Temu Ilmiah Nasional ILMPI 2018

Pelatihan Meningkatkan Kecerdasan Emosional: Sebagai Upaya Peningkatan Produktivitas Karyawan

Norberta Fauko Firdiani

Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang

 

 

 

Bagi pemimpin perusahaan penting untuk memperhatikan kesejahteraan karyawannya, karena karyawan merupakan sumber daya penting untuk mencapai tujuan perusahaan. Kesejahteraan karyawan seharusnya menjadi hal yang penting dan mendapat perhatian yang lebih, namun apakah para pemimpin perusahaan pernah memperhatikan kebahagiaan karyawannya di tempat kerja?

Pada saat seorang karyawan mengeluh lelah, sering para atasan dan kolega tidak memberikan perhatian dan membebankan penyelesaian masalah pada diri karyawan sendiri. Pengabaian terhadap kesehatan mental karyawan dapat mendatangkan ketidakadilan baginya. Salah satu masalah yang banyak dihadapi karyawan yaitu beban kerja yang berat dan tingkat stres yang tinggi1. Kompensasi yang diberikan kepada karyawan tidak sesuai dengan beban kerja yang ditanggung, beban kerja yang dirasa tak adil ini dapat menyebabkan stres, kurang tidur, dan tidak mempunyai kehidupan yang seimbang. Permasalahan karyawan terkait beban kerja tidak bisa diabaikan begitu saja. Salah satu kasus kematian akibat kelelahan bekerja di Indonesia seperti yang dilansir dalam tirto.id yaitu kasus yang terjadi pada Mita Diran pada tahun 2013. Kematian Mita diduga akibat kelelahan karena bekerja 30 jam tanpa tidur. Selain di Indonesia, berbagai kasus kematian akibat kelelahan bekerja juga terjadi di  berbagai negara seperti Cina dan Jepang. Li Yuan salah seorang karyawan industri periklanan Cina meninggal pada 2013 akibat serangan jantung karena stres dan kelelahan karena bekerja

1 https://www.jobstreet.co.id/id/cms/employer/3-masalah-pekerjaan-yang-mengganggu-karyawan-anda/

 

terlalu lama. Matsuri Takahashi, seorang karyawan dari Dentsu, Jepang melakukan bunuh diri pada Desember 2015 diduga sebagai akibat dari beban kerja yang melampaui tugasnya yang menyebabkan ia terlalu letih bekerja. Selain menyebabkan kematian, beban kerja yang terlalu tinggi juga mengancam kondisi kesehatan dan kehidupan pribadi karyawan tersebut. Faktor risiko penyakit jantung pada karyawan meningkat karena pola hidup yang buruk, stres tinggi, pola makan yang salah, dan lingkungan yang tidak mendukung. kehidupan pribadi karyawan juga tercam karena manajemen waktu yang buruk. Hal tersebut mengakibatkan karyawan tidak memiliki kesempatan memperoleh afeksi cukup yang bisa didapat dari keluarga, teman, atau orang terdekat lainnya.

Selain merugikan diri karyawan sendiri, stres juga menyebabkan perusahaan tempat kerja merugi. Hal tersebut dikarenakan produktivitas karyawan yang tidak optimal karena kondisi tubuh dan emosional yang tidak stabil. Salah satu faktor yang dapat mengatasi stres  di tempat kerja yaitu meningkatkan emotional intelligence (kecerdasan emosional). Kecerdasan emosional adalah mengerti tentang emosimu sendiri dan emosi orang-orang di sekitarmu (Fuge, 2014). Kecerdasan emosional juga dapat didefinisikan sebagai cara mengelola emosimu lebih baik di bawah stres dan menjaga hubungan dengan orang-orang di sekitarmu, Kecerdasan emosional memiliki beberapa manfaat jika diterapkan di tempat kerja (Polman, 2014). Pertama, menurut sebuah penelitian penjualan yang dilakukan orang dengan kecerdasan emosional tinggi lebih besar menjual barang atau jasa lebih besar. Kedua, pada penelitian yang sama mengungkapkan bahwa orang dengan kecerdasan emosional tinggi di perusahaan mampu bekerja tiga kali lebih cepat. Selain itu, perusahaan yang berada di Dallas yang mengukur kecerdasan emosional karyawannya menemukan bahwa karyawan dengan skor EI tinggi lebih produktif 20 kali daripada karyawan dengan skor EI yang rendah. Ketiga, dengan mengimplementasikan EI di tempat kerja menyebabkan perpindahan karyawan semakin lambat atau stabilitas karyawan lebih terjaga, hal ini dapat menghemat biaya

 

rekrutmen karyawan baru. Keempat, kepuasan kerja karyawan meningkat karena tingkat stres yang mereka miliki rendah. Kelima, orang dengan skor EI yang tinggi mengalami kecelakaan kerja yang rendah. Keenam, perusahaan yang berisi karyawan dengan skor EI tinggi memiliki layanan kepada pelanggan yang luar biasa karena empati yang dimiliki karyawan. Terakhir, komunikasi di perusahaan atau tempat kerja menjadi lebih baik. Kecerdasan emosional yang dimiliki karyawan terbukti berpengaruh terhadap kinerja karyawan di tempat kerja. Kecerdasan emosional merupakan kunci bagi karyawan untuk mengetahu emosi mereka sendiri. Sebuah penelitian (Narayan&Narashiman, 2014) menunjukkan bahwa karyawan dengan EI tinggi memiliki performa kerja lebih baik dibandingkan dengan karyawan dengan EI rendah. Penelitian lainnya juga mengungkapkan bahwa kecerdasan emosional dapat diajarkan dan dipelajari yang berguna untuk mengurangi stres dan meningkatkan kesehatan, kesejahteraan, dan performa (Slaski&Cartwright, 2003).

Berdasarkan uraian di atas maka penting bagi perusahaan yang menginginkan produktivitas karyawan meningkat dan menghasilkan produk yang berkualitas memiliki karyawan dengan kecerdasan emosional atau EI yang tinggi. Kegiatan yang biasanya dilakukan pihak perusahaan yaitu dengan mengadakan pelatihan (training) untuk meningkatkan kecerdasan emosional bagi para pekerjanya secara rutin. Pelatihan untuk meningkatkan kecerdasan emosional ada yang dilakukan dalam jangka waktu panjang dan dalam jangka waktu pendek. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Grant (2007) untuk membandingkan pengaruh antara partisipan yang melakukan pelatihan selama 13 minggu dengan partisipan yang melakukan pelatihan selama 2 hari dengan jeda selama 3 minggu. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa 23 partisipan yang menyelesaikan pelatihan selama 13 minggu dengan masing-masing sesi selama 2,5 jam menunjukkan peningkatan terhadap kecerdasan emosional sedangkan 20 partisipan yang mengikuti pelatihan selama 2 hari tidak menunjukkan peningkatan kecerdasan emosional. Selain

 

melakukan pelatihan, bermain di tempat kerja juga dapat dilakukan untuk meningkatkan kecerdasan emosional.

Bentuk pelatihan guna meningkatkan kecerdasan emosional karyawan di tempat kerja yang diusulkan penulis yaitu pelatihan melalui sebuah game (permainan). Game ini berbasis komputer yang dilakukan melalui sebuah platform seperti yang dicetuskan oleh Kerr (2009). Pemain dalam game berjumlah enam orang yang bekerja sama pada proyek kelompok. Tujuan dari game ini yaitu untuk melengkapi 30 potongan puzzle. Game selesai saat team melengkapi puzzle atau waktunya habis. Pada akhir permainan pemain akan ditunjukkan data statistik termasuk tingkat kecerdasan emosional secara keseluruhan, skor performa sebuah team, dan penilaian seberapa sering pemain bertindak secara independen atau kolaboratif. Game terdiri dati tujuh tugas dan ditambah dengan peristiwa tidak terduga dalam hidup. Tugas pertama, pemain menentukan tindakan yang harus diambil di antara pilihan yang tersedia terhadap sebuah skenario di tempat kerja yang akan menunjukkan kecerdasan emosional. Jawaban dari setiap pilihan pemain menjelaskan mengapa satu keputusan lebih baik daripada keputusan yang lain. Kedua, kemampuan seseorang dalam memahami ekspresi wajah dan bahasa tubuh berhubungan dengan kemampuan seseorang untuk berempati dan berinteraksi dengan orang lain. Pada tugas kedua ini pemain akan ditunjukkan beberapa gambar wajah atau bahasa tubuh, skor akan didapat jika pemain dapat mengenali ekspresi wajah dan bahasa tubuh yang ada di gambar. Ketiga, pemain akan dihadapkan dengan daftar lima aktivitas dan mengusulkan gagasan untuk meningkatkan kecerdasan emosional. Keempat, pemain akan dihadapkan pada daftar pilihan ganda mengenai berbagai situasi di tempat kerja yang berhubungan dengan konsep kecerdasan emosional. Pemain diharuskan memilih salah satu yang menurutnya paling penting. Kelima, salah satu pemain pada tugas  ini bertindak sebagai fasilitator. Tujuan dari tugas kelima ini adalah membuat keputusan dengan mempengaruhi orang lain dalam jangka waktu tertentu. Keenam, pada tugas ini ada

 

satu pemain yang berperan sesuai dengan emosi yang ada dalam “secret box” yang muncul di layar. Aktivitas ini melibatkan beberapa konsep kecerdasan emosional seperti kesadaran diri, kesadaran terhadap orang lain, dan kemampuan membaca emosi orang lain. Ketujuh, semua anggota berpartisipasi dengan berbicara mengenai topik yang sederhana selama kurang dari 30 detik. Berbagi ide dan opini di antara anggota kelompok diharapkan dapat meningkatkan kesadaran diri, kesadaran terhadap orang lain, dan interaksi dengan orang lain. Selanjutnya, pada tugas tambahan akan disajikan beberapa peristiwa atau kejadian tak terduga secara acak baik yang menguntungkan maupun yang merugikan para pemain. Tugas tambahan yang diberikan dalam game ini untuk melihat kemampuan pemain dalam mengatasi kejadian dan perubahan di lingkungan eksternal. Pelatihan yang dilakukan melalui game diharapkan dapat meningkatkan kecerdasan emosional para karyawan dengan cara yang menyenangkan.

 

 

DAFTAR RUJUKAN

 

 

Anonim.    3    Masalah    Pekerjaan     yang    Mengganggu    Karyawan    Anda.    (Online), (https://www.jobstreet.co.id), diakses pada 27 Desember 2017.

Dhani, Arman. 2017. Ancaman Kematian Pekerja Kreatif. (Online), (https://tirto.id), diakses pada 27 Desember 2017.

Fuge, K. N. 2014. Emotional Intelligence In the Workplace. Makalah disajikan pada

 

MFSRC   Conference   2014.    (Online), (http://www.mfsrc.org), diakses pada 3 Februari 2018.

Grant, A. M. 2007. Enhancing Coaching Skills and Emotional Intelligence Through Training.

 

Industrial      and     Commercial     Training.     39     (5):     257     –    266.     (Online),

 

(http://www.emeraldinsight.com), diakses pada 5 Februari 2018.

 

Kerr, B. A. 2009. Connecting Emotional Intelligence to Success in the Workplace. (Online), (www.training-games.com), diakses pada 5 Februari 2018.

Kirnandita, Patresia. 2017. Kantor Perlu Tangani Stres pada Karyawan. (Online), (https://tirto.id), diakses pada 27 Desember 2017.

Narayan, P. R. & Narashiman. 2014. Emotional Intelligence and Work Performance: A

 

Conceptual Study. IOSR Journal of Mechanical and Civil Engineering. (Online), (www.iosrjournals.org), diakses pada 3 Februari 2018.

Polman, Mark. 2014. 7 Bottom Line Benefits of Emotional Intelligence in the Workplace.

 

(Online), (http://ezinearticles.com), diakses pada 3 Februari 2018.

 

Slaski, M. & Cartwright, S. 2003. Emotional Intelligence Training and Its Implications for

 

Stress, Health and Performance. Stress and Health Journal. 19: 233 – 239. (Online), (www.interscience.wiley.com), diakses pada 3 Februari 2018.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *