Berita Acara Rakoornas ILMPI 2016

BERITA ACARA

TEMU ILMIAH DAN RAPAT KOORDINASI NASIONAL

1

IKATAN LEMBAGA MAHASISWA PSIKOLOGI INDONESIA UNIVERSITAS PADJAJARAN

30 SEPTEMBER – 3 OKTOBER 2016

BANDUNG

30 September 2016

Enam bulan sudah sejak perjumpaan terakhir kami dalam Musyawarah dan Rapat Kerja Nasional 2016 di Padang kemarin. Pada hari ini dan beberapa hari kedepan, kami diberi kesempatan untuk bertemu kembali dalam kegiatan tahunan ILMPI lainnya yaitu Temu Ilmiah serta Rapat Koordinasi Nasional ILMPI 2016. Kali ini tanah Legenda lah yang menjadi tempat kami melaksanakan kegiatan ini, kota Bandung yang terkenal dengan kesejukan daerahnya.

Temu Ilmiah dan Rapat Koordinasi Nasional Ikatan Lembaga Mahasiswa Psikologi Indonesia 2016 kali ini diselenggarakan oleh BEM Fakultas Psikologi Universitas Padjajaran dengan mengusung tema “Raising Awareness Towards Mental Health in One Voice”. Sungguh kegiatan ILMPI kali ini merupakan kegiatan paling ramai yang pernah dirasakan sepanjang lima tahun perjalanan ILMPI. Lebih dari 200 peserta dari Aceh sampai Sulawesi datang untuk menghadiri kegiatan ini. Menempuh perjalanan yang jauh dan tidak hanya sekali perjalanan. Banyak yang harus transit dahulu untuk akhirnya sampai di lokasi kegiatan. Jauh pun ditempuh demi mewujudkan apa yang menjadi visi misi ILMPI dan demi bertemu teman-teman satu Indonesia.

Tidak seperti kegiatan wajib ILMPI biasanya dimana pada hari pertama hanya ada acara malam saja, kali ini di hari pertama kami disuguhkan dengan seminar nasional tentang Kejahatan Seksual. Kami bersemangat untuk menuju lokasi seminar di Aula Moestopo Gedung Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran Jatinangor. Kami dijemput panitia menggunakan bus dari berbagai titik temu, dari Stasiun Bandung, Stasiun Kiara Condong dan Terminal Leuwi Panjang menuju lokasi.

Seminar ini dibuka pada pukul 13.30 WIB. Diawali dengan menyanyikan mars ILMPI bersama-sama, kemudian dibuka oleh Manager Kemahasiswaan dan Hubungan Alumni Fakultas Psikologi Universitas Padjajaran, Bapak Azhar El Hami, S.Psi., M.Si. Selanjutnya sambutan dari Ketua BEM Fakultas Psikologi Universitas Padjajaran, Ilham Phalosa Reswara. Lalu dilanjutkan dengan kata sambutan dari Sekretaris Jenderal ILMPI, Ibrahim Syah Lubis.

Masuklah pada sesi seminar yang ditunggu oleh semua peserta. Seminar ini dimoderatori oleh Faris Faikar Hasan dengan tema Sexual Crimes (Motive towards crime, Attitude towards Perpu Kebiri& Ecological Theory in Understanding and Solving The Case). Diawali dengan pembicara 1 yang merupakan salah satu dosen di Fakultas Psikologi Unpad,

Bapak Aulia Iskandarsyah, M.Psi, M.Sc, Ph.D yang membahas kejahatan seksual dari segi keilmuan Psikologi. Selanjutnya dilanjutkan dengan pembicara 2 yaitu Bapak Reza Indragiri Amriel yang merupakan seorang ahli Psikologi Forensik. Dengan pembicara kedua ini kami disimulasikan seperti suasana persidangan sebenarnya. Kami semua sangat bersemangat dan mendapat banyak pengetahuan dari seminar ini.

2

3

Setelah sesi tanya jawab dan foto bersama, berakhirlah kegiatan seminar hari ini. Selanjutnya kami bersama-sama menuju penginapan sekaligus lokasi acara selama dua hari ke depan.

Bus pertama tiba di Villa Manggala

 

Giri di daerah Lembang pada pukul 08.33

 

WIB dan diikuti oleh bus-bus berikutnya. Lembang menawarkan hawa sangat dingin dan membuat kami tak ingin berlama-lama ada di luar. Setelah semua peserta selesai merapikan   barang   bawaan, kami diajak untuk masuk ke aula untuk melanjutkan acara selanjutnya, acara Wilujeng Sumping yang merupakan bahasa Sunda dari “Selamat Datang”. Pada   acara ini, kami makan bersama ala Sunda dengan nasi liwet beserta lauk pauk yang dimasak dengan racikan bumbu khas Sunda dan menggunakan daun pisang sebagai alas untuk makan.

4

Seusai menikmati makanan bersama dan saling berkenalan satu sama lain, akhirnya malam Wilujeng Sumping pun selesai. Kami bersiap beristriahat untuk dapat mengikuti kegiatan keesokan harinya.

1 Oktober 2016

Agenda pagi ini dimulai dengan kegiatan senam pagi di lapangan Villa.   Bangun   pagi- pagi sekali rasanya ingin kembali meringkuk di dalam selimut karena udaranya yang sangat dingin, namun senam pagi membuat kami hangat dan bersemangat untuk menjalani kegiatan pagi ini.

5

 

Pukul 08.00 WIB kami sarapan bersama di aula. Setelah sarapan, kemudian dibukalah Temu Ilmiah Nasional (Temilnas) pada pukul 09.30 WIB. Rangkaian acara temilnas hari ini adalah final dari dua lomba dan pengumuman pemenang dari semua lomba. Dimulai dengan final lomba Social Intervention. Dua tim finalis berasal dari Universitas Brawijaya dan Universitas Gadjah Mada. Tim Universitas Brawijaya mempresentasikan penelitian tentang Permasalahan Sosial di Malang (Intervensi Sosial Kekerasan dalam Pacaran dalam Pembentukan Komunitas Persahabatan Remaja). Sedangkan tim Universitas Gadjah Mada mempresentasikan penelitian tentang Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual di dalam Kampus berbasis Psikoedukasi.

Pukul 11.30 WIB dilanjutkan dengan presentasi Call for Paper. Ada dua finalis dalam lomba Call for Paper ini, tim dari Universitas Islam Bandung (Unisba) dan Universitas Muria Kudus.

6

Pukul 14.00 WIB temilnas dilanjutkan kembali dengan pengumuman pemenang. Lomba   Social   Intervention dimenangkan oleh tim Universitas Gadjah Mada, diikuti dengan juara kedua tim dari Universitas Brawijaya. Sedangkan untul Lomba Call for Paper, juara pertama diberikan kepada tim dari Universitas Islam Bandung dengan judul paper “Peran Orangtuadalam Pola Asuh Demokratis terhadap Pencegahan Kejahatan Seksual pada masa Anak Akhir di Daerah”. Juara kedua diberikan kepada Universitas Muria Kudus dengan   judul paper “Pendidikan Karakter melalui Media Literasi pada Anak (Studi Pengaruh Media terhadap Perilaku Imitasi pada Anak)”. Lomba Poster Design dimenangkan oleh Aisyah Puspita Putri dari Universitas Sebelas Maret Surakarta. Dengan diumumkannya pemenang maka temilnas resmi ditutup.

Acara dilanjutkan dengan dibukanya rakornas pada pukul 14.55 WIB. Rakornas dibuka dengan musyawarah pendahuluan yang dipimpin oleh tiga presidium sementara. Pembahasan manual acara berjalan dengan cepat ditandai dengan disahkannya konsideran pengesahan manual acara pada pukul 15.08 WIB. Agenda dilanjutkan dengan pembahasan

tata tertib. Pembahasan ini berjalan cukup alot dikarenakan sebagian peserta mempermasalahkan tentang redaksional dan juga ada beberapa peserta yang belum paham. Akhirnya pada pukul 16.57 WIB dibacakanlah konsideran pengesahan tata   tertib. Berdasarkan tata tertib Rapat Koordinasi Nasional, pimpinan sidang pada musyawarah selanjutnya adalah Sekretaris Jenderal ILMPI, yakni Ibrahim Syah Lubis dan Aviola Nathasya Benni bertindak sebagai notulen. Palu sidang kemudian diserahkan kepada Sekjend. Sebelum sidang dilanjutkan, forum meminta waktu istirahat sholat ashar sekaligus lanjut makan malam. Akhirnya sidang dipending selama 90 menit untuk istirahat.

7

Sidang kembali dimulai setelah para peserta makan malam. Musyawarah I dibuka oleh Ibrahim Syah Lubis selaku Sekretaris Jenderal ILMPI. Dalam musyawarah I, terdapat tiga poin agenda yaitu progress report wilayah, progress report nasional, dan progress report dari tuan rumah mukernas 2017. Sebelum memulai progress report wilayah, forum menyepakati masing-masing wilayah diberi waktu untuk menyampaikan Laporan Perkembangan (progress report) selama 30 menit sekaligus sesi tanya jawab. Penyampaian Progress Report Wilayah disampaikan oleh masing-masing koordinator wilayah. Wilayah I hingga wilayah Aceh-Sumut yang baru terbentuk menyampaikan seluruh perkembangan wilayah dalam setengah periode ini. Setiap koordinator wilayah menyampaikan program kerja yang telah terlaksana dan yang belum terlaksana, serta menjelaskan hambatan yang dialami selama melaksanakan program kerja. Dengan adanya progress report wilayah dan adanya sesi tanya jawab, membuat masing-masing wilayah saling membangun satu sama lain, menyampaikan kritik dan saran untuk wilayah lainnya dan mempererat koordinasi antar semua pihak internal ILMPI.

Pukul 11.32 WIB penyampaian progress report wilayah selesai dan dilanjutkan dengan penyampaian progress report nasional. Sebagai pembuka, Aviola Nathasya Benni menyampaikan Laporan Perkembangan (Progress Report) dari Badan Kesekretariatan Nasional (Banseknas). Dilanjutkan dengan Naufal Nurramadhan dari Badan Keuangan Nasional (Bankeunas). Seusai penyampaian dari bankeunas, hari sudah menunjukkan pukul 00.46 WIB dan forum tidak lagi kondusif. Oleh karena itu, forum bersama menyepakati sidang untuk dipending dan progress report Nasional dilanjutkan di pagi hari pada pukul 08.00 WIB.

 

2 Oktober 2016

Pukul 08.00 WIB pending sidang dicabut dan dilanjutkan dengan penyampaian progress report Nasional yang sempat tertunda dini hari tadi. Dimulai dari Faishal Aulia Darmawan menyampaikan progress report dari Badan Informasi dan Komunikasi Nasional (Baninfonas), lalu Usaid Al Banna dari Badan Pengembangan Organisasi Nasional (BPONas), Fiqah Soraya Alhaddar dari Badan Pengembangan dan Pengabdian Masyarakat Nasional (BPPMNas), dan diakhiri oleh Jhaihan Farah Nabila dari Badan Pengembangan dan Pengkajian Keilmuan Nasional (BPPKNas).

8

Setelah semua penyampaian   progress report dari Nasional selesai, dilanjutkan dengan penyampaian progress report tuan rumah Musyawarah dan Rapat Kerja Nasional 2017. Sebelumnya telah disepakati pada Mukernas 2016 bahwa tuan rumah selanjutnya adalah Universitas Teknologi Sumbawa selaku pemenang tender. Penyampaian diwakili oleh Koordinator Wilayah V dikarenakan baik ketua lembaga maupun yang mewakili dari Universitas tersebut berhalangan hadir. Korwil Wilayah V kemudian menyampaikan kepada forum tentang konsep dan teknis acara yang telah dipersiapkan sejauh ini.

Setelah Musyawarah I ditutup, sidang dipending untuk istirahat sholat dan makan. Pukul 14.00 WIB sidang kembali dilanjutkan dengan agenda selanjutnya, musyawarah II yaitu pembahasan isu nasional. Dalam pembahasan isu nasional kali ini, BPPK Nasional telah memiliki isu yang akan diangkat ILMPI saat ini dan meminta pernyataan sikap dari setiap wilayah tentang isu yang akan diangkat ini. Isu yang telah dikaji BPPK Nasional yaitu tentang Kejahatan Seksual. Akhirnya, seluruh wilayah menyatakan sikap siap untuk mengawal isu kejahatan seksual sebagai isu yang akan diangkat oleh ILMPI. Tentunya dengan diangkatnya isu ini, seperti telah dijelaskan BPPK Nasional, isu tentang RUU praktik psikologi pun tidak ditinggalkan.

Pukul 16.00 WIB Pembahasan isu nasional ditutup dan dilanjutkan dengan musyawarah III, yaitu rapat komisi masing-masing badan kelengkapan. Dalam rapat komisi ini, terdapat enam komisi yaitu Komisi I (Badan Kesekretariatan Nasional), Komisi II (Badan Keuangan Nasional), Komisi III (Badan Informasi dan Komunikasi Nasional), Komisi IV (Badan Pengembangan Organisasi Nasional), Komisi V (Badan Pengembangan dan Pengabdian Masyarakat Nasional) dan Komisi VI (Badan Pengembangan dan Pengkajian Keilmuan Nasional). Setiap komisi dipimpin oleh Koordinator Badan Kelengkapan Nasional masing-masing yaitu Komisi I dipimpin oleh Aviola Nathasya Benni, Komisi II dipimpin oleh Naufal Nurramadhan, Komisi III dipimpin oleh Faishal Aulia Darmawan, Komisi IV dipimpin oleh Usaid Al Banna, Komisi V dipimpin oleh Fiqah Soraya Alhaddar dan Komisi VI dipimpin oleh Jhaihan Farah Nabila. Selain itu, terdapat komisi tambahan yang terdiri dari Sekretaris Jenderal beserta seluruh Koordinator Wilayah. Rapat komisi kali ini membahas evaluasi terhadap kinerja dan pelaksanaan program kerja selama setengah periode ini, kendala yang dihadapi dalam melaksanakan program kerja dan langkah kedepannya untuk menyelesaikan tanggung jawab setengah periode ke depan. Rapat komisi ini berjalan cukup lama, hingga pukul 18.16 WIB. Kemudian, hasil rapat komisi tersebut disampaikan oleh masing-masing koordinator badan kelengkapan nasional.

Rapat komisi ditutup, sidang dilanjutkan dengan musyawarah IV yaitu keputusan tambahan. Setiap peserta dipersilahkan untuk mengajukan hal yang dapat dimasukkan sebagai keputusan tambahan rakornas kali ini. Pembahasan ini berjalan dengan lancar dan cepat, hingga akhirnya dibacakanlah konsideran keputusan tambahan pada pukul 18.27 WIB. Dengan disahkannya keputusan tambahan ini, maka berakhirlah rangkaian musyawarah dari Rakornas kali ini. Peserta disilahkan istirahat sebelum melanjutkan ke acara selanjutnya.

Pukul 20.00 WIB Agenda musyawarah dalam Rakornas sudah selesai, namun ada agenda berikutnya yang menunggu. Agenda berikutnya yaitu Forum Ketua Lembaga (FKL). Ini merupakan FKL resmi pertama yang diadakan ILMPI dalam kegiatan nasional. Peserta FKL ini terdiri dari ketua lembaga anggota ILMPI atau delegasi yang telah memperoleh izin ketua lembaga untuk mewakili, Pengurus Harian Nasional (PHN), dan Pengurus Harian Wilayah (PHW) ILMPI. FKL kali ini membahas beberapa poin, yaitu : (1) Kejahatan Seksual, (2) Positioning ILMPI, (3) LKMM ILMPI, dan (4) RUU praktik psikologi. Setiap peserta FKL dengan semangat memberikan tanggapannya terkait hal-hal yang dibahas. FKL ini berlangsung cukup lama sampai pukul 00.46 WIB. Walaupun sudah menghabiskan waktu lebih dari 4 jam namun rasanya singkat sekali pembahasan kali ini. Para peserta masih ingin mengungkapkan tanggapannya namun dibatasi oleh waktu. Oleh karena itu, nantinya akan diadakan kembali FKL di masing-masing wilayah.

 

3 Oktober 2016

Tuntas sudah seluruh agenda Rakornas 2016 di dalam ruangan. Kini saatnya kami menikmati keindahan kota Bandung untuk melepas penat setelah tiga hari menguras tenaga dan pikiran. Sebelum bergerak dari Lembang menuju kota Bandung, terlebih dahulu dilakukanlah acara penutupan Rakornas oleh panitia. Penutupan dilakukan dengan penyerahan kenang- kenangan dari pihak Universitas Padajajaran kepada ILMPI. Penyerahan kenang-kenangan ini diwakili Ketua BEM Fakultas Psikologi Universitas Padjajaran dan Sekretaris Jenderal ILMPI. Selanjutnya diputarlah video perjalanan peserta yang telah dipersiapkan panitia, mulai dari seminar nasional hingga selesai Rakornas.

9

Setelahnya peserta langsung bergerak dengan semangat menuju bus yang akan segera melaju ke kota Bandung untuk rangkaian city tour hari ini. Dalam city tour ini, kami dipersilahkan untuk mengeksplor Braga sampai pada pukul 14.00 WIB.

10

Waktu kembali harus memisahkan kebersamaan ini. Empat hari tiga malam terasa sungguh cepat berlalu. Tiba saatnya kami kembali ke universitas atau institusi masing-masing untuk membawa semangat akan perubahan dan pergerakan baru yang telah kami dapat selama Rakornas kali ini dan akan kami tularkan pada teman-teman di tempat masing-masing.

Selamat berjuang dari tempat masing-masing kawan. Kami percaya bahwa kami akan dipertemukan lagi suatu saat nanti dengan membawa perubahan yang lebih besar dari hari ini untuk Indonesia. Untuk mewujudkan Indonesia Tersenyum Bersama Psikologi. Sampai jumpa kembali di Sumbawa, Musyawarah dan Rapat Kerja Nasional 2017.

Koordinator Badan Kesekretariatan Nasional

Aviola Nathasya Benni


RAISING AWARENESS TOWARDS SEXUAL CRIMES, WHMD ILMPI

  infografis PFA sexual crimes

KEKERASAN SEKSUAL merupakan perilaku atau tindakan yang berkaitan dengan seks yang tidak diinginkan, termasuk permintaan untuk melakukan seks, dan perilaku lainnya yang secara verbal maupun fisik merujuk pada area seksual. Pelecehan tidak terbatas pada bayaran seksual bila ia menghendaki sesuatu, pemaksaan melakukan kegiatan seksual, hal ini juga berupa permintaan melakukan kegiatan seksual yang disukai pelaku, ucapan maupun perilaku yang berkonotasi seksual

Tindakan ini dapat disampaikan secara langsung maupun implicit. Pengaruh kejahatan seksual selain pada korban yang justru dianggap menimbulkan masalah dan pada pelaku. Umumnya, para korban dari kekerasan seksual ini akan menutupi hingga waktu yang lama hal ini dikarenakan korban mengalami trauma dan stress terhadap kejadian yang dialami, akibatnya korban pelecehan seksual cenderung lebih tertutup. Perasaan takut yang dialami membuat mereka menarik diri dari lingkungan sekitarnya, hal ini membuat mereka tidak berbicara dengan dengan teman ataupun keluarga.

Ada banyak faktor yang mendasari mengapa korban kesulitan untuk dapat mengidentifikasi dan menerima pelecehan seksual yang ia alami, antara lain: kebingungan (tidak tahu bagaimana harus menggambarkan pada dirinya sendiri tentang apa yang terjadi), rasa malu, munculnya sikap mempersalahkan korban oleh orang lain, dan memposisikan korban menjadi “yang bersalah” seperti atribusi cara berpakaian, gaya hidup dan kehidupan pribadi menjadi mengemuka, selain itu ada pula rasa bersalah pada apa yang terjadi, mempersalahkan diri sendiri, rasa dopermalukan (tidak bisa menerima ide bahwa ia adalah korban, atau perasaan bahwa seharusnya ia dapat menghentikan pelecehan itu), penyangkalan (tidak percaya bahwa hal itu sungguh terjadi), minimizing atau defence mechanism (mengatakan pada diri sendiri bahwa “itu bukan persoalan besar,” “saya terlalu sensitive saja,” atau “saya adalah pemalu”).

 

DI INDONESIA SAAT INI BUKAN KEKERASAN SEKSUAL LAGI, TAPI SUDAH JADI KEJAHATAN SEKSUAL. MENGAPA?

Kasus Kekerasan Seksual Di Indonesia

Fenomena kasus kejahatan seksual di Indonesia dari tahun 1994 – 2014:

  • Babe (2007-2010)
  • Robot Gedek (1994 – 1996) adalah korban Babe
  • Kasus RI (Oktober 2012- Januari 2013)
  • William James Vahey (1972-2014)
  • Emon (2013 – 2014) dengan jumlah korban mencapai 52 korban
  • Kasus Pemerkosaan dan Pembunuhan oleh 14 Pelaku di Bawah Umur terhadap Yuyun (Siswi SMP di Bengkulu) (2016)
  • Kasus Perkosaan dan Pembunuhan Sadis dengan Cangkul di Tanggerang, dengan salah satu pelaku masih di Bawah Umur (RA) (2016)

DATA STATISTIK KASUS KEKERASAN SEKSUAL TAHUN 2011 – 2014 DI INDONESIA

  • Kekerasan seksual terhadap anak semakin meningkat, Data KPAI tahun 2011 – 2013 terdapat 7.065 kasus kekerasan anak, dari jumlah tersebut 2.131 kasus (30,1%) adalah Kekerasan Seksual
  • Perkara kekerasan terhadap anak yang masuk dari kejaksaan seluruh Indonesia 2013 sebanyak 4.620 perkara,termasuk kekerasan seksual terhadap anak
  • Tahun 2014 – April, kejaksaan telah menangani 1.462 perkara kekerasan terhadap anak, termasuk sisa tahun 2013 sebanyak 255 perkara
  • Berdasarkan pengaduan dan pemantauan KPAI hingga pertengahan April 2014 terdapat 459 kasus kekerasan seksual

23

34

INILAH ALASANNYA MENGAPA BUKAN KEKERASAN SEKSUAL TAPI KEJAHATAN SEKSUAL,

Berdasarkan fenomena kasus dari tahun 1994 – 2016 didapatkan peningkatan kasus baik dalam segi kualitas dan kuantitas kasus. Total Total Url yang di Upload: google ‘429.000’, total kasus yang tidak terungkap ke permukaan mencapai 75 %, dan Peningkatan jumlah kasus dari tahun ke tahun menunjukkan bahwa permasalahan ini adalah permasalahan yang akan selalu menjadi momok yang menakutkan bagi Indonesia. Berdasarkan pergeseran fenomena secara kuantitas dan kualitas, tahun 2014 lalu Unicef memberikan pernyataan bahwa kasus kekerasan seksual berubah menjadi kejahatan seksual.

PELECEHAN seksual pada dasarnya bukan soal seks, akan tetapi berupa penyalahgunaan kekuasaan atau otoritas, sekalipun pelau mencoba meyakinkan korban dan dirinya sendiri bahwa ia melakukannya karena seks atau romantisme. Dengan kata lain, pelaku baru merasa “berarti” ketika ia bisa dan berhasil merendahkan orang lain secara seksual. Rasa “keberartian” ini tidak selalu dapat atau mau diverbalkan (disadari). Dengan demikian, rasa puas setelah melakukan pelecehan seksual adalah ekspresi dari “berarti” tersebut.

KORBAN, pelaku umumnya akan memilih korban yang lebih muda, relatif pasif atau kurang asesif, naïve, harga diri rendah, dan hal lain yang membuatnya lebih rentan. Namun bukan berarti orang yang mempunyai ciri tersebut adalah penyebab atau pantas dilecehkan secara seksual. Pelaku men “test” calon korban dengan pelanggaran yang minor baik dalam konteks kerja, sosial, maupun antarpribadi. Misalnya melontarkan lelucon, komentar seks, mengajukan pertanyaan tentang kehidupan seks target, melanggar ruang pribadi target dengan berupa sentuhan, meminta atau menyuruh target menemui di luar jam kerja, atau mengadakan pertemuan tanpa ada orang lain.

TIPE KEJAHATAN SEKS, menurut Lyness (Maslihah, 2006) kekerasan seksual terhadap anak meliputi tindakan menyentuh atau mencium organ seksual anak, tindakan seksual atau pemerkosaan terhadap anak, memperlihatkanmedia/benda porno, menunjukkan alat kelamin pada anak dan sebagainnya. Kekerasan seksual (sexual abuse) merupakan jenis penganiayaan yang biasanya dibagi menjadi dua kategori berdasarkan identitas pelaku, antara lain:

  1. Familial Abuse

Termasuk Familial abuse adalah incest. Yaitu kekerasan seksual dimana antara korban dan pelaku masih dalam hubungan darah, menjadi bgian dalam keluarga inti. Dalam hal ini termasuk seseorang yang menjadi pengganti orang tua, misalnya ayah tiri, atau kekasih, pengasuh atau orang yang dipercaya merawat anak.

  1. Extra Familial Abuse

Kekerasan seksual adalah kekerasan yang dilakukan oleh orang lain di luar keluarga korban. Pada pola pelecehan seksual di luar keluarga, pelaku biasanya orang dewasa yang dikenal oleh sang anak dan telah membangun relasi dengan anak tersebut, kemudian membujuk sang anak ke dalam situasi dimana pelecehan seksual tersebut dilakukan, sering dengan memberikan imbalan tertentu yang tidak didapatkan oleh sang anak dirumahnya.

KEJAHATAN SEKSUAL dapat terjadi dimana saja, baik di tempat umum seperti bis, pasar, sekolah, kantor, maupun tempat pribadi seperti rumah. Adapun data kejahatan seksual di Indonesia sejak tahun 2013, melalui catatan tahunan, komisi nasional anti kekerasan terhdap perempuan (Komnas Perempuan) sudah memberi alarm keras tentang meningkatnya gang rape/ perkosaan kolaktif oleh sejumlah pelaku, antara lain mencuatnya kasus-kasus serius yang menimpa siswi dengan pelaku kawan-kawan sekolahnya, perempuan diperkosa kolaktif di transportasi publik dan lainnya.

Berdasarkan data catatan tahunan oleh Komnas Perempuan tahun 2016, menyebutkan bahwa kekerasan seksual yang terjadi di Ranah Personal dari jumlah kasus sebesar 321.752, maka kekerasan seksual menempati peringkat dua, yaitu dalam bentuk perkosaan sebanyak 72% (2.399 kasus), dalam bentuk pencabulan sebanyak 18% (601 kasus/, dan pelecehan seksual 5% (166 kasus). Sedangkan dari Ranah publik, dari data sebanyak 31(5.002 kasus) maka jenis kekerasan terhadap perempuan tertinggi adalah kekerasan seksual (61%). Adapun dari Ranah Negara, terdapat kekerasan seksual dalam HAM masa lalu, tes keperawanan di institusi pemerintah, dan lainnya. Pelaku kekerasan seksual adalah lintas usia, termasuk anak-anak jadi pelaku.

APA YANG BISA KITA LAKUKAN? JOIN agen First Aid Sexual Crimes.

Memanfaatkan momentum hari kesehatan mental 10 Oktober 2016, sesuai dengan Tema Hari Kesehatan Mental 2016 yang dikemukakan oleh WHO. Ikatan Lembaga Mahasiswa Psikologi Indonesia mengajak teman-teman untuk berpartisipasi aktif dalam menyelesaikan permasalahan kejahatan seksual dengan mempromosikan Gerakan Agen PFA Kejahatan Seksual.

AGEN PFA KEJAHATAN SEKSUAL?

Persyaratan   : Lakukan 3 L, yaitu: Lihat, Lapor, Lindungi. Dengan adanya agen PFA ini diharapkan dapat mengurangi angka kejahatan seksual yang ada terutama di Indonesia. Selain itu, masyarakat yang diharapkan dapat berpartisipasi aktif untuk mendeteksi dan mencegah kasus, jangan sampai telah menjadi kasus baru bereaksi. Masyarakat yang diduga menjadi korban segera melapor ke polisi atau KPAI, agar proses hukum terlaksana dan rehabilitasi untuk pemulihan korban dapat segera dilakukan.

 

 

#AGENPFA

#SadarSexualCrimes2016

#WMHDILMPI

#ILMPIdukungI-CAREHimpsi