Transparansi Keuangan Kuartal I

Badan Keuangan memiliki fungsi sebagai badan yang mengelola keuangan ILMPI. Berdasarkan prinsip “pengelolaan dana yang baik berasal dari keterbukaan terhadap publik”, maka dari itu Badan Keuangan melakukan transparansi dana perkuartal (setiap tiga bulan).

Transparansi dana merupakan penyampaian informasi keuangan ILMPI baik nasional maupun wilayah dalam rangka pertanggungjawaban pengurus ILMPI. Transparansi dana dilakukan oleh Badan Keuangan sebagai upaya  dari ILMPI untuk membangun kepercayaan dengan anggota. Transparansi dana juga dilakukan agar publik dapat menilai kecukupan atau kekurangan dalam pengelolaan keuangan di ILMPI.

Kunjungi halaman bit.ly/KeuangILMPI untuk mengakses transparansi keuangan ILMPI


Temu Ilmiah Nasional ILMPI 2018

Mengendalikan Gadget atau Dikendalikan Gadget ?

Muhammad Ilham Fahreza

Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

 

 

  1. Apa yang terjadi saat ini ?

 

 

Siang itu, saat sedang duduk di salah satu sudut kampus. Seperti biasanya, sudut itu selalu ramai ketika masuk jam istirahat kuliah. Dalam keramaian dan waktu senggang itu, hampir pasti didapatkan pemandangan orang-orang sedang menunduk, asik menggenggam dan memandangi gadget masing-masing. Pemandangan serupa saya rasa sangat sering dijumpai dimanapun saat ini. Saat sedang ingin menyantap makanan, tangan kanan kita menyendok makanan, tangan kiri kita sedang menggenggam gadget untuk membalas pesan-pesan yang masuk. Saat sedang mengendarai kendaraan, jari jemari kita selalu tergoda untuk memainkan gadget. Bahkan saat sedang berjalanpun kita begitu multitasking untuk berjalan dan sambil menundukan kepala kita ke gadget.

 

Rata-rata orang di Indonesia menghabiskan waktu selama 5,5 jam per hari menatap layar ponsel pintarnya. Selain itu, waktu yang digunakan untuk menggunakan smartphone paling banyak dilakukan saat sore hingga malam hari. Pengguna smartphone pada waktu itu menjadi terbesar kedua di bawah penonton televisi. Hal tersebut diungkapkan oleh Google Indonesia melalui hasil survei yang dilakukannya di lima kota besar di Indonesia pada periode Desember 2014 hingga Februari 2015 lalu (tekno.kompas.com).

 

Ada begitu banyak waktu luang yang kita miliki dalam sehari, pilihan pertama untuk menggunakan waktu luang tersebut pastilah digunakan untuk bermain gadget. Bangun tidur mengecek gadget, sebelum tidurpun gadget adalah benda yang terakhir kita pegang. gadget ini

 

 

punya daya magis yang luar biasa dalam menghabiskan waktu kita, entah sihir apa yang membuat kita untuk sedikit-sedikit mengecek gadget.

 

Yang paling parah tentunya saat sedang berkumpul dengan orang-orang di sekitar kita, seharusnya kita menghabiskan waktu dengan berinteraksi dan mengobrol, justru kita selalu sibuk sendiri mengurusi gadget kita. Saat ini orang-orang telah diperbudak dengan gadgetnya, kurang memperhatikan teman yang sedang berbicara, dan tidak memperhatikan lingkungan sekitar. Seringkali teman yang sedang mengajak bicara kita respon namun mata kita tetap asik memandangi gadget. Orang-orang saat ini cenderung lupa bahwa ada teman yang sesungguhnya disampingnya. Manusia hanya dianggap objek, bukan lagi manusia selayaknya saat mereka bertemu (Goleman, 2007).

 

Gadget telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat Indonesia. Menggunakan gadget merupakan aktivitas wajib orang-orang saat ini. Pengguna gadget di Indonesia pun sudah tidak mengenal status sosial, gadget sudah sangat mudah didapatkan dengan harga-harga murah, bahkan dengan harga murah sekalipun dengan menggunakan kejelian dan pengetahuan yang tepat akan didapatkan gadget dengan kualitas bagus. Dari segi usia, baik dari anak kecil sampai orang dewasa memiliki gadget. Bahkan ketika saya sedang mengantar adik saya yang masih berada di Sekolah Dasar, saya sering menjumpai anak-anak SD tersebut sedang berjalan-jalan sambil mengalungi smartphone di lehernya.

 

Lembaga riset digital marketing Emarketer memperkirakan pada 2018 jumlah pengguna aktif smartphone di Indonesia akan mencapai lebih dari 100 juta orang. Dengan jumlah sebesar itu, Indonesia akan menjadi negara dengan pengguna aktif smartphone terbesar keempat di dunia setelah Cina, India, dan Amerika (www.kominfo.go.id).

 

  1. Apa yang dimaksud dengan gadget ?

 

 

Sebelum menjelaskan tentang adiksi Gadget, penulis akan menjelaskan definisi Gadget. Diantara pengertian Gadget sebagai berikut yaitu menurut Merriam Webster yaitu “an often small mechanichal or electronic device with practical use but often thought of as a novelty. Yang artinya dalam bahasa Indonesia adalah sebuah perangkat mekanik atau elektronik dengan penggunaan praktis tetapi sering diketahui sebagai hal baru.

 

Untuk menghindari kesalahan dan lebih terarahnya pembahasan maka adiksi gadget yang dibahas dalam essay ini lebih kepada adiksi terhadap smartphone, gadget yang hampir setiap orang miliki dan senantiasa dibawa pada kehidupan sehari-hari. Smartphone adalah gadget yang paling canggih dan diterima oleh masyarakat di seluruh Negara. Penggunaan smartphone saat ini sudah menjadi kebutuhan primer masyarakat, pada essay ini akan dijelaskan mengenai adiksi smartphone dan pengaruhnya terhadap kesehatan mental serta strategi dalam pengelolaan smartphone tersebut.

 

Adiksi smartphone adalah hilangnya kemampuan untuk mengatur dengan baik penggunaan smartphone sampai-sampai menyebabkan konsekuensi negatif dalam kehidupan sehari-hari seseorang Bilieux (2012: 89). Gadget menurut Griffiths (Essau, 2008) menyatakan bahwa kecanduan merupakan aspek perilaku yang kompulsif, adanya ketergantungan, dan kurangnya kontrol.

 

 

  1. Mengapa adiksi gadget mengancam kesehatan mental kita ?

 

Permasalahan kesehatan mental beberapa tahun belakang menjadi kajian yang cukup

 

serius bagi tenaga kesehatan. Begitu juga dengan perkembangan gadget dan kaitannya dengan kesehatan mental. Ketergantungan terhadap smartphone berpotensi membuat seseorang beresiko mengalami depresi, kesulitan tidur, dan mempengaruhi kesehatan mentalnya.

 

 

Sebuah penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa semakin sering remaja menghabiskan waktunya di depan Gadget, maka semakin tinggi kemungkinan mereka untuk mengalami depresi (Twenge, Joiner, Rogers & Martin, 2017). Pengguna Gadget saat ini tidak bisa terlepas atau jauh dari Gadgetnya. Orang-orang yang Gadgetnya mati atau tertinggal akan merasa cemas dan was-was selain itu juga akan merasa kesal saat ada masalah yang penting atau darurat kemudian smartphonenya mati.

 

Anggapan yang menyebutkan bahwa manusia saat ini mengalami ketergantungan terhadap gadget telah terbukti kebenarannya. Nielsen, lembaga riset media dan ekonomi asal Inggris, merilis laporan yang menyebutkan bahwa kebanyakan konsumen di dunia merasa gelisah jika mereka berada jauh dari gadget-nya. Dalam laporan yang dirilis pada Kamis (13/10/2016) tersebut, Nielsen menyatakan bahwa 56% konsumen global tidak dapat membayangkan hidup tanpa perangkat mobile. Kemudian, dijelaskan pula bahwa 53% konsumen global merasa tidak tenang jika berada jauh dari perangkat mobile mereka. Bahkan, 70% konsumen global merasa perangkat mobile membuat hidup mereka menjadi lebih baik. Ketergantungan terhadap gadget juga membuat interaksi tatap muka tergantikan oleh interaksi elektronik. Dua pertiga responden global menyetujui hal tersebut. Hal ini sangat wajar terjadi karena 47% responden mengatakan bahwa mereka lebih suka berkomunikasi dengan teks daripada berbicara langsung. (Tirto.id)

 

Aktifitas sosial media juga menjadi kegiatan yang sangat sering dilakukan dalam penggunaan smartphone. Kecanduan bermain media sosial telah menghabiskan banyak waktu kita di depan layar gadget, membuat otak kelelahan, dan menurunkan kesehatan mental. Penggunaan sosial media juga dapat memberikan dampak buruk seperti yang disimpulkan oleh sebuah studi bahwa sosial media dapat membuat individu menjadi teralihkan dari tugasnya dan juga membuat individu kesulitan ketika harus berkomunikasi secara langsung (Kavitha & Bhuvaneswari, 2016).

 

 

Para peneliti menyatakan, semakin banyak kamu menghabiskan waktu pada media sosial, semakin besar kemungkinanmu mengalami masalah kesehatan mental. FoMo turut menjadi salah satu alasan untuk menghabiskan waktu di sana. FoMo merupakan kecemasan seseorang karena takut ketinggalan suatu momen di media sosialnya. Waktu yang banyak dihabiskan ini mengakibatkan timbulnya penggunaan media sosial yang berlebihan dan berkepanjangan dalam hidup manusia. Persoalan nyata berkaitan masalah kesehatan mental yang sering muncul dari media sosial antara lain: merasa rendah diri, merusak konsentrasi, penurunan harga diri, kecemasan, depresi, merasa kurang memiliki relasi, dan kecanduan media sosial. (pijarpsikologi.org).

 

 

 

 

Apa yang harus kita lakukan ?

 

Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali saya menemukan teman-teman saya yang mengalami kecanduan dalam menggunakan smartphonenya, khususnya ketergantungan dalam menggunakan media sosial. Gejala-gejala yang dialami persis sepeti yang telah dijelaskan dalam pembahasan sebelumnya, mereka mengalami kecemasan akan ketinggalan suatu momen jika tidak membuka media sosialnya, merasa depresi dan mempengaruhi interaksi mereka dalam sehari-hari. Salah satu teman terdekat saya bahkan seringkali berulang kali menonaktifkan dan menghidupkan akun media sosialnya.

 

Upaya-upaya yang dapat kita lakukan menurut saya pertama yaitu melakukan digital detox. Digital detox adalah periode waktu di mana seseorang menahan diri untuk tidak menggunakan perangkat elektronik seperti ponsel cerdas atau komputer, untuk mengurangi stres atau fokus pada interaksi sosial di dunia nyata. Kita dapat melakukannya secara bertahap, misalnya menerapkan aturan atau batasan dalam menggunakan smartphone, membuktikan kepada diri sendiri bahwa kita bisa pergi 15 menit tanpa mengecek smartphone. Seiring berjalannya waktu, tingkatkan lamanya waktu tanpa mengecek smartphone hingga kita terbiasa

 

 

dengan kebiasaan sehari-hari untuk tidak menghabiskan waktu terlalu lama bersama smartphone.

 

Kedua yaitu memanfaatkan smartphone itu sendiri untuk melawan kecanduan smartphone. Smartphone tak selalu membawa dampak buruk tentunya. Banyak sekali sebenarnya manfaat yang dapat kita dapat jika kita bijak dalam menggunakan smartphone. Dalam meningkatkan kesehatan mental misalnya, ada aplikasi-aplikasi yang telah dirancang dalam rangka meningkatkan kesehatan mental masyarakat. Kita dapat melakukan cara ini untuk meningkatkan kesehatan mental kita. Aplikasi-aplikasi yang dapat kita gunakan contohnya yaitu :

 

  1. Riliv

 

 

Aplikasi ini diciptakan oleh anak bangsa yang memberikan fasilitas bagi penggunanya berupa konsultasi masalah pribadi secara gratis dengan psikolog professional dan mahasiswa psikolog.

 

  1. Operation Reach Out

 

 

Aplikasi ini membantu orang-orang yang memiliki resiko melakukan bunuh diri untuk mendapatkan bantuan sesegera mungkin.

 

  1. Self-help Anxiety Management

 

 

Aplikasi Self-help Anxiety Management dikembangkan oleh tim psikolog dan pakar computer dari University of West England England untuk menciptakan sumber daya kesehatan mental yang menarik dan praktis bagi masyarakat.

 

  1. Mindshift

 

 

MIndshit adalah sebuah aplikasi yang memanfaatkan bimbingan dan evaluasi berdasarkan CBT (terapi perilaku kognitif) untuk membantu orang-orang belajar dan mempraktikkan keterampilan mengatasi kecemasan.

 

  1. Mood Tools

 

 

Dirancang bekerja sama dengan tenaga profesional di bidang kesehatan mental, Mood Tools adalah aplikasi gratis yang dikembangkan untuk membantu penggunanya mengidentifikasi gejala episode manik atau depresi serta kuesioner untuk melacak tingkat keparahan suasana hati Anda dari waktu ke waktu. (stikesindramayu.ac.id)

 

Ketiga, dapat melalui sebuah kampanye gerakan untuk memberikan kesadaran di masyarakat. Kesehatan mental di Indonesia haruslah diperjuangkan, perjuangan-perjuangan ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan dunia digital maupun turun langsung ke lapangan. Gerakan-gerakan ini sangat mudah dilakukan di dunia maya saat ini, dengan menggunakan sebuah tagar dan memanfaatkan organisasi-organisasi yang ada untuk menguatkan dan meluaskan gerakan itu, dan yang tak kalah penting tentunya harus diselaraskan dengan gerakan langsung di dunia nyata. kegiatan semacam ini pun sudah dilakukan oleh banyak Lembaga Eksekutif Mahasiswa Psikologi di Indonesia, dan juga oleh ILMPI pada tahun lalu misalnya dengan mengkampanyekan tagar #rayakankesehatanmental dan #bangunjiwa.

 

Daftar Pustaka

 

 

Akhmad Muawal Hasan. 2017. Candu Medsos Mengacaukan Kesehatan Mental. Diunduh pada tanggal 5 Februari dari https://tirto.id/candu-medsos-mengacaukan-kesehatan-mental-ckhE

 

 

Aulia Fanny. 2018. 5 Cara Digital Detox, Biar Nggak Kecanduan Sosmed. Diunduh pada tanggal 4 Februari dari https://sehatmental.id/5-cara-digital-detox/

 

Billieux, J. (2012). Problematic use of the mobile phone: A literature review and a pathways model. Current Psychiatry Reviews, 8(4), 299–307. https://doi.org/10.2174/157340012803520522

 

 

Eastwood, John, Oxford Learner Dictionary. UK: Oxford University Press 2009

 

Essau, C. A. 2008. Adolescent Addiction :Epidemiology, Assesment and Treatment. New York : Elsevier Inc

 

Goleman, D. (2007). Social intelligence. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

 

Indah Rahmayani. 2015. Indonesia Raksasa Teknologi Digital Asia. Diunduh pada tanggal 4 Februari dari https://www.kominfo.go.id/content/detail/6095/indonesia-raksasa-teknologi-digital-asia/0/sorotan_media

 

Kavitha & Bhuvaneswari. (2016). Impact of Social Media on Millennials – A Conceptual Study Apeejay-Journal of Management Sciences and Technology.

 

Nathania Vrischika. 2017. Semakin Sering di Depan Gadget, Semakin Dekat dengan Depresi?. Diunduh pada tanggal 5 Februari dari https://sehatmental.id/Gadget-dan-depresi/

 

Reska Nistanto. 2016. Kebiasaan Orang Indonesia, Pelototi “Smartphone” 5,5 Jam Sehari.

Diunduh pada tanggal 4 Februari dari

http://tekno.kompas.com/read/2015/09/04/11301837/Kebiasaan.Orang.Indonesia.Pelototi.Sm

artphone.5.5.Jam.Sehari.

 

Webster, Merriam, Appl Copyright 2010-2016 Stanfy Corp, Version 2.0.

 

Yuliana Ratnasari. 2016. Survei: Ketergantungan pada Gadget Membuat Manusia Gelisah. Diunduh pada tanggal 5 Februari dari https://tirto.id/survei-ketergantungan-pada-Gadgetmembuat-manusia-gelisah-bUvX

 

Zahrah Nabilah. 2017. Media Sosial dan Kesehatan Mental: Yes or No?. Diunduh pada tanggal 5 Februari dari http://pijarpsikologi.org/media-sosial-terhadap-kesehatan-mental/

 

http://www.stikesindramayu.ac.id/read/273/menjaga-kesehatan-mental-dengan-Gadgetkita.html


Temu Ilmiah Nasional ILMPI 2018

 

Social Education Berbasis Kompetensi Masyarakat

Sebagai Upaya Menjaga Kesehatan Mental

Sirril Wafa

Fakultas Humaniora Universitas Teknologi Yogyakarta

 

 

 

  1. Pendahuluan

 

Kesehatan mental masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan yang signifikan di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Data dari World Health Organization menunjukkan bahwa sekitar 35 juta orang di dunia mengalami depresi, 60 juta orang mengalami bipolar, 21 juta mengalami skizofrenia, serta 47,5 juta orang mengalami dimensia.(WHO, 2016). Keragaman faktor biologis, psikologis, dan sosial di Indonesia menjadi salah satu resiko dari gangguan kesehatan mental yang terjadi. Secara tidak langsung, hal ini berdampak pada penanganan kesehatan negara secara finansial sekaligus penurunan produktivitas manusia dalam jangka waktu panjang.

Liputan Kompasiana (2011) menyebutkan bahwa dari keseluruhan populasi di Indonesia saat ini yang mencapai 150 juta jiwa, sekitar 11,6 persen atau 17,4 juta jiwa mengalami gangguan mental emosional atau gangguan kesehatan jiwa dikarenakan kecemasan maupun depresi. Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Dien Emawati juga menyatakan bahwa jumlah penderita gangguan jiwa ringan hingga triwulan kedua tahun 2011 mencapai 306.621 orang. Angka ini meningkat dari jumlah 159.029 orang pada tahun 2010. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah penderita gangguan jiwa di Jakarta mencapai angka 14,1 persen dimana angka tersebut melebihi jumlah penderita gangguan jiwa secara nasional yaitu 11,6 persen. Angka tersebut diperoleh dari survei kesehatan daerah tentang gangguan jiwa mental dan emosional oleh Kementerian Kesehatan.

 

  1. Latar Belakang

 

Tingginya angka gangguan jiwa yang dialami oleh penduduk di perkotaan terjadi karena faktor-faktor tertentu seperti kehidupan masyarakat kota yang mayoritas waktunya digunakan untuk bekerja atau di luar rumah. Rutinitas yang dilakukan para pengampu profesi ini akhirnya menciptakan individu yang kurang menghargai waktu untuk dirinya sendiri. Pola hidup seperti demikian berdampak pada minimnya proses interaksi antar-masyarakat lingkungan sekitar dan mengakibatkan kurangnya rasa saling memiliki maupun menghargai satu sama lain serta perlahan mengakibatkan rasa apatis dimana hal tersebut akan membentuk suatu kepribadian individualis pada penduduk perkotaan.

 

Beberapa contoh ungkapan fisik sebagai perwujudan perilaku individualis pada masyarakat kota yaitu:

  1. Pemasangan pagar halaman depan yang dibuat sangat tinggi dan masif, mencerminkan ketertutupan, kecurigaan, kehati-hatian dan kurangnya “welcome” terhadap tamu yang akan berkunjung.
  2. Perwujudan bentuk-bentuk bangunan yang tidak selaras dengan lingkungan, hanya karena untuk memenuhi ego pemilik supaya tidak disamakan atau tidak ingin sama dengan lingkungannya, dalam arti supaya dianggap lebih tinggi derajatnya dari lingkungan tersebut.
  3. Tulisan-tulisan atau tanda-tanda petunjuk yang mempunyai indikasi untuk menunjukkan bahwa sesuatu area adalah milik pribadi, bukan untuk masyarakat umum sehingga masyarakat umum tidak boleh masuk area tersebut, atau setidak-tidaknya enggan untuk memasuki mengingat risiko yang mungkin timbul.

 

Perilaku individualis selain diwujudkan dalam ungkapan fisik, juga banyak didapati pada sikap dan perilaku masyarakat kota. Hal ini bisa dilihat dari beberapa contoh:

  1. Kurang akrabnya antar tetangga pada suatu kompleks perumahan atau perkampungan, karena masing-masing orang telah sibuk dengan urusannya sendiri.
  2. Masing-masing tetangga merasa tidak perlu menyapa apabila bertemu di jalan, karena merasa tetangga tersebut adalah orang asing bagi orang tersebut. Kemungkinan lain dari kondisi tersebut adalah tidak terpikirkannya orang tersebut untuk menyapa, karena pikirannya memang sudah dipenuhi dengan berbagai kesibukan kerja hari itu.
  3. Kurangnya tenggang rasa dalam bersikap dan berbuat.

 

 

 

 

Dampak dari perilaku individualis scara teoritis telah menghambat hierarki kebutuhan dari Abraham Maslow berupa kebutuhan sosial dan kasih sayang dan hal tersebut akan berimbas pada tidak dapat terpenuhinya kebutuhan akan harga diri dan aktualisasi diri scara sempurna bahkan dapat mempengaruhi kesehatan mental, individu akan merasa kesepian dan terisolir dari lingkungan pergaulan, disinilah titik dibutuhannya teman perhatian dari lingkungannya

Rutinitas kerja yang dilakukan tanpa diimbangi dengan pola hidup sehat, baik secara psikologis maupun fisik dapat berpotensi terjadinya stres kerja hingga berujung kematian Salah satu kasus stres keja yang mengakibatkan kematian dilansir dari Wartakota (2018) adalah seorang karyawati Bank BRI, Meritha Vridawati (26) yang ditemukan tewas di selokan air dekat Thamrin City, Jalan Boulevard, Kebon Melati, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (8/1/2018) pagi. Ia diduga tewas setelah terjun bebas dari area parkiran di lantai 10 sebuah gedung. Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Roma Hutajulu menyatakan bahwa korban diduga mengakhiri hidupnya lantaran stres akibat tekanan pekerjaan. Pemberitaan terkait dengan kematian juga terjadi pada Joseph Thomas yang dilansir dari CNN Indonesia

 

(2017). Pria tersebut yang menjabat sebagai engineer software di Uber inc dan baru saja bekerja di perusahaan tersebut kurang lebih selama lima bulan, melakukan bunuh diri diduga stress karena beban kerja yang sangat berat . Kasus-kasus ini menunjukkan bahwa tekanan yang terjadi pada rutinitas sehari-hari merupakan ancaman yang fatal pada kehidupan seseorang.

Fakta yang terjadi di lingkungan masyarakat modern saat ini sudah terbalik, dimana masyarakat cenderung memperhatikan kesehatan fisik dibandingkan kesehatan jiwa (mental) itu sendiri. Pencanangan lingkungan masyarakat yang sehat secara fisik membuat kepentingan kesehatan psikogis manusia menjadi tersingkirkan.

Kondisi lingkungan saat ini memberikan ancaman bukan hanya faktor fisik akan tetapi juga yang lebih rentan, yaitu faktor mental emosional. Kondisi kota besar yang diwarnai kemacetan, polusi udara, kebisingan, dan ruang hidup yang makin menyempit memberikan tekanan luar biasa sehingga kondisi mental emosional senantiasa bergejolak. Selain itu, kondisi ruang lingkup sosial yang penuh dengan kompetisi secara tidak langsung membentuk masyarakat menjadi seseorang yang materialism dan individualisme, kemerosotan akhlak, moral atau etika pada setiap individu di masyarakat menyebabkan iklim sosial yang kurang sehat dan tidak kondusif sehingga gangguan mental lebih rentan terjadi

Salah satu solusi dalam menghadapi situasi dimana masyarakat mengalami gangguan mental adalah dengan adanya pelayanan terhadap pasien tersebut secara medis. Meskipun demikian, tidak semua daerah di Indonesia memiliki pelayanan medis terhadap gangguan kesehatan jiwa. Diah Setia Utami sebagai Direktur Bina Kesehatan Jiwa Kemenkes menyatakan bahwa saat ini hanya ada 26 Rumah Sakit Jiwa di Indonesia dan masih ada delapan provinsi di Indonesia yang tidak memiliki Rumah Sakit Jiwa, yakni Kepulauan Riau, Banten, Sulawesi Barat, Maluku Utara, Gorontalo, NTT, Papua Barat, Kalimantan Utara. Sedangkan daerah yang belum memiliki tenaga psikiater adalah Gorontalo, Papua Barat,

 

Sulawesi Barat, Maluku Utara, dan Kalimantan Utara. Hal ini dapat menjadi satu evaluasi bahwa perlindungan masyarakat terhadap gangguan jiwa di Indonesia belum sepenuhnya merata.

Kutipan dari istilah “lebih baik mencegah dari pada mengobati” Menunjukkan bahwa perlu adanya kesadaran sejak dini untuk menjaga kesehatan mental pada setiap diri individu. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kepekaan masyarakat terhadap gangguan mental serta meningkatkan kontribusi pada lingkungan sosial untuk mencegah terjadinya gangguan mental, baik di lingkungan kerja maupun lingkungan tempat tinggal.

 

  1. Dasar Teori

 

Kesehatan mental memiliki makna dimana sehat (health) secara umum dapat dipahami

 

sebagai kesejahteraan penuh (keadaan yang sempurna), baik secara fisik, mental, maupun sosial, tidak hanya terbebas dari penyakit atau keadaan lemah. UU Kesehatan No. 23/ 1992 juga menyatakan bahwa sehat adalah suatu keadaan sehat secara fisik, mental, dan sosial dimana memungkinkan setiap manusia untuk hidup produktif, baik secara sosial maupun ekonomis.

 

World Health Organization (WHO, 2001) menyatakan bahwa kesehatan mental merupakan kondisi dari kesejahteraan yang disadari individu, yang di dalamnya terdapat kemampuan-kemampuan untuk mengelola stres kehidupan yang wajar, untuk bekerja secara produktif dan menghasilkan, serta berperan serta di komunitasnya.

  1. Gagasan

 

Mengacu pada realitas sosial di masyarakat perkotaan mengenai kehidupan di tempat kerja maupun lingkungan tempat tinggal yang tidak sehat scara mental. Selain itu kualitas lingkungan kota besar yang diwarnai kemacetan, polusi udara, keadaan ruang hidup yang menyempit ikut andil dalam permasalahan yang dihadapi masyarakat kota. Sangat penting adanya suatu gerakan yang diinisiasi oleh masyarakat sebagai bentuk kepedulian terhadap

 

kesehatan mental manusia itu sendiri, berupa kegiatan Public Space yang merupakan suatu wadah yang dapat menampung aktivitas tertentu dari masyarakat, baik secara individu maupun kelompok (Rustam Hakim 1987). yang implikasinya pada hubungan yang saling membutuhkan dan menghargai.

 

Penyelesaian permasalahan terkait dengan kesehatan mental di perkotaan seperti dipaparkan di atas membutuhkan adanya pengamatan mengenai (1). Kebutuhan individu maupun masyarakat lingkungan tersebut, yang selanjutnya menggunakan teori dari Abraham Maslow serta (2). Potensi sumber daya manusia yang ada dalam tiap-tiap individu tersebut.

Secara teoritis, Abraham Maslow telah menyusun kebutuhan manusia dalam lima tingkatan yang akan dicapai menurut tingkat kepentingannya sebagai berikut:

  1. Kebutuhan fisiologis (Pysiological Needs) berupa sandang pangan dan papan.

 

  1. Kebutuhan keamanan (Safety Needs), yakni kebutuhan tingkat kedua yang harus dipenuhi setelah kebutuhan tingkat pertama dipenuhi dan dipuaskan. Kebutuhan keamanan berupa kestabilan, perlindungan, serta bebas dari rasa takut dan ancaman.
  2. Kebutuhan sosial (social and belongingness Needs). Setelah kebutuhan sebelumnya tercapai, maka timbullah kebutuhan akan sosial dan kasih sayang, yaitu kebutuhan untuk berhubungan dengan orang lain, berinteraksi, saling mengenal dengan lingkungan sosialnya.
  3. Kebutuhan Harga Diri (Self Esteem Needs), yakni kebutuhan tingkat tinggi berupa kebutuhan akan harga diri. Pemuasan kebutuhan terhadap harga diri akan membawa pada keyakinan diri, kekuatan, dan berdampak pada kesehatan mental.
  4. Kebutuhan aktualisasi diri (Self Actualization Needs), kebutuhan aktualisasi diri atau perwujudan diri yang merupakan kebutuhan tingkat kelima yang paling tinggi. Kebutuhan ini ada setelah empat kebutuhan sebelumnya dicapai secara memuaskan. Pada dasarnya, kebutuhan ini bertujuan untuk membuat seluruh potensi yang ada dalam

 

diri seseorang sebagai sesuatu wujud nyata, yaitu dalam bentuk usaha aktualisasi diri. (Sutarto Wijono, 2015: 28-31.)

Fenomena masyarakat perkotaan di zaman modern saat ini menjadi terbalik ketika kebutuhan fisiologis seperti gaji dan kebutuhan lainnya tercapai, namun tidak diimbangi dengan kebutuhan psikologis. Tekanan yang dialami dari rutinitias, beban pekerjaan dan kurangnya interaksi lingkungan belum menciptakan rasa aman dan segala aspek kebutuhan psikologis yang dibutuhkan oleh seorang individu.

Oleh karena itu, dalam menghadapi situasi penuh tekanan tersebut, setiap individu perlu untuk mengembangkan potensinya masing-masing baik secara alamiah maupun berlatih dari lingkungannya. Potensi yang dimiliki oleh seorang individu tentunya dapat ditularkan kepada orang lain terutama di dalam lingkup masyarakat tempat ia tinggal.

Pada titik inilah dibutuhkan suatu program dengan berlandaskan permasalahan masyarakat yang sedang dihadapi. Proses yang dilakukan dengan melihat pada kebutuhan dari permasalahan menjadi sebuah evaluasi bagi individu itu sendiri untuk mengembangkan potensi yang ada pada diri.

Contoh yang dapat digambarkan terkait dengan program tersebut terjadi di Daerah Istimewa Yogyakarta dengan jumlah keseluruhan 128 Perguruan Tinggi, terdiri Universitas Negeri =4, Universitas Swasta =17, Institusi Negeri=1, Institusi Swasta= 5, Sekolah Tinggi Negeri/Kedinasan= 4, Sekolah Tinggi Swasta=44, Akademi Negeri/Kedinasan=2, Akademi Swasta=43, Politeknik Negeri=1, Politeknik Swasta=1, dan 1 Universitas Terbuka (Direktori Perguruan Tinggi Yogyakarta, 2016: V-Vi). Tak heran bila Yogyakarta menjadi provinsi dengan jumlah perguruan tinggi terbanyak di Indonesia serta dijuluki Kota Pelajar.

Sumber daya manusia yang memiliki latar belakang akademisi dari berbagai macam disiplin ilmu serta kompetensi lainnya seperti dokter, pedagang, pengusaha dan lain sebagainya, menjadikan Yogyakarta sebuah lokasi yang tepat untuk mengembangkan potensi

 

sumber daya manusia, penulis memberikan tawaran atas permasalahan di atas dengan adanya kegiatan (social education) bagi anggota masyarakat kota, acara rutin dari berbagai lintas agama, suku, ras maupun antar golongan yang diselenggarakan setiap sebulan sekali di hari libur kerja dengan diinisiasi oleh masyarakat dalam cakupan ruang lingkup Rukun Tetangga (RT). Dengan isi kajian didalamnya berupa sharing bersama mengenai lintas kompetensi yang dimiliki tiap individu dalam rangka mengedukasi masyarakat lain mengenai suatu disiplin ilmu yang sebelumnya belum mereka ketahui.

Sebagai contoh, individu yang berprofesi sebagai psikolog dapat memberi edukasi terhadap pola asuh perkembangan anak yang baik dan benar kepada orangtua dari kalangan pengusaha, dokter maupun pedagang, dan sebaliknya individu yang kompetensinya di bidang perdagangan, katakanlah kain, dapat menyalurkan pengetahuannya tentang jenis kain yang baik dan bagus serta murah ke masyarakat lainnya dan juga dapat berupa sharing mengenai pekerjaan berupa kendala kerja permasalahan di tempat kerja dengan tujuan mengomunikasikan suatu permasalahan yang dihadapi individu dengan lingkungan terdekat.

 

Acara pendidikan sosial (social education) bagi anggota masyarakat kota sebagai stimulus agar terbentuknya interaksi sosial. Hal tersebut didukung oleh faktor internal maupun eksternal terbentuknya interaksi sosial

 

  1. Faktor internal, dorongan untuk memenuhi kebutuhan

 

  1. Faktor internal, dorongan untuk berkomunikasi

 

  1. Faktor internal, dorongan untuk mempertahankan kehidupan

 

  1. Faktor eksternal, dorongan motivasi dari lingkungan luar

 

  1. Factor eksternal, simpati berupa ketertarikan terhadap suatu individu atau kemolpok karena sikap, penampilan, wibawa atau perbuatan yang sedemkian rupa.

(Soerjono Soekanto, 2015: 54-56.)

 

  1. Penutup

 

Dalam progam ini sekaligus menjawab tentang permasalahan yang dihadapi masyarakat perkotaan mengenai potensi stres yang dihadapi, pemenuhan kebutuhan masyarakat perkotaan berupa kebutuhan akan bersosial dengan lingkungannya, serta bagaimana menjawab kedua hal tersebut dengan mengolaborasikan kompetensi yang ada dalam diri setiap individu dengan progam social education bagi anggota masyarakat kota diyakini akan menciptakan manusia yang mampu memanusiakan manusia dengan menebar kebaikan, menyampaikan ilmu ke orang lain seperti bunyi hadis Ballighu’anni walau aayah, sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat, guna terwujudnya kesehatan mental di berbagai lapisan masyarakat dengan terwujudnya Indonesia tersenyum dengan psikologi.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Arifin, Bambang Syamsul. 2015. Psikologi Sosial. Bandung: Pustaka Setia

 

Boeree, George. 2016. Personality Theories. Yogyakarta: Prismasophie

 

Dinas  Pendidikan,  Pemuda  dan  Olahraga.  2016.  Direktori   Perguruan   Tinggi Yogyakarta2016. Yogyakarta: Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Soemardjito, 1999. Permasalahan Perkotaan dan Kecenderungan Perilaku Individualis

Penduduknya. Yogyakarta: Jurnal FPTK IKIP Yogyakarta. Vol 5

 

Wijono, Sutarto. 2015. Psikologi Industri dan Organisasi. Jakarta: Prenadamedia Group CNN Indonesia. (2017, 27 April). Diduga Stres Bekerja, Karyawan Uber Bunuh Diri.

 

Diperoleh. 30 Januari 2018. https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20170427105021-185-210498/diduga-stres-bekerja-karyawan-uber-bunuh-diri

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2016, 06 Oktober). Peran Keluarga Dukung

 

Kesehatan Jiwa Masyarakat. Diperoleh 01 Februari 2018. http://www.depkes.go.id/article/print/16100700005/peran-keluarga-dukung-kesehatan-jiwa-masyarakat.html

Kompasiana. (2011, 24 Oktober). 17,4 Juta Orang Alami Stres Depresi. Diperoleh 28 Januari

 

  1. https://www.kompasiana.com/atep_afia/17-4-juta-orang-alami-stres-dan-depresi_5508e6a2a333112a452e39af

Warta Kota Jakarta. (2018, 8 Januari). Diduga Stres Bekerja, Karyawati BRI Bunuh Diri. Diperoleh 28 Januari 2018. http://wartakota.tribunnews.com/2018/01/08/diduga-stresbekerja-karyawati-bri-bunuh-diri


Temu Ilmiah NAsional ILMPI 2018

APPRECIATIVE INQUIRY : STRATEGI UNTUK MENINGKATKAN WELL-BEING DAN PENGEMBANGAN DIRI KARYAWAN DI TEMPAT KERJA

Oleh : Muhammad Kadafi & Andi Rezqi Safitri

Prodi Psikologi

Fakultas Kedokteran

Universitas Hasanuddin

 

 

 

LATAR BELAKANG

 

 

Pada era sekarang ini, bekerja merupakan salah satu kebutuhan yang dimiliki setiap individu. Rata-rata setiap orang menghabiskan waktu selama 8 jam per hari untuk bekerja. Umumnya kita sudah mulai bekerja pada usia 25 tahun sampai memasuki usia pensiun yaitu pada usia 55 tahun. Selama 30 tahun tersebut kita menghabiskan 1/3 (satu per tiga) kehidupan kita di tempat kerja untuk bekerja. Oleh karenanya pemilihan pekerjaan dan kondisi tempat kerja kita sangat menentukan pertumbuhan dan perkembangan diri kita baik secara fisik, emosional dan kesehatan mental.

 

Namun belakangan ini, berbagai masalah banyak terjadi pada karyawan di tempat kerjanya. Sebagai bukti misalnya terdapat masalah work-family conflict dan kejenuhan (Wang, Chang, Fu, & Wang, 2012), tekanan kerja (Wang, Liu, Zou, Hao, & Wu, 2017), konflik kerja serta stress dalam lingkungan kerja yang dialami oleh karyawan (Avey, 2014). Beberapa hasil studi menunjukkan bahwa banyak karyawan yang tidak mencapai kebahagiaan dan kesehatan mental di tempat kerjanya serta cenderung mengalami hal-hal yang negatif. Kondisi tersebut sebagain besar disebabkan karena ketidakmampuan karyawan dalam menghadapi tuntutan pekerjaan yang dijalaninya. Akibatnya, baik secara langsung maupun tidak langsung hal tersebut selain memberikan dampak pada karyawan, juga memberikan kontribusi negatif pada perusahaan.

 

 

Data Badan Pusat Statistik (BPS) memprediksikan bahwa pada tahun 2025 hingga pada tahun 2035 Indonesia akan mengalami fenomena bonus demografi terbesar dimana sekitar 67,9% penduduk berada pada usia produktif bekerja (usia 15 – 64 tahun) (Badan Pusat Statistik, 2013). Sekitar 81 juta generasi millennial (lahir pada tahun 1980 – 1996) menjadi bagian dari fenomena ini. Salah satu hal yang menarik generasi ini adalah adanya karakteristik yang berbeda dari generasi-generasi sebelumnya.

 

Data yang disajikan oleh Gallup Inc. (2016), menunjukkan bahwa generasi ini memiliki sikap kerja yang berbeda dari generasi sebelumnya. Millennials bekerja tidak hanya untuk mendapatkan gaji, melainkan bekerja karena memiliki tujuan tertentu dan berfokus pada pengembangan diri. Hal yang sejalan ditunjukkan oleh survei yang dilakukan oleh LinkedIn kepada 26.151 orang yang tersebar di 40 negara didapatkan bahwa 37% responden memilih pekerjaan berdasarkan orientasi tujuan hidup mereka (purposed oriented) dibandingkan dengan uang (money oriented) atau status jabatan (status oriented) (LinkedIn, 2016). Sebanyak 73 % dari karyawan yang memilih purposed oriented lebih puas dengan pekerjaannya. Hal ini menujukkan bahwa pekerjaan yang dapat memberikan peluang untuk dapat mengembangkan dan mengaktualisasikan diri generasi millenial akan dianggap sebagai hal yang bermakna dan berarti bagi dirinya.

 

Hal ini juga didukung dengan data dari survei yang dilakukan oleh JobStreet.com terhadap 7 negara di Asia yaitu Filipina, Indonesia, Thailand, Hong Kong, Vietnam, Malaysia, dan Singapura dalam index kebahagiaan kerja karyawan tahun 2016 (Employee Job Happiness Index 2016) bahwa terdapat 3 penyebab utama kebahagiaan dalam kerja yaitu lokasi kantor yang sesuai, kolega kerja yang bagus, dan reputasi perusahaan. Sedangkan yang menyebabkan ketidakpuasan dalam kerja adalah pemberian rewards yang kurang, gaya kepemimpinan yang kurang sesuai, dan kurangnya kesempatan untuk meningkatkan karir dan pengembangan diri (JobStreet.com, 2016).

 

 

Dari keseluruhan data tersebut, dapat dilihat bahwa generasi millennial dalam memilih pekerjaan akan berorientasi pada hal yang dapat membantu mereka mengembangkan dirinya. Terjadinya perbedaaan sikap kerja yang dimiliki oleh millennial dengan generasi sebelumnya perlu untuk menjadi salah satu fokus perhatian perusahaan pada zaman sekarang dalam menangani karyawannya. Hal ini karena sikap kerja yang dimiliki oleh karyawan akan langsung berpengaruh pada well-being karyawan di tempat kerja. Terjadinya berbagai macam masalah di dalam lingkungan pekerjaan disebabkan karena perusahaan belum menyadari bahwa karakteristik dari karyawannya berbeda dengan generasi sebelumnya. Sehingga pendekatan yang selama ini digunakan oleh perusahaan menjadi kurang efektif untuk meningkatkan well-being karyawan serta potensi positif lainnya. Oleh karena itu, saat ini dunia kerja membutuhkan pendekatan baru yang lebih efektif dalam mengembangkan kesehatan mental dan potensi karyawan di tempat kerja.

 

PEMBAHASAN

 

 

Psikologi positif merupakan cabang ilmu psikologi yang mempelajari ilmu pengetahuan dan aplikasi yang berhubungan dengan studi tentang kekuatan psikologis (psychological strengths) dan emosi positif (Snyder dan Lopez, 2007). Cara pandang psikologi positif lebih menekankan pada bagaimana memanfaatkan kekuatan dan kelebihan daripada menitikberatkan pada kekurangan dan kelemahan individu (Seligman, 2002). Pendekatan berbasis psikologi positif dalam dunia kerja dikenal dengan pendekatan positive organizational behavior yang memiliki orientasi pada pengembangan kekuatan (strength) & sumber daya manusia serta pengembangan kapasitas psikologis yang dapat diukur, terbuka untuk dikembangkan dan efektif untuk mengelola peningkatan kinerja di dalam lingkungan kerja saat ini (Luthans, 2002).

 

 

Salah satu strategi untuk meningkatkan kesehatan mental dan potensi positif pada karyawan di lingkungan kerja berdasarkan pendekatan positive organizational behavior yaitu menggunakan metode appreciative inquiry. Metode appreciative inquiry merupakan strategi inovasi sosial yang digunakan untuk melihat potensi dan peluang-peluang positif yang dapat dikembangkan dalam rangka untuk mengubah sistem sosial kearah yang lebih positif (Bushe, 2011). Penerapan appreciative inquiry dalam konteks lingkungan pekerjaan kerap kali digunakan untuk meningkatkan pengembangan diri karyawan dan organisasi.

 

Penelitian Verleysen, Lambrechts, & Van Acker (2015) telah membuktikan bahwa penerapan appreciative inquiry dalam lingkungan kerja dapat meningkatkan modal psikologis (psychological capital) karyawan di tempat kerja. Psychological capital yang dimiliki karyawan menurut Avey, Luthans, Smith, & Palmer (2010) berkorelasi positif terhadap peningkatan kesehatan mental (well-being), kepuasan kerja(Idris & Manganaro, 2017), job performance (Avey et al., 2011), work engagement (Chen, 2015), employee engagement (Levene, 2015), dan inovasi (Ziyae, Mobaraki, & Saeediyoun, 2015). Selain itu, peningkatan modal psikologis juga akan berdampak pada hedonic dan eudaimonic well-being atau kesejahteraan psikologis karyawan di dalam dunia kerja (Avey et al., 2011; Culbertson, Fullagar, & Mills, 2010). Berbagai fakta-fakta tersebut menunjukkan bahwa appreciative inquiry dapat menjadi strategi yang dapat diandalkan dalam rangka pengembangan sumber daya manusia melalui peningkatan modal psikologis (psychological capital) individu di lingkungan kerja.

 

Terdapat empat tahap penajaman yang saling berkaitan satu sama lain dalam menerapkan appreciative inquiry yang disingkat dengan 4D (Discovery, dream, design, & delivery/destiny). Tahap pertama yaitu discovery yaitu ketika karyawan diminta untuk merefleksikan dan mendiskusikan mengenai topik yang ingin dikembangkan dengan menggunakan pertanyaan terbuka (inquiry). Tahap ini mirip seperti kita melakukan

 

 

brainstorming ide yang mengarah pada pengembangan dengan penajaman topik yang bersifat affirmative topic dibandingkan deficit topic. Terkadang ketika kita membahas tentang suatu hal yang ingin kita capai, kita cenderung terjebak pada negativity bias yang menyebabkan kita hanya memikirkan apa yang membuat kita terhambat mencapai apa yang kita ingin raih. Hal-hal yang berkaitan dengan faktor penghambat tersebut termasuk deficit topic. Berbeda dengan Affirmative topic, yang justru lebih berfokus membahas faktor-faktor penentu keberhasilan dan pengembangan organisasi (Bushe, 2011). Sebagai contoh misalnya, hal yang ingin dikembangkan oleh suatu perusahaan adalah mencapai well-being. Dibandingkan dengan memikirkan apa yang menghambat karyawan mencapai well-being, metode appreciative inquiry berfokus pada affirmative topic yang merefleksikan dan mengidentifikasi bagaimana suatu perusahaan dapat menjaga dan meningkatkan well-being karyawannya lalu mengenali faktor yang memengaruhi keberhasilan tersebut.

 

Tahap kedua yaitu tahap dreams. Setelah pada tahap discovery kita telah mengidentifikasi faktor yang meningkatkan well-being karyawan, contohnya misalnya komunikasi yang efektif antar sesama karyawan. Selanjutnya karyawan diminta untuk membayangkan masa depan perusahaan jika faktor keberhasilan tersebut (komunikasi efektif) dilakukan secara konsisten. Sehingga pada kondisi tersebut karyawan dapat membayangkan perusahaannya pada kondisi terbaiknya.

 

Selanjutnya pada tahap design yaitu tahap dimana karyawan diminta untuk memikirkan dan merancang langkah konkret yang dapat dilakukan untuk mencapai faktor keberhasilannya (komunkasi efektif). Misalnya komunikasi efektif dapat dicapai dengan menerapkan sistem rapat rutin setiap minggu antar divisi, coffee break setiap pagi hari, dan memberikan feedback hasil kinerja karyawan. Inti dari tahap ini adalah mengeksplorasi proses-proses atau perubahan yang menjadi pilihan langkah untuk dilakukan dalam mewujudkan dreams (impian) tersebut menjadi kenyataan.

 

 

Tahap terakhir adalah tahap delivery yaitu memfokuskan pada langkah pengimplementasian yang ingin dieksekusi agar apa yang telah dirancang di tahap design dapat dilaksanakan (Bushe, 2011). Misalnya dalam perusahaan tersebut memilih langkah yang dilakukan dengan melakukan coffee break setiap pagi hari. Langkah yang dapat dilakukan perusahaan yaitu dengan menyediakan kopi pada pukul 08.00 pagi di ruang khusus yang dapat digunakan oleh karyawan untuk bercengkrama dan saling berbagi ide sambil menikmati secangkir kopi di pagi hari selama 15 menit. Sehingga dengan melakukan coffee break dapat menjadi sarana untuk meningkatkan komunikasi yang efektif antar sesama karyawan. Hasil dari strategi yang dirumuskan disetiap tahap tersebut akan memengaruhi peningkatan well-being dan munculnya potensi positif lainnya pada karyawan yang merupakan hal yang ingin dicapai oleh perusahaan. Oleh karena itu, appreciative inquiry merupakan strategi yang efektif untuk meningkatkan well-being dan pengembangan diri karyawan di tempat kerja.

 

KESIMPULAN

 

 

Perkembangan zaman telah menyebabkan adanya perubahan pada generasi millenial dibandingkan generasi sebelumnya. Oleh karena generasi millenial berbeda dari generasi sebelumnya sehingga perusahaan yang mempekerjakan generasi ini pada akhirnya dituntut memberikan pendekatan baru dalam mengelola karyawannya. Psikologi sebagai ilmu yang mempelajari tentang manusia telah melahirkan cabang psikologi positif yang penerapannya dalam konteks organisasi dan lingkungan pekerjaan menghasilkan pendekatan yang dinamakan positive organizational behavior. Salah satu strategi yang digunakan untuk mengelola karyawan dalam lingkungan kerja adalah dengan menggunakan metode appreciative inquiry. Berdasarkan studi ilmiah, appreciative inquiry telah terbukti mampu meningkatkan modal psikologis (psychological capital) karyawan di tempat kerja. Modal psikologis (psychological capital) tersebut berkorelasi positif terhadap peningkatan

 

 

kesejahteraan psikologis (well being) dan berbagai hal positif lainnya dalam dunia kerja. Oleh karena itu, untuk memberikan perubahan ke arah yang lebih positif baik pada kinerja perusahaan maupun pengembangan diri karyawan di tempat kerja dapat menggunakan strategi appreciative inquiry.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Avey, J. B. (2014). The Left Side of Psychological Capital: New Evidence on the Antecedents of PsyCap. Journal of Leadership & Organizational Studies, 21(2), 141– 149.

 

 

Avey, J. B., Luthans, F., Smith, R. M., & Palmer, N. F. (2010). Impact of positive psychological capital on employee well-being over time. Journal of Occupational Health Psychology, 15(1), 17–28.

 

Avey, J. B., Reichard, R. J., Luthans, F., & Mhatre, K. H. (2011). Meta-analysis of the impact of positive psychological capital on employee attitudes, behaviors, and performance. Human Resource Development Quarterly, 22(2), 127–152.

 

Badan Pusat Statistik. (2013). Proyeksi Penduduk Indonesia 2010 – 2035. Jakarta: Badan

 

Pusat Statistik.

 

Boamah, S., & Laschinger, H. (2014). Engaging new nurses : the role of psychological capital and workplace empowerment. Journal of Research in Nursing, 0(0), 1–13.

 

Bushe, G. R. (2011). Appreciative inquiry: Theory and critique. The Routledge Companion to Organizational Change, (2008), 87–103.

 

Chen, S.-L. (2015). The relationship of leader psychological capital and follower psychological capital, job engagement and job performance: a multilevel mediating perspective. The International Journal of Human Resource Management, 26(18), 2349– 2365.

 

 

Clifton, Jim, C. and C. (2016). How Millennials Want to Work and Live Purpose • Development • Coach • Ongoing Conversations • Strengths • Life THE SIX BIG CHANGES LEADERS HAVE TO MAKE. Gallup, 23.

 

Culbertson, S. S., Fullagar, C. J., & Mills, M. J. (2010). Feeling good and doing great: the relationship between psychological capital and well-being. Journal of Occupational Health Psychology, 15(4), 421–433.

 

Idris, A. M., & Manganaro, M. (2017). Relationships between psychological capital, job satisfaction, and organizational commitment in the Saudi oil and petrochemical industries. Journal of Human Behavior in the Social Environment, 0(0), 1–19.

 

Jobstreet.com. (2016). Employee Job Happiness Indeks 2016 : Strategies to Engage, Motivate

  • Retain Top Talent. SEEK Asia Signature Maket Research Series

 

Kwok, S. Y. C. L., Cheng, L., & Wong, D. F. K. (2014). Family Emotional Support, Positive Psychological Capital and Job Satisfaction Among Chinese White-Collar Workers. Journal of Happiness Studies, 561–582.

 

Levene, R. (2015). Positive Psychology At Work: Psychological Capital and Thriving as Pathways to Employee Engagement. Master of Applied Positive Psychology (MAPP) Capstone Projects. Retrieved from http://repository.upenn.edu/mapp_capstone/88

 

LinkedIn. (2016). Purpose At Work. Global Report : LinkedIn & Imperative.

 

Luthans, F. (2002). Positive organizational behavior: Developing and managing psychological strengths. Academy of Management Executive, 16(1), 57–72.

 

 

Luthans, F., Norman, S. M., Avolio, B. J., & Avey, J. B. (2008). The mediating role of psychological capital in the supportive organizational climate — employee performance relationship The Meaning of Positive Organizational Behavior, 238(August 2005), 219– 238.

 

Polatcı, S., & Asuman, A. (2014). Psychological Capital and Performance : The Mediating Role of Work Family Spillover and Psychological Well-Being. Business and Economics Research Journal, 5(1), 1–15.

 

Seligman, M. E. P. (2002). Positive psychology, positive prevention, and positive therapy.

Handbook of Positive Psychology, 3–9.

 

Seligman, M. E. P., & Csikszentmihalyi, M. (2000). Positive psychology: An introduction.

 

American Psychologist (Vol. 55).

 

Verleysen, B., Lambrechts, F., & Van Acker, F. (2015). Building Psychological Capital With Appreciative Inquiry : Investigating the Mediating Role of Basic Psychological Need Satisfaction. The Journal of Applied Behavioral Science, 51(1), 10–35.

 

Wang, X., Liu, L., Zou, F., Hao, J., & Wu, H. (2017). Associations of Occupational Stressors, Perceived Organizational Support, and Psychological Capital with Work Engagement among Chinese Female Nurses. BioMed Research International, 2017.

 

Wang, Y., Chang, Y., Fu, J., & Wang, L. (2012). Work-family conflict and burnout among Chinese female nurses: the mediating effect of psychological capital. BMC Public Health, 12(1), 915.

 

Youssef, C. M., & Luthans, F. (2007). Positive Organizational Behavior in the Workplace: The Impact of Hope, Optimism, and Resilience. Journal of Management, 33(5), 774– 800.

 

Ziyae, B., Mobaraki, M. H., & Saeediyoun, M. (2015). The Effect of Psychological Capital on Innovation in Information Technology. Journal of Global Entrepreneurship Research, 5(8), 2–12.

 


Open Pre-Order Jaket ILMPI

Jaket ILMPI merupakan almamater ILMPI yang berhak dimiliki oleh seluruh mahasiswa Psikologi yang institusinya telah tergabung menjadi anggota ILMPI. Jaket ILMPI hanya diproduksi oleh Badan Keuangan Nasional (Bankeunas) ILMPI dengan bahan dasar American Drill berwarna hitam. Standar desain Jaket ILMPI ditetapkan dalam Buku Pedoman Umum (BPU) ILMPI.


Bankeunas ILMPI periode 2018/2019 membuka pre-order Jaket ILMPI tertanggal 22 Juni – 6 Juli 2018.

 

Pemesanan dapat dilakukan dengan mengirimkan format:

Nama:

Ukuran Jaket:

Nama Universitas:

Alamat lengkap:

Nomor telpon:

Dikirimkan pada kontak sesuai dengan domisili pemesan:

Wilayah I (Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan dan Lampung): Mutiara Ramadhani – 082385418551

Wilayah II (DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat: M. Adhi – 0822295186562

Wilayah III (Jawa Tengah dan Kalimantan): Friska Ulfalia F. – 089508768766

Wilayah IV (DI Yogyakarta): Diastuti Umi Anggraini – 082218778017

Wilayah V (Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara): Ria Arni – 085337220306

Wilayah VI (Sulawesi, Maluku dan Papua): Andi Nurul Fatimah Madjid – 085394464959

Wilayah VII (Aceh dan Sumatera Utara): Ayunis Winstya – 082219078165

 

Pembayaran dilakukan melalui transfer bank an. Multazam Al Akbar

BCA 1290582683
BRI 345601028347531