diri sendiri bahwa kita bisa pergi 15 menit tanpa mengecek smartphone. Seiring berjalannya waktu, tingkatkan lamanya waktu tanpa mengecek smartphone hingga kita terbiasa dengan kebiasaan sehari-hari untuk tidak menghabiskan waktu terlalu lama bersama smartphone.

Kedua yaitu memanfaatkan smartphone itu sendiri untuk melawan kecanduan smartphone. Smartphone tak selalu membawa dampak buruk tentunya. Banyak sekali sebenarnya manfaat yang dapat kita dapat jika kita bijak dalam menggunakan smartphone. Dalam meningkatkan kesehatan mental misalnya, ada aplikasi-aplikasi yang telah dirancang dalam rangka meningkatkan kesehatan mental masyarakat. Kita dapat melakukan cara ini untuk meningkatkan kesehatan mental kita. Aplikasi-aplikasi yang dapat kita gunakan contohnya yaitu :

  1. Riliv

Aplikasi ini diciptakan oleh anak bangsa yang memberikan fasilitas bagi penggunanya berupa konsultasi masalah pribadi secara gratis dengan psikolog professional dan mahasiswa psikolog.

  1. Operation Reach Out

Aplikasi ini membantu orang-orang yang memiliki resiko melakukan bunuh diri untuk mendapatkan bantuan sesegera mungkin.

  1. Self-help Anxiety Management

Aplikasi Self-help Anxiety Management dikembangkan oleh tim psikolog dan pakar computer dari University of West England England untuk menciptakan sumber daya kesehatan mental yang menarik dan praktis bagi masyarakat.

  1. Mindshift

MIndshit adalah sebuah aplikasi yang memanfaatkan bimbingan dan evaluasi berdasarkan CBT (terapi perilaku kognitif) untuk membantu orang-orang belajar dan mempraktikkan keterampilan mengatasi kecemasan.

  1. Mood Tools

Dirancang bekerja sama dengan tenaga profesional di bidang kesehatan mental, Mood Tools adalah aplikasi gratis yang dikembangkan untuk membantu penggunanya mengidentifikasi gejala episode manik atau depresi serta kuesioner untuk melacak tingkat keparahan suasana hati Anda dari waktu ke waktu. (stikesindramayu.ac.id)

Ketiga, dapat melalui sebuah kampanye gerakan untuk memberikan kesadaran di masyarakat. Kesehatan mental di Indonesia haruslah diperjuangkan, perjuangan-perjuangan ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan dunia digital maupun turun langsung ke lapangan. Gerakan-gerakan ini sangat mudah dilakukan di dunia maya saat ini, dengan menggunakan sebuah tagar dan memanfaatkan organisasi-organisasi yang ada untuk menguatkan dan meluaskan gerakan itu, dan yang tak kalah penting tentunya harus diselaraskan dengan gerakan langsung di dunia nyata. kegiatan semacam ini pun sudah dilakukan oleh banyak Lembaga Eksekutif Mahasiswa Psikologi di Indonesia, dan juga oleh ILMPI pada tahun lalu misalnya dengan mengkampanyekan tagar #rayakankesehatanmental dan #bangunjiwa.

 

Daftar Pustaka

Akhmad Muawal Hasan. 2017. Candu Medsos Mengacaukan Kesehatan Mental. Diunduh pada tanggal 5 Februari dari https://tirto.id/candu-medsos-mengacaukan-kesehatan-mental-ckhE

Aulia Fanny. 2018. 5 Cara Digital Detox, Biar Nggak Kecanduan Sosmed. Diunduh pada tanggal 4 Februari dari https://sehatmental.id/5-cara-digital-detox/

Billieux, J. (2012). Problematic use of the mobile phone: A literature review and a pathways model. Current Psychiatry Reviews, 8(4), 299–307. https://doi.org/10.2174/157340012803520522

Eastwood, John, Oxford Learner Dictionary. UK: Oxford University Press 2009

Essau, C. A. 2008. Adolescent Addiction :Epidemiology, Assesment and Treatment. New York : Elsevier Inc

Goleman, D. (2007). Social intelligence. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Indah Rahmayani. 2015. Indonesia Raksasa Teknologi Digital Asia. Diunduh pada tanggal 4 Februari dari https://www.kominfo.go.id/content/detail/6095/indonesia-raksasa-teknologi-digital-asia/0/sorotan_media

Kavitha & Bhuvaneswari. (2016). Impact of Social Media on Millennials – A Conceptual Study Apeejay-Journal of Management Sciences and Technology.

Nathania Vrischika. 2017. Semakin Sering di Depan Gadget, Semakin Dekat dengan Depresi?. Diunduh pada tanggal 5 Februari dari https://sehatmental.id/Gadget-dan-depresi/

Reska Nistanto. 2016. Kebiasaan Orang Indonesia, Pelototi “Smartphone” 5,5 Jam Sehari.

Diunduh pada tanggal 4 Februari dari http://tekno.kompas.com/read/2015/09/04/11301837/Kebiasaan.Orang.Indonesia.Pelototi.Sm artphone.5.5.Jam.Sehari.

Webster, Merriam, Appl Copyright 2010-2016 Stanfy Corp, Version 2.0.

Yuliana Ratnasari. 2016. Survei: Ketergantungan pada Gadget Membuat Manusia Gelisah. Diunduh pada tanggal 5 Februari dari https://tirto.id/survei-ketergantungan-pada-Gadgetmembuat-manusia-gelisah-bUvX

Zahrah Nabilah. 2017. Media Sosial dan Kesehatan Mental: Yes or No?. Diunduh pada tanggal 5 Februari dari http://pijarpsikologi.org/media-sosial-terhadap-kesehatan-mental/

http://www.stikesindramayu.ac.id/read/273/menjaga-kesehatan-mental-dengan-Gadgetkita.html


Temu Ilmiah Nasional ILMPI 2018

Sehat Jiwa dengan Omelin Pos (Optimisme di Lingkungan yang Positif)”

Zakia Nurul Fitriana dan Wahyuning Widiastuti Fakuktas Kedokteran Prodi Psikologi

Universitas Sebelas Maret

Tidak dapat dipungkiri bahwa petumbuhan dan perkembangan teknologi di zaman yang semakin modern seperti saat ini menjadikan persaingan dalam dunia kerja semakin ketat. Saat ini menteri ketenagakerjaan tengah menggagas beberapa langkah strategis untuk menghadapi persaingan ketat di dunia kerja. Menurut Menteri Ketenagakerjaan dalam laman liputan 6 pada tanggal 27 April tahun 2017, hal yang harus ditingkatkan adalah peningkatan akses dan mutu pelatihan kerja. Dengan situasi tersebut, banyak pekerja yang membekali diri dengan berbagai keahlian untuk dapat bersaing dengan yang lain.

Tak hanya persaingan dalam mencari pekerjaan, pekerja pun tak luput dari persaingan kerja. Para pekerja dapat menghabiskan waktunya di tempat kerja, bahkan sampai lembur untuk dapat memenuhi tujuan dalam pekerjaannya. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang didapatkan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia tahun 2013 menunjukkan 15% sampai 30% penduduk Indonesia mengalami gangguan kejiwaan, seperti gangguan kecemasan dan depresi berat. Terkadang sebuah perusahaan tidak sadar akan tuntutan pekerjaan yang terlalu berat dapat menjadi beban yang besar bagi para karyawan. Beban kerja karyawan di tempat kerja menjadi salah satu penyebab gangguan jiwa yang sering terabaikan. Selain itu, belum adanya data akurat mengenai berbagai gangguan kejiwaan yang terjadi di tempat kerja dan bahkan alokasi dana terkait peningkatan kesehatan jiwa karyawan pun masih sangat jarang. Padahal dampak yang ditimbulkan sangatlah besar bagi perusahaan yang bersangkutan.

Para karyawan merupakan pihak yang tidak dapat terhindar dari tekanan yang besar untuk memenuhi tuntutan kehidupan di lingkungan kerja. Tekanan psikososial dari mulai persaingan antar rekan kerja, tuntutan kebutuhan, dinamika remunerasi, jam kerja yang lama, dan masih banyak hal lain menjadi kontributor penyebab stress di lingkungan kerja. Selain itu, perubahan sistem organisasi dan restrukturisasi yang dialami oleh pekerja saat ini menyebabkan kurangnya kesempatan kerja dan meningkatnya pekerja tidak tetap, sehingga semakin besar ketakutan untuk kehilangan pekerjaan, PHK besar-besaran, pengangguran serta stabilitas keuangan yang menurun. Hal ini tentu saja menyebabkan konsekuensi serius terhadap kesehatan dan kesejahteraan mental mereka.

erdapat beberapa solusi yang dibagi menjadi 2 macam, yaitu solusi untuk individu itu sendiri dan dalam lingkungan pekerjaan. Hal yang pertama diperhatikan adalah melalui diri dalam individu tersebut. Dengan adanya individual differences, setiap masing-masing individu mempunyai sifat dan cara mereka masing-masing terhadap suatu situasi. Setiap orang harus meningkatkan kesejahteraan psikologis sesuai dengan keunikan mereka masing-masing agar dapat produktif pada pekerjaannya.

Aspek-aspek kesejahteraan psikologis yang dikemukakan oleh Ryff (Wulandari&Widyastuti, 2014) yaitu penerimaan diri, hubungan positif dengan orang lain,kemandirian, penguasaan lingkungan, tujuan hidup dan pengembangan pribadi. Berdasarkan analisis (Wulandari&Widyastuti, 2014), faktor utama yang dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis dan membuat individu bahagia di tempat kerja adalah hubungan positif dengan orang lain. Kemudian disusul oleh prestasi,lingkungan kerja fisik, kompensasi, dan kesehatan. Hubungan kerja yang positif dengan orang lain diperlukan timbal balik yang positif juga. Oleh karena itu, sulit bagi individu untuk berhubungan positif dengan orang lain jika individu tersebut tidak banyak berinteraksi dengan orang lain dan tertutup.

Ternyata terdapat juga hal yang dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis dalam diri individu itu sendiri yaitu optimisme. Selain itu, berdasarkan sejumlah penelitian terkini, sejumlah strategi untuk mendorong well-being diajukan oleh Reivich yakni Optimisme, Kesadaran Emosional, Penetapan Tujuan/Harapan, Resiliensi, dan Pemberdayaan. Kepustakaan Psikologi Industri/Organisasi mencatat hubungan yang signifikan antara wellbeing dengan kinerja/unjuk kerja (Hutapea & Budiarto, 2016). Optimisme memiliki peran langsung pada kesejahteraan psikologis seseorang, yaitu semakin tinggi optimisme seseorang maka akan semakin tinggi pula kesejahteraan psikologisnya (Harapan, 2015).

Menurut Taylor (Harapan, 2015), individu yang optimis akan menunjukkan peningkatan immunokompetensi dalam merespon stress, sedangkan individu yang pesimis akan menunjukkan penurunan. Individu yang optimis akan lebih aktif dan menerapkan strategi coping yang terpusat pada masalah terhadap permasalahan yang dialami. Selain itu, juga memberikan sumber kekuatan tersendiri bagi individu ketika ia sedang mengalami kegagalan atau suatu kondisi yang tidak diinginkan, dimana ia akan menganggap kegagalan sebagai suatu pelajaran untuk kedepan dan ketika menghadapi situasi yang tidak diinginkan merupakan suatu tantangan dan pengalaman baru yang juga digunakan sebagai pelajaran.

Seseorang yang optimis akan mencari hal positif untuk mendukung dirinya seperti mencari dukungan dari orang terdekat ketika mereka tidak bisa memotivasi diri sendiri. Serupa dengan pernyataan Chang (Harapan, 2015) bahwa individu yang optimis cenderung menyelesaikan masalah berdasarkan problem yang ada, mencari dukungan sosial dan menekankan pada aspek pikiran positif pada saat menghadapi situasi sulit. Rasa optimis juga erat kaitannya dengan berpikir positif. Jika seseorang mempunyai pemikiran yang optimis maka secara otomatis ia akan cenderung berpikir positif terhadap segala hal.

Namun, tidak semua orang dapat memandang optimis dan berpikir positif dalam segala hal. Oleh karena itu perlunya organisasi/perusahaan/lembaga swadaya masyarakat dan tempat dimana individu bekerja memberikan pelatihan untuk para pekerja. Pelatihan dapat diadakan pada masa training pekerja sebagai persyaratan untuk bekerja di tempat tersebut. Pelatihan tersebut dapat menggunakan kombinasi dari beberapa metode yaitu curah gagasan, presentasi, bermain peran, dan lain-lain (Kholidah, 2012). Serupa dengan penelitian Singh dan Garg (2014) tentang peran signifikan Psycamp terhadap well-being guru di India (Hutapea & Budiarto, 2016). Desain pelatihan yang biasa digunakan adalah pre-test dan post-test, dimana post-test dilakukan setelah adanya sesi training untuk meningkatkan optimisme individu yang diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis individu di tempat kerja. Selanjutnya adalah hal yang dapat diperhatikan dalam lingkungan pekerjaan, yaitu upaya pemeliharaan kesehatan, optimalisasi dalam pelaksanaan kebijakan, kontribusi psikologi dalam lingkungan kerja.

Upaya Pemeliharaan Kesehatan Jiwa

Upaya pemeliharaan kesehatan jiwa untuk karyawan di lingkungan kerja harus dilakukan baik dalam hal promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2014 Tentang Kesehatan jiwa Pasal 4 pun telah dijelaskan mengenai keempat upaya tersebut.

Upaya promotif dapat dilaksanakan di lingkungan keluarga, lembaga pendidikan, tempat kerja, masyarakat, fasilitas pelayanan kesehatan, media massa, lembaga keagamaan dan tempat ibadah, lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan. Upaya promotif di lingkungan keluarga berupa pemberian pola asuh dan komunikasi yang baik. Begitu pula di lingkungan kerja dan masyarakat dilaksanakan dalam bentuk komunikasi, informasi, dan edukasi mengenai kesehatan jiwa, serta menciptakan tempat kerja yang kondusif. Sedangkan lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan dilaksanakan dalam bentuk peningkatan pengetahuan dan pemahaman warga binaan pemasyarakatan tentang kesehatan jiwa, pelatihan kemampuan adaptasi dalam masyarakat, dan menciptakan suasana kehidupan yang kondusif.

Upaya preventif dapat dilaksanakan di lingkungan keluarga, lembaga dan masyarakat. Melalui keluarga dilaksanakan dalam bentuk pengembangan pola asuh yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan jiwa. Sedangkan, di lingkungan lembaga dan masyarakat dilaksanakan dengan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan kesehatan jiwa, memberikan komunikasi, informasi, dan edukasi mengenai pencegahan gangguan jiwa dan menyediakan dukungan psikososial dan konseling bagi masyarakat yang membutuhkan.

Upaya kuratif ditujukan untuk penyembuhan/pemulihan, pengurangan penderitaan, pengendalian disabilitas dan gejala penyakit. Proses penegakan diagnosis terhadap orang yang diduga ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) dilakukan untuk menentukan kondisi kejiwaan dan tindak lanjut penatalaksanaan berdasarkan kriteria diagnostik oleh dokter umum, psikolog atau dokter spesialis kedokteran jiwa.

Optimalisasi dalam Pelaksanaan Kebijakan

Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) merupakan perpanjangan tangan dari perusahaan yang menjembatani apabila ada kepentingan karyawan untuk berkomunikasi dengan perusahaan. SPSI memberikan pemahaman mengenai hak dan kewajiban pekerja, baik itu mengenai perjanjian kerja, asuransi, maupun aspirasi mengenai permasalahan yang dihadapi oleh pekerja. Oleh karenanya, perlu optimalisasi mengenai perwujudan peran serikat tersebut untuk membantu pekerja supaya memiliki pengetahuan dengan hubungan industrialnya. Selain itu, SPSI diharapkan terampil dalam menafsirkan dan mengimplementasikan UU/kebijakan yang berkaitan dengan kesejahteraan pekerja. Serta diperlukan juga sinergi dengan sektor pemerintah dan peran perusahaan dalam

mengimplementasikan kebijakan tersebut. Disebutkan pula dalam WFMH (2017) mengenai data sebanyak 43% pimpinan perusahaan yang menghendaki adanya kebijakan yang mendukung terkait pekerja yang mengalami gangguan jiwa. Kebutuhan inilah yang mendesak untuk diupayakan supaya perusahaan pun dapat secara optimal memfasilitasi kualitas kesejahteraan psikologis pekerja, yang juga akan berdampak pula bagi produktivitas dan profit untuk perusahaan.

Kontribusi Psikologi dalam Lingkungan Kerja

Hal ini dapat dijadikan rekomendasi supaya perusahaan menggunakan kompetensi lulusan psikologi untuk menangani hal-hal yang berkaitan dengan kesejahteraan dan kesehatan karyawan di lingkungan kerja, terutama untuk bergerak di bidang Human Capital,Human Resource, maupun personalia. Sangat penting untuk memberikan upaya promotif berupa edukasi mengenai kesehatan jiwa baik untuk karyawan maupun pimpinan kerja. Apabila karyawan menunjukkan gejala dalam masalah kejiwaannya, mereka dapat memutuskan untuk meminta bantuan psikolog yang disediakan oleh perusahaan. Bagi pimpinan perusahan dimaksudkan bahwa walaupun kerja dalam perusahaan menuntut untuk terus ‘running’ dan menghasilkan serta tentunya memperhatikan kesehatan jiwa karyawannya agar memungkinkannya untuk memberikan kebijakan yang dapat bermanfaat untuk pekerja dan perusahaan.

Rekreasi, senam bersama, kebutuhan akan cuti dan kesempatan istirahat, tentu menjadi upaya preventif yang baik untuk mencegah timbulnya masalah kejiwaan. Sebagai upaya kuratif, psikologi dapat memberikan Psychological First Aid (PFA) sebagai penanganan pertama pada masalah kejiwaan yang dialami karyawan, melalui pelatihan manajemen stress atau pelatihan lain yang berdampak positif pada kondisi kejiwaan, layanan psikologis seperti konseling baik individu maupun kelompok apabila terjadi masalah kejiwaan seperti depresi ringan.

Dalam meningkatkan kesejahteraan para pekerja dapat dimulai dari diri sendiri dan dalam lingkungan kerja. Individu yang optimis secara langsung dapat meningkatkan kesejateraan psikologis para pekerja sehingga dapat meningkatkan produktivitas kerja dan mengurangi gangguan cemas dan stress yang dapat berakibat pada gangguan kejiwaan. Kemudian jika dalam lingkungan pekerjaan diharapakan tempat para pekerja lebih memperhatikan bagaimana upaya pemeliharaan kesehatan dalam bentuk promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Para pekerja juga harus bekerja sama satu dengan yang lain untuk dapat menerima hak-haknya dengan perserikatan agar menjembatani para pekerja dan pihak perusahaan dalam berkomunikasi. Kemudian diharapkan psikolog juga turut berperan dalam lingkungan.

 

REFEERENSI

Harapan, A. (2015). Peran Religiusitas dan Optimisme terhadap Kesejahteraan Psikologis pada Remaja. Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, 1-18.

Hutapea, B., & Budiarto, Y. (2016). Aplikasi Psikologi Positif Untuk Meningkatkan Wellbeing Guru-guru Bruderan Purwokerto. Jurnal Pemberdayaan Masyarakat, 25-38.

Kholidah, E. N. (2012). Berpikir Positif untuk Menurunkan Stres Psikologis. Jurnal Psikologi, 67-75.

Tanujaya, W. (2014). Hubungan Kepuasan Kerja Dengan Kesejahteraan Psikologis (Psychological Well Being) Pada Karyawan Cleaner (Studi Pada Karyawan Cleaner

Yang Menerima Gaji Tidak Sesuai Standar Ump Di Pt. Sinergi Integra Services, Jakarta). Jurnal Psikologi, XII, 67-79.

Wulandari, S., & Widyastuti, A. (2014). Faktor – Faktor Kebahagiaan Di Tempat Kerja.

Jurnal Psikologi, I, 49-60.

Dhani, Armani & DH, Agung. (2017). Mengatasi Problem Kesehatan Mental dengan BPJS. Tirto.id. Dikutip pada tanggal 21 Januari 2018 dari https://tirto.id/mengatasi-problem-kesehatan-mental-dengan-bpjs-ck32

Koran Jakarta. (2016). Menjaga Kesehatan Masyarakat. Koran Jakarta. Dikutip tanggal 21

Januari 2018 dari http://www.koran-jakarta.com/menjaga-kesehatan-masyarakat/

Kuncahyo, Wahyu. (2017). Pemerintah Diimbau Tingkatkan Kesehatan Mental Masyarakat.

Kantor Berita Politik Rmol.co. Dikutip tanggal 21 Januari 2018 dari http://nusantara.rmol.co/read/2017/07/25/300358/Pemerintah-Diimbau-Tingkatkan-Kesehatan-Mental-Masyarakat-

Putera, Donnal Andri (2015). Repotnya Pasien Gangguan Kejiwaan Berobat dengan BPJS.

Kompas. Dikutip pada tanggal 21 Januari 2018 dari http://megapolitan.kompas.com/read/2015/06/18/11524981/Repotnya.Pasien.Ganggua n.Kejiwaan.Berobat.dengan.BPJS

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2003Tentang Ketenagakerjaan

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2014 Tentang Kesehatan Jiwa

World Federation of Mental Health. (2017). Mental Health in The Workplace: World Mental

Health Day 2017. Diakses pada 21 Januari 2018 dari www.wfmh.com


Temu Ilmiah Nasional ILMPI 2018

Taman Kota, Taman Bahagia

Wahyu Gita Cahyani, Baiq Nur Fatimah, dan Rizki Mulyadin

Jurusan Psikologi, Fakultas Psikologi, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

 

Remaja merupakan masa peralihan individu dari anak-anak menuju dewasa. Masa remaja biasanya dimulai sekitar usia 11-18 tahun atau usia siswa sekolah menengah pertama hingga sekolah menengah atas. Masa-masa tersebut menjadi usia yang sangat krusial dalam mendidik anak. Sebab, mereka tidak lagi bisa dianggap sebagai anak-anak yang mudah diberi pola pengasuhan otoriter namun juga tidak bisa dianggap sebagai orang dewasa yang bisa diberikan kebebasan penuh untuk memilih segala sesuatu sesuai dengan keinginannya.

Remaja belum bisa memilih segala sesuatu dengan bebas karena memang perkembangan mereka khususnya dari segi sosial, emosional, kognitif, dan fisiknya belum mencapai kematangan yang sempurna. Mereka masih harus melewati tahapan-tahapan perkembangan di masa remaja dengan baik agar bisa menjadi manusia dewasa yang matang nantinya.

Para remaja sendiri akan mengalami banyak permasalahan dalam hidupnya karena memang tengah berada dalam masa transisi. Mereka akan mengalami pergolakan batin yang hebat. Apabila mereka mampu melewati tugas-tugas perkembangan dan perubahan dalam hidupnya dengan baik maka dikemudian hari kemungkinan besar mereka akan menjadi manusia dewasa yang matang. Namun akan tetapi, apabila mereka tidak mampu melakukan pertahanan dalam menghadapi segala permasalahan serta perubahan yang ada maka kemungkinan besar perilakunya akan berubah menjadi menyimpang dan bahkan melanggar hukum.

Segala permasalahan yang dialami remaja juga menjadikan mereka menjadi lebih rentan mengalami gangguan depresi. Gangguan depresi sendiri bisa menjangkiti semua kalangan, baik muda maupun tua sehingga bisa diibaratkan seperti penyakit influensa. Akan tetapi, gejala depresi sejatinya lebih rentan dialami oleh usia muda yakni antara 15-24 tahun. Hal tersebut seringkali dipicu oleh adanya konflik keluarga atau kurangnya dukungan dari keluarga serta teman sebayanya (Lia, 2015)

Selain itu, di masa remaja biasanya sudah mulai muncul sebuah egosentrisme sebagaimana teori yang dikatakan oleh David Elkind (1976). Dia mengatakan bahwa pola pikir remaja terbagi menjadi dua bagian yakni penonton khayalan (imaginary audience) dan dongeng pribadi (the personal fable). Penonton khayalan (imaginary audience) adalah sebuah keyakinan para remaja berupa perasaan selalu diperhatikan oleh orang lain. Mereka merasa bahwa seluruh orang berfokus untuk memperhatikan dirinya. Sehingga ketika ada sesuatu yang mereka anggap buruk sedang terjadi, misalnya mereka sedang memiliki jerawat di wajah, maka itu akan menjadi seperti sebuah bencana yang mengerikan. Sebab mereka sangat percaya bahwa seluruh orang sedang memperhatikan dirinya (Santrock, 2002).

Sedangkan dongeng pribadi (the personal fable) adalah sebuah kondisi ketika para remaja itu menganggap diri mereka sangat unik sehingga akan sangat sulit dimengerti oleh orang lain. Contohnya seperti ketika ada seorang gadis remaja yang patah hati, maka dia akan menganggap tidak ada seorang pun yang bisa mengalami perasaan sakit sesakit yang tengah dia rasakan. Sehingga sangat wajar bila kemudian mereka cenderung mendramatisir kejadian yang tidak diinginkannya tersebut (Santrock, 2002).

Menurut beberapa ahli perkembangan, egosentrisme remaja menjadikan mereka lebih ceroboh dan tidak berpikir panjang ketika memutuskan sesuatu. Itulah mengapa ketika remaja tengah dilanda banyak permasalahan maka sangat mudah bagi mereka untuk terjatuh ke lubang hitam seperti minum minuman berakohol, menggunakan obat-obatan terlarang, melakukan seks bebas, dan sebagainya (Santrock, 2002). Selain itu biasanya para remaja sudah mulai enggan untuk meminta pertolongan kepada para orang tua dan guru sebagaimana ketika menjadi anak-anak. Mereka merasa bisa menjalani serta menyelesaikan segala sesuatunya secara mandiri meskipun pada kenyataanya, mereka tidak mampu. Hal itulah yang menyebabkan kondisi mereka bisa jadi semakin memburuk.

Menurut data kriminalitas Mabes Polri dijelaskan bahwa selama tahun 2007, 3.145 remaja berusia 18 tahun atau kurang menjadi seorang pelaku kriminal. Sedangkan ketika tahun 2008, kriminalitas yang dilakukan remaja meningkat menjadi 3.280 orang dan pada tahun 2009 semakin meningkat lagi menjadi 4.123 remaja (BPS, 2010). Wilis (2012) menyatakan bahwa perilaku menyimpang yang dilakukan remaja seperti minum-minuman keras, menggunakan obat-obatan, dan sebagainya biasanya disebabkan oleh berbagai macam faktor. Salah satunya adalah karena kurangnya kasih sayang yang diberikan orang tua, kondisi perekonomian keluarga yang rendah, serta keluarga yang tidak harmonis (Siti&Towil, 2014). Sebagaimana yang kita ketahui, daerah perkotaan seringkali diidentikkan dengan kepadatan penduduk. Tak heran bila pernyataan tersebut diucapkan sebab dalam kurun waktu 2005-2030 diprediksi penduduk perkotaan akan meningkat sebesar 56%. Sedangkan untuk perkotaan di Indonesia sendiri diprediksi akan naik sebesar 74%. Hal tersebut dibuktikan pada tahun 2005, jumlah penduduk di daerah perkotaan Indonesia sudah mencapai 107,9 juta jiwa (Yunita, 2016).

Pertambahan penduduk di daerah perkotaan tidak diimbangi dengan bertambahnya luas wilayah. Sehingga beban berat pemerintah dalam persiapan pemberian fasilitas yang layak berupa fasilitas pendidikan, kesehatan, dan sebagainya pun akan semakin bertambah. Hal itu menyebabkan kondisi di perkotaan menjadi tidak seimbang. Sehingga kemungkinan besar bisa memunculkan kemiskinan, kriminalitas tinggi, dan sebagainya (Yunita, 2016). Padahal kita ketahui bersama bahwa salah satu faktor penyebab perilaku menyimpang pada remaja adalah karena rendahnya perekonomian keluarga. Bila ekonomi keluarga rendah dan remaja sudah terjerumus ke dalam lembah hitam maka masa depan mereka pun kemungkinan besar juga akan hancur.

Selain itu, masyarakat perkotaan juga diidentikkan dengan para orang tua yang memiliki kesibukan tinggi dalam bekerja. Tak mengherankan apabila hal tersebut terjadi karena memang persaingan kerja di perkotaan sangatlah tinggi. Dengan kondisi penduduk yang sangat padat dan terbatasnya lapangan pekerjaan, menjadikan mereka harus berjuang mati-matian untuk menghidupi dirinya sendiri dan keluarganya. Apalagi ditambah dengan sikap individualistik para masyarakatnya. Dikatakan individualistik sebab kita akan jarang sekali menemui masyarakat perkotaan yang masih mempertahankan budaya gotong royong, saling berbagi makanan dihari-hari besar, dan sebagainya sebagaimana yang dilakukan masyarkat perdesaan.

Sehingga tak mengherankan bila dengan kesibukan orang tua yang padat menjadikan waktu mereka bersama anak akan menjadi berkurang. Bila mengikuti jam kerja perkantoran, biasanya para orang tua akan pulang sekitar pukul 16.00-17.00 dan begitupun dengan anak mereka (bila sekolah anak mereka menerapkan sistem fullday school). Ketika sudah seharian bekerja, para orang tua biasanya akan merasa lelah dan memilih untuk beristirahat saja. Padahal hal tersebut kurang tepat untuk dilakukan karena pada dasarnya sesibuk apapun orang tua, mereka tetap memiliki kewajiban untuk memperhatikan anak-anaknya.

Tidak hanya orang tua, anak-anak pun juga lelah ketika harus belajar seharian di sekolah. Lalu mengapa para orang tua harus menggunakan alibi “saya lelah” untuk menghindari kewajiban mereka memberikan perhatian pada anak. Seharusnya, mereka mampu memberikan meluangkan waktu bersama dengan anak-anak mereka. Tidak perlu melakukan aktivitas-aktivitas yang berat, cukup yang ringan-ringan saja seperti saling berbaring bersama di kamar dan berbagi cerita. Bukankah itu juga menjadi hal yang menyenangkan dan menjadikan mental kita menjadi lebih sehat?

Selain itu, selain mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang cukup dari keluarga, sejatinya remaja juga membutuhkan ruang untuk mengaktualisasikan dirinya. Mereka butuh ruang untuk berkumpul dengan teman sebayanya dan melakukan hal-hal yang mereka sukai. Hal tersebut sejalan dengan teori Abraham Maslow terkait hierarki kebutuhan (hierarki of need). Bila remaja mampu mengaktualisasikan dirinya dengan baik maka besar kemungkinan mental mereka akan sehat sehingga tidak mudah terjerumus ke dalam pergaulan yang buruk.

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk memberikan media aktualisasi diri para remaja yakni salah satunya adalah konsep “Taman Kota, Taman Bahagia”. Sebagaimana yang kita ketahui biasanya tiap kota akan berusaha untuk membangun taman demi menjaga keseimbangan udara segar dan keindahan kota. Nah mulai sekarang, taman kota tidaklah cukup bila hanya digunakan sebagai tempat rekreasi saja melainkan juga bisa digunakan untuk mengembangkan bakat dan minat para remajanya. Contohnya seperti di Taman Merjosari Kota Malang, Jawa Timur. Di sana tidak hanya lokasi untuk berekreasi dengan duduk-duduk santai dan menikmati hijaunya rerumputan melainkan juga disediakan alat-alat olahraga ringan. Hal seperti itu tentunya bisa memfasilitasi para remaja yang hobi berolahraga dengan biaya yang murah.

Selain itu, di taman tersebut juga bisa digunakan sebagai tempat kumpulkan para remaja-remaja yang aktif di komunitas. Baik sekedar untuk bercengkrama maupun melakukan outbond ringan. Bahkan tidak hanya itu saja, para remaja yang suka belajar mendongeng juga bisa mempraktikkan hobinya dengan melakukan kegiatan mendongeng di sana karena biasanya anak-anak pun banyak yang berkunjung ke sana. Oleh karena itulah, sudah saatnya seluruh kota di Indonesia mulai membangun sebuah taman kota dengan konsep ‘Taman Kota, Taman Bahagia’. Sehingga taman tidak akan lagi hanya sekedar menjadi hiasan melainkan juga sebagai tempat melepas lelah dan penat setelah lelah beraktifitas serta tempat untuk saling berbagi kasih sayang dengan orang-orang tersayang. Jangan ragu membangun “Taman Kota, Taman Bahagia” karena semakin banyak masyarakat yang bahagia, maka tingkat kesehatan mental akan semakin meningkat. Salam bahagia!!

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Rahmawati, Lia, dkk. 2015. Hubungan Dukungan Keluarga dengan Tingkat Depresi Remaja di Lembaga Pemasyarakatan. JOM Vo. 2 No. 2

Santrock,  John  W.  2002.  Life  Span  Development: Perkembangan  Masa  Hidup.  Jakarta:Erlangga

Badan Pusat Statistik Jakarta 2010

Fatimah, Siti & Umuri, M. Towil. 2014. Faktor-faktor Penyebab Kenakalan Remaja di Desa Kemadang Kecamatan Tanjungsari Kabupaten Gunungkidul. Jurnal Citizenship. Vo. 4 No. 1

Pratiwi, Yunita Satya. 2016. Ekologi Daerah Urban (Perkotaan) dan Gangguan Kesehatan Jiwa. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes Vol VII No. 1


Pertemuan ILMPI dengan Himpsi

Pertemuan ILMPI dengan Himpsi

Pada hari Selasa, 24 Juli 2018 pukul 18.00 WIB bertempat di Restoran Mawar, Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Ikatan Lembaga Mahasiswa Psikologi Indonesia (ILMPI) dan Himpunan Psikologi (Himpsi) mengadakan pertemuan. Pihak ILMPI diwakili oleh Sekretaris Jenderal beserta beberapa jajarannya baik nasional maupun wilayah. Sedangkan, pihak Himpsi diwakili oleh Ketua Himpsi Pusat beserta dua jajarannya. Dalam pertemuan ini, ILMPI dan Himpsi duduk melingkari meja kayu yang tersedia di sudut ruangan restoran.

Pertama-tama, ILMPI dan Himpsi melakukan perkenalan terlebih dahulu sekaligus menjelaskan maksud dari pertemuan ini. Pertemuan ini dimaksudkan untuk membahas beberapa hal yang selama ini menjadi keresahan mahasiswa psikologi, bahwa seharusnya ILMPI dapat berkolaborasi dengan Himpsi, mengingat kedua organisasi ini sama-sama bergerak di bidang psikologi. Perbedaannya, ILMPI beranggotakan mahasiswa/i psikologi yang diikat secara kelembagaan, dan Himpsi beranggotakan ilmuwan psikologi yang diikat secara individu. Adapun poin-poin yang dibahas di dalam pertemuan ini antara lain kolaborasi ILMPI dengan Himpsi dan follow up perkembangan Rancangan Undang-Undang (RUU) keprofesian. Pembahasan pertama adalah kolaborasi ILMPI dengan Himpsi. ILMPI menjelaskan terlebih dulu program-program yang ada di dalam ILMPI dan membutuhkan supervisi dari Himpsi. Program-program tersebut antara lain Latihan Kepemimpinan dan Manajemen Mahasiswa (LKMM), Pengabdian di daerah 3T (Terdepan, Terluar dan Tertinggal) dan Gerakan Tanggap Bencana (GTB). ILMPI meminta Himpsi untuk menjadi supervisi (pemateri) pada program-program tersebut. Hal ini disetujui oleh Himpsi, dengan menjelaskan prosedurnya, yaitu ILMPI membuat draft dan kemudian direvisi oleh Himpsi apabila diperlukan revisi, dan setelah poin-poin di dalam draft sudah disetujui oleh kedua belah pihak, selanjutnya diagendakan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara ILMPI dengan Himpsi. Selain itu, ILMPI juga menyampaikan keinginannya untuk terlibat dalam olimpiade psikologi, yang mendapat tanggapan positif dari Himpsi. Ternyata, baik ILMPI maupun Himpsi memiliki keinginan yang sama, yaitu melakukan gerakan psikologi yang masif se-Indonesia pada hari yang sama. Sehingga, ILMPI dan Himpsi berencana mengadakan gerakan bersama, secara masif di seluruh wilayah se-Indonesia pada Hari Kesehatan Mental Sedunia di bulan Oktober 2018 nanti. Tema yang akan diangkat kemungkinan menyesuaikan tema internasional yang di-publish oleh World Health Organization (WHO). Masih mengenai kolaborasi, ILMPI dan Himpsi berdiskusi mengenai penyantuman redaksi Himpsi sebagai supervisi ILMPI di dalam AD-ART dan struktur organisasi ILMPI maupun Himpsi. Akan tetapi, hal tersebut belum mendapat jawaban yang pasti, dikarenakan Himpsi dan ILMPI memiliki sistem keanggotaan yang berbeda. Himpsi mengikat anggota secara individu, sedangkan ILMPI mengikat secara lembaga. Untuk saat ini, solusi agar ILMPI dan Himpsi dapat berkolaborasi adalah dengan penandatanganan MoU. Setelah membahas tentang kolaborasi antara ILMPI dengan Himpsi, pembahasan selanjutnya adalah follow up RUU keprofesian. Himpsi menyampaikan progres dan harapannya untuk berkolaborasi dengan ILMPI. Saat ini, naskah akademik yang diperlukan sebagai pendamping RUU sudah selesai dibuat dan sedang dalam tahap review oleh dewan pengarah Himpsi. Setelah proses review dan revisi selesai, baru dapat ditindaklanjuti dengan tahap selanjutnya. Himpsi menyampaikan harapannya untuk ILMPI dapat ikut serta mengawal RUUini dalam tiga hal: 1. Pengumpulan data yang diperlukan untuk memperkuat RUU. 2. Sosialisasi kepada mahasiswa/i agar semakin banyak yang peduli terhadap isu ini. 3. Secara kelembagaan, ikut serta saat memperjuangkan RUU keprofesian ini kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Ketiga hal tersebut bersedia dilakukan oleh ILMPI, karena isu ini dirasa penting dan juga bisa berdampak pada mahasiswa/i psikologi.

Diskusi antara ILMPI dengan Himpsi berjalan santai tapi serius. Kadang diselingi candaan ringan, namun setelahnya kembali pada pembahasan serius. Setelah pembahasan demi pembahasan selesai, obrolan berlangsung bebas seperti membicarakan tentang akun media sosial organisasi bahkan pribadi. Pembicaraan berakhir sekitar pukul 20.30 WIB. Kemudian perwakilan ILMPI dan Himpsi menutup pertemuan ini dengan sesi foto bersama.

Semoga pertemuan ini bermanfaat untuk semua pihak. Karena segala sesuatu akan lebih bermakna jika dilakukan bersama.

Semoga pertemuan ini bermanfaat untuk semua pihak. Karena segala sesuatu akan lebih bermakna jika dilakukan bersama.

Wujudkan Indonesia tersenyum dengan psikologi!