Temu Ilmiah Nasional ILMPI 2018

Sehat Jiwa dengan Omelin Pos (Optimisme di Lingkungan yang Positif)”

Zakia Nurul Fitriana dan Wahyuning Widiastuti Fakuktas Kedokteran Prodi Psikologi

Universitas Sebelas Maret

Tidak dapat dipungkiri bahwa petumbuhan dan perkembangan teknologi di zaman yang semakin modern seperti saat ini menjadikan persaingan dalam dunia kerja semakin ketat. Saat ini menteri ketenagakerjaan tengah menggagas beberapa langkah strategis untuk menghadapi persaingan ketat di dunia kerja. Menurut Menteri Ketenagakerjaan dalam laman liputan 6 pada tanggal 27 April tahun 2017, hal yang harus ditingkatkan adalah peningkatan akses dan mutu pelatihan kerja. Dengan situasi tersebut, banyak pekerja yang membekali diri dengan berbagai keahlian untuk dapat bersaing dengan yang lain.

Tak hanya persaingan dalam mencari pekerjaan, pekerja pun tak luput dari persaingan kerja. Para pekerja dapat menghabiskan waktunya di tempat kerja, bahkan sampai lembur untuk dapat memenuhi tujuan dalam pekerjaannya. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang didapatkan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia tahun 2013 menunjukkan 15% sampai 30% penduduk Indonesia mengalami gangguan kejiwaan, seperti gangguan kecemasan dan depresi berat. Terkadang sebuah perusahaan tidak sadar akan tuntutan pekerjaan yang terlalu berat dapat menjadi beban yang besar bagi para karyawan. Beban kerja karyawan di tempat kerja menjadi salah satu penyebab gangguan jiwa yang sering terabaikan. Selain itu, belum adanya data akurat mengenai berbagai gangguan kejiwaan yang terjadi di tempat kerja dan bahkan alokasi dana terkait peningkatan kesehatan jiwa karyawan pun masih sangat jarang. Padahal dampak yang ditimbulkan sangatlah besar bagi perusahaan yang bersangkutan.

Para karyawan merupakan pihak yang tidak dapat terhindar dari tekanan yang besar untuk memenuhi tuntutan kehidupan di lingkungan kerja. Tekanan psikososial dari mulai persaingan antar rekan kerja, tuntutan kebutuhan, dinamika remunerasi, jam kerja yang lama, dan masih banyak hal lain menjadi kontributor penyebab stress di lingkungan kerja. Selain itu, perubahan sistem organisasi dan restrukturisasi yang dialami oleh pekerja saat ini menyebabkan kurangnya kesempatan kerja dan meningkatnya pekerja tidak tetap, sehingga semakin besar ketakutan untuk kehilangan pekerjaan, PHK besar-besaran, pengangguran serta stabilitas keuangan yang menurun. Hal ini tentu saja menyebabkan konsekuensi serius terhadap kesehatan dan kesejahteraan mental mereka.

erdapat beberapa solusi yang dibagi menjadi 2 macam, yaitu solusi untuk individu itu sendiri dan dalam lingkungan pekerjaan. Hal yang pertama diperhatikan adalah melalui diri dalam individu tersebut. Dengan adanya individual differences, setiap masing-masing individu mempunyai sifat dan cara mereka masing-masing terhadap suatu situasi. Setiap orang harus meningkatkan kesejahteraan psikologis sesuai dengan keunikan mereka masing-masing agar dapat produktif pada pekerjaannya.

Aspek-aspek kesejahteraan psikologis yang dikemukakan oleh Ryff (Wulandari&Widyastuti, 2014) yaitu penerimaan diri, hubungan positif dengan orang lain,kemandirian, penguasaan lingkungan, tujuan hidup dan pengembangan pribadi. Berdasarkan analisis (Wulandari&Widyastuti, 2014), faktor utama yang dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis dan membuat individu bahagia di tempat kerja adalah hubungan positif dengan orang lain. Kemudian disusul oleh prestasi,lingkungan kerja fisik, kompensasi, dan kesehatan. Hubungan kerja yang positif dengan orang lain diperlukan timbal balik yang positif juga. Oleh karena itu, sulit bagi individu untuk berhubungan positif dengan orang lain jika individu tersebut tidak banyak berinteraksi dengan orang lain dan tertutup.

Ternyata terdapat juga hal yang dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis dalam diri individu itu sendiri yaitu optimisme. Selain itu, berdasarkan sejumlah penelitian terkini, sejumlah strategi untuk mendorong well-being diajukan oleh Reivich yakni Optimisme, Kesadaran Emosional, Penetapan Tujuan/Harapan, Resiliensi, dan Pemberdayaan. Kepustakaan Psikologi Industri/Organisasi mencatat hubungan yang signifikan antara wellbeing dengan kinerja/unjuk kerja (Hutapea & Budiarto, 2016). Optimisme memiliki peran langsung pada kesejahteraan psikologis seseorang, yaitu semakin tinggi optimisme seseorang maka akan semakin tinggi pula kesejahteraan psikologisnya (Harapan, 2015).

Menurut Taylor (Harapan, 2015), individu yang optimis akan menunjukkan peningkatan immunokompetensi dalam merespon stress, sedangkan individu yang pesimis akan menunjukkan penurunan. Individu yang optimis akan lebih aktif dan menerapkan strategi coping yang terpusat pada masalah terhadap permasalahan yang dialami. Selain itu, juga memberikan sumber kekuatan tersendiri bagi individu ketika ia sedang mengalami kegagalan atau suatu kondisi yang tidak diinginkan, dimana ia akan menganggap kegagalan sebagai suatu pelajaran untuk kedepan dan ketika menghadapi situasi yang tidak diinginkan merupakan suatu tantangan dan pengalaman baru yang juga digunakan sebagai pelajaran.

Seseorang yang optimis akan mencari hal positif untuk mendukung dirinya seperti mencari dukungan dari orang terdekat ketika mereka tidak bisa memotivasi diri sendiri. Serupa dengan pernyataan Chang (Harapan, 2015) bahwa individu yang optimis cenderung menyelesaikan masalah berdasarkan problem yang ada, mencari dukungan sosial dan menekankan pada aspek pikiran positif pada saat menghadapi situasi sulit. Rasa optimis juga erat kaitannya dengan berpikir positif. Jika seseorang mempunyai pemikiran yang optimis maka secara otomatis ia akan cenderung berpikir positif terhadap segala hal.

Namun, tidak semua orang dapat memandang optimis dan berpikir positif dalam segala hal. Oleh karena itu perlunya organisasi/perusahaan/lembaga swadaya masyarakat dan tempat dimana individu bekerja memberikan pelatihan untuk para pekerja. Pelatihan dapat diadakan pada masa training pekerja sebagai persyaratan untuk bekerja di tempat tersebut. Pelatihan tersebut dapat menggunakan kombinasi dari beberapa metode yaitu curah gagasan, presentasi, bermain peran, dan lain-lain (Kholidah, 2012). Serupa dengan penelitian Singh dan Garg (2014) tentang peran signifikan Psycamp terhadap well-being guru di India (Hutapea & Budiarto, 2016). Desain pelatihan yang biasa digunakan adalah pre-test dan post-test, dimana post-test dilakukan setelah adanya sesi training untuk meningkatkan optimisme individu yang diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis individu di tempat kerja. Selanjutnya adalah hal yang dapat diperhatikan dalam lingkungan pekerjaan, yaitu upaya pemeliharaan kesehatan, optimalisasi dalam pelaksanaan kebijakan, kontribusi psikologi dalam lingkungan kerja.

Upaya Pemeliharaan Kesehatan Jiwa

Upaya pemeliharaan kesehatan jiwa untuk karyawan di lingkungan kerja harus dilakukan baik dalam hal promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2014 Tentang Kesehatan jiwa Pasal 4 pun telah dijelaskan mengenai keempat upaya tersebut.

Upaya promotif dapat dilaksanakan di lingkungan keluarga, lembaga pendidikan, tempat kerja, masyarakat, fasilitas pelayanan kesehatan, media massa, lembaga keagamaan dan tempat ibadah, lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan. Upaya promotif di lingkungan keluarga berupa pemberian pola asuh dan komunikasi yang baik. Begitu pula di lingkungan kerja dan masyarakat dilaksanakan dalam bentuk komunikasi, informasi, dan edukasi mengenai kesehatan jiwa, serta menciptakan tempat kerja yang kondusif. Sedangkan lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan dilaksanakan dalam bentuk peningkatan pengetahuan dan pemahaman warga binaan pemasyarakatan tentang kesehatan jiwa, pelatihan kemampuan adaptasi dalam masyarakat, dan menciptakan suasana kehidupan yang kondusif.

Upaya preventif dapat dilaksanakan di lingkungan keluarga, lembaga dan masyarakat. Melalui keluarga dilaksanakan dalam bentuk pengembangan pola asuh yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan jiwa. Sedangkan, di lingkungan lembaga dan masyarakat dilaksanakan dengan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan kesehatan jiwa, memberikan komunikasi, informasi, dan edukasi mengenai pencegahan gangguan jiwa dan menyediakan dukungan psikososial dan konseling bagi masyarakat yang membutuhkan.

Upaya kuratif ditujukan untuk penyembuhan/pemulihan, pengurangan penderitaan, pengendalian disabilitas dan gejala penyakit. Proses penegakan diagnosis terhadap orang yang diduga ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) dilakukan untuk menentukan kondisi kejiwaan dan tindak lanjut penatalaksanaan berdasarkan kriteria diagnostik oleh dokter umum, psikolog atau dokter spesialis kedokteran jiwa.

Optimalisasi dalam Pelaksanaan Kebijakan

Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) merupakan perpanjangan tangan dari perusahaan yang menjembatani apabila ada kepentingan karyawan untuk berkomunikasi dengan perusahaan. SPSI memberikan pemahaman mengenai hak dan kewajiban pekerja, baik itu mengenai perjanjian kerja, asuransi, maupun aspirasi mengenai permasalahan yang dihadapi oleh pekerja. Oleh karenanya, perlu optimalisasi mengenai perwujudan peran serikat tersebut untuk membantu pekerja supaya memiliki pengetahuan dengan hubungan industrialnya. Selain itu, SPSI diharapkan terampil dalam menafsirkan dan mengimplementasikan UU/kebijakan yang berkaitan dengan kesejahteraan pekerja. Serta diperlukan juga sinergi dengan sektor pemerintah dan peran perusahaan dalam

mengimplementasikan kebijakan tersebut. Disebutkan pula dalam WFMH (2017) mengenai data sebanyak 43% pimpinan perusahaan yang menghendaki adanya kebijakan yang mendukung terkait pekerja yang mengalami gangguan jiwa. Kebutuhan inilah yang mendesak untuk diupayakan supaya perusahaan pun dapat secara optimal memfasilitasi kualitas kesejahteraan psikologis pekerja, yang juga akan berdampak pula bagi produktivitas dan profit untuk perusahaan.

Kontribusi Psikologi dalam Lingkungan Kerja

Hal ini dapat dijadikan rekomendasi supaya perusahaan menggunakan kompetensi lulusan psikologi untuk menangani hal-hal yang berkaitan dengan kesejahteraan dan kesehatan karyawan di lingkungan kerja, terutama untuk bergerak di bidang Human Capital,Human Resource, maupun personalia. Sangat penting untuk memberikan upaya promotif berupa edukasi mengenai kesehatan jiwa baik untuk karyawan maupun pimpinan kerja. Apabila karyawan menunjukkan gejala dalam masalah kejiwaannya, mereka dapat memutuskan untuk meminta bantuan psikolog yang disediakan oleh perusahaan. Bagi pimpinan perusahan dimaksudkan bahwa walaupun kerja dalam perusahaan menuntut untuk terus ‘running’ dan menghasilkan serta tentunya memperhatikan kesehatan jiwa karyawannya agar memungkinkannya untuk memberikan kebijakan yang dapat bermanfaat untuk pekerja dan perusahaan.

Rekreasi, senam bersama, kebutuhan akan cuti dan kesempatan istirahat, tentu menjadi upaya preventif yang baik untuk mencegah timbulnya masalah kejiwaan. Sebagai upaya kuratif, psikologi dapat memberikan Psychological First Aid (PFA) sebagai penanganan pertama pada masalah kejiwaan yang dialami karyawan, melalui pelatihan manajemen stress atau pelatihan lain yang berdampak positif pada kondisi kejiwaan, layanan psikologis seperti konseling baik individu maupun kelompok apabila terjadi masalah kejiwaan seperti depresi ringan.

Dalam meningkatkan kesejahteraan para pekerja dapat dimulai dari diri sendiri dan dalam lingkungan kerja. Individu yang optimis secara langsung dapat meningkatkan kesejateraan psikologis para pekerja sehingga dapat meningkatkan produktivitas kerja dan mengurangi gangguan cemas dan stress yang dapat berakibat pada gangguan kejiwaan. Kemudian jika dalam lingkungan pekerjaan diharapakan tempat para pekerja lebih memperhatikan bagaimana upaya pemeliharaan kesehatan dalam bentuk promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Para pekerja juga harus bekerja sama satu dengan yang lain untuk dapat menerima hak-haknya dengan perserikatan agar menjembatani para pekerja dan pihak perusahaan dalam berkomunikasi. Kemudian diharapkan psikolog juga turut berperan dalam lingkungan.

 

REFEERENSI

Harapan, A. (2015). Peran Religiusitas dan Optimisme terhadap Kesejahteraan Psikologis pada Remaja. Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, 1-18.

Hutapea, B., & Budiarto, Y. (2016). Aplikasi Psikologi Positif Untuk Meningkatkan Wellbeing Guru-guru Bruderan Purwokerto. Jurnal Pemberdayaan Masyarakat, 25-38.

Kholidah, E. N. (2012). Berpikir Positif untuk Menurunkan Stres Psikologis. Jurnal Psikologi, 67-75.

Tanujaya, W. (2014). Hubungan Kepuasan Kerja Dengan Kesejahteraan Psikologis (Psychological Well Being) Pada Karyawan Cleaner (Studi Pada Karyawan Cleaner

Yang Menerima Gaji Tidak Sesuai Standar Ump Di Pt. Sinergi Integra Services, Jakarta). Jurnal Psikologi, XII, 67-79.

Wulandari, S., & Widyastuti, A. (2014). Faktor – Faktor Kebahagiaan Di Tempat Kerja.

Jurnal Psikologi, I, 49-60.

Dhani, Armani & DH, Agung. (2017). Mengatasi Problem Kesehatan Mental dengan BPJS. Tirto.id. Dikutip pada tanggal 21 Januari 2018 dari https://tirto.id/mengatasi-problem-kesehatan-mental-dengan-bpjs-ck32

Koran Jakarta. (2016). Menjaga Kesehatan Masyarakat. Koran Jakarta. Dikutip tanggal 21

Januari 2018 dari http://www.koran-jakarta.com/menjaga-kesehatan-masyarakat/

Kuncahyo, Wahyu. (2017). Pemerintah Diimbau Tingkatkan Kesehatan Mental Masyarakat.

Kantor Berita Politik Rmol.co. Dikutip tanggal 21 Januari 2018 dari http://nusantara.rmol.co/read/2017/07/25/300358/Pemerintah-Diimbau-Tingkatkan-Kesehatan-Mental-Masyarakat-

Putera, Donnal Andri (2015). Repotnya Pasien Gangguan Kejiwaan Berobat dengan BPJS.

Kompas. Dikutip pada tanggal 21 Januari 2018 dari http://megapolitan.kompas.com/read/2015/06/18/11524981/Repotnya.Pasien.Ganggua n.Kejiwaan.Berobat.dengan.BPJS

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2003Tentang Ketenagakerjaan

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2014 Tentang Kesehatan Jiwa

World Federation of Mental Health. (2017). Mental Health in The Workplace: World Mental

Health Day 2017. Diakses pada 21 Januari 2018 dari www.wfmh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *