Temu Ilmiah Nasional ILMPI 2018

Taman Kota, Taman Bahagia

Wahyu Gita Cahyani, Baiq Nur Fatimah, dan Rizki Mulyadin

Jurusan Psikologi, Fakultas Psikologi, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

 

Remaja merupakan masa peralihan individu dari anak-anak menuju dewasa. Masa remaja biasanya dimulai sekitar usia 11-18 tahun atau usia siswa sekolah menengah pertama hingga sekolah menengah atas. Masa-masa tersebut menjadi usia yang sangat krusial dalam mendidik anak. Sebab, mereka tidak lagi bisa dianggap sebagai anak-anak yang mudah diberi pola pengasuhan otoriter namun juga tidak bisa dianggap sebagai orang dewasa yang bisa diberikan kebebasan penuh untuk memilih segala sesuatu sesuai dengan keinginannya.

Remaja belum bisa memilih segala sesuatu dengan bebas karena memang perkembangan mereka khususnya dari segi sosial, emosional, kognitif, dan fisiknya belum mencapai kematangan yang sempurna. Mereka masih harus melewati tahapan-tahapan perkembangan di masa remaja dengan baik agar bisa menjadi manusia dewasa yang matang nantinya.

Para remaja sendiri akan mengalami banyak permasalahan dalam hidupnya karena memang tengah berada dalam masa transisi. Mereka akan mengalami pergolakan batin yang hebat. Apabila mereka mampu melewati tugas-tugas perkembangan dan perubahan dalam hidupnya dengan baik maka dikemudian hari kemungkinan besar mereka akan menjadi manusia dewasa yang matang. Namun akan tetapi, apabila mereka tidak mampu melakukan pertahanan dalam menghadapi segala permasalahan serta perubahan yang ada maka kemungkinan besar perilakunya akan berubah menjadi menyimpang dan bahkan melanggar hukum.

Segala permasalahan yang dialami remaja juga menjadikan mereka menjadi lebih rentan mengalami gangguan depresi. Gangguan depresi sendiri bisa menjangkiti semua kalangan, baik muda maupun tua sehingga bisa diibaratkan seperti penyakit influensa. Akan tetapi, gejala depresi sejatinya lebih rentan dialami oleh usia muda yakni antara 15-24 tahun. Hal tersebut seringkali dipicu oleh adanya konflik keluarga atau kurangnya dukungan dari keluarga serta teman sebayanya (Lia, 2015)

Selain itu, di masa remaja biasanya sudah mulai muncul sebuah egosentrisme sebagaimana teori yang dikatakan oleh David Elkind (1976). Dia mengatakan bahwa pola pikir remaja terbagi menjadi dua bagian yakni penonton khayalan (imaginary audience) dan dongeng pribadi (the personal fable). Penonton khayalan (imaginary audience) adalah sebuah keyakinan para remaja berupa perasaan selalu diperhatikan oleh orang lain. Mereka merasa bahwa seluruh orang berfokus untuk memperhatikan dirinya. Sehingga ketika ada sesuatu yang mereka anggap buruk sedang terjadi, misalnya mereka sedang memiliki jerawat di wajah, maka itu akan menjadi seperti sebuah bencana yang mengerikan. Sebab mereka sangat percaya bahwa seluruh orang sedang memperhatikan dirinya (Santrock, 2002).

Sedangkan dongeng pribadi (the personal fable) adalah sebuah kondisi ketika para remaja itu menganggap diri mereka sangat unik sehingga akan sangat sulit dimengerti oleh orang lain. Contohnya seperti ketika ada seorang gadis remaja yang patah hati, maka dia akan menganggap tidak ada seorang pun yang bisa mengalami perasaan sakit sesakit yang tengah dia rasakan. Sehingga sangat wajar bila kemudian mereka cenderung mendramatisir kejadian yang tidak diinginkannya tersebut (Santrock, 2002).

Menurut beberapa ahli perkembangan, egosentrisme remaja menjadikan mereka lebih ceroboh dan tidak berpikir panjang ketika memutuskan sesuatu. Itulah mengapa ketika remaja tengah dilanda banyak permasalahan maka sangat mudah bagi mereka untuk terjatuh ke lubang hitam seperti minum minuman berakohol, menggunakan obat-obatan terlarang, melakukan seks bebas, dan sebagainya (Santrock, 2002). Selain itu biasanya para remaja sudah mulai enggan untuk meminta pertolongan kepada para orang tua dan guru sebagaimana ketika menjadi anak-anak. Mereka merasa bisa menjalani serta menyelesaikan segala sesuatunya secara mandiri meskipun pada kenyataanya, mereka tidak mampu. Hal itulah yang menyebabkan kondisi mereka bisa jadi semakin memburuk.

Menurut data kriminalitas Mabes Polri dijelaskan bahwa selama tahun 2007, 3.145 remaja berusia 18 tahun atau kurang menjadi seorang pelaku kriminal. Sedangkan ketika tahun 2008, kriminalitas yang dilakukan remaja meningkat menjadi 3.280 orang dan pada tahun 2009 semakin meningkat lagi menjadi 4.123 remaja (BPS, 2010). Wilis (2012) menyatakan bahwa perilaku menyimpang yang dilakukan remaja seperti minum-minuman keras, menggunakan obat-obatan, dan sebagainya biasanya disebabkan oleh berbagai macam faktor. Salah satunya adalah karena kurangnya kasih sayang yang diberikan orang tua, kondisi perekonomian keluarga yang rendah, serta keluarga yang tidak harmonis (Siti&Towil, 2014). Sebagaimana yang kita ketahui, daerah perkotaan seringkali diidentikkan dengan kepadatan penduduk. Tak heran bila pernyataan tersebut diucapkan sebab dalam kurun waktu 2005-2030 diprediksi penduduk perkotaan akan meningkat sebesar 56%. Sedangkan untuk perkotaan di Indonesia sendiri diprediksi akan naik sebesar 74%. Hal tersebut dibuktikan pada tahun 2005, jumlah penduduk di daerah perkotaan Indonesia sudah mencapai 107,9 juta jiwa (Yunita, 2016).

Pertambahan penduduk di daerah perkotaan tidak diimbangi dengan bertambahnya luas wilayah. Sehingga beban berat pemerintah dalam persiapan pemberian fasilitas yang layak berupa fasilitas pendidikan, kesehatan, dan sebagainya pun akan semakin bertambah. Hal itu menyebabkan kondisi di perkotaan menjadi tidak seimbang. Sehingga kemungkinan besar bisa memunculkan kemiskinan, kriminalitas tinggi, dan sebagainya (Yunita, 2016). Padahal kita ketahui bersama bahwa salah satu faktor penyebab perilaku menyimpang pada remaja adalah karena rendahnya perekonomian keluarga. Bila ekonomi keluarga rendah dan remaja sudah terjerumus ke dalam lembah hitam maka masa depan mereka pun kemungkinan besar juga akan hancur.

Selain itu, masyarakat perkotaan juga diidentikkan dengan para orang tua yang memiliki kesibukan tinggi dalam bekerja. Tak mengherankan apabila hal tersebut terjadi karena memang persaingan kerja di perkotaan sangatlah tinggi. Dengan kondisi penduduk yang sangat padat dan terbatasnya lapangan pekerjaan, menjadikan mereka harus berjuang mati-matian untuk menghidupi dirinya sendiri dan keluarganya. Apalagi ditambah dengan sikap individualistik para masyarakatnya. Dikatakan individualistik sebab kita akan jarang sekali menemui masyarakat perkotaan yang masih mempertahankan budaya gotong royong, saling berbagi makanan dihari-hari besar, dan sebagainya sebagaimana yang dilakukan masyarkat perdesaan.

Sehingga tak mengherankan bila dengan kesibukan orang tua yang padat menjadikan waktu mereka bersama anak akan menjadi berkurang. Bila mengikuti jam kerja perkantoran, biasanya para orang tua akan pulang sekitar pukul 16.00-17.00 dan begitupun dengan anak mereka (bila sekolah anak mereka menerapkan sistem fullday school). Ketika sudah seharian bekerja, para orang tua biasanya akan merasa lelah dan memilih untuk beristirahat saja. Padahal hal tersebut kurang tepat untuk dilakukan karena pada dasarnya sesibuk apapun orang tua, mereka tetap memiliki kewajiban untuk memperhatikan anak-anaknya.

Tidak hanya orang tua, anak-anak pun juga lelah ketika harus belajar seharian di sekolah. Lalu mengapa para orang tua harus menggunakan alibi “saya lelah” untuk menghindari kewajiban mereka memberikan perhatian pada anak. Seharusnya, mereka mampu memberikan meluangkan waktu bersama dengan anak-anak mereka. Tidak perlu melakukan aktivitas-aktivitas yang berat, cukup yang ringan-ringan saja seperti saling berbaring bersama di kamar dan berbagi cerita. Bukankah itu juga menjadi hal yang menyenangkan dan menjadikan mental kita menjadi lebih sehat?

Selain itu, selain mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang cukup dari keluarga, sejatinya remaja juga membutuhkan ruang untuk mengaktualisasikan dirinya. Mereka butuh ruang untuk berkumpul dengan teman sebayanya dan melakukan hal-hal yang mereka sukai. Hal tersebut sejalan dengan teori Abraham Maslow terkait hierarki kebutuhan (hierarki of need). Bila remaja mampu mengaktualisasikan dirinya dengan baik maka besar kemungkinan mental mereka akan sehat sehingga tidak mudah terjerumus ke dalam pergaulan yang buruk.

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk memberikan media aktualisasi diri para remaja yakni salah satunya adalah konsep “Taman Kota, Taman Bahagia”. Sebagaimana yang kita ketahui biasanya tiap kota akan berusaha untuk membangun taman demi menjaga keseimbangan udara segar dan keindahan kota. Nah mulai sekarang, taman kota tidaklah cukup bila hanya digunakan sebagai tempat rekreasi saja melainkan juga bisa digunakan untuk mengembangkan bakat dan minat para remajanya. Contohnya seperti di Taman Merjosari Kota Malang, Jawa Timur. Di sana tidak hanya lokasi untuk berekreasi dengan duduk-duduk santai dan menikmati hijaunya rerumputan melainkan juga disediakan alat-alat olahraga ringan. Hal seperti itu tentunya bisa memfasilitasi para remaja yang hobi berolahraga dengan biaya yang murah.

Selain itu, di taman tersebut juga bisa digunakan sebagai tempat kumpulkan para remaja-remaja yang aktif di komunitas. Baik sekedar untuk bercengkrama maupun melakukan outbond ringan. Bahkan tidak hanya itu saja, para remaja yang suka belajar mendongeng juga bisa mempraktikkan hobinya dengan melakukan kegiatan mendongeng di sana karena biasanya anak-anak pun banyak yang berkunjung ke sana. Oleh karena itulah, sudah saatnya seluruh kota di Indonesia mulai membangun sebuah taman kota dengan konsep ‘Taman Kota, Taman Bahagia’. Sehingga taman tidak akan lagi hanya sekedar menjadi hiasan melainkan juga sebagai tempat melepas lelah dan penat setelah lelah beraktifitas serta tempat untuk saling berbagi kasih sayang dengan orang-orang tersayang. Jangan ragu membangun “Taman Kota, Taman Bahagia” karena semakin banyak masyarakat yang bahagia, maka tingkat kesehatan mental akan semakin meningkat. Salam bahagia!!

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Rahmawati, Lia, dkk. 2015. Hubungan Dukungan Keluarga dengan Tingkat Depresi Remaja di Lembaga Pemasyarakatan. JOM Vo. 2 No. 2

Santrock,  John  W.  2002.  Life  Span  Development: Perkembangan  Masa  Hidup.  Jakarta:Erlangga

Badan Pusat Statistik Jakarta 2010

Fatimah, Siti & Umuri, M. Towil. 2014. Faktor-faktor Penyebab Kenakalan Remaja di Desa Kemadang Kecamatan Tanjungsari Kabupaten Gunungkidul. Jurnal Citizenship. Vo. 4 No. 1

Pratiwi, Yunita Satya. 2016. Ekologi Daerah Urban (Perkotaan) dan Gangguan Kesehatan Jiwa. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes Vol VII No. 1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *