AKSI NYATA BUKAN SEKEDAR WACANA

15179093_1149595181754686_170280798396503140_n

 

AKSI NYATA BUKAN SEKEDAR WACANA
Oleh :
Siti Khadijah Kitta
Psikologi, Universitas Hasanuddin
tijakitta@gmail.com
Kasus kekerasan seksual pada anak merupakan kasus yang tidak jarang terjadi di Negara ini. Pada tahun 2014 rentang bulan Januari hingga April, tercatat adanya laporan pengaduan kekerasan pada anak sebanyak 622 kasus, dimana 459 kasus diantaranya adalah kasus kekerasan seksual pada anak (Komisi Perlindungan Anak Indonesia, dalam Suar No.1 Tahun 2014).Menurut catatan tahunan 2016 Komnas Perempuan, dari kasus kekerasan terhadap perempuan, kekerasan seksual berada ditingkat kedua.
Salah satu gerakan yang tengah disosialisasikan di masyarakat sebagai upaya dalam penanganan kasus kekerasan seksual pada anak adalah gerakan 3 L (Lihat, Lapor, Lindungi). Gerakan ini akan efektif jika setiap yang melihat akan benar-benar melapor dan melindungi. Timbul pertanyaan, bagaimana jika yang melihat adalah anak-anak yang juga belum paham dan tidak mengetahui apa yang harus ia lakukan?
Salah satu dari Tri Dharma Perguruan Tinggi adalah pengabdian kepada masyarakat. Mahasiswa perlu menjadi agent of change di masyarakat. Dalam ilmu Psikologi tentunya tidak asing lagi dibahas mengenai isu kekerasan seksual pada anak. Faktor penyebab, dampak serta bentuk penanganan mungkin sudah cukup banyak dikemukakan oleh professional dibidang Psikologi. Akan tetapi yang dinilai turut memiliki peran penting bukanlah hanya professional, melainkan juga mahasiswa khususnya dibidang Psikologi yang cukup sering mengkaji terkait kekerasan seksual pada anak.
Salah satu lembaga yang ada, yaitu ILMPI (Ikatan Lembaga Mahasiswa Psikologi Indonesia) yang menghimpun seluruh mahasiswa Psikologi di Indonesia diharapkan mampu mendukung terlaksananya program 3L (Lihat, Lapor, Lindungi) yang telah disosialisasikan pada masyarakat.
Kembali membahas pertanyaan yang muncul di atas, bagaimana jika yang melihat kasus ini adalah anak-anak yang juga belum paham dan tidak mengetahui apa yang harus ia lakukan? Salah satu solusi yang dapat mendukung terlaksananya program 3 L ini dan mampu menerapkan gerakan 3L ini pada semua kalangan termasuk anak-anak adalah aksi nyata dari mahasiswa Psikologi Indonesia yang dalam hal ini diwadahi oleh ILMPI untuk membuat suatu program yaitu adanya sosialisasi kepada masyarakat khususnya pada siswa terkait kekerasan seksual dan mewadahi masyarakat untuk menyalurkan laporannya. Mungkin saja akan susah jika masyarakat khususnya anak-anak yang melihat kekerasan seksual langsung melaporkan ke pihak Komnas Perlindungan Anak karena kurangnya informasi terkait prosedur ataupun berbagai hal lainnya. Namun, apabila mahasiswa Psikologi (ILMPI) mewadahi masyarakat dalam meelaporkan kasus yang diketahui, hal ini juga dapat menjadi salah satu bentuk dalam melindungi. Dengan demikian dalam proses pelaporan, masyrakat yang membutuhkan pendampingan akan didampingi oleh mahasiswa.
Saat ini, bukanlah sekedar gagasan atau ide saja yang diperlukan dalam mendukung gerakan 3L ini. Namun aksi nyata yang dapat membantu masyarakat dalam mengurangi tindak kekerasan seksual pada anaklah yang sangat dibutuhkan. Adanya sosialisasi kepada kalangan siswa merupakan hal yang tidak kalah penting, selain itu adanya wadah yang dapat menampung laporan dan mendampingi masyarakat dalam laporan juga adalah peran Mahasiswa yang dapat mendukung gerakan 3L.

MARI
“MEWUJUDKAN INDONESIA TERSENYUM DENGAN PSIKOLOGI”

DAFTAR PUSTAKA
Komnas HAM. (2014). Suar No.1 Tahun 2014. (www.komnasham.go.id , diakses pada tanggal 3 November 2016).
Komnas Perempuan. (2016). CATAHU (Catatan Tahunan). (www.komnasperempuan.go.id , diakses pada tanggal 3 November 2016).

Post Author: ILMPI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *